169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
7. Kedatangan Tuan Terrence



Pagi hari ini secara tidak sengaja Bianca melihat mobil Bentley Bentayga hitam milik pria yang sangat ia kenal, baru saja mamasuki halaman gedung Corp. Buildings.


Daniel Alvarez Tyee keluar dari mobilnya dengan setelan jas berwarna hitam. Sepasang sepatu pria itu terlihat sangat mengkilap dan serasi dengan setelan yang ia kenakan.


Petugas Valet menerima kunci pria itu setelah mendahului memberikan salam kepada atasannya.


Wajah pria itu berubah menjadi masam ketika mendengar teriakan seorang gadis yang ia kenal dan yang sangat ia benci.


"Niel..Niel..." Bianca melambaikan tangan dari seberang jalan untuk mendapatkan atensi dari Pria bermarga Tyee itu.


Daniel memilih tidak menghiraukan gadis itu, ia bergegas memasuki pelataran gedung yang di pisahkan dengan pintu revolving.


Merasa tidak dihiraukan, Bianca segera menyusul pria itu tepat dua detik setelah lampu lalu lintas menyala hijau.


Sepasang kakinya yang memakai heels berlarian menyusuri trotoar, gadis itu bahkan tidak menghiraukan umpatan kasar dan bunyi klakson yang bersahutan nyaring.


Langkah Daniel berhenti, ketika mendengar petugas Valet berteriak kaget dengan aksi nekat gadis itu.


Belum lagi, suara mesin klakson dari para pengendara menimbulkan kebisingan.


Tangan pria itu terkepal, seolah-olah semua kemarahannya terpusat pada satu titik. Gadis itu sudah membuatnya malu dan merusak pagi harinya. Pria itu bergegas masuk dan menghiraukan kedatangan gadis itu.


Dengan nafas tersengal-sengal, Bianca sempat menyapa petugas Valet dengan senyuman.


Sebelum petugas itu sempat membalas sapaan Bianca dan berkomentar tentang kenekatan gadis itu yang dapat membahayakan dirinya, Bianca sudah lebih dahulu menerobos pintu revolving untuk mencapai lobi dan menyusul pujaan hatinya.


Pagi itu, semua karyawan dan staff di lobi memberikan hormat kepada seorang CEO muda dan rupawan.


Walaupun mereka semua sudah di buat terkejut dengan peristiwa yang ditimbulkan oleh gadis yang masih bersusah payah mensejajarkan langkahnya dengan atasan mereka, semua berusaha bersikap normal dan profesional.


****


"Niel, aku tadi memesan menu makanan di restoran yang di rekomendasikan oleh Laura, kau harus mencobanya, ayam panggang mereka benar-benar yang terenak." Laura menunjukkan sebuah bingkisan yang di tenteng-nya ke hadapan pria itu, tepat setelah mereka memasuki lift menuju lantai 14.


Beberapa pegawai Daniel yang mengetahui atasan mereka hendak menaiki lift yang sama berjalan mundur dan mempersilahkan keduanya menggunakan lift terlebih dahulu.


Daniel Alvarez Tyee masih mengabaikan ocehan gadis itu tentang menu makanan yang ia promosikan.


"Niel, kenapa kau diam saja?" tanya Bianca tidak mengerti dengan sikap pria itu. Biasanya pria itu akan mengomel atau memarahinya, tetapi Daniel memilih bungkam sepanjang waktu terasa aneh baginya.


"Kalau kau ingin mati, setidaknya jangan di depan pelataran kantor ku." Jawab Daniel mengabaikan pertanyaan pertama gadis itu.


"Ahh, kau mengkhawatirkan aku yaa.." Bianca menggoda pria di sebelahnya. Hatinya senang bukan main, karena susah payahnya terbayar dengan mendapatkan sedikit perhatian dari pria itu.


"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak mau didakwa sebagai seorang tersangka. Mengingat kau memanggil nama ku seperti orang gila di sepanjang perjalanan." Ucap Daniel ketus. Ia merasa barisan angka di floor designator berjalan cukup lambat.


Bianca Maureen meringis ketika mendengar ucapan pria itu.


'Bodoh, aku sudah membuatnya malu dan sekarang ia semakin membenci ku.'


****


Daniel Alvarez Tyee tidak pernah menyangka, seorang pebisnis senior dan berpengaruh seperti Philips Terrence, CEO Terrence Group mengunjungi kantornya. Pria berusia hampir setengah abad itu duduk di salah satu sofa panjang di temani seorang ajudannya, tengah berbicara dengan sekretaris nya.


