
Keesokan paginya Hana terbangun dari rumah itu dia melihat semua teman temanya masih tertidur serta Jane dan Sania,tapi dia khawatir karena tidak melihat Laura disana, dan Hana berdiri mencoba mencari Laura di luar rumah,Hana kemudian keluar dan dugaanya benar dia melihat Laura yang sedang duduk di teras rumah dengan menatap pusat campnya telah hangus terbakar dan rusak.
Hana menghampiri Laura dan duduk disamping nya mencoba untuk menenangkan Laura yang sedang berduka atas kebakaran camp tempat dia tinggal yang terjadi tadi malam.
"Laura kamu yang sabar ya." Ucap Hana dengan menoleh ke arah Laura yang ada disampingnya.
Kemudian Laura menoleh ke arah Hana dan begitu menyesal melihat luka dimuka Hana karena perbuatanya tadi malam.
"Ya ampun Hana muka kamu." Ucap Laura kemudian mengelus muka Hana yang lebam.
"Gak apa apa kok Laura, anggap aja kejadian tadi malam itu tidak ada." Ucap Hana dengan tersenyum ke arah Laura.
"Hana." Ucap Laura dengan tersenyum ke arah Hana.
"Lagi pula aku juga gak tau kok, jika Alvin punya pacar lagi selain aku tapi aku juga tidak menyalahkan Alvin kok,mungkin dia tidak tau jika aku masih hidup." Jelas Hana.
"Iya aku faham kok, aku terlalu cepat menyatakan cintaku pada Alvin, padahal pun dia sempat bingung untuk menerimanya karena dia memberitahuku jika dia masih punya pacar." Ucap Laura menceritakan tentang Alvin.
"Tapi dia orang yang baik kok,dia telah menjalin hubungan denganku sejak sma dulu hingga saat ini tanpa ada masalah sedikitpun walau kadang aku sering merepotkanya tapi dia sabar menghadapi sifatku ini." ucap Hana dengan tersenyum.
"Aku kok jadi merasa bersalah ya." Ucap Laura dengan sedih.
"Gak kok,kamu gak salah Laura." Ucap Hana dengan tersenyum.
Kemudian Laura tersenyum ke arah Hana.
"Oh iya, Laura yang sabar ya." Ucap Hana dengan wajah yang berduka.
"Aku gak tau Hana bisa kuat atau gak menghadapi ini semua, karena hanya ayahku orang satu satunya yang aku miliki dan kini mungkin dia mungkin telah." Ucap Laura yang kemudian menangis tidak kuat lagi berbicara.
Kemudian Hana menaruh tanganya di pundak Laura dan mencoba menyemangatinya yang sedang menangis.
"Laura aku yakin kok kamu pasti kuat menghadapi ini semua." Ucap Hana dengan mengusap air mata Laura yang terus keluar.
Namun Laura tidak kuat untuk berhenti menangis.
"Makasih ya Hana." Ucap Laura yang sedang menangis.
Kemudian dari belakang tepatnya dari dalam rumah terdengar langkah kaki yang menuju kearah mereka berdua yang sedang duduk di teras.lalu Hana menoleh kearah langkah kaki itu, tenyata itu adalah Winda yang sudah terbangun dari tidurnya dan kemudian ikut duduk disamping mereka yang sedang bersedih.
"Kamu yang sabar ya Laura." ucap Winda yang duduk di samping mereka berdua.
Winda pun berniat menceritakan semuanya kepada mereka berdua tentang kehamilannya dengan Alvin tapi dia cukup ragu ragu dan takut mereka berdua tidak memaafkannya. Tapi dia harus tetap menceritakanya semua kepada mereka berdua walaupun apapun yang terjadi ketika mereka mendengarnya.
"Hana, Laura aku mau ngomong sesuatu kepada kalian berdua." ucap Winda dengan ragu ragu.
"Ngomong aja mbak gak apa apa kok." Ucap Hana dengan penasaran.
"Sebenarnya aku sedang hamil anak aku dengan Alvin." Jelas Winda.
Kemudian Hana dan Laura yang mendengar hal itu pun kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Winda.
"Apa?." Tanya Hana dengan kaget dan tak percaya pacarnya itu melakukan hal seperti ini.
