Zombee

Zombee
PESTA



Dua hari setelah itu, di Holden ada sebuah perayaan besar besaran, pesta pernikahan Lordan dengan Jane dan juga pernikahan Sania dan Romeo. Sania duduk berdampingan dengan Romeo, sementara Jane duduk berdampingan dengan Lordan.


Mereka di saksikan oleh seluruh penduduk Holden, yang duduk di tribun stadion kecil yang ada di camp the Holden, semuanya bersorak sorak. Romeo yang melihat itu begitu bahagia dengan memegang tangan Sania yang ada di sampingnya, Sania pun menoleh ke arah Romeo dan tersenyum.


Setelah acara pernikahan itu,malamnya, Sania pun berjalan menuju ke kamar Romeo. Sesampainya di depan kamar Romeo, Sania pun mengetuk pintu kamar Romeo.


"Tok tok tok" Sania mengetuk pintu.


Setelah itu Romeo pun membuka pintunya dari dalam.


"Eh istriku tercinta." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Ih jijik banget gua sama nih orang." ucap Sania dalam hati.


"Yaudah ayo masuk." ajak Romeo.


Kemudian Sania pun masuk ke dalam kamar Romeo, setelah itu Sania duduk di kasur kamar Romeo.


"Udah makan kan?." tanya Romeo.


"Udah kok mas." jawab Sania dengan tersenyum.


Kemudian Romeo duduk di samping Sania.


"Makasih ya Sania, kamu udah mau jadi istriku." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Gak apa apa kali mas, santai aja." ucap Sania dengan tersenyum.


"Aku sangat bahagia sekali memiliki istri yang cantik seperti ini." ucap Romeo dengan mengelus pipi Sania.


"Kamu bahagia gak mas." ucap Sania dengan tersenyum.


"Bahagia dong masa gak ." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Bagus dong kalau begitu." ucap Sania dengan tersenyum.


"Kalau kamu bahagia gak." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Masa gak bahagia sih, ya bahagia dong mas." ucap Sania dengan tersenyum.


"Bagus dong kalau begitu." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong mas dulu udah pernah nikah gak?." tanya Sania.


"Udah pernah dulu waktu di Mexico, tapi cuma sebentar gara gara istriku meninggal seminggu setelah pernikahanku." jelas Romeo dengan raut wajah sedih.


"Kalau boleh tau, karena apa mas?." tanya Sania dengan penasaran.


"Kanker otak Sania." jawab Romeo dengan raut wajah sedih.


"Pasti kamu sedih banget kan mas." ucap Sania.


"Iya Sania." ucap Romeo dengan raut wajah sedih.


"Yang sabar ya mas, kan ada aku sekarang istri mas." ucap Sania dengan tersenyum.


"Iya Sania, makasih ya." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Aku kok kasihan ya sama dia, eh gak gak, sadar Sania dia bukan orang baik." ucap Sania dalam hati.


"Bentar ya aku mau keluar dulu." pamit Romeo.


"Iya mas." ucap Sania dengan tersenyum.


Kemudian Romeo pun pergi keluar kamar meninggalkan Sania di kamar sendirian. Setelah Romeo keluar Sania langsung berbaring di kasur kamarnya Romeo, dengan kedua tangan di taruh di bawah kepala.


"Kok gua bisa kasihan ya sama ceritanya." ucap Sania.


Sania pun hanya bingung dengan kelakuannya sendiri.


"Bodoh amat mau kasihan atau gak, yang penting gua harus membunuh orang itu." ucap Sania.


Tak lama setelah itu Romeo pun masuk ke dalam kamarnya lagi, seketika Sania pun langsung duduk.


"Gak apa apa kali Sania kalau mau berbaring." ucap Romeo.


"Iya mas." ucap Sania dengan tersenyum.


Kemudian Romeo duduk di samping Sania lagi.


"Udah ngantuk?. " tanya Romeo.


"Belum kok mas, cuma tiduran doang tadi." jawab Sania dengan tersenyum.


"Oh, yaudah." ucap Romeo dengan tersenyum.


Kemudian Sania, berbaring dan bersandar di paha Romeo.


"Aku gak apa apa kan mas gini." ucap Sania dengan tersenyum.


