
Tiga tahun kemudian setelah wabah zombie melanda dunia, Tomi dan yang lain pun telah berbahagia hidup di rumah milik Tono, dengan begitu bahagia mereka hidup di rumah itu, tanpa halangan dari zombie maupun manusia kejam.
Kini Elly telah menikah dengan Teddy anak dari Tono, sang pemilik rumah beberapa bulan yang lalu, sementara Ali dan Laura telah menikah tiga tahun yang lalu, mereka pun hidup bahagia di rumah itu.
Hari ini Sekar sedang duduk di teras rumah sendirian, tiba tiba Koko keluar dari dalam rumah dan menghampiri Sekar.
"Mama." panggil Koko dengan suara lucunya.
Kini Koko telah berusia sekitar 4 tahun.
"Eh anak mama." ucap Sekar dengan tersenyum.
Setelah itu Koko duduk di pangkuan Sekar yang sedang duduk di teras rumah.
"Dimana papa sayang?." tanya Sekar.
"Papa masih tidur ma." jawab Koko dengan tersenyum.
"Kebiasaan sih papa kamu itu." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Iya ma." ucap Koko dengan tersenyum.
"Kalau tante Elly sama tante Laura, masih tidur?." tanya Sekar.
"Gak ma, udah bangun kok." jawab Koko.
Tak lama setelah itu Tono keluar dari dalam rumah dan menghampiri mereka berdua.
"Kakek." panggil Koko.
"Eh cucu kakek." ucap Tono dengan tersenyum.
Kemudian Tono duduk di samping mereka berdua.
"Koko kok udah bangun aja jam segini." ucap Tono dengan tersenyum.
"Iya dong kek, kan Koko anak rajin." ucap Koko dengan tersenyum.
"Harus dong itu." ucap Tono dengan tersenyum dan mengelus rambut Koko.
"Pak, semua perempuan udah masak kan?." tanya Sekar.
"Belum nak, kamu aja kali." jawab Tono.
"Yaudah pak, Sekar masuk ke dalam rumah dulu mau ajakin yang lain masak, biar nanti bisa cepat sarapannya." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Iya nak." ucap Tono dengan tersenyum.
"Koko sama kakek dulu ya mama mau masak, sama jangan nakal nakal loh." ucap Sekar.
"Iya ma." ucap Koko dengan tersenyum.
Setelah itu Sekar pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Koko dan Tono yang ada di teras, sebelum mengajak yang lain masak, Sekar terlebih dahulu masuk ke kamarnya untuk membangunkan Tomi yang masih tertidur.
"Mas bangun mas." ucap Sekar sembari menggoyang goyang bahu Tomi.
"Ih apasih, ganggu orang tidur aja." ucap Tomi yang setengah sadar.
"Awas aja kamu." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian Sekar mencium pipi Tomi yang sedang tertidur, seketika Tomi pun terbangun.
"Siapa suruh cium?." tanya Tomi.
"Lagian gak bangun bangun sih." jawab Sekar dengan tersenyum.
Tomi pun duduk di kasur itu, dan Sekar pun duduk di sampingnya.
"Dari dulu gak pernah beda ya, kalau di bangunin itu susah banget." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Gak juga." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Terserah kamu aja deh." ucap Sekar dengan tersenyum.
Setelah itu Tomi memegang tangan Sekar.
"Sekar." panggil Tomi.
"Iya mas." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Gak nyangka udah tiga tahun kita menjadi suami istri." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Iya." ucap Sekar.
"Kok jawab cuma iya doang sih." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Terus aku harus jawab apa?." tanya Sekar dengan tersenyum.
"Gak tau juga." jawab Tomi dengan tersenyum.
"Ye, tapi ngomong ngomong kamu gak pengen punya anak dari aku?." tanya Sekar dengan tersenyum.
"Kamu tau sendiri keadaannya sekarang kan." jawab Tomi dengan tersenyum.
"Ya tau dong,lah terus." tanya Sekar.
Kemudian Tomi mengelus wajah Sekar.
"Aku gak mau kehilangan kamu Sekar." ucap Tomi dengan mengelus wajah Sekar.
"Iya mas aku faham kok." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian setelah itu, tiba tiba Laura datang dan menghampiri mereka berdua.
"Sekar, di cariin juga ternyata di sini sedang berduaan." ucap Laura dengan tersenyum.
"Oh iya, aku lupa kalau aku tadi mau masak." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian Sekar menoleh ke arah Tomi.
"Kamu sih, emang." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Kok jadi aku sih, yang di salahkan." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Gak usah banyak alasan Sekar, mbak Linda sama Elly udah nunggu tuh." ucap Laura.
"Iya deh Laura." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian Laura meninggalkan mereka berdua,setelah itu Sekar pun berdiri.
"Eh mau kemana kamu?." tanya Tomi.