"Karena itu kamu pergi dari camp ini kan?." Tanya Laura dengan perasaan yang sama seperti Hana.
"Iya, aku dan Alvin tidak ingin kamu tau semua ini." Jawab Winda dengan menyesal.
"Aku gak nyangka ya,Alvin melakukan semua ini." ucap Laura
"Tapi aku tak ingin mengganggu hubungan kalian dengan Alvin kok, aku ingin merawat anakku sendiri nanti nya dengan penuh kasih sayang yang aku bisa." Ucap Winda dengan tersenyum.
Mereka berdua pun hanya bisa terdiam.
"Maafin aku ya, aku rela kok kalian apa apain aku, atau bahkan jika kalian mau membunuhku,hingga kalian bisa memaafkanku." ucap Winda dengan penuh menyesal.
Tapi Hana malah tersenyum kepada Winda.
"Aku sudah memaafkanmu kok." ucap Hana dengan tersenyum kearah Winda.
"Aku juga memaafkanmu kok Winda, lagi pula itu bukan sepenuhnya kesalahanmu kok." ucap Laura dengan ikut tersenyum.
"Makasih ya, kalian baik banget." ucap Winda dengan tersenyum kearah mereka berdua.
"Kita do'ain aja ya Alvin bersama sama agar tenang disana." ucap Hana.
Mereka berdua pun mengangguk mendengar ucapan Hana itu. tiba tiba mereka mendengar suara langkah kaki lagi dari belakang setelah mereka menengok ke belakang, ternyata itu adalah Sekar yang baru terbangun dari tidurnya dan menghampiri mereka yang sedang duduk di teras rumah.
"Sekar kamu baru bangun?." Tanya Hana dengan tersenyum ke arah Sekar.
"Iya nih, kalian pagi banget bangunya." Jawab Sekar yang kemudian duduk di samping Winda.
"Kamu tidurnya nyenyak banget Sekar gak enak kalau aku bangunin." Ucap Winda dengan tersenyum.
Kemudian Sekar berdiri menghampiri Laura yang duduk di samping Hana.
"Aku minta maaf ya soal yang tadi malam." ucap Sekar yang berdiri dihadapan Laura yang sedang duduk.
"Gak kok,seharusnya aku yang minta maaf ,bukan mbak." Ucap Laura kemudian mengulurkan tanganya mengajak Sekar berjabat tangan.
Sekar menerima dan berjabat dengan Laura dengan di iringi senyuman antar keduanya sementara Winda dan Hana pun ikut tersenyum.
Lalu Sekar kembali duduk di samping Winda,baru saja duduk tiba tiba Sekar melihat ada dua orang berjalan dari sisa sisa kebakaran camp itu tapi Sekar cukup ragu dengan yang dia lihat antara zombie atau manusia yang selamat dari kebakaran camp, lalu Sekar berdiri mengangkat tanganya seolah menyuruh mereka agar pergi ke rumah ini.
"Sekar apa yang kau lakukan?." Tanya Hana dengan bingung.
"Itu ada dua orang yang mau kesini." Jawab Sekar.
Kemudian mereka bertiga melihatnya,ternyata yang di katakan Sekar itu benar adanya ternyata masih ada orang yang selamat dari kebakaran itu.Setelah mereka berdua ( orang dari sisa kebakaran camp) melihat Sekar mereka berdua langsung berlari menuju ke arah rumah, setelah berapa saat mereka berdua pun telah dekat dan secara mengejutkan ternyata itu adalah Alvin dan Costa yang masih selamat dari kebakaran itu. Winda dan Hana yang melihatnya pun langsung menghampiri mereka sementara Laura tetap duduk di teras rumah. Winda yang bahagia karena sahabat nya dari Brazil yaitu Costa yang masih hidup,dia pun langsung memelukĀ sahabatnya itu dengan erat.
"Costa aku sangat senang kau masih hidup." Ucap Winda dengan bahagia.
Kemudian Winda melepaskan pelukannya.
"Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu lagi Winda. " Ucap Costa dengan tersenyum ke arah Winda.
Costa adalah orang Brazil yang tinggal di Indonesia sejak empat tahun yang lalu dan sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar,serta dia juga orang yang menyelamatkan Winda saat Winda sedang di kepung oleh zombie kemudian mengajak Winda tinggal di camp ini bersama sama.