Melihat kedatangan atasannya, Stella berpamitan dari ruangan itu untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.


Sementara itu, Bianca Maureen kesulitan menelan ludahnya.


Perkataan papa-nya tempo hari tidak main-main. Sekilas bayangan mengenai percakapan dengan papanya tempo hari melintas dalam pikiran Bianca.


Bianca meremas bungkusan plastik yang sekarang ini ia pegang. Memikirkan segala kemungkinan buruk dari pertemuan ini, membuat ia ingin memutar waktu.


Bagaimanapun ini adalah salahnya, karena mengabaikan ultimatum papanya tempo hari.


"Halo papa, kita pulang sekarang saja ya?" Bianca hendak menghampiri papanya namun lebih dahulu dicegah.


"Berhenti!! aku tidak mau kau mengatur ku. Bagaimana pun aku ayahmu." Ucap Mr. Terrence tegas.


"Selamat datang di kantor saya tuan Terrence, suatu kehormatan atas kehadiran anda disini." Ucap Daniel sopan.


Bianca sedikit terperangah melihat pria pujaan hatinya begitu lembut dan berwibawa ketika berhadapan dengan papanya.


"Baiklah, kalian berdua duduk kemari."


Daniel mengambil duduk di depan pria itu sementara Bianca dengan takut-takut mengambil duduk di seberang ayahnya.


"Jadi, apa yang membuat Daniel Alvarez Tyee, CEO dari Corp. Buildings menjadi begitu beraninya menyuruh putri ku meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan ku?" Sindir Philips Terrence tanpa basa-basi.


Daniel merasakan rahangnya mulai mengetat. Gadis itu sudah mempermalukannya lebih jauh.


ia bertaruh bahwa mempermalukan dan mengacaukan hidup orang lain adalah bakat yang tidak di sadari oleh gadis gila itu


"Papa..."


"Diam, aku tidak meminta mu berbicara Bia." Bianca menggigit ujung bibirnya, ia mengurungkan niatnya untuk menjelaskan keputusan yang sudah ia ambil.


"Mr. Terrence sepertinya ada kesalahpahaman dengan hal ini. Saya tidak—"


"Apakah kau mencoba mengatakan aku terlalu bodoh dalam menganalisa perkara ini? Sedangkan jelas-jelas putri ku memilih meninggalkan rumah dan pindah di apartemen yang berhadapan dengan kantor mu?"


"Tidak, justru saya ingin menggunakan hak saya untuk membela diri." Daniel mencoba mengatur nadanya lebih lembut.


"Papa sebenarnya aku—"


"Apakah kau tidak mendengarkan ucapan ku tadi, Bia?" Sahut Mr. Terrence mengintimidasi.


Bianca kembali bungkam. Jika ia tidak menuruti keinginan papanya, hal ini akan lebih berdampak besar bagi dirinya dan juga Daniel.


"Mr. Terrence perihal putri anda yang meninggalkan rumah dan kepindahannya saya sama sekali tidak pernah memintanya ataupun mempengaruhinya. Putri anda yang memutuskan kesemuanya itu."


"Semuanya itu terjadi karena putri ku memiliki perasaan padamu."


"Memang benar, tapi saya tidak pernah mengharapkan perasaan seperti itu dari putri anda, dan saya tidak pernah memaksa ataupun mengambil keuntungan dari perasaan putri anda terhadap saya."


Hening.


Bianca masih meremas ujung dress-nya.


"Kau dengar pengakuan pria ini kan Bianca? apakah belum cukup bagimu untuk bermain-main dengan pria yang sama sekali tidak menginginkan mu? Sebaiknya kau segera pulang ke rumah untuk mempertahankan marga dan martabat keluarga Terrence."


Mr. Terrence segera beranjak dari sofa yang ia duduki, yang kemudian disusul oleh Daniel, meninggalkan Bianca yang masih terduduk di sofanya.


"Tuan Terrence, saya sebagai pria meminta maaf kepada anda atas kesalahpahaman ini." Ucap Daniel di muka pintu.


"Tidak apa-apa," Mr. Terrence mencondongkan tubuhnya ke depan. "Terkadang aku harus bersikap seperti itu untuk menyadarkan putri ku yang keras kepala." Ucap Mr. Terrence berbisik. Pria paruh baya itu tertawa pelan sembari menepuk pundak Daniel.


Daniel sedikit tidak percaya dengan kepribadian dan kecepatan mood pria paruh baya itu berubah sedemikian cepat.