
Ternyata suara langkah kaki itu berasal dari zombie wanita tua yang keluar dari dalam rumah itu,yang mencoba menyerang Winda dan Cito yang sedang duduk di teras rumah, sehingga mereka berdua pun langsung berdiri dan menjauh dari zombie itu.
"Kita bunuh aja gak sih. " ucap Winda
"Kita gak punya senjata Winda." ucap Cito dengan bingung.
Kemudian Winda menemukan pisau yang ada di dekat nya dan dia mengambil nya,kemudian Winda mendekat ke arah zombie itu dengan membawa pisau, dengan cepat Winda langsung menancap kan pisau itu ke kepala zombie wanita tua itu hingga zombie nya tewas.
"Maaf ya nek." ucap Winda ke arah zombie itu.
Kemudian Cito pun mendekat ke arah Winda yang telah membunuh zombie wanita tua itu, lalu Winda penasaran dengan isi rumah itu hingga dia memutus kan untuk masuk dan di ikuti oleh Cito di belakang nya. Dengan sangat hati hati mereka berdua masuk di dalam rumah milik wanita tua itu yang terlihat masih rapi dan barang barang nya juga masih tertata.
"Masih bagus gak sih rumah nya." ucap Winda dengan tersenyum ke arah Cito.
"Iya masih bagus tau." balas Cito.
Di meja yang ada di dalam rumah itu, terdapat semacam mainan komedi putar di atas nya, sehingga Winda yang penasaran dengan bunyi nya pun menyalakan mainan yang ada di atas meja itu.
"Wah mutar mutar Cito." ucap Winda yang melihat mainan itu berputar.
"Iya Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Cito tak sengaja melihat sebuah kulkas,yang membuat Cito pun ingin membuka nya siapa tau di dalam ada minuman karena dia juga sedang haus.Dengan perlahan Cito membuka pintu kulkas itu yang ternyata dugaan nya benar bahwa di dalam kulkas itu terdapat beberapa botol air minum dan juga beberapa sosis sehingga Cito yang melihat nya pun begitu bahagia.
"Bagus banget Cito. " ucap Winda yang terus tetap menatap mainan itu.
Karena tidak ada jawaban dari Cito sehingga dia menoleh ke belakang, yang ternyata Cito sudah berada di depan kulkas sambil minum air botol yang ada di kulkas itu.
"Kok gak ngajak sih kalau mau minum." ucap Winda dengan tersenyum ke arah Cito.
Kemudian Winda menghampiri Cito yang sedang berada di depan kulkas. Cito yang perhatian pun memberikan air botol yang ada di tangan nya itu kepada Winda. Kemudian Winda yang kehausan pun langsung meminum air itu hingga habis.
"Pasti kamu haus banget kan." ucap Cito dengan tersenyum.
"Iya Cito, gak cuma haus,capek juga tau." ucap Winda dengan tersenyum.
"Yaudah istirahat kalau gitu." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba pandangan Winda ter fokus ke sebuah foto yang tertempel di dinding rumah itu, sehingga Winda pun mengambil foto itu,yang terlihat ada wanita tua tadi dan keluarga besar nya di dalam foto itu.Seketika perasaan Winda berubah menjadi sedih hingga menetes kan air mata.Cito yang melihat nya pun langsung menghampiri Winda yang sedang melihat foto yang ada di tangan nya itu.
"Kenapa kok kelihatan sedih gitu?. " tanya Cito dengan khawatir.
Kemudian Winda menunjuk kan foto itu ke Cito.
"Lihat deh mereka pasti dulu nya keluarga yang sangat bahagia, sebelum wabah zombie ini menghancurkan ke bahagiaan mereka Cito." ucap Winda dengan perasaan sedih dan air mata yang terus mengalir.
"Iya Winda, tapi kamu gak usah sedih dong kan jadi nya aku ikut sedih." ucap Cito yang mencoba menenangkan Winda.
