169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
5. Saingan Baru



Bianca Maureen tidak mengira jika mengejar cinta Daniel Alvarez Tyee ada begitu banyak kendala.


Bukan, bukan karena ia telah lelah oleh penolakan dari pria itu kepadanya. Justru sikap dingin dari pria bermarga Tyee itu yang semakin menambah pesona di mata Bianca Mauren.


Semua ini karena ia mendapati dirinya menemukan lawan yang memberatkan langkahnya untuk mendapatkan cinta Daniel Alvarez.


Lima belas menit lalu, Bianca datang ke kantor pria itu dan membawa beberapa menu sarapan dari restoran ternama.


Seperti biasa Daniel Alvarez Tyee mengabaikan kehadirannya. Bahkan dress biru yang ia kenakan memerlukan waktu dua jam untuk memutuskan ia akan memakainya atau tidak, tidak mampu membuat pria itu berpaling untuk menatapnya.


Bianca duduk di salah satu sofa dengan tenang sembari bertopang dagu memandang wajah pria itu.


Meskipun sudah ratusan kali ia memuji pria itu, Daniel tidak menanggapinya sama sekali dan lebih memilih menyibukkan diri membaca format proposal yang sudah menumpuk di meja.


Bianca tidak akan pernah bosan mengamati dan mengagumi setiap inci dari pria itu. Ketika ia menatap pria itu, ia larut dalam imajinasinya ketika pria itu berbalik menikahi dan mencintainya.


Semua terasa menyenangkan bagi Bianca, pagi ini adalah hari yang sempurna bagi gadis itu.


Tetapi semuanya tidak semudah imajinasinya. Hobi untuk mengamati dan mengagumi pria itu mendadak terinterupsi dengan kedatangan seorang gadis lain dan kedatangan gadis itu mampu mengalihkan perhatian Daniel ketika gadis itu tiba-tiba memanggilnya 'Danii' dan pria itu terkejut dan merespon memanggilnya 'Cia'.


Bianca Maureen tidak pernah mengenal dan berinteraksi dengan gadis bernama 'Cia' itu secara langsung. Namun, ia tahu betul gadis yang sedang berdiri dihadapannya ini adalah gadis yang ada dalam bingkai foto yang memang sengaja di letakkan di meja kerja Daniel.


Suatu kali, ketika tanpa sengaja Bianca mengamati foto itu, Daniel murka dan menyuruhnya untuk tidak bersikap lancang dengan memegang barangnya secara sembarangan.


Alicia Cherish Creighton, begitulah nama gadis itu, ketika ia memperkenalkan diri kepadanya.


Alicia Cherish bukanlah gadis biasa-biasa saja.


Ia memiliki kecantikan yang natural dan sikap yang lembut. Gadis di hadapan Bianca ini berani untuk tampil dengan make up tipis, atau barangkali ia sama sekali tidak memakai riasan berbeda dengan dirinya yang tidak terlalu percaya diri ketika akan bertemu Daniel.


Gadis itu juga memiliki tubuh proporsional. Mungkin pakaian Alicia tidak semahal miliknya. Tetapi dengan kaos polos dan rok tutu hitam, pakaian itu tampak modis di kenakan oleh gadis itu.


Bahkan seorang Daniel Alvarez Tyee tega mengusirnya dengan alasan ia mau berbicara berdua saja dengan 'Cia' tanpa ada dirinya.


Dengan berat hati, Bianca memutuskan untuk pergi dari ruangan pria itu.


****


Sesampainya di apartemen, Bianca buru-buru melepaskan sepatunya secara asal lalu mengambil binokular di samping nakas tempat tidurnya.


Dengan hati-hati ia mulai memantau ruang kantor Daniel dan melakukan pembesaran objek.


Bianca menggerutu ketika ia tidak bisa mendengar percakapan Daniel bersama Alicia. Ia berpikir untuk menaruh penyadap suara saja kedepannya.


Namun bayangan kemarahan Daniel muncul dalam benaknya.


'Tidak-tidak aku tidak boleh membuat Daniel semakin membenci ku.' Bianca menggeleng kan kepalanya.


Tidak berapa lama percakapan keduanya berakhir. Dari pengamatan Bianca, sepertinya Alicia hendak berpamitan.


Kedua matanya membulat ketika melihat Daniel memeluk gadis itu, sehingga membuat ia tidak sadar berteriak karena kaget.


Hal itu membuat Daniel dan Alicia melihat ke arahnya, namun Bianca segera menelungkup kan diri, menyembunyikan dirinya.


