
Di sebuah rumah kayu yang terletak di tengah persawahan,Cito yang masih selamat dari kebakaran hotel pun khawatir dengan keadaan Winda yang tak kunjung sadar setelah mereka jatuh dari atas bukit hotel sampai saat ini, Cito pun duduk di samping Winda menunggu teman nya itu yang masih belum sadar kan diri.
"Winda cepat sadar ya,aku gak ingin kehilangan kamu karena kamu orang satu satunya yang aku punya saat ini setelah kebakaran hotel." ucap Cito yang sedih melihat Winda yang belum sadar kan diri.
Tak lama setelah itu tangan Winda bergerak dan perlahan lahan Winda membuka mata nya, Cito yang melihat nya pun bahagia ketika Winda sudah sadar kan diri.orang pertama yang di lihat Winda adalah Cito yang duduk di samping nya.
"Cito dimana aku?." tanya Winda yang baru sadar kan diri.
"Kita di rumah ini,yang jauh dari hotel Winda." jawab Cito yang tersenyum.
"Mana Sekar, Tomi, Hana, kak Wati?." tanya Winda dengan panik.
"Hotel terbakar Winda." jawab Cito dengan raut wajah sedih.
"Berarti mereka semua." ucap Winda dengan menetes kan air mata.
"Iya Winda hanya kita yang tersisa." ucap Cito.
Kemudian Winda duduk dan menangis histeris tak bisa menahan tangis nya mendengar apa yang di ucap kan oleh Cito itu.
"Padahal baru saja aku merasakan kebahagiaan." ucap Winda dengan menangis.
"Kamu yang sabar ya Winda, ada aku kok di sini." ucap Cito yang mencoba menyemangati Cito.
"Tapi kenapa hanya kita berdua yang selamat Cito?." tanya Winda yang masih menangis.
Kemudian Cito menceritakan tentang mereka berdua yang bisa selamat dari wabah zombie ini kepada Winda.
flashback on
Pada malam itu Cito mencoba mencari Tomi yang tak kunjung kembali dari parkiran,tapi ketika keluar Cito melihat api yang membara di hotel itu membuat Cito pun panik dia mencoba membangun kan seluruh penduduk hotel namun pintu kamar mereka banyak yang terkunci hingga dia kesusahan membangun kan mereka karena api yang semakin merata.
Tapi Cito melihat kamar Sekar dengan pintu terbuka dan Cito pun masuk ternyata di dalam ada Winda yang sedang tertidur, Cito mencoba membangun kan Winda,namun Winda susah untuk bangun sehingga Cito langsung menggendong Winda ke luar kamar Sekar, dan Cito berlari ke arah belakang hotel dengan menggendong Winda yang masih tertidur pulas, namun ketika sudah berada di luar hotel Cito mendengar teriakan penduduk hotel yang berada di dalam itu membuat Cito pun menetes kan air mata, namun Cito tak bisa berbuat apa apa,hingga Cito tidak menyadari jika di depanya ada jurang bukit yang lumayan tinggi, mereka berdua pun terjatuh dan menggelinding hingga jatuh ke bawah bukit dan tak sadarkan diri.
Keesokan hari nya Cito pun terbangun di bawah bukit dan tak jauh dari nya ada Winda yang belum sadarakan diri setelah jatuh dari atas bukit itu,sehingga Cito pun menghampiri Winda dan mengecek nafas nya ternyata masih normal, kemudian Cito mau tak mau harus menggendong Winda di atas punggung nya.
"Untung Winda kurus." ucap Cito yang menggendong Winda.
Kemudian Cito yang menggendong Winda pun mencoba pergi dari sana mencari rumah untuk mereka berdua beristirahat.
"Bertahan lah Winda ku mohon jangan pergi." ucap Cito yang berharap agar Winda cepat sadar.
Cito terus menelusuri jalan yang ada di sana hingga akhir nya mereka menemukan satu rumah kayu di tengah persawahan yang bisa mereka berdua tempati nanti nya.
"Akhir nya ada rumah Winda." ucap Cito dengan lega.
Kemudian Cito masuk kedalam rumah itu dan membaring kan tubuh Winda yang sebelum nya ada di gendongan nya, dengan penuh kelelahan Cito ikut berbaring di samping Winda yang belum sadar kan diri.
FLASHBACK OFF
"Aku ngerepotin ya Cito." ucap Winda dengan sedih.
