
"Jika putriku Olivia masih hidup mungkin dia akan tumbuh secantik dirimu Bia." Ucap Paman Ben terkekeh pelan. Tangannya yang sudah tua memetik dengan cekatan pucuk daun teh yang masih muda lalu melemparkan ke belakang ambul bambu.
Pagi itu Bianca bangun lebih cepat dari biasanya, awalnya ia membantu bibi Ye di dapur namun karena beberapa kali jarinya hendak teriris ketika memotong sayuran, Bibi Ye yang meringis dan tidak tega jika Bianca terluka maka ia menyuruh Bianca duduk diam dan menemaninya mengobrol.
Tidak berapa lama paman Ben melintas, pria itu meletakkan cangkir kopi yang sudah habis isinya dan tiga buah ubi rebus di mangkuk kecil.
Paman Ben memijat bahu istrinya pelan dan mencium pipi istrinya sebelum pergi.
Bianca terpana melihat keromantisan pernikahan mereka.
"Paman mau kemana?" Tanya Bianca.
"Ke kebun teh. Bianca mau ikut?" Tawar Paman Ben yang langsung di iyakan oleh Bianca dengan penuh antusias.
Cuaca pagi ini belum terlalu panas, area perkebunan masih di selimuti kabut tipis dan matahari seperti malu-malu muncul dari balik awan. Ada banyak orang-orang yang bekerja di kebun teh pagi itu. Semua memberi salam dan menyapa Paman Ben ketika pria itu turut bergabung bersama yang lainnya untuk memetik teh.
Bianca kadang tidak mengerti mengapa paman Ben harus repot-repot bekerja di kebun teh jika ia memiliki banyak pekerja dan sebagaian perkebunan teh ini menjadi milik pria itu.
Namun kebingungan Bianca akhirnya terjawab ketika paman Ben berkata bahwa ia menyukai kegiatannya berkebun dan berinteraksi dengan banyak orang. Selain sehat karena beraktivitas, paman Ben juga dapat melibatkan diri secara langsung dalam bisnisnya.
"Putri paman di mana? apa dia maksud ku Olivia sudah menikah?" Bianca bertanya sembari menghirup aroma pucuk daun teh yang baru saja ia petik.
Kegiatan paman Ben terhenti sesaat setelah mendengar pertanyaan gadis di sebelahnya. Tidak berapa lama pria itu tersenyum dan kembali memetik pucuk daun teh yang terdekat sesuai jangkauan tangannya.
"Olivia sudah meninggal dua puluh tiga tahun yang lalu." Jawab Paman Ben.
"Oh, maaf paman aku tidak bermaksud—" Bianca memegang telapak tangan paman Ben, gadis itu merutuki kecerobohan dan ketidak-pekaannya.
"Tidak apa-apa, itu sudah berlalu cukup lama." Paman Ben tersenyum ringan, dan menepuk-nepuk bahu Bianca untuk menenangkannya karena merasa bersalah mengungkit kesedihannya di masa lalu.
"Olivia meninggal karena penyakit, aku tidak tau bagaimana dia memiliki hati yang mulia. Di usianya yang ke lima tahun dia meminta kepadaku untuk mendirikan panti asuhan sebagai kado ulangtahun nya. Olivia selalu ingin menolong orang lain. Dua tahun setelah panti asuhan 'Kasih Bersinar' di dirikan putri kecil ku meninggal karena kanker di tubuhnya." Bianca terus melihat dan mendengarkan pria itu bercerita. Meskipun paman Ben tidak merasa keberatan membuka kesedihannya tetapi Bianca tidak dapat menahan air matanya.
Gadis itu buru-buru menghapus jejak air matanya sebelum paman Ben melihat nya dan merasa tidak enak hati.
"Daniel, Alicia dan Olivia adalah teman baik. Olivia sudah seperti kakak bagi mereka." Paman Ben tersenyum ketika mengingat kembali kedekatan putri mereka dengan Daniel dan Alicia.