Kemudian dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang tak lain adalah langkah dari segerombolan zombie yang tadi mereka temui.
"Kita harus pergi dari sini sebelum segerombolan zombie itu datang kemari." ajak Cito.
Sebelum pergi Cito mengambil satu botol minum dan sebungkus sosis yang ada di kulkas itu.
"Nih kamu bawa sosis nya Winda." ucap Cito dengan memberikan sebungkus sosis itu ke Winda.
Kemudian mereka pun langsung pergi dari rumah itu.Terlihat dari kejauhan segerombolan zombie yang mereka temui tadi namun untung nya tidak ada zombie yang bisa berlari, sehingga mereka berdua berlari menjauh dari para zombie zombie itu, dan mencari tempat peristirahatan yang lain.
Setelah zombie sudah tak terlihat lagi mereka pun memutus kan untuk berjalan kaki lagi.
"Kalau terus lari begini, bisa bisa nanti aku six pack lagi." ucap Winda yang membungkuk dan memegang lutut nya.
"Baru gini doang Winda." ucap Cito dengan tersenyum ke arah Winda yang sedang membungkuk kecapekan.
Kemudian Winda berdiri tegak.
"Iya tau kalau fisik kamu bagus, otot nya gede, perut nya six pack." ucap Winda dengan tersenyum.
"Kok kamu jadi muji gitu sih. " ucap Cito dengan tersenyum ke arah Winda.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan nya setelah berhenti sejenak.
"Gantian dong, biasa nya kamu yang muji muji aku terus, entah itu cewek cantik se hotel atau apa lah." ucap Winda dengan tersenyum ke arah Cito.
"Emang kenyataan nya begitu kan." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Winda meletak kan sebungkus sosis yang di bawa nya itu di tanah, kemudian berpose layak nya seorang model yang sedang fashion show.
"Kamu ngapain kek gitu?, gak jelas deh." ucap Cito dengan bingung yang sedang di lakukan Winda.
"Kan kata kamu aku cantik,pantas jadi model gak kira kira?." tanya Winda yang tetap berpose layak nya model.
"Oh iya pantes banget." ucap Cito dengan tersenyum melihat Winda seperti itu.
"Masa sih." ucap Winda yang tetap berpose.
"Model majalah dewasa tapi nya." ucap Cito dengan tidak terlalu jelas.
Kemudian Winda memberhentikan pose nya itu.
"Kok berhenti?,kan aku bilang nya pantes." ucap Cito tersenyum ke arah Winda.
"Aku tau kok mentang mentang kerja aku dulu gitu, kamu seenak nya ngomong seperti itu." ucap Winda dengan raut wajah yang cemberut.
"Ya Winda ngambek." ucap Cito.
Kemudian seketika Winda memeluk Cito yang ada di dekat nya, sehingga Cito pun sedikit kaget.
"Aku juga sebenar nya gak ingin kerja seperti itu Cito." ucap Winda dengan menangis di pelukan Cito.
"Maafin aku Winda, aku tidak bermaksud membuat mu nangis seperti ini." ucap Cito dengan mengusap air mata Winda yang terus keluar.
"Bukan nya aku baperan Cito, tapi aku sangat sedih jika mengingat masa lalu." ucap Winda yang ada di pelukan Cito.
"Kamu yang sabar ya,ada aku di sini." ucap Cito dengan memeluk Winda.
Di tengah kesedihan mereka tiba tiba Winda mengucap kan sesuatu, sehingga mencairkan suasana sedih mereka saat ini.
"Tapi aku pantes kan jadi model. " ucap Winda yang ada di pelukan Cito.
Kemudian seketika Cito melepas kan pelukan nya.
"Iya pantes kok,model papan atas lagi." ucap Cito dengan tersenyum ke arah Winda.
"Makasih Cito." ucap Winda dengan senyuman manis yang terukir di wajah cantik nya itu.
"Gitu dong senyum, kan cantik." ucap Cito dengan mengelus pipi Winda.
