169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
3. Pengganggu



Daniel Alvarez Tyee membenci tiga hal: yang pertama orang yang tidak bertanggungjawab, kedua Hamburger, dan ketiga tipikal pengganggu.


Seperti gadis dihadapannya sekarang.


"Kau harus menikahi ku," ucap Bianca yang lebih terdengar seperti perintah di telinga pria itu.


"Tidak," jawab Daniel Alvarez Tyee pendek, masih sibuk kepada berkas-berkas di mejanya. perkataan ini bukan pertama kali ia dengar. Terhitung sudah sejak tujuh kali dalam seminggu gadis itu akan mengunjungi kantornya dan memberikan pertanyaan serupa.


"Tidak harus hari ini, besok atau lusa juga tidak apa-apa," Bianca masih tetap gigih.


"Tidak dan tidak," Daniel masih tetap pada pendiriannya.


"Ya dan ya. Suatu hari nanti namaku akan berubah menjadi Bianca Maureen Tyee," ucap Bianca penuh keyakinan.


Daniel menghentikan aktivitasnya memeriksa beberapa berkas dokumen. Darahnya mendidih, tangannya terkepal. Pria itu menghela nafas panjang untuk mengatur emosinya.


"Apakah kau tidak punya pekerjaan? Setiap hari kau kemari dan membawa pertanyaan yang sama. Lebih baik kau cari pria lain saja untuk kau nikahi," ucap Daniel ketus.


"Emm...aku berpikiran hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja." Daniel hendak menyela namun gadis itu lebih dahulu berbicara. "Aku tidak bisa mencari pria lain. Aku hanya mau kau yang menikah ku," Bianca masih tersenyum mengabaikan guratan emosi di wajah pria itu.


"Dengar lebih baik kau pergi daripada terus-terusan mengganggu pekerjaan ku."


"Iya..iya... oh iya aku bawakan sarapan untuk mu. Ku taruh disini ya," Bianca menaruh bungkus kertas coklat di depan pria itu. Namun Daniel tetap mengabaikannya.


Bianca terus memandangi wajah pria itu. Dari dahi, alas, hidung, mata semua yang ada pada pria itu adalah gambaran paras dewa.


"Berhenti memandangi ku. Sebelum aku memanggil sekuriti untuk membawa mu keluar," kata Daniel Tyee mengintimidasi.


"Tidak usah repot-repot, aku juga sudah mau pergi kok,"


"Hm, Baguslah," sahut Daniel cuek, lebih berfokus membaca berkas-berkas di tangannya.


"Niel...?" Bianca melongok kan kepalanya di antara pintu, hanya dua orang yang memanggil nya seperti itu yaitu mendiang ibunya dan Bianca. "Pikirkan rencana untuk menikahi ku ya, semangat bekerja aku akan selalu mendukungmu," tepat setelah gadis itu mengatakan kalimatnya, ia segera menutup pintu ketika pria itu sudah memberikan tatapan mengerikan kepadanya.


Daniel kembali menghela nafas. Matanya kembali melirik bungkusan coklat dengan kalimat tercetak 'Eat Your Burger'.


Pria itu menggenggam erat pulpen hitam ditangannya.


Hamburger dan perempuan itu adalah perpaduan masalah yang sangat menyebalkan bagi dirinya.


"Stella, cepat kemari dan buang makanan ini," Daniel memanggil sekretaris nya lewat saluran telepon untuk membereskan masalah yang dibuat oleh gadis itu.


****


Seorang pelayan datang menghampirinya ketika gadis itu sudah duduk di salah satu kursi pelanggan.


"Selamat pagi nona, ini daftar menunya anda ingin memesan apa?" Pelayan dengan rambut di cepol dua tersenyum dan bertanya kepadanya.


"Oh eem, aku akan pesan ketika teman-teman ku sudah datang saja."


"Baik nona, anda bisa memanggil saya kembali setelah teman anda datang, permisi," Pelayan itu berlalu dari hadapannya dan beralih kemeja lain.


Suasana Kafetaria pagi ini cukup dipadati pengunjung. Mengingat ini adalah waktu dimana orang-orang yang hidup di tengah-tengah kota metropolitan menikmati sarapannya.


"Apakah kami terlambat?" Laura Grizela Huang bertanya sambil melepaskan coat-nya lalu menyampirkannya ke belakang kursi dan mulai duduk berlawanan arah dengan gadis itu


"Tidak juga, aku juga baru sampai. Mengapa kalian bisa kompak datang secara bersamaan?" tanya Bianca Maureen heran.


"Aku tadi ada pemotretan, lokasinya tidak jauh dari kantor beruang Grizzly ini jadi aku memberinya tumpangan," sahut Thomas Fodao yang duduk di samping Laura.