"Gak kok aku gak keropatan,justru aku bahagia banget kamu udah sadar." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Cito teringat dengan kandungan Winda.
"Gimana kandungan nya Winda?." tanya Cito dengan khawatir.
"Gak apa apa,aku masih merasakan nya kok." jawab Winda.
"Syukur lah kalau begitu." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Cito pun lapar dan berniat untuk mencari makanan di sekitar persawahan yang sepi itu.
"Cito mau kemana?. " tanya Winda.
"Mau mencari makanan." jawab Cito.
"Aku ikut ya." ucap Winda.
"Tapi kan kamu baru sembuh Winda." ucap Cito dengan khawatir.
"Gak apa apa Cito aku sudah kuat kok." ucap Winda dengan tersenyum.
Karena melihat senyuman Winda yang begitu manis Cito pun tidak bisa menolak nya.
"Yaudah ayo. " ucap Cito yang menyetujui keinginan Winda.
"Makasih Cito. " ucap Winda dengan tersenyum.
Kemudian mereka berdua keluar rumah itu dan mencoba mencari makanan yang ada di sekitar nya.
"Beneran kamu udah kuat berjalan?. " tanya Cito dengan khawatir.
"Kuat Cito tenang aja." ucap Winda dengan tersenyum.
Mereka berdua terus berjalan hingga akhir nya bertemu dengan pohon jeruk yang berbuah begitu banyak.
"Itu ada pohon jeruk, kita kesana yuk." ucap Cito dengan menunjuk pohon jeruk yang tak jauh dari mereka.
Kemudian mereka memetik beberapa jeruk yang ada di pohon itu untuk di makan bersama sama nanti nya.Setelah mengambil jeruk itu mereka pun duduk di samping pohon jeruk itu sambil memakan jeruk yang telah dia petik.
.
"Winda, kalau kamu kerja dulu sehari dapat uang berapa?. " tanya Cito dengan penasaran.
"Tergantung sih." jawab Winda.
"Ada satu juta gak sih?. " tanya Cito lagi.
"Eh tunggu, kok jadi bahas itu sih,aku gak mau ingat ingat pekerjaan hina itu lagi Cito." ucap Winda dengan muka datar.
"Kan sekaligus buat pengetahuan gitu." ucap Cito dengan tersenyum.
"Please deh Cito,aku gak mau bahas itu lagi." ucap Winda dengan memakan jeruk itu.
"Iya deh Winda, tapi senyum dong." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Winda tersenyum ke arah Cito dengan wajah cantik nya itu.
"Kok jadi ingat Andi ya. " ucap Winda dengan tersenyum.
"Aku juga jadi kangen Sekar tau." ucap Cito dengan tersenyum.
"Tunggu tunggu, kamu suka Sekar ya?. " tanya Winda dengan penasaran.
"Gak kok cuma kangen aja lihat wajah nya." jawab Cito dengan tersenyum.
"Jujur Cito." ucap Winda dengan tersenyum.
"Gak,di bilangin juga." ucap Cito dengan tersenyum.
Kemudian Cito menyadari ada yang beda dengan wajah Winda tapi dia tidak menyadari apa yang membuat nya berbeda.
"Kok seperti ada yang beda ya dengan wajah kamu." ucap Cito dengan bingung.
"Ada beda nya gimana, perasaan dari dulu wajah ku kek gini deh?. " tanya Winda yang ikut bingung.
Kemudian Winda baru menyadari jika dia tidak mengikat rambut nya.
"Oh mungkin yang membuat aku ada beda nya itu karena rambut aku gak aku ikat kan?. " tanya Winda dengan tersenyum.
"Oh iya ya, aku baru sadar." ucap Cito dengan memegang dahinya.
"Tapi cantikan mana rambut aku gini atau aku ikat?. " tanya Winda dengan tersenyum.
"Botak aja mungkin kamu masih cantik kok. " jawab Cito dengan tersenyum.
"Kok kamu gitu sih kan pilihan nya gak ada botak." ucap Winda dengan tersenyum.
"Cantik semua kok, dari dasar nya kamu itu cantik Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
"Masa sih." ucap Cito dengan tersenyum.
"Dari semua gadis di hotel, kamu yang paling cantik Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
"Bisa aja deh kamu." ucap Winda dengan tersenyum ke arah Cito.
"Memang kenyataan Winda." ucap Cito dengan tersenyum.
"Iya deh percaya." ucap Winda dengan tersenyum ke arah Cito.