"Yah mau masak lah." jawab Sekar.
"Cium dulu dong." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Tadi udah aku cium." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Kan aku belum cium kamu." ucap Tomi.
"Yaudah deh." ucap Sekar dengan tersenyum.
Setelah itu Sekar menghampiri Tomi, setelah itu Tomi langsung mencium pipi Sekar.
"Udah gitu aja." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Iya lah." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Jangan tidur lagi habis ini." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Iya iya." ucap Tomi dengan tersenyum.
Kemudian Sekar pun berjalan perlahan menuju ke dapur untuk memasak, sementara Tomi tetap berada di kamar. Setelah itu di waktu yang sama dan tempat yang berbeda Cito, Winda dan anaknya bernama Indah yang sudah berumur sekitar dua tahun sedang duduk di halaman bangunan pengungsian tempat mereka tinggal, Indah sedang duduk di pangkuan mamanya.
"Mama." panggil Indah dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucap Winda dengan tersenyum.
"Ma, zombie itu apa ya?." tanya Indah.
"Zombie itu, orang yang sudah meninggal." jawab Winda dengan tersenyum.
"Berarti kalau mama meninggal, mama zombie dong." ucap Indah dengan tersenyum.
"Berarti kamu pengen mama meninggal?." tanya Winda dengan tersenyum.
"Ya gak dong ma, kan Indah sayang banget sama mama." ucap Indah dengan tersenyum.
"Mama juga sayang sama Indah." ucap Winda dengan mencium rambut halus Indah.
"Kalau sama papa gak sayang?." tanya Cito.
"Ya sayang dong pa." jawab Indah dengan tersenyum.
Setelah itu Livy datang dengan mengendong anaknya yang masih bayi, Livy adalah wanita yang menikah bersamaan saat Cito dan Winda menikah.
"Tante boleh duduk ikut gak Indah?." tanya Livy.
"Iya tante boleh kok." jawab Indah dengan tersenyum.
Setelah itu Livy pun duduk di samping Cito.
"Tante dekdeknya tidur ya?." tanya Indah.
"Iya Indah." jawab Livy dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu Michella pun datang menghampiri mereka yang sedang duduk.
"Indah ayo ikut tante sebentar!." ajak Michella.
"Kemana tante?." tanya Indah.
"Ikut aja sama tante." jawab Michella.
Kemudian Michella menggendong Indah dan membawa dia pergi, Sementara Cito, Winda dan Livy masih duduk.
"Livy, mana aku gendongin anak kamu ya." ucap Winda.
"Ini Winda." ucap Livy dengan memberikan anaknya kepada Winda.
Setelah itu Winda menggendong anak Livy.
"Anaknya cantik deh, mirip ibunya." ucap Winda dengan tersenyum.
"Bisa aja deh." ucap Livy dengan tersenyum.
"Beneran Livy." ucap Winda dengan tersenyum.
"Iya deh iya." ucap Livy dengan tersenyum.
Sementara di Holden Sania sedang duduk di kasur kamarnya dengan merenung, tentang perasaannya yang tiba tiba muncul terhadap Romeo. Tak lama setelah itu Jane pun datang ke kamar Sania.
"Sania." panggil Jane.
"Sini duduk dulu Jane." ucap Sania.
Kemudian Jane duduk di samping Sania.
"Udah 3 tahun loh tapi rencana kita belum berhasil ya Jane." ucap Sania.
"Iya Sania padahal aku sudah banyak banget kesempatan tapi selalu ada halangan." ucap Jane.
"Aku setiap mau membunuh dia selalu saja gak bisa, aku gak kuat Jane." ucap Sania.
"Mungkin kamu udah punya rasa kali sama dia." ucap Jane dengan tersenyum.
"Kalau Lordan sih, emang dari orangnya udah jahat sih Sania, aku sudah gak sabar pengen bunuh dia, tapi selalu ada halangannya, entah istrinya yang lain datang atau apalah." ucap Jane.
"Ternyata sifat Romeo jauh berbeda dengan Lordan ya." ucap Sania.
"Iya Sania, kalau Lordan itu mau kalau ada pengennya aja,kejam banget sih orang itu." ucap Jane.
Tak lama setelah itu terdengar ada suara langkah kaki menuju ke kamar.
"Jane kayaknya itu Romeo deh, kamu keluar dulu ya." ucap Sania.
"Iya Sania." ucap Jane.
Setelah itu Jane keluar dari kamar Sania dan berpapasan dengan Romeo.
"Jane, habis dari kamarnya Sania?." tanya Romeo.
"Iya mas." jawab Jane.
"Sania lagi ngapain?." tanya Romeo.
"Lagi duduk aja sih mas." jawab Jane.
"Oh." ucap Romeo.
"Yaudah aku pamit dulu ya mas." pamit Jane.
