169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
4. Kejutan



Dua hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Daniel Alvarez Tyee. Bagaimana tidak, gadis menyebalkan bernama Bianca Maureen Terrence telah mengiriminya pesan bahwa ia tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang calon istri yang baik dengan terus menerus mengunjungi nya dan mengantarkan sarapan pagi seperti biasanya karena ada kesibukan lain.


'Selamat pagi Niel, maaf aku tidak bisa datang karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Percayalah ini akan membuat mu terkesan. Jangan bilang selama dua hari ini kau sudah kangen karena tidak melihat ku, 😁❤️❤️❤️❤️ hehehe semoga harimu menyenangkan.❤️❤️❤️❤️❤️"


Sudut bibir Daniel terangkat sedikit ketika membaca pesan dalam ponselnya.


Bagus, kalau perlu tidak usah menampakkan diri dan mengejar ku lagi.' Ucap Daniel dalam hati.


Daniel Alvarez Tyee meraih cangkir kopinya, menikmati secangkir kopi di pagi hari tanpa kehadiran gadis itu adalah kombinasi yang paling menenangkan.


Namun ketika Daniel meminum kopi itu, ia mengerenyitkan dahinya, tanpa berkomentar apapun ia kembali menaruh cangkir kopinya.


Tok... Tok..Tok..


"Saya Stella pak, apakah saya boleh masuk?" Ucap Stella dari balik pintu.


"Masuklah."


Ketika Stella memasuki ruangan kerjanya ia tampak sedikit takut-takut, jari jemari tangannya saling bertautan.


"Ada apa?" tanya Daniel pelan.


"Maa....maaf pak kopi bapak tertukar dengan cangkir saya." Ucap Stella dengan takut. Ia tidak berani menatap wajah bosnya karena dia merasa terlalu ceroboh memberikan gula pada kopi atasannya itu. Daniel Alvarez Tyee selalu tidak menyukai kopi yang di seduh dengan gula dan Stella menambahkan empat sendok gula ke dalam cangkir itu.


"Tidak apa-apa, kau bisa buat lagi yang baru." Stella mengerjapkan kedua matanya. Tidak ada kata-kata pedas keluar dari mulut bossnya itu. Empat tahun bekerja menjadi sekretaris pria itu tentu saja Stella hapal betul bagaimana karakter bossnya.


Pernah tanpa sengaja dia mengerjakan laporan ada begitu banyak typo dalam laporan yang baru saja ia ketik, hasilnya ia mendapatkan kalimat cercaan dan dia di klaim mungkin saja tidak lulus pelajaran membaca dan menulis.


Ia juga pernah sekali terlambat karena tetangganya melangsungkan pesta pernikahan dengan volume musik yang lumayan kencang. Besoknya dia mendapatkan hukuman potong gaji.


Daniel Alvarez Tyee paling tidak bisa mentolerir orang-orang yang tidak kompeten dalam pekerjaannya.


Tapi sekarang bahkan amarah, kata-kata pedas atau ancaman potong gaji tidak keluar dari mulut pria itu.


"Stella, apakah kau tidak mendengar apa yang barusan kukatakan?" Tanya Daniel bingung melihat sekretarisnya diam mematung.


"Ha? eh...ba baik pak." Dengan tergesa-gesa Stella segera mengambil cangkir kopi itu dan beranjak pergi.


"Stella?" Panggil Daniel sekali lagi.


Stella merasakan jantungnya berdegup kencang, ia memaki dirinya dalam hati.


'Sial, Pak Daniel kan belum memberikan aku aba-aba untuk pergi ataupun keluar'


"I..iya pak?" Stella menoleh kearah bosnya. Daniel mengalihkan wajahnya dari monitor komputer di hadapannya.


"Kurangi konsumsi gula, itu tidak baik untuk kesehatan mu."


"Ha? i..iya pak ter—terimakasih atas sarannya." Jawab Stella masih setengah bingung dengan tingkah bosnya.


"Apa ada hal yang perlu bapak bicarakan lagi?"


"Hm tidak, kau boleh pergi." Jawab Daniel sembari mengetik tuts di keyboardnya.


"Bbaik pak, saya permisi." Stella berpamitan lalu bergegas meninggalkan ruangan atasannya itu.


"Apakah pak Daniel tidak sengaja terbentur sesuatu? mengapa sikapnya berbeda sekali?hahh benar-benar sangat mengejutkan." Gumam Stella saat berjalan menyusuri lorong pantry.


****


"Ini mau diletakkan dimana Bu?" Salah seorang pekerja bertanya kepada Bianca.


'Bu? memangnya wajahku terlihat tua apa?'


"Bu?" Tanya pekerja itu sekali lagi.


"Panggil saya Bianca saja, saya belum tua. Oh Letakkan saja lemari itu di kamar utama."


"Baik bu, ah maksud saya Nona Bianca." Pekerja itu merasa kurang pantas memanggil kliennya seperti itu, jadi ia memutuskan memanggil nya nona.


Drrt..Drttt..