"Iya, Alicia datang ke panti asuhan setelah kematian ke dua orangtuanya. Aku mengingat Alicia dulu sangat tidak terurus dan ia mengalami trauma yang cukup hebat karena melihat orangtuanya meninggal di hadapannya karena kecelakaan lalu lintas. Hanya dia yang berhasil selamat dari peristiwa itu."
Bianca mendengarkan setiap cerita paman Ben dengan seksama.
"Olivia menjadi teman pertama ketika Alicia di antar oleh petugas kepolisan ke tempat kami. Olivia selalu tidur bersamanya ketika Alicia mengalami mimpi buruk. Alicia mulai sedikit terbuka dan gadis kecil itu kembali ceria. Kemanapun Olivia pergi, Alicia akan mengikutinya."
"Dua bulan setelahnya, Daniel datang ke panti asuhan kami. Alicia menemukannya duduk dengan memeluk lututnya di depan gerbang masuk di tengah hujan deras."
"Apa Daniel juga kehilangan kedua orangtuanya?" Tanya Bianca.
"Iya tetapi tidak semuanya, ibunya meninggal karena mencelakai dirinya sendiri. Ayahnya masih hidup dan menikahi dengan wanita lain dua Minggu setelah kematian istrinya."
"Ibu Daniel mencelakai di—dirinya sendiri?" Tanya Bianca bingung, setengah tidak percaya.
"Ya, dari penyelidikan CCTV TKP Evelyn sengaja menabrakkan dirinya ke tengah jalan. Dia meninggal di tempat setelah truk pengangkut barang melintas. Daniel melihat bagaimana ibunya bersimbah darah. Setelah kematian ibunya, dia tidak pernah ingin untuk pulang ke rumah, panti asuhan Kasih Bersinar sudah menjadi rumah keduanya. Daniel dan Alicia paling terpukul ketika kepergian Olivia. Beberapa bulan setelahnya Alicia di adopsi oleh keluarga Creighton dan di bawa ke Australia. Sedangkan Daniel di bawa pulang paksa oleh ajudan ayahnya."
"Namun sepuluh tahun kemudian, Panti Asuhan kami harus tergusur karena pembangunan jalan. Hampir semua anak-anak sudah mendapatkan orangtua adopsi namun Timmy kecil dan yang lainnya bersikeras ikut kami. Aku memutuskan untuk kembali ke desa untuk meneruskan perkebunan orangtua ku dengan membawa beberapa anak-anak. dulu hanya Timmy, Rahel dan Bob namun polisi selalu berdatangan membawa anak-anak yang malang ke pada kami. Aku dan istriku sangat mengasihi anak-anak dan sebisa mungkin membantu menolong mereka dengan menjadi orangtua mereka. Aku berterimakasih kepada putri kecil ku yang sekarang di surga, berkatnya sekarang kami menjadi orangtua yang berguna bagi anak-anak yang lain."
Paman Ben menoleh dan mendapati Bianca di sampingnya sudah menangis sesenggukan.
"Bianca—"
"Paman terimakasih ya sudah menginspirasi dan menyadarkan ku. huhuhu...aku tidak tau hidup ku lebih beruntung dari merek yang tidak mempunyai orangtua huhuhu." Bianca menghamburkan diri memeluk paman Ben.
"Sudah-sudah tidak apa-apa." Paman Ben menepuk pundak Bianca pelan.
"Maaf ya paman terlalu banyak bercerita sampai membuat mu menangis."
"Tidak apa-apa paman aku justru senang mendengar pengalaman hidup paman."
'Mungkin ini yang di rasakan papa dan mama ketika kak Tara tiada. Mereka terus berusaha tegar seperti paman Ben, walau telah kehilangan putrinya.'
Dalam hatinya Bianca berjanji, setelah pulang dari sini ia akan belajar berbakti kepada kedua orangtuanya.