Sementara di sisi lain Hana langsung memeluk pacarnya itu dan mengatakan sesuatu.
"Aku sudah tau semuanya sayang." ucap Hana.
Mendengar ucapan Hana Alvin pun terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh pacarnya itu,kemudian Alvin melepaskan pelukannya.
"Maaf ya sayang aku telah membohongimu." Ucap Alvin dengan menyesal.
"Tapi kamu gak apa apakan sayang?." Tanya Hana dengan khawatir.
"Gak apa apa sayang tenang aja, tapi kenapa muka kamu kok lebam gitu." Jawab Alvin dan balik bertanya kepada Hana.
"Gak apa apa sayang. " jawab Hana
lalu Hana menarik nafas dan mengeluarkan nya kemudian mengatakan sesuatu kepada Alvin.
"Aku udah maafin kamu kok, tapi kayaknya saat ini kita harus mengakhiri hubungan kita sebagai pasangan kekasih deh." Ucap Hana dengan bersedih.
Alvin menyimak baik baik ucapan pacarnya itu dan memahami ucapan pacarnya itu.
"Lebih baik kamu pilih Laura yang sudah terlanjur mencintaimu dan pasti kamu juga mencintainya kan." ucap Hana dengan tersenyum.
Tapi Alvin hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Hana.
Winda dan Costa yang ada di samping mereka pun ikut terharu mendengar percakapan mereka. Kemudian Alvin menoleh ke arah Winda.
"Winda maafkan aku ya." ucap Alvin yang meminta maaf kepada Winda.
"Aku sudah memaafkanmu kok, tenang aja." ucap Winda dengan tersenyum.
Lalu Alvin tersenyum mendengar itu.
Kemudian Sekar dan Laura pun menghampiri mereka berempat.
"Untunglah kau Selamat Alvin." Ucapan pertama yang keluar dari mulut Laura dengan wajah cuek.
Kemudian secara mengejutkan tangan kanan Hana memegang salah satu tangan Alvin,setelah itu tangan kiri Hana memegang salah satu tangan Laura dan Hana menyatukan mereka berdua sehingga Laura dan Alvin saling berhadapan.
"Kalian berdua mungkin lebih bahagia untuk bersama." Ucap Hana dengan tersenyum ke arah keduanya.
"Hana." ucap Laura dengan terharu.
"Gak apa apa kok Laura." ucap Hana dengan tersenyum.
Kemudian Laura dan Alvin pun berpelukan.
"Maafin aku ya Laura." ucap Alvin dengan bahagia.
"Aku udah maafin kamu kok Alvin." ucap Laura dengan bahagia.
"Aku janji tidak akan membohongi mu lagi." ucap Alvin kemudian melepaskan pelukannya.
"Janji ya." ucap Laura dengan tersenyum.
Kemudian mereka ber empat yang ada di samping mereka pun terharu melihat nya.
"Seneng ya lihat nya Costa." Ucap Winda yang menoleh ke arah Costa.
Lalu Sekar berbisik kepada Hana yang ada disampingnya.
"Mungkin kamu bisa balik lagi sama Tomi." Bisik Sekar ke Hana.
"Apaan sih Sekar." ucap Hana dengan tersenyum malu.
Sementara di dalam rumah Tomi tiba tiba terbangun dan melihat hanya ada Andi serta kedua teman Laura di dalam rumah itu.
"Di Andi bangun woi. " Ucap Tomi yang mencoba membangunkan Andi.
Tiba tiba Andi terbangun dengan kaget.
"Apasih ngganggu aja orang tidur." ucap Andi yang masih setengah sadar.
"Semuanya hilang." Ucap Tomi .
Kemudian Andi pun berdiri dan kaget dengan apa yang diucapkan Tomi.
"Kemana Hana,Sekar dan Winda?." Tanya Andi yang baru bangun.
"Gak tau coba kita cari." jawab Tomi.
Terus mereka ingat dengan kedua wanita yang masih tertidur itu.
"Terus dua cewek ini?." Tanya Andi.
"Kamu bangunin lah Andi."perintah Tomi.
" Gak ah aku malu." Ucap Andi dengan malu.