Kemudian Winda menyuapi jeruk yang ada di tangan nya itu ke mulut Cito,sehingga terjadi tatap tatapan antar kedua nya.
"Enak kan di suapin cewek cantik se hotel." ucap Winda dengan tersenyum ke arah Cito.
"Iya jelas dong." ucap Cito dengan tersenyum ke arah Winda.
Kemudian Winda duduk di samping Cito lalu menyandarkan kepala nya ke pundak Cito.
"Cito kita di sini sampai kapan sih?." tanya Winda dengan wajah sedih.
"Gak tau Winda." jawab Cito.
"Gak apa apa kan aku sandarin gini?." tanya Winda.
"Gak apa apa santai aja kali." ucap Cito dengan tersenyum.
"Gak nyangka ya kita kemarin yang bahagia, sekarang kita harus merasakan sedih yang begitu berat ini." ucap Winda dengan wajah sedih.
"Iya Winda, tapi kita harus kuat jalani ini semua." ucap Cito yang memberikan semangat kepada Winda yang sedang bersedih.
Kemudian Winda memegangi perut nya yang sedang mengandung itu.
"Ibu akan selalu menyayangimu dengan sepenuh hati ibu ketika kamu sudah lahir nanti." ucap Winda dengan memegangi perut nya.
Cito yang duduk di samping Winda pun ikut bahagia mendengar perkataan Winda itu.
"Cito jika kamu menjadi suami ku mau gak?. " tanya Winda.
Cito terkejut dengan pertanyaan Winda itu.
"Winda kejauhan tau mikir nya." jawab Cito dengan tersenyum.
"Karena hanya kamu Cito satu satu nya orang yang aku percaya." ucap Winda dengan tersenyum.
"Aku belum mikir sampai situ Winda."jelas Cito.
"Aku tau kok,itu semua juga butuh waktu." ucap Winda yang paham dengan maksud Cito.
Kemudian Cito mengajak Winda untuk kembali ke rumah yang tadi mereka tinggali dan Winda menyetujui nya, dengan bergandengan tangan mereka pergi berdua ke rumah itu.
"Emang susah kok nerima wanita yang mantan seorang pelacur seperti diriku ini." ucap Winda yang mengandeng tangan Cito.
"Winda kamu bicara apaan sih." ucap Cito.
"Memang kenyataan nya begitu kan Cito." ucap Winda dengan tersenyum.
Dan mereka berdua pun sampai di rumah itu.
"Kita yakin akan tinggal di sini terus Cito?." tanya Winda.
"Gak tau Winda." Jawab Cito.
"Kita pergi aja yuk,dari sini Cito." ajak Winda.
"Tapi kan kamu baru sembuh Winda." ucap Cito dengan khawatir.
"Gak apa apa Cito, aku sudah sehat kok." ucap Winda dengan tersenyum.
"Yakin kamu sudah kuat melakukan perjalanan jauh?. " tanya Cito.
"Iya Cito aku yakin." jawab Winda dengan tersenyum.
Kemudian mereka berdua pun berubah pikiran dan ingin pergi dari rumah yang dia tinggali semalam. Dengan melewati jalan persawahan mereka, yang belum jelas tujuan nya kemana.
Sementara di mini market Tomi dan Sekar yang menggendong Koko pun sedang duduk berdua membicarakan sesuatu.
"Kamu beneran yakin mau nikah sama aku?. " tanya Tomi.
"Aku yakin Tomi." jawab Sekar dengan datar.
"Tapi aku takut deh." ucap Tomi dengan khawatir.
"Gak gitu maksud nya." ucap Tomi.
"Terus!." Ucap Sekar.
"Aku takut jika nanti Hana masih hidup." ucap Tomi dengan khawatir.
"Jika memang itu terjadi aku malah bahagia tau, tapi ya kamu harus cerain aku ." ucap Sekar.
"Sekar, aku cinta sama kamu Sekar, dan aku gak ingin orang yang aku cintai sakit hati." ucap Tomi.
Lalu Sekar menoleh ke arah Tomi.
"Tomi aku juga." ucap Sekar dengan terharu.
Kemudian Sekar menyandar kan kepala nya ke pundak Tomi.
"Tomi sudah sejauh ini yah kita bertahan." ucap Sekar dengan sedih.
"Iya Sekar." ucap Tomi.
"Teman teman, tetangga dan orang orang di desa semua nya telah pergi Tomi." ucap Sekar dengan sedih.