Kemudian mereka melanjut kan perjalanan nya yang sempat terhenti karena moment Winda yang tiba tiba menangis.
"Kalau aku ngambek boleh gak. " ucap Winda dengan tersenyum.
"Ngambek kok bilang bilang sih?. " ucap Cito yang bingung.
"Ya biar kamu tau dan gak kaget kalau aku ngambek." ucap Winda dengan tersenyum.
"Bisa bisa aja deh,tapi ya gak boleh dong, ibu hamil gak boleh ngambek takut nya nanti bayi nya jelek lagi." ucap Cito dengan tersenyum.
"Gak mungkin dong kan ibu nya aja cantik kek gini." ucap Winda dengan mengibas rambut nya.
"Jangan kibas kibas gitu, rambut kamu bau tau." ucap Cito dengan tersenyum.
"Bodo amat . " ucap Winda yang terus mengibas kan rambut nya.
Kemudian dengan polos nya Winda mencium ketiak nya.
"Ketiak ku juga bau sih." ucap Winda dengan tersenyum.
"Sejak kapan ketiak itu wangi kalau kamu cium nya aja dari dekat seperti itu." ucap Cito dengan tersenyum.
"Biasanya ketiak ku wangi tau,tapi bau nya sampai ke kamu gak?." tanya Winda dengan polos.
"Bau banget sih hampir menyerupai bau bangkai." ucap Cito dengan menutup hidung nya.
"Masa sih?. " tanya Winda dengan raut wajah datar.
"Gak gak bercanda, gak sampai sini kok bau nya, cuman rambut kamu aja yang bau apek." ucap Cito dengan tersenyum.
"Aku botak aja kali ya biar gak bau apek." ucap Winda dengan tersenyum.
"Bisa di coba." ucap Cito dengan tersenyum.
"Tapi gak mau dong nanti cantik aku hilang lagi." ucap Winda dengan tersenyum.
Tiba tiba Cito mengeluar kan sebuah ikat rambut yang ada di saku nya.
"Nih kamu ikat rambut kamu." ucap Cito dengan memberikan ikat rambut itu.
Lalu Winda memberikan sebungkus sosis yang di bawa nya itu ke Cito, dan mengikat rambut nya itu sehingga Cito yang melihat nya pun tersenyum.
"Apa lihat lihat?. " tanya Winda dengan tersenyum.
"Gak apa apa, cuman kamu cantik banget tau Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
"Kok bisa bisanya sih kamu bawa ikat rambut aku?. " tanya Winda dengan heran.
"Kan Cito orang nya selalu baik hati dan perhatian sama orang lain." ucap Cito dengan tersenyum.
"Orang lain atau cewek cantik?." tanya Winda dengan tersenyum.
"Ya semua orang pokok nya." ucap Cito dengan tersenyum.
"Iya deh percaya, tapi aku cantikan gini kan?." tanya Winda dengan tersenyum.
"Iya jelas dong." ucap Cito dengan tersenyum.
"Ya pasti lah, kamu aja terpesona melihat aku." ucap Winda tersenyum.
"Gak kok, gr banget sih." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Winda mencubit pipi Cito dengan keras sehingga Cito kesakitan.
"Jujur gak." ucap Winda dengan mencubit pipi Cito.
"Iya deh iya, Cito terpesona dengan kecantikan Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Winda melepas kan cubitan nya itu, sehingga Cito pun kesakitan dan memegangi pipi nya.
"Merah tau." ucap Cito dengan mengelus pipi nya.
"Makanya dari tadi itu jujur." ucap Winda dengan tersenyum.
"Jujur deh cubitan cewek damage sekali tau." ucap Cito yang terus mengelus pipi nya.
"Makanya jangan macem macem sama cewek." ucap Winda dengan tersenyum.
Kemudian ada sebuah foto kecil yang jatuh dari saku Cito, sehingga dengan cepat Winda langsung mengambil foto itu.