"Hei siapa yang kau panggil beruang??" Tanya Laura kesal, ia memukul kepala Thomas dengan tasnya.


"Kaulah siapa lagi, Jacob Emanuel Terrence juga tau panggilan mu itu," Thomas menggerutu sambil mengelus kepalanya. " Sakit tau, kau memasukkan batu bata ya ke tas mu itu?"


Mengabaikan ocehan Thomas, Laura menyahuti, "Jangan panggil aku beruang Grizzly lagi."


"Dasar tidak adil, Jacob saja memanggilmu dengan sebutan itu," protes Thomas kesal.


"Ya itu Jacob, bukan kau" Laura memutar matanya malas.


"Hmm, melihat kalian bertengkar aku rasa semua baik-baik saja. Kupikir karena kalian semobil, Laura sudah memutuskan untuk berhenti menyukai kakak ku" Bianca terkekeh geli. Fakta bahwa Laura Grizela Huang, putri dari keluarga Publishing Huang Crop menyukai Jacob Emanuel Terrence sejak SMA sudah bukan menjadi hal yang rahasia lagi bagi mereka bertiga.


"APA??" Thomas dan Laura menjawab serentak, tidak terima terhadap asumsi Bianca.


"Lebih baik aku menjadi biarawati daripada terlibat asmara dengan dia." Laura mencibir.


"Mau dilihat dari manapun baik Laura dan seluruh wanita di dunia ini tidak akan ada yang selevel dengan Cherry-ku." Bianca dan Laura saling bertatapan dan mengedikkan bahu mendengar pernyataan Thomas.


"Jadi, apa yang membuat seorang Bianca Maureen mentraktir sarapan kita pagi ini?" Laura bertanya dengan penuh selidik.


"Pasti karena Daniel Alvarez Tyee siapa lagi." Sahut Thomas Fodao melipat kedua tangannya.


"Hehehe kalian memang sahabat terbaikku," Bianca tersenyum.


Bianca Maureen telah menjalin persahabatan dengan Thomas Fodao dan Laura Grizela Huang sejak mereka duduk di kelas satu SMA hingga masa sekarang.


"Aku menyesal ketika tidak sempat ikut pesta keluarga Terrence seminggu yang lalu, aku penasaran setampan apa pria bernama Daniel Alvarez Tyee sampai membuat mu tergila-gila seperti ini," Laura membuka percakapan mereka ketika hidangan sudah sampai di meja mereka.


"He's more than just handsome, he's the perfect guy, ya setidaknya bagiku. Dan saat dia menyelamatkan aku dari Antony bahkan ketika aku hampir sekarat, he was manly," Bianca Maureen akan selalu antusias ketika topik yang dibahas mengenai Daniel.


"Tipikal Bianca, tidak peduli kaya atau tidak selama dia tampan dia akan menyukainya," ucap Thomas Fodao sambil menyuapkan pancake saus madu dengan sedikit krim ke mulutnya.


"Tapi kali ini aku serius, aku benar-benar jatuh hati karena sikapnya, dan yaa memang dia juga tampan sih. Tapi ketika aku melihat matanya aku seakan meleleh dibuatnya," Bianca berbinar ketika mengingat kembali peristiwa dimana ia tenggelam dan Daniel menolong nya.


"Mengingat tujuh kali dalam seminggu kau mendapatkan penolakan darinya dan tetap mengejarnya, aku percaya sih sebesar itu kau menggilainya," apapun yang dihadapi oleh Bianca, Ia pasti akan menceritakan setiap detailnya di grup chat atau melakukan panggilan grup dengan sahabatnya itu.


"Jadi aku harus bagaimana? aku tidak keberatan untuk terus datang kepadanya dan bertanya hal yang sama. Tapi sepertinya dia memang tidak menyukai ku," terselip perasaan sedih ketika Bianca mengutarakan masalahnya kepada sahabatnya.


"Kau tidak perlu kuatir, aku dan kau, kita juga sama-sama berjuang mendapatkan hati orang yang kita sukai. Aku akan berjuang mendapatkan Cherry ku dan kau untuk Daniel mu," Thomas Fodao memberikan salah satu tangannya yang terkepal dan Bianca menyambut tos itu dengan baik.


"Jadi, Laura apa yang membuatmu berhasil menaklukkan kakak ku yang juga sama dinginnya dengan Daniel?" Bianca bertanya kepada Laura yang pernah mengalami masalah serupa dengan dirinya.


"Kadang kita harus membuatnya ada pada kondisi sulit mengabaikan kita," jawab Laura sembari memotong steak nya.


"Membuatnya dalam kondisi sulit mengabaikan?" Bianca mengeja kalimat itu secara hati-hati dalam otaknya.