"Iya Sekar, dan yang terakhir para penduduk hotel yang sangat kita sayangi mereka semua telah pergi." ucap Tomi dengan sedih.
"Tomi kita harus merawat dan selalu menyayangi Koko,seperti anak kita sendiri Tomi." ucap Sekar.
"Iya Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.
Kemudian Tomi mencoba untuk mencarikan suasana sedih ini.
"Kira kira hutang ku ke kamu berapa ya?. " tanya Tomi dengan tersenyum.
Sekar pun kaget, lalu dia menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Tomi.
"Anjir, ngapain kamu nanya gitu?. " sekar bertanya balik.
"Ya kan nama nya hutang,itu harus di bayar kan." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Kamu kok gak tau keadaan sih." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Ya kan nama nya hutang." Ucap Tomi dengan tersenyum.
"Aku gak pernah menganggap kalau kamu setiap pinjam uang ke aku itu sebagai hutang Tomi." jelas Sekar dengan wajah serius.
"Lah terus." ucap Tomi.
"Kan kita sahabat dekat Tomi, kamu faham sendirilah maksud nya." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Oh iya faham faham, makasih ya Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Seharusnya aku yang harus banyak berterima kasih kepadamu Tomi, kalau bukan karena mu mungkin aku gak akan memiliki semangat untuk hidup seperti sekarang ini." Jelas Sekar dengan tersenyum.
Kemudian mereka berdua pun saling tatap tatapan dan tersenyum satu sama lain.
"Aku gak bisa bayangin deh kalau kita udah nikah nanti Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Aku juga Tomi." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Tapi setelah kita nanti, kamu nanti panggil aku apa?. " Tanya Tomi dengan tersenyum.
"Kamu nya mau aku panggil apa?. " tanya Sekar dengan tersenyum.
"Sayang atau apa gitu?. " tanya Tomi lagi.
"Alay gak sih kalau sayang." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Gak kok b aja kali." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Aku gak bisa bayangin deh kalau kamu manggil aku sayang." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Sayang Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Sayang Tomi." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Kek nya gak pas deh kalau kita sayang sayangan gitu." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Iya Tomi, kita panggil nama seperti biasa aja ya." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Siap boss." ucap Tomi dengan posisi hormat ke Sekar.
Kemudian Koko yang ada di gendongan Sekar pun telah terbangun dari tidur nya.
"Eh Koko sayang udah bangun." ucap Sekar dengan menoleh ke arah Koko yang ada di gendongan nya.
Kemudian Sekar melepas kan gendongan Koko dan membiarkan Koko merangkak, lalu Tomi mengikuti Koko dari samping nya dengan merangkak juga layak nya seorang ayah yang sedang bermain dengan anak nya. Sekar yang melihat itu pun sangat bahagia dan tersenyum.Karena Tomi adalah orang yang paling berarti dalam hidup nya.
"Sekar ayo ikut dong." ajak Tomi.
Kemudian Sekar ikut merangkak seperti Koko dan Tomi dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Tunggu mama Sekar Koko." ucap Sekar dengan merangkak mengikuti mereka berdua.
"Hah mama?." tanya Tomi dengan bingung.
"Diam Tomi." ucap Sekar yang terus merangkak menuju ke arah Tomi dan Sekar.
Mereka pun merangkak mengikuti kemana Koko pergi.Tak lama setelah itu perut Tomi pun lapar dan berniat untuk mengambil snack di sana.
"Aku lapar Sekar,aku ambil snack dulu ya." pamit Tomi.
"Sama Tolong ambil kan biskuit bayi ya Tomi!." perintah Sekar.
"Oke siap." balas Tomi.
Kemudian Tomi pergi mengambil snack yang ada di mini market itu. Tomi mengambil dua snack untuk nya dan Sekar,serta dia mengambil dua air minum di kulkas mini market itu dan tak lupa dia mengambil biskuit bayi yang di pesan oleh Sekar.Setelah mendapat kan semua itu Tomi pun ke tempat Sekar dan Koko berada.
"Sekar." Panggil Tomi dengan membawa beberapa makanan.
Kemudian Tomi duduk di samping Sekar yang sedang memangku Koko di pangkuan nya.
"Eh Tomi, mana biskuit bayi nya." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Ini mama Sekar. " Ucap Tomi dengan memberikan biskuit bayi itu.
"Makasih papa Tomi." Ucap Sekar kemudian menerima nya.
