169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
13. Genggaman Tangan



"Paman..." Seru Alicia melambaikan tangan ke arah Paman Ben dan Bianca berdiri. Bianca menoleh ke arah mereka dengan rasa heran.


Bianca mendapati Alicia bersama Daniel dan anak-anak di depan mereka tengah berdiri di seberang jalan setapak di tengah-tengah perkebunan membentuk barisan seperti kereta api manusia.


Maurin, balita berusia tiga tahun itu sedang dalam gendongan Alicia.


"Hati-hati.." balas Paman Ben melambaikan tangan yang langsung direspon dengan anggukan kompak oleh anak-anak dan Alicia, sementara Daniel masih mengekor di belakang Alicia.


Dalam sekejap Alicia, Daniel dan rombongan anak-anak sudah berjalan memasuki kawasan hutan yang banyak di tumbuhi pepohonan.


"Mereka kemana?" Tanya Bianca yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Oh, semalam Alicia izin untuk membawa anak-anak, mereka mau pergi ke sungai di hutan." Balas Paman Ben sambil memetik dedaunan teh dan menaruhnya di ambul.


"..." Bianca menatap kepergian mereka yang hampir hilang dari balik pepohonan. Sebenarnya ia juga ingin ikut serta, namun Bianca merasa tidak enak hati meninggalkan Paman Ben sendirian. Lagipula dia yang setuju dan menawarkan diri untuk membantu pria itu di kebun.


"Kenapa? Bianca mau ikut?" Tanya paman Ben membuat Bianca terkesiap. Pria paruh baya itu seperti bisa membaca keinginan hatinya.


"Eh..emm.. aku aku bantu paman saja." Jawab Bianca terbata, merasa bahwa apa yang di ucapkan nya tidak sesuai dengan keinginan hatinya.


"Tidak usah, lain kali saja. Sekarang pergilah, nikmati saja liburan mu disini." Paman Ben tersenyum melihat Bianca merasa segan.


"Benarkah paman? Maaf ya paman aku tidak dapat membantu mu." Ucap Bianca merasa antusias dan sedikit merasa tidak enak hati.


"Iya tidak apa-apa, tidak usah pikirkan aku. Sekarang kamu pergi susul mereka, ikuti saja arah jalan setapak di depan. Mereka mungkin belum ja—" Paman Ben terkejut ketika ia menoleh dan mendapati Bianca tidak lagi berada di sampingnya.


Gadis itu sudah berada di depannya entah sejak kapan, berlarian seperti bocah.


"Terimakasih ya paman, aku pasti akan membayar hutang ku lain kali." Teriak Bianca tergesa-gesa. Karena terlalu sibuk menoleh ke belakang, gadis itu tidak melihat ada batu yang mengakibatkan dirinya terjembab.


"Dasar anak muda..." Gumam paman Ben tersenyum kecil melihat Bianca jatuh dari antara rimbunan teh, namun gadis itu segera bangkit dan berlari dengan cepat menuju arah hutan.


***


"Tung..tunggu..." Ucap Bianca dengan nafas tersengal-sengal. Tangan gadis itu memegang sisi perutnya yang merasa sedikit kram tanpa peregangan lebih dahulu sebelum berlari.


Berbeda dengan Alicia dan semua anak-anak yang cukup di buat terkejut dengan kehadiran Bianca yang tiba-tiba, Daniel tidak merasa terkejut sama sekali. Satu bulan dia mengenal gadis itu membuatnya hafal bagaimana kelakuan gadis itu yang akan secara tiba-tiba muncul tanpa terduga. Dan hal itu membuatnya harus memilik kesabaran karena rutin mendapatkan kejutan-kejutan tak terduga untuk jantungnya.


Merasa situasi yang di alami pria itu sama seperti sebelum-sebelumnya, ia memilih bungkam.


"Kenapa kau ada di sini?" Timmy memicingkan mata tidak suka.


"Aku ikut ya.." ucap Bianca nyengir, mengabaikan tatapan mata anak-anak di hadapannya yang lebih dominan tidak menyukai kehadirannya.


"Si pengacau." Gumam Bob sembari memeriksa detak jarum jam di tangannya.


"Adakah dari kita setuju jika kak Bianca ikut bersama kita? kalau ada yang setuju silahkan angkat tangan." Seru Rahel mengadakan voting secara mendadak untuk menentukan Bianca dapat ikut serta atau tidak.


Sasy hendak mengangkat tangan, namun Justin yang di belakangnya lebih dahulu menggenggam tangan gadis itu dan menggelengkan kepala tidak memperbolehkan.


Maurin hanya tertawa kecil sambil mengigit dot di antara giginya ketika melihat kelakuan orang-orang yang lebih dewasa darinya.


"Kau lihat kan, tidak ada yang setuju. Kau tidak boleh ikut bersama kami." Putus Timmy cepat.


"Aku tetap akan ikut." Ucap Bianca bersikeras.


"Tidak." Sahut Timmy bersikukuh.


"Iya."


"Tidak dan tidak."


"Iya dan iya."


"Tidak.. tidak dan tidak."


"Iya...iya dan iya."


Daniel yang melihat kelakuan Timmy dan Bianca memutuskan untuk mengambil sikap.


"Sudah cukup." Potong Daniel cepat. Baik Bianca maupun Timmy masih saling melemparkan tatapan kebencian satu sama lain.


"Tidak mau."