Alicia Cherish tampaknya telah berada satu langkah terdepan daripada dirinya. Bianca ingat bagaimana mereka berdua saling memanggil dengan nama panggilan khusus membuktikan kedekatan mereka berdua tidak perlu diragukan kembali.


'Apakah Alicia adalah lawan yang tidak seimbang? Atau dirinya sudah terlebih dahulu kalah sebelum berperang?' Bianca kembali menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan suara otaknya.


"Tidak, aku tidak akan pernah menyerah." Ucapnya kepada diri sendiri.


****


"Jadi, gadis itu adalah Bianca yang sering kau ceritakan di telfon?" Tanya Alicia setelah Bianca pergi beberapa saat lalu.


"Tidak usah membahas namanya di saat kita bertemu seperti sekarang ini." Daniel mengambil salah satu cangkir kopi dan meletakkannya di depan gadis itu dan mengambil satu cangkir lagi untuk dirinya.


Bagi Alicia, pemandangan Daniel yang selalu dikejar-kejar oleh para gadis bukanlah pertama kali yang pernah ia lihat. Dulu sekali ketika mereka sedang duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap hari perayaan Valentine, Alicia akan menemukan meja Daniel dipenuhi dengan bunga, coklat, bahkan surat cinta. Hal itu terus terjadi sampai mereka duduk di bangku SMP pertama.


Dan Alicia juga tahu, Daniel membenci gadis-gadis yang mengejarnya.


"Bagaimana dengan pameran mu?" Tanya Daniel setelah Stella pergi dari ruangannya.


Alicia Cherish Creighton adalah seorang seniman lukis, ia baru saja menyelesaikan pameran seninya di kota New York dan sekarang kembali ke Jakarta.


"Baik, dua bulan ini terbayar dengan hasil yang memuaskan."


"Kau sudah bekerja keras dan pantas menerima hasil yang memuaskan." Ucap Daniel tersenyum.


"Bagaimana kabar paman Ben dan bibi Ye? aku sudah lama sekali tidak menemuinya."


"Kukira mereka akan selalu baik."


"Jangan bilang, kau belum mengunjungi mereka sama sekali." Tebak Alicia, dan Daniel menganggukkan kepala merespon pernyataan gadis itu.


"Akhir pekan ini bagaimana kalau kau menemaniku berkunjung ke rumah mereka, kau tidak sibukkan?"


"Tidak, baiklah akhir pekan aku akan menjemputmu."


Alicia melihat jam di pergelangan tangan kanannya.


"Oh, aku sudah harus pergi, aku memiliki janji dengan sejumlah kurator seni." Alicia segera meminum kopinya dan beranjak dari tempat duduknya.


"Apa perlu ku antar? kau mungkin sedang merasakan jet lag karena penerbangan mu." Tanya Daniel menawarkan diri.


"Tidak, tidak perlu akan ada orang yang menjemput dan mengantarkan aku nanti. Selesaikan saja pekerjaan mu." Alicia meminum kopinya sekali lagi sebelum akhirnya meletakkannya.


"Baiklah." Daniel lebih dahulu beranjak dari tempat duduknya.


Pria itu tidak sengaja melihat Bianca sedang mengamati mereka berdua menggunakan teropong binokular dari apartemennya.


Daniel tersenyum miring.


Daniel mendekat kearah Alicia. Ketika Daniel hendak memeluk gadis itu. Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara teriakan, dan mencari sumber suara itu.


Daniel yang tahu siapa pemilik suara itu, tersenyum dalam hatinya.


Daniel memeluk Alicia sebelum gadis itu pergi, dan Alicia menyambut pelukan pria itu.


"Selamat datang kembali, hati-hati di jalan." Ucap Daniel setelah melepaskan pelukannya.


Alicia sedikit terpana melihat wajah Daniel dari dekat, namun dengan cepat ia kembali menguasai diri.


"Terimakasih Dani." Balas Alicia tersenyum.


Daniel mengantarkan Alicia sampai di depan pintu. Gadis itu menolak ketika Daniel akan mengantarkannya ke depan pintu lobi.


"Aku akan menghubungimu nanti." Ucap Alicia.


"Baik, hati-hati di jalan."


Alicia mengangguk, gadis itu berjalan ke arah lift yang terbuka dan melambaikan tangan ke arah Daniel sebelum pintu lift tertutup.


Setelah kepergian Alicia, Daniel melihat sekilas apartemen tempat Bianca, gadis menyebalkan itu sudah tidak ada lagi di sana. Hanya tirai jendelanya yang berkibar tertiup angin.


Daniel tersenyum puas, dengan begini gadis itu akan segera menyerah dan tidak akan lagi mengganggu kehidupannya.