169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
16. Kenangan



Pagi itu mereka memutuskan untuk berpamitan. Daniel dan Alicia memeluk paman Ben dan bibi Ye lalu beralih memeluk satu persatu anak-anak.


Bianca yang turut berpamitan mendapatkan pelukan dari paman Ben dan bibi Ye.


"Jika ada waktu, Bianca bisa berkunjung kemari." Ucap bibi Ye di sela-sela pelukannya. Bianca menganggukkan kepala antusias.


"Kak Bianca ini Sasy buat sendiri." Sasy menyerahkan syal rajut berwarna soft pink untuk Bianca.


"Untuk ku?" Tanya Bianca yang mendapat anggukan Sasy.


"Terimakasih Sasy." Ucap Bianca memeluk Sasy.


"Sama-sama, sampai jumpa kak." Gumam Sasy dalam pelukannya.


Satu persatu anak-anak memeluk Bianca dan mengucapkan rasa terimakasih mereka.


Pagi itu semua anak-anak menahan tangisnya karena kepergian Daniel, Alicia dan Bianca.


Timmy membantu memasukkan barang-barang ke mobil.


Setelah berpamitan, mobil yang di kendarai oleh Daniel perlahan meninggalkan halaman rumah. Bianca dan Alicia melambaikan tangan ke arah mereka.


Maurin tampak menangis dalam gendongan paman Ben. Balita itu merentangkan kedua tangannya, seperti ingin ikut serta.


Alicia tertawa dan melambaikan tangannya.


Sepanjang perjalanannya, Bianca mulai membuka tas kecilnya dan mengambil ponsel miliknya.


Berada di desa selama tiga hari membuatnya kesusahan menghubungi orang-orang terdekatnya karena terhalang jaringan.


Bianca melihat ada 72 pesan dan 109 Panggilan tidak terjawab.


'Hei? kau dimana?' Laura mengiriminya pesan.


'Kau pergi kemana?' Thomas bertanya hal serupa.


'Bianca? jangan bilang kau kawin lari dengan Daniel' Kali ini Bianca tertawa membaca pesan Thomas.


'Kau kabur kemana lagi? Papa sudah mengirim orang kepercayaannya dan polisi untuk mencarimu' Kakaknya Jacob juga mengiriminya pesan.


'Nak, putri ku kamu sedang di mana? ayo cepat pulang kami menanti mu di rumah.' Ibunya juga tampak mencemaskan keberadaan Bianca yang seolah hilang tanpa kabar.


Bianca merasakan keresahan Laura dari pesan-pesannya. Gadis itu mengingat kejadiannya pergi membuntuti Daniel tanpa perencanaan sama sekali. Ia belum sempat memberikan kabar ataupun memberi tahu ide nya itu kepada sahabat-sahabatnya. Bahkan untuk pakaian pun ia harus meminjam dan membeli secara mendadak di pasar. Benar-benar rencana berpergian tanpa persiapan sama sekali.


'Dalam tiga hari, kau tidak pulang kerumah papa akan menyuruh orang untuk meledakkan kantor Daniel dan membawanya ke penjara.' Bianca meringis ketika membaca pesan papanya. Memang sikap papanya tidak pernah terduga.


Dari banyaknya pesan yang ia baca, Bianca merasa aneh ketika mendapati salah satu pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.


'Tunggu pembalasanku'. Merasa bahwa mungkin si pengirim pesan itu salah sambung


Bianca mengabaikan pesan itu.


Bianca mengetikkan pesan yang sama untuk orang-orang terdekatnya.


'Jangan khawatir aku dalam perjalanan pulang, sehabis berlibur.'


Sesudah mengirimkan pesan, Bianca memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menatap syal di pangkuannya. Dia sudah memiliki banyak syal yang ia pernah beli dari toko-toko berbeda di luar negeri. Namun syal milik Sasy adalah yang istimewa karena di buat sendiri dan di berikan kepadanya. Bianca memakai syal itu meliliti lehernya. Ia menyandarkan kepalanya di permukaan kaca.


Bianca tersenyum mengingat apa saja yang sudah ia lewati selama beberapa hari ini. Tentu saja dia mendapatkan pelajaran berharga selama tinggal di rumah paman Ben dan bibi Ye.


Daniel memandang Bianca dari balik kaca spion, gadis itu tidak lagi berisik seperti biasanya. Daniel tahu bahwa Bianca akan berusaha mencari cara untuk membuat Daniel tidak terlalu dekat dengan Alicia.


Namun, sepanjang perjalanan pulang kali ini Bianca hanya diam. Daniel mengamati gadis itu sibuk dengan ponsel miliknya kemudian sibuk memandangi syal dari Sasy. Setelah memakai syal itu bahkan Bianca mulai mengambil posisi untuk tidur.


'Begini lebih baik.' Pikir Daniel.


Alicia memperhatikan Daniel yang sesekali melirik ke arah Bianca dari kaca kemudi di atasnya.


Alicia membuka topik obrolan, gadis itu berencana mengundang Daniel pada ajang pameran galerinya di Jakarta pusat. Beberapa pekan lalu dia sudah membangun kerjasama dengan pihak Edwin's Gallery untuk menarik para kurator seni. Alicia berencana membangun koneksi kerja seluas mungkin. Ia bercita-cita agar karyanya dapat dikenal oleh masyarakat luas bahkan sampai mancanegara. Alicia juga mendambakan suatu saat ia memiliki galerinya sendiri.


Sementara Bianca tengah jauh berlabuh dalam mimpinya, Daniel setuju untuk datang sebagai pendamping Alicia di acara pameran seni nanti.


Hening.


Setelahnya tidak ada lagi perbincangan sepanjang perjalanan itu. Alicia yang sudah terlalu lelah jatuh tertidur menyusul Bianca yang sudah nyenyak di alam mimpi.


_


Hai yuk terus dukung author dengan cara berikan like, komen, vote ataupun gift supaya author lebih semangat up nya. Terimakasih sudah mampir 😊😍