"Wih foto cewek nya Cito nih." ucap Winda dengan memegang foto itu.
"Winda jangan di lihat tau." larangan Cito.
Kemudian Winda melihat foto itu dan seketika terkejut setelah melihat foto itu yang ternyata dia mengenali sosok wanita itu.
"Kak Dania." ucap Winda dengan terkejut.
"Loh kamu kok kenal sih?. " ucap Winda dengan tersenyum.
"Ya kenal lah,dulu waktu smp selalu pulang bareng dia naik angkot." ucap Winda dengan tersenyum.
"Dia se smp sama kamu?." tanya Winda.
"Gak gitu maksud nya." jawab Winda.
"Lah terus." ucap Cito yang penasaran.
"Ohh gitu ya." ucap Cito dengan mengangguk faham.
"Tapi kok foto nya ada sama kamu, jangan jangan kamu suka sama kak Dania ya?. " tanya Winda dengan penasaran.
"Dia itu pacar aku tolol." jelas Cito.
Kemudian Cito mengajak Winda duduk di sekitar sana, Winda pun menyetujui nya.
"Kalau duduk kan enak ngobrol nya." ucap Cito dengan tersenyum.
"Tunggu tunggu berarti kamu seumuran sama kak Dania ya?." tanya Winda dengan penasaran.
"Iya Winda." jawab Cito.
"Berarti seharus nya aku manggil kamu kak Cito dong." ucap Winda dengan tersenyum.
"Gak usah kali, malu tau kalau aku di panggil kak." ucap Cito dengan tersenyum.
"Kak Cito, kakak keren deh bisa dapetin kak Dania." ucap Winda dengan tersenyum.
"Di bilangin gak usah panggil aku kak, Winda." ucap Cito dengan muka datar.
"Iya deh, tapi kak Dania sekarang dimana ya, udah jadi zombie?." tanya Winda dengan penasaran.
"Udah meninggal tiga tahun yang lalu tau." jawab Cito.
"Ya ampun kok aku gak denger kabar sama sekali ya, jadi merasa bersalah sama kak Dania." ucap Winda dengan sedih.
"Kata nya akrab?." tanya Cito.
"Iya,tapi kan setelah lulus sma kak Dania kembali ke kota asal nya Cito." jelas Dania.
"Berarti dia ngekost ya dulu?. " tanya Cito dengan penasaran.
"Iya, kost nya dekat sama rumah aku, aku juga sering tidur di kost nya, dan sebalik nya dia juga sering tidur di rumah aku,pokok nya kita sudah seperti adik kakak deh." jelas Winda.
Kemudian Cito hanya mengangguk paham.
"Boleh dong di ceritain sedikit, kisah asmara nya sama kak Dania." ucap Winda dengan tersenyum.
"Kapan kapan aja, ya aku belum siap untuk sedih." ucap Cito dengan tersenyum.
"Yaa, iya deh aku tunggu ya pokok nya." ucap Winda dengan tersenyum.
"Makan gih sosis nya, masa kamu pegang gitu gak kamu makan." suruh Cito.
"Tapi sosis nya mentah tau." ucap Winda.
"Gak apa apa, rasa sosis mentah dan matang gak akan jauh beda kok." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Winda menatap sosis yang ada di tangan nya itu.
"Kalau gak mau sini aku makan aja nih." ucap Cito.
Kemudian Cito mengambil sebungkus sosis di tangan Winda itu.
"Cito." Winda merengek.
"Apa Winda?." tanya Cito dengan membuka bungkus sosis itu.
"Aku lapar. " Winda merengek.
"Ya makan sosis ini Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Cito mengambil satu sosis di bungkus itu, dan di suap kan ke mulut Winda.
"Kok enak ya." ucap Winda dengan mengunyah sosis di dalam mulut nya.
"Lah emang enak." ucap Cito dengan memakan sosis yang ada di genggaman nya.
Lalu Cito mengeluar kan botol minum yang ada di saku nya.