"Iya juga ya mas." ucap Sania dengan tersenyum.


Kemudian Romeo mengelus pipi Sania dengan penuh kasih sayang dan Sania juga mengelus pipi Romeo.


Sementara di tempat lain Jane pun sudah tiba di kamar istri ke tujuh Lordan.


"Tok tok tok" Jane mengetuk pintu.


Kemudian ada yang membuka pintu dari dalam, yang tak lain adalah Jeniffer istri ke tujuh Lordan.


"Silahkan masuk." ucap Jeniffer.


Kemudian Jane masuk ke dalam dan Jeniffer menutup pintunya kembali.


"Nama kamu siapa?." tanya Jeniffer.


"Jane, mbak, kalau mbaknya?." tanya Jane.


"Jeniffer davian." jawab Jeniffer dengan tersenyum.


"Oh." ucap Jane mengangguk.


"Yaudah ayo duduk dulu." ajak Jeniffer.


Kemudian Jane dan Jeniffer duduk di kasur kamar Jeniffer.


"Kamu di suruh Lordan tidur di sini?." tanya Jeniffer.


"Iya, mbak." ucap Jane dengan tersenyum.


"Untung kamu ya tinggalnya sama aku, coba sama istri Lordan yang lain." ucap Jeniffer.


"Emang kenapa mbak?." tanya Jane dengan bingung.


"Jahat banget tau gak, apalagi istrinya yang pertama." jawab Jeniffer.


"Mbak pernah satu kamar sama mereka?." tanya Jane.


"Pernah dong, aku sering di jahatin tau gak mentang mentang aku orang baru aja." jawab Jeniffer.


"Kalau aku disini, mbak senang gak?." tanya Jane dengan ragu.


"Senang banget dong, apalagi kan aku udah gak sendirian sekarang, ada kamu yang nemenin aku." ucap Jeniffer.


Jane pun tersenyum mendengar perkataan Jeniffer.


"Anggap aja aku sebagai kakak kamu." ucap Jeniffer.


"Iya mbak makasih." ucap Jane dengan tersenyum.


Oh iya, kalau kamu butuh ganti baju, ambil aja di almari ada banyak kok." ucap Jeniffer.


"Iya mbak,terima kasih banyak." ucap Jane dengan tersenyum.


Beberapa saat kemudian, setelah Romeo tertidur Sania pun berniat langsung membunuh Romeo di malam itu juga. Sania telah membawa pisau di tangan kanannya dan hendak menancapkan pisau itu ke tubuh Romeo.Namun tiba tiba Sania pun memberhentikan langkahnya itu dan tiba tiba pisau yang di pegang Laura pun terjatuh, dia belum kuat untuk membunuh seseorang, karena dia sebelumnya belum pernah sama sekali membunuh orang.


Suara pisau yang jatuh ke lantai,membuat Romeo pun terbangun dan kaget. Sementara Sania menendang jauh pisau itu agar tidak keliahatan Romeo.


"Suara apa itu Sania?." tanya Romeo dengan kaget.


"Maaf ya mas barang aku jatuh tadi." jawab Sania.


"Iya gak apa apa Sania." ucap Romeo dengan tersenyum.


Kemudian Sania pun menghampiri Romeo yang sedang berbaring dan duduk di samping Romeo.


"Kamu kok belum tidur sih Sania." ucap Romeo dengan mengelus pipi Sania.


"Tadi habis keluar bentar mas." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Yaudah sekarang kamu tidur di samping aku ya." ucap Romeo dengan dengan tersenyum.


"Iya mas." ucap Sania dengan tersenyum.


Kemudian Sania pun berbaring di samping Romeo yang ada di kasur.


"Kamu tau gak Sania, kalau aku sayang banget sama kamu." ucap Romeo dengan mengelus pipi Sania.


"Aku juga sayang sama kamu mas." ucap Sania dengan tersenyum.


"Mungkin hidup aku tidak sebahagia ini jika tidak ada kamu." ucap Romeo dengan tersenyum.


Sania pun hanya membalas dengan tersenyum.


"Kok gua merasa kek orang jahat ya, cinta dia tulus banget ke gua, aku gak tega menghianati orang yang tulus mencintaiku." ucap Sania di dalam hati.


........................... BERSAMBUNG..........................