Sekar menaruh biskuit itu di dalam mangkok kecil lalu Sekar menuangkan sedikit air botol yang ada di dekat nya ke dalam mangkok itu, kemudian Sekar menghancurkan biskuit itu dengan sendok hingga menjadi seperti bubur.Tomi yang dari tadi memperhatikan pun sekarang mengerti.
"Ohh gitu ya." ucap Tomi dengan melihat Sekar yang sedang membuat makanan bayi itu.
Setelah makanan itu jadi, Sekar menyuap kan nya ke Koko yang ada di pangkuan nya.
"Oh iya Sekar ini aku ambilin snack buat kamu." ucap Tomi dengan memberikan snack kepada Sekar.
"Makasih ya Tomi." ucap Sekar dengan menerima snack yang di beri Tomi.
Kemudian Tomi langsung memakan snack itu,sementara Sekar menaruh snack itu di samping nya, karena dia sedang menyuapi Koko makan.
"Kita kek ibu dan ayah ya Sekar." ucap Tomi dengan memakan snack itu.
"Iya ya." ucap Sekar tersenyum ke arah Tomi sambil terus menyuapi Koko.
"Tapi aku mau tanya serius deh." ucap Tomi dengan wajah serius dan masih memakan snack yang ada di tangan nya.
"Mau tanya apasih Tomi kok serius gitu?."tanya Sekar dengan penasaran.
"Kamu beneran ada rasa sama aku?. " tanya Tomi dengan serius.
"Ya ampun Tomi kukira apa, ya serius lah Tomi kita sebentar lagi kan mau nikah kamu kok ragu ragu gitu sih." jawab Sekar dengan tersenyum.
"Tapi nanti jika Hana tiba tiba masih hidup apa yang harus aku perbuat Sekar." ucap Tomi dengan wajah sedih.
Lalu Sekar memegang tangan Tomi.
"Udah tenang aja Tomi, jika memang Hana masih hidup dan bersama lagi dengan kita,aku rela kok kita bercerai ." ucap Sekar dengan
"Tapi Sekar aku juga takut kamu terlalu dalam mencintai ku." ucap Tomi dengan sedih.
"Sudah tenang aja Tomi, memang jika itu benar benar terjadi aku tidak akan merasa tersakiti kok." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Aku akan selalu mencintaimu selama nya Sekar." ucap Tomi dengan mencium tangan Sekar yang memegang nya.
"Jangan sedih lagi ya, aku gak ingin cowok yang aku cintai ini sedih." ucap Sekar dengan tersenyum ke arah Tomi.
"Iya mama Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.
Sementara di tempat yang berbeda Cito dan Winda sudah keluar dari persawahan, dan mulai memasuki daerah perdesaan yang terlihat sepi tanpa penduduk. Rumah rumah di sana pun telah banyak yang rusak, membuat mereka berhati hati takut nya tiba tiba ada zombie yang muncul secara tiba tiba. Dengan saling berpegangan tangan mereka berdua berjalan menyusuri desa yang telah sepi itu.
"Kok sepi banget ya." ucap Winda dengan melihat sekeliling rumah yang ada di samping nya.
"Kita harus berhati hati Winda." ucap Cito.
Mereka tetap berjalan tanpa membawa persediaan sedikit pun dan tetap menyusuri desa yang mati tanpa penduduk ini.Setelah itu mereka menemukan ada belokan di sana mereka berdua pun berniat untuk belok namun baru saja belok tiba tiba ada banyak sekali zombie.Sehingga mereka berdua pun berlari ke arah yang sebelum nya sudah mereka lewati.
"Ayo lari Winda." ajak Cito dengan menggandeng tangan Winda.
Tapi aneh nya mereka melihat sekitar lima zombie yang bisa berlari dan bergerak cepat mengejar mereka, namun hal yang tak di inginkan pun terjadi, Winda yang sedang berlari pun terjatuh,karena tidak ingin kehilangan satu satu nya teman nya itu, mau tak mau Cito pun melawan lima zombie yang berlari mengejar mereka itu dengan tangan kosong.
"Cito jangan!." ucap Winda melarang Cito.
"Bangun Winda dan cepat lari dari sini." ucap Cito dengan melawan zombie zombie itu.
Winda yang habis terjatuh pun berdiri ,tapi Winda tidak mengikuti perintah Cito yang menyuruh nya untuk lari menjauh dari nya, Winda malah berniat ikut membantu Cito menumpas zombie zombie itu.