"Kok cuma bawa satu,perasaan tadi ada banyak deh." ucap Winda dengan heran.
"Ribet bawa nya tau Winda." ucap Cito.
Kemudian Winda meminum air yang ada di botol itu, hingga tak sadar air di dalam botol itu habis.
"Ya ampun air nya habis." ucap Winda dengan kaget.
"Kenapa kamu habisin Winda?. " tanya Cito dengan muka datar.
"Gak sadar tau Cito, maaf ya. " jawab Winda dengan memohon.
"Untung gak haus." ucap Cito dengan santai.
Mereka pun tetap menyantap sosis sosis itu dengan lahap.
"Tunggu,perasaan dulu waktu pertama ketemu kamu gak se alay ini deh." ucap Cito dengan tersenyum.
"Alay gimana sih?,perasaan aku dari dulu aku gini aja deh." ucap Winda dengan tersenyum.
"Kek ada yang beda gitu." ucap Cito.
"Kan memang kita sekarang udah akrab Cito,ya wajar lah." ucap Winda dengan tersenyum.
"Iya juga ya." ucap Cito dengan tersenyum.
"Tapi,kamu beruntung banget deh punya kak Dania." ucap Winda.
Cito hanya mengangguk dengan raut wajah yang sedikit sedih.
"Orang nya baik, sopan, dan cantik lagi, pasti kamu sangat kehilangan kan." ucap Winda.
Cito mengeluarkan sebuah kalung dari saku nya.
"Hanya ini kenangan terakhir dari nya." ucap Cito dengan memegang kalung bertanda d.
"Oh, iya ini kalung yang biasa kak Dania pakai dulu." ucap Winda.
"Dia berpesan, untuk memberikan kalung itu kepada orang yang aku cintai." ucap Cito dengan raut wajah sedih.
Winda yang di samping Cito pun ikut bersedih.
"Cepat atau lambat, pasti kamu akan menemukan orang yang kamu cintai." ucap Winda dengan tersenyum.
"Tapi seperti nya sekarang aku udah nemuin orang itu deh." ucap Cito dengan tersenyum.
"Aku tau,pasti Sekar kan." ucap Winda yang mencoba menebak.
"Cepat atau lambat pasti kamu akan tau sendiri kok." ucap Cito.
Lalu Cito mengajak Winda melanjut kan perjalanan,karena sosis nya telah habis mereka makan. Dengan begitu santai mereka berjalan menelusuri desa yang telah sepi, tak ada satu pun penduduk di sana yang masih hidup, semua nya telah mati dan berubah menjadi zombie yang mengikuti mereka tadi.
"Kita kemana Cito?." tanya Winda dengan merengek.
"Gak tau Winda." jawab Cito.
"Kita gak punya persediaan Cito." ucap Winda.
"Iya Winda aku juga bingung, kita juga belum menemukan persediaan lagi di sekitar sini." ucap Cito.
Mereka terus melanjut kan perjalanan, walau pun tidak jelas kemana mereka akan pergi. Hingga akhir nya mereka keluar dari desa sepi itu dan memasuki wilayah hutan, hutan yang terlihat sepi, hanya suara burung yang mengiringi mereka di hutan itu. Meraka tetap berjalan menelusuri jalan hutan itu, berharap agar bisa segera keluar karena hari telah sore, betapa mengerikan nya mereka bila malam hari tetap berada di hutan yang sepi ini.
"Aku gak pernah bayangin deh,malam malam gini kita tetap berada di hutan ini." ucap Winda dengan khawatir.
"Tapi hutan ini terlihat sangat panjang Winda, bisa jadi kita malam hari masih ada di sini." ucap Cito.
Kemudian Winda memegang tangan Cito dan menoleh ke arah Cito dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Cito, aku takut." Winda merengek ketakutan.
"Tenang aja Winda ada aku kok di sini." ucap Cito dengan tersenyum.