"Yaudah tinggal aja kali." Ucap Tomi dengan santai.
"Kasihan tau, kalau mereka dimangsa zombie gimana?." ucap Andi dengan geram dengan ucapan Tomi.
"Yaudah bangunkan!." Perintah Tomi.
"Tunggu tapi dilihat lihat mereka cantik juga ya." ucap Andi dengan tersenyum.
"Makanya bangunin!, gak rela kan cewek se cantik itu jadi zombie." ucap Tomi dengan tersenyum.
Karena tak ada pilihan lain Andi pun membangunkan mereka berdua.
"Neng bangun neng." ucap Andi mencoba membangunkan salah satu cewek itu.
Kemudian Tomi membantu Andi membangunkan cewek yang satunya. Namun cara Tomi membangunkan nya begitu brutal yang langsung mengangkat cewek itu hingga berdiri.
"Kejam banget bangunin kamu Tomi." ucap Andi dengan terkejut.
Lalu Sania yang sudah berdiri pun terbangun dengan keadaan berdiri, dengan marah karena cara membangunkan Tomi yang brutal.
"Santai aja kali bangunin nya." Kata Sania dengan marah kemudian dia duduk kembali.
Kemudian Jane pun terbangun setelah di bangunkan Andi.
"Mas nya ganggu aja deh." ucap Jane dengan setengah sadar.
"Udah pagi tau,masih tidur aja." Ucap Andi dengan tersenyum.
Kemudian Jane pun terkejut ketika hanya ada mereka berempat disini dan menanyakanya.
"Kemana yang lain?." Tanya Jane yang baru bangun.
"Maka dari itu kita berdua bangunin kalian." Jawab dengan santai.
"Tolong bangunin temanmu yang itu, masa tidur sambil duduk gitu." ucap Andi dengan menunjuk ke arah Sania yang masih tidur dengan duduk.
"Kebiasaan mas itu,dari dulu kalau dibangunin emang susah banget, tinggal aja gak apa apa aku ikhlas kok." ucap Jane dengan tersenyum.
Lalu Tomi melihat ada botol yang berisi air di sampingnya dan mengambilnya lalu menyiramkan ke muka Sania hingga dia terbangun.
"Bisa biasa gak sih kalau bangunin orang." ucap Sania dengan marah.
"Yeh marah, lagian kamu dibangunin nya susah banget sih." ucap Jane kearah sahabatnya itu.
Lalu setelah itu Sekar pun masuk ke dalam rumah berniat untuk membangunkan mereka yang sedang tertidur tapi mereka ternyata sudah terbangun.
"Eh kalian udah bangun, baru aja mau di bangunin." Kata Sekar dengan tersenyum.
"Sekar yang lain mana?." tanya Tomi dengan penasaran.
"Itu ada di luar, Tomi jangan lupa nanti bawa pistolnya kita mau ke sisa sisa kebakaran soalnya." ucap Sekar.
"Oke siap." Balas Tomi.
Kemudian mereka pun keluar dari rumah itu dengan membawa pistol seperti yang disuruh oleh Sekar. Ketika berada di luar Andi menyadari jika Sania tidak ada bersama mereka.
"Oh iya, temanmu tadi mana?." tanya Andi kepada Jane.
"Ya ampun orang itu kebiasaan." ucap Jane dengan meletakkan tanganya diatas kepala.
Kemudian Jane kembali kerumah itu untuk membangunkan Sania. setelah sampai didalam rumah itu Jane pun tak kaget melihat temanya itu yang masih tertidur.
"Sania ada zombie Sania lari Sania." Ucap Jane.
Seketika Sania pun langsung berdiri dengan paniknya.
"Mana zombienya?." Ucap Sania dengan panik.
Jane yang melihatnya pun tertawa terbahak bahak melihat Sania yang panik itu.
"Kamu bohongin aku ya." Ucap Sania.
"Lagian kamu gak bangun bangun sih." ucap Jane dengan tidak bisa menahan tertawanya.
"Yaudah aku tidur lagi aja." ucap Sania yang masih mengantuk.
"Kamu gak ikut, yaudah kalau gak mau ya aku tinggal aja." ucap Jane dengan tersenyum.