"Jangan Winda pergi!." perintah Cito.
Cito pun terus memukul ke lima zombie itu secara bergantian hingga satu persatu terjatuh namun mampu bangkit lagi. Sedangkan Winda bingung dan terus mematung sambil melihat segerombolan zombie yang hanya bisa berjalan mulai mendekati mereka.Karena lima zombie yang bisa berlari itu terjatuh Cito langsung menggandeng tangan Winda dan mengajak nya berlari meninggal kan zombie zombie itu.Namun lima zombie yang bisa berlari itu pun tetap mengejar mereka dengan cepat, sehingga mereka yang ngos ngosan pun mulai pasrah dengan keadaan mereka saat ini. Hingga akhir nya mereka berdua pun memutuskan masuk ke dalam satu rumah kecil yang ada di sekitar mereka, namun Winda bingung dengan Cito bukan nya mengunci pintu depan malah terus berlari dan keluar melewati pintu belakang tapi Winda tetap mengikuti Cito dari belakang. Hingga akhir nya mereka berdua sudah berada di luar rumah dan langsung mengunci pintu belakang rumah itu dari luar, sementara lima zombie yang bisa berlari itu berada di dalam dan terus mendobrak pintu yang di kunci Cito dari luar itu,lalu Cito mengajak Winda ke depan rumah. Setelah sampai nya mereka berdua di depan rumah, Cito langsung mengunci pintu depan rumah itu dengan kunci yang menempel di pintu depan itu, hingga akhir nya lima zombie yang mengejar nya itu terjebak di dalam rumah itu.
Setelah mereka berdua berhasil menjebak zombie zombie itu, mereka pun bernafas lega, walaupun nafas mereka ngos ngosan.
"Huh akhir nya." ucap Winda dengan nafas yang ngos ngosan.
Lalu Cito mengetuk pintu depan itu sehingga zombie zombie yang ada di dalam rumah mencoba mendobrak pintu depan itu, ini dilakukan Cito karena pintu depan lebih kuat, takut nya nanti zombie zombie itu bisa berhasil keluar lewat pintu belakang itu.Baru saja selesai tiba tiba mereka menyadari jika segerombolan zombie yang hanya bisa berjalan itu telah sampai tak jauh dengan keberadaan mereka.
"Ayo pergi Winda zombie zombie itu udah dekat." ucap Cito dengan memegang tangan Winda.
Mereka pun berlari menjauh dari segerombolan zombie zombie itu. Hingga akhir nya jarak mereka pun sudah terlalu jauh dengan zombie zombie itu.
"Sudah Cito jangan lari terus aku capek." ucap Winda yang berhenti.
Lalu Cito menoleh ke arah Winda dan ikut berhenti.
"Iya aku juga." ucap Cito dengan nafas yang ngos ngosan.
"Lagian zombie udah jauh dari kita kan." ucap Winda dengan nafas yang masih ngosan ngosan.
Kemudian mereka berdua pun berjalan.
"Aku gak pernah lari larian seperti ini sebelumnya tau." ucap Winda.
"Tapi aku heran kenapa zombie zombie tadi bisa berlari ya?." tanya Cito pada diri nya sendiri dengan bingung.
"Iya juga ya, aku baru kali ini tau bertemu zombie yang bisa berlari kek tadi." ucap Winda dengan bingung.
"Aku juga, maka nya aku heran." ucap Cito dengan mengelus kening nya.
"Untung cuma lima yang bisa lari, coba kalau semua nya, udah jadi zombie kita tadi." ucap Winda.
"Iya juga ya Winda." ucap Cito.
"Kita istirahat dulu gak sih." ucap Winda yang kecapekan.
"Ayo aku juga capek Winda." Ajak Cito.
Kemudian mereka berniat beristirahat di teras rumah yang ada di dekat mereka berada saat ini untuk segenap menghilang kan capek,dan mereka duduk berdampingan di teras rumah itu dengan keadaan yang kelelalahan.Baru saja mereka duduk, dari belakang tiba tiba mereka berdua mendengar suara langkah kaki,seperti ada yang keluar dari rumah tempat mereka beristirahat, sehingga mereka berdua pun menoleh ke belakang karena penasaran.
...................BERSAMBUNG....................
APA YANG TERJADI DENGAN CITO DAN WINDA SETELAH INI?
SIAPA ORANG YANG BERJALAN KE ARAH WINDA DAN CITO ITU?.