"Tapi tetap takut Cito." ucap Winda dengan khawatir.
Mereka tetap berjalan menelusuri hutan yang panjang itu, karena tak mungkin jika mereka kembali desa itu karena kota itu telah di penuhi oleh zombie.
"Nanti kalau ada hewan buas gimana?. " tanya Winda dengan khawatir.
"Nanti aku lawan tenang aja." ucap Cito dengan tersenyum.
"Kalau ada hantu?. " tanya Winda lagi.
"Gak usah mikir yang aneh aneh deh Winda." ucap Cito.
"Tapi aku takut Cito." Winda merengek.
Namun setelah itu beruntung nya mereka ketika melihat ada sebuah rumah kayu di tengah tengah hutan, yang mungkin bisa mereka tinggal semalam di sana.
"Kita istirahat di rumah itu aja Winda semalam." ajak Cito.
"Iya Cito, dari pada kita harus melewati hutan ini di malam hari." ucap Winda.
Kemudian mereka mengarah ke rumah kayu itu, dan mereka mengecek dari jendela ternyata rumah itu masih layak di tempati,dan mereka mencoba membuka pintu, untung rumah itu gak di kunci, sehingga mereka bisa masuk ke dalam rumah itu untuk beristirahat, lalu Cito mengunci pintu rumah kayu itu dari dalam agar aman dari para zombie yang sewaktu waktu hadir di hutan ini. Terlihat ada beberapa banner yang terpasang di dinding rumah kayu itu, menandakan jika rumah ini adalah rumah anggota pengurus hutan.
"Cito aku capek deh." ucap Winda yang kemudian berbaring di lantai rumah itu.
"Aku juga Winda." ucap Cito kemudian duduk di samping Winda yang sedang berbaring.
Setelah itu malam pun tiba mereka pun akan bersiap untuk tidur, tapi secara mengejut kan Winda meminta Cito agar mencerita kan kisah asmara Cito dengan Dania.
"Cito cerita dong, kisah asmara mu dengan kak Dania." ucap Winda yang berbaring di samping Cito.
"Gak mau Winda, kapan kapan aja aku ceritain, sekarang kan udah malam kita harus tidur." Cito menolak permintaan Winda.
"Please deh Cito, aku penasaran nih." ucap Winda dengan memaksa.
"Gak Winda kapan kapan aja." Cito terus menerus menolak.
Kemudian raut wajah Winda berubah menjadi sedih.
"Yaudah aku tidur aja." ucap Winda kemudian berbaring membelakangi Cito.
Cito yang memahami jika Winda mengambek karena permintaan nya tidak Cito turuti,mencoba untuk membujuk Winda.
"Winda." panggil Cito.
"Jangan ganggu orang lagi tidur deh." ucap Winda yang Masih berbaring membelakangi Cito.
"Gitu aja ngambek." ucap Cito dengan tersenyum.
Lalu Cito pun mau,tak mau harus bercerita seperti yang di ingin kan Winda, agar Winda tidak mengambek lagi.
"Yaudah deh aku cerita nih." ucap Cito.
Kemudian dengan Cepat Winda membalik kan badan, yang sebelum nya berbaring membelakangi Cito, kini berbaring menghadap Cito dan sudah siap mendengar cerita Cito.
"Yah gitu aja ngambek kek anak kecil." ucap Cito dengan tersenyum.
"Bodo amat,ayo cepat cerita nanti aku ngambek lagi loh." ucap Winda.
"Tapi kalau aku nangis, usap air mata ku ya Winda. " pinta Cito.
"Iya aku usap air mata kamu, tenang aja." ucap Winda dengan tersenyum.
Kemudian Cito menceritakan kisah masa lalu nya bersama Dania, yang singkat tapi sangat membekas dan akan selalu dia kenang sampai seumur hidup nya.
......................BERSAMBUNG.................
Bagaimana kisah Cito dan Dania?
Bagaimana kelanjutan kisah Cito dan Winda?