"Ya ikutlah masa kamu tega ninggalin sahabat kamu yang cantik dan manis ini sih." ucap Sania dengan tersenyum.
Kemudian Sania dan Jane keluar dan menyusul mereka yang sudah berkumpul terlebih dahulu di depan, setelah semua berkumpul Jane terlebih dahulu menghampiri Hana untuk minta maaf atas kejadian tadi malam.
"Maafin aku, yang tadi malam." Kata Jane yang meminta maaf.
"Kamu gak perlu minta maaf, aku juga udah maafin kok." Ucap Hana dengan tersenyum kearah Jane.
"Berarti aku gak usah minta maaf dong." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya gak apa apa kok." ucap Hana dengan tersenyum.
Kemudian mereka pergi ke sisa sisa kebakaran camp Charlie yang telah hangus. Tapi sebelum itu Tomi melepaskan tembakan untuk mengecek ada zombie atau tidak disana,namun yang lain tidak tau tepat maksud Tomi.
"Kenapa kamu nembak nembak gitu?." tanya Sekar yang bingung dengan yang di lakukan Tomi.
Kemudian yang di khawatirkan Tomi pun benar ,tiba tiba muncul sekitar dua puluh zombie dari sisa sisa bangunan itu, sehingga Tomi memberikan dua pistol itu ke Winda dan juga Costa yang ada di dekatnya untuk menyerang zombie,karena tau titik lemah zombie di bagian kepala membuat mereka sangat mudah melumpuhkan para zombie penduduk camp yang penuh luka bakar itu sampai tak tersisa.
"Uh akhirnya selesai juga." ucap Tomi dengan mengarahkan rambutnya ke belakang layaknya seorang pahlawan.
"Hebat juga ya kalian nembaknya." ucap Andi yang kagum karena dia tidak bisa menembak.
Lalu setelah itu muncul lah satu zombie yang terlihat tidak ada luka bakarnya sama sekali dan Tomi bersiap untuk menembaknya, tapi Laura melarang Tomi dan menyuruh Tomi menyerah kan pistol itu kepada nya karena dia menyadari itu adalah zombie ayah nya yang menjadi korban kebakaran dan berniat untuk menghabisi zombie ayahnya sendiri . Dengan air mata yang menetes dari mata nya, Laura mulai mengarahkan pistolnya ke arah kepala zombie ayah nya dan menembak zombie ayah nya dengan sedih yang tak tertahankan.
"Ayah....." teriak Laura yang menangis dan berlari ke arah ayah nya yang telah meninggal.
Kemudian Laura duduk di samping mayat ayah nya itu,dengan tangisan nya yang begitu keras karena kehilangan sosok yang paling di cintai nya.
"Kenapa ayah harus pergi meninggal kan Laura seperti ini?." Tanya Laura kepada mayat ayahnya dengan tangisan nya yang tak tertahankan.
Mereka pun mendekati Laura yang sedang menangisi kepergian ayahnya itu dan mencoba menenangkan Laura
"Laura yang sabar ya. " ucap Hana yang duduk di sampingnya.
"Iya Hana aku akan mencobanya, tapi aku tidak akan memaafkan orang yang membakar camp ini." Ucap Laura yang terus menerus menetaskan air matanya.
Kemudian kedua sahabat Laura serta Alvin ikut duduk di samping Laura, lalu Alvin memegang tangan Laura dan menoleh ke arah Laura dengan bersedih,sementara kedua sahabat Laura pun ikut menangis.
"Alvin.... " ucap Laura dengan menoleh ke arah Alvin yang ada di sampingnya.
Kemudian Laura menyandarkan kepalanya ke pundak Alvin .
"Kamu yang sabar ya Laura." Dengan mengusap air mata Laura yang terus keluar.
"Aku sudah gak punya siapa siapa lagi." Ucap Laura dengan menangis.
"Ada aku kok,aku akan selalu ada buat kamu." ucap Alvin yang mencoba menenangkan Laura.
"Ada kita juga kok Laura,kita juga bisa membantu." Saut Tomi yang ada di belakang nya.
"Makasih ya." Ucap Laura yang masih bersedih.
Kemudian Laura menegakkan kepala nya yang bersandar di pundak Alvin, kemudian berbaring di samping mayat ayahnya.
...................BERSAMBUNG....................