"Kau harus sadar diri, tidak ada yang mengizinkan mu untuk ikut bersama kami." Timmy mencibir.


"Tidak, lagipula paman Ben yang menyuruh ku untuk ikut. Aku tidak mau pergi."


"Sudah-sudah jangan ribut, biarkan Bianca ikut bersama kita. Timmy, kau harus lebih sopan, Bianca lebih tua darimu seharusnya kau memanggilnya kakak bukan?" Alice berusaha menengahi pertikaian antara Bianca dan anak-anak.


Bianca yang merasa di atas angin karena mendapatkan pembelaan meledek Timmy dengan menjulurkan lidahnya.


Tangan Timmy terkepal di kedua sisi, bocah itu beranjak pergi dengan emosional mendahului kesemuanya.


Perkataan Alice seperti sebuah mantra ajaib, tidak hanya dapat menggerakkan Daniel tapi juga anak-anak. Meski dengan berat hati mereka menerima Bianca dalam perjalanan mereka kali ini.


Bianca tersenyum senang dan mengekor di belakang Daniel sepanjang perjalanan mereka menuju sungai.


'Melihat punggung Daniel yang kokoh dan lebar membuat ku tergoda untuk meminta gendong.'


Bianca membatin, sepanjang perjalanannya ia tiada henti menatap punggung Daniel. Gadis itu bahkan meraup aroma parfum yang Daniel kenakan sebanyak-banyaknya dan mematri aroma itu dalam ingatannya. Bianca memuji selera parfum Daniel yang lembut tapi membuat siapapun begitu mendamba.


***


Setengah jam kemudian, mereka tiba di sungai. Bianca dapat mendengar aliran sungai yang cukup deras, namun dirinya belum sepenuhnya melihat pemandangan di depan karena terhalang oleh barisan terdepan.


Untuk mencapai sungai, mereka harus lebih dahulu turun ke bawah melewati tanah yang sedikit tinggi dan landai.


Daniel yang berada di barisan paling belakang bergegas ke depan lalu melompat dan berdiri di samping Timmy yang sudah lebih dahulu menanti di bawah.


Bianca dapat melihat pemandangan sungai lebih jelas. Ini adalah kali pertamanya melihat sungai secara langsung. Dulu, ketika bersekolah ia pernah akan pergi piknik ke air terjun tapi mamanya melarang alasannya karena berbahaya untuk gadis seumurannya. Bahkan pergi ke pantai pun juga harus bersama-sama dengan orangtuanya. Bianca tahu ke dua orangtuanya masih trauma karena pernah kehilangan putrinya.



Liburannya selama ini, hanya di habiskan dengan berkeliling Mall luar negeri dan destinasi wisata yang tidak berbau air.


Daniel dan Timmy menolong yang lainnya untuk menuruni tanah.


Satu persatu satu memegang tangan Daniel dan Timmy untuk menuruni tanah yang sedikit curam.


Ketika tiba giliran Bianca untuk turun, Timmy berlalu pergi.


Bianca yang mengetahui hal itu memilih untuk bersikap cuek dan tidak mempedulikan sikap Timmy yang dingin dan kasar kepadanya.


"Kemarikan tangan mu." Bianca terkesiap, tidak percaya jika Daniel masih menunggunya untuk menuruni tanah.


Alih-alih menerima tangan Daniel, Bianca mengamati tangan Daniel yang terulur padanya lalu kembali mengamati wajah pria itu secara bergantian. Seolah tidak percaya hati pria itu menjadi lunak padanya.


'Apa Dewi Fortuna sedang berpihak padaku?'


Tanya Bianca keheranan.


"Cepat, jangan berpikiran aneh-aneh!" Merasa tau apa yang dipikirkan gadis itu, Daniel meminta Bianca untuk segera turun dan tidak berasumsi bahwa dia menaruh hati pada Bianca.


Bianca dengan senang hati menerima uluran tangan Daniel lalu melompat untuk menuruni tanah tempat semula ia berpijak.


Bianca tidak pernah merasakan perasaannya menjadi seringan kapas hanya karena sentuhan telapak tangan pria itu pada tangannya.


Beberapa detik yang lalu, Bianca merasa seperti menjadi tokoh Marry Jane ketika Peter Parker dalam balutan kostum spiderman-nya, membawa gadis itu berayun-ayun di atas gedung-gedung tinggi dengan jaring laba-laba nya.


Daniel melepaskan secara kasar tangan Bianca, ketika gadis itu berhasil menuruni tanah yang curam. Pria itu bergegas pergi menyusul Alicia dan anak-anak lainnya, meninggalkan Bianca seorang diri.


Sepanjang langkahnya, Bianca menatap telapak tangannya yang baru saja di genggam oleh pria pujaan hatinya. Gadis itu semakin salah tingkah ketika mengingat kembali betapa besarnya telapak tangan pria itu dalam genggaman tangannya. Jika dia harus menuruni tanah yang tinggi bahkan gunung dan lembah curam sekalipun ia tidak akan merasa keberatan asalkan Daniel yang membantunya seperti tadi.


Dari kejauhan, Timmy dan anak-anak lainnya memandang tidak suka ke arah Bianca yang sedang tersenyum senang mengamati telapak tangannya.


_


Hai jangan lupa berikan like, komentar, vote, gift ataupun share cerita ini supaya author semangat up nya. Terimakasih ya sudah mampir jangan pernah bosan untuk menikmati perjalanan Bianca mendapatkan hati Daniel😉🤗