Ponsel di saku gadis itu bergetar. Bianca segera mengambil ponselnya, tertulis nama 'Mama' di layar ponselnya.


"Halo ma?"


"Bia... mama sudah bilang jangan kamu memutuskan sesuatu sebelum papa mu pulang." Suara ibunya terdengar sangat panik.


"Bia cepat pulang. Apa-apaan dengan sikap mu itu, Papa mendapatkan berita dari kakakmu, kau memutuskan untuk pindah rumah. Baru tiga hari papa di Tiongkok kamu sudah berulah. Cepat pulang sekarang!"


"Ta..tapi pa Bianca mau..."


Tut...tutt....tuutt


"Halo? Halo pa?" komunikasi itu di putus secara sepihak oleh papanya.


"Jacob sialan, sudah aku bilang jangan kasih tahu papa dia tidak mendengarkan."


'Dalam dua hari ini papa tunggu kamu pulang, atau papa akan datang menghancurkan kantor Daniel.' Bianca semakin frustasi ketika membaca pesan singkat dari papanya.


"Ini semua gara-gara Jacob, semua rencana ku berantakan." Bianca mengacak-acak rambutnya kesal.


****


Pukul sebelas siang satu jam sebelum istirahat makan siang. Beberapa dewan direksi Corp. Buildings tengah berkumpul diruang kantor Daniel Alvarez Tyee untuk membahas beberapa proyek yang akan mereka kerjakan.


Corp. Buildings adalah perusahan yang bergerak di bidang rekayasa industri, perusahaan ini adalah salah satu dari dua perusahaan milik keluarga besar Tyee.


Ketika mendengarkan gagasan dari Profesor Doktor Pieter Liam mengenai inovasi mutakhir mengenai pembangunan proyek industri ramah lingkungan tiba-tiba ia mendapatkan sebuah pesan dari sebuah nomor asing.


'Hai' Daniel memilih mengabaikan pesan itu dan kembali berfokus untuk mendengarkan gagasan yang disampaikan.


'Hai, sedang apa?' Daniel tanpa sengaja melirik pesan itu kembali. Ia berpikir pasti ini ulah orang asing. Ketika ia hendak memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya, ia kembali membaca sebuah pesan dari nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya itu.


'Coba buka tirai kantor mu'


'Jika tidak, nanti kau akan menyesal lho'


Merasa kesal dan penasaran, Daniel mengikuti instruksi pengirim pesan misterius itu.


Ketika ia meraih sedikit celah tirai di sampingnya, kedua matanya membulat dengan sempurna.


Gadis menyebalkan yang sudah dua hari ini tidak muncul di hadapannya sedang melambaikan tangan dari puncak apartemen seberang kantornya.


"Gadis gila" Gumam Daniel yang dapat didengar oleh semua orang di ruangan itu sehingga mereka semua berbalik menatap ke arahnya.


"Maaf lanjutkan saja pembahasan nya." Daniel mempersilahkan untuk meneruskan kembali pembahasan ini.


Daniel mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa kalimat untuk menanyakan mengapa gadis itu bisa berada disana. Namun ia menghapus kalimat itu dan memilih bersikap acuh tak acuh.


'Mulai hari ini dan seterusnya aku akan pindah ke apartemen ini agar bisa selalu bertemu dengan mu dengan mudah.' Seperti menjawab keheranan pria itu, Bianca mengirimi alasannya mengapa dia berada disana.


'Bagaimana? kau terkesan tidak?'


'Oh iya, aku baru saja membeli nomor baru. Tadi aku melihat ada nomor yang belakang nya 169, gabungan kedua tanggal lahir kita yang sangat keren. Aku memutuskan akan menghubungi dan menyimpan nomor mu menggunakan satu-satunya kartu ini.'


Daniel mengabaikan pesan itu, Dahinya bertumpu pada salah satu telapak tangannya.


Bianca tidak hanya akan mengganggunya tetapi juga akan menghantui hidupnya setiap hari.


"Pak Daniel?" Profesor Peter memanggilnya.


"Iya?"


"Apakah anda baik-baik saja?"


"Oh ya saya baik-baik saja, hanya saja saya memikirkan bagaimana kalau kita merencanakan program baru, seperti memindahkan gedung kantor ini ketempat lain?"


"APA?" Ucap seluruh anggota dewan direksi serempak, terkejut dengan ide petinggi mereka.


"Sepertinya tempat ini terlalu banyak gangguan dan polusi."


"Tapi ini merupakan wilayah strategis kantor kita karena cukup mudah untuk mengakses daerah perkotaan dan melakukan proyek marketing kita pak."


"Iya pak, lagipula untuk mencari lokasi dan perizinan pemerintah setempat juga memerlukan cukup banyak waktu."


Seluruh ruangan mendadak menjadi penuh keributan, anggota dewan direksi saling melontarkan argumennya.


"Ah baiklah-baiklah aku hanya bercanda." Daniel Alvarez tersenyum kikuk.


Jauh dalam hatinya ia mengutuk keberadaan gadis bernama Bianca Maureen Terrence yang sudah mengacaukan hari-harinya kembali.