"Iya Jane." ucap Romeo.
Setelah itu Jane pergi, sementara Romeo langsung masuk ke dalam kamar.
"Sania sayang." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Eh mas, udah selesai mas tugasnya?." tanya Sania.
"Udah Sania, udah dapat banyak banget persediaan." jawab Romeo.
"Gak ngerampas dari kelompok lain kan?." tanya Sania.
Kemudian Romeo duduk di samping Sania.
"Gak sayang, kalau aku yang mimpin gak pernah merampas milik orang lain." ucap Romeo dengan tersenyum dan mengelus wajah Sania.
"Masa sih?." tanya Sania.
"Iya sayang, masa sih gak percaya sama suaminya sendiri." jawab Romeo dengan tersenyum.
Kemudian Sania bersandar di bahu Romeo.
"Jangan bakar bakar lagi ya mas, kasihan mereka mas, cukup camp aku aja yang terakhir." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya Sania, aku sebenarnya juga gak setuju seperti itu, tapi apa boleh itu semua perintah Lordan." ucap Romeo dengan mengelus pipi Sania.
"Iya mas aku faham kok." ucap Sania.
"Tau gak, kamu adalah wanita paling berharga yang pernah aku miliki." ucap Romeo.
"Masa sih mas." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya Sania." ucap Sania dengan tersenyum.
"Mas,andaikan kamu tau kalau cintaku selama ini palsu mas, kamu telah baik banget kepadaku selama ini, tapi aku janji mas mulai detik ini aku gak akan memiliki niatan untuk bunuh kamu lagi, detik ini aku mulai mencintaimu dengan tulus mas, walaupun aku melihat semua yang kau lakukan terhadap Laura malam itu mas." gumam Sania.
"Mas, maafin aku ya." ucap Sania.
"Maaf untuk apa Sania?." tanya Romeo.
"Maaf jika aku selalu merepotkanmu." jawab Sania.
"Kamu gak pernah buat aku kerepotan." ucap Romeo dengan tersenyum.
Setelah itu Sania menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Romeo.
"Pokoknya aku minta maaf mas." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya deh, aku juga minta maaf ya." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Mas gak pernah punya salah sama aku." ucap Sania.
"Punya Sania." ucap Romeo.
"Gak mas." ucap Sania dengan tersenyum.
Kemudian Romeo mencubit pipi Sania.
"Aww sakit mas." ucap Sania.
"Sekarang aku punya salah kan, aku minta maaf ya." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Ih mas, gemes deh." ucap Sania dengan mencubit pipi Romeo.
"Aw sakit Sania." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Biarin." ucap Sania dengan tersenyum.
"Awas aja kamu." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Tunggu deh mas, kamu gak pengen ya punya anak sama aku?." tanya Sania.
"Tumben nanya gitu." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Ya terserah akulah mas." ucap Sania dengan tersenyum.
"Sebenarnya aku sih pengen Sania, tapi kamu tau sendiri kan di camp ini gimana kalau ada wanita hamil." ucap Romeo.
"Iya mas, tapi ngomong ngomong kalau kita punya anak cowok, pasti anaknya ganteng seperti ayahnya." ucap Sania dengan tersenyum.
"Kalau anak cewek, pasti juga cantik seperti ibunya." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Masa sih aku cantik mas?." tanya Sania dengan tersenyum.
"Iya dong, cantik banget." jawab Romeo dengan tersenyum.
"Bohong ya." ucap Sania dengan tersenyum.
"Gak." ucap Romeo dengan tersenyum.
Kemudian Sania bersandar di bahu Romeo.
"Iya deh percaya." ucap Sania dengan tersenyum.
"Harus dong kamu itu harus percaya sama aku." ucap Romeo dengan tersenyum.
Setelah itu Romeo memegang tangan Sania dan mencium tangan Sania dengan penuh kasih sayang.
"Mas kamu sekarang sudah mendapatkan cinta yang tulus dari istrimu ini mas, tidak cinta palsu lagi mas, maafin aku ya mas selama ini memiliki niat jahat kepadamu." gumam Sania.
Sementara di rumah Tono, seluruh anggota kelompok pun berkumpul di meja makan yang ada di halaman rumah, untuk sarapan bersama.Makanan masakan wanita wanita yang ada di rumah Tono pun sudah berada di atas meja.
"Ayo di makan makanannya." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Masakan dari perawat pasti enak ini." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Apasih mas." ucap Sekar dengan tersenyum malu.
"Masakan dari penjaga toko kue juga enak tau." ucap Ali dengan tersenyum.
"Ikutan aja deh Ali." ucap Laura dengan tersenyum.
"Jangan lupa masakan istriku juga ini." ucap Teddy dengan tersenyum.
"Kok ikutan aja sih mas." ucap Elly dengan tersenyum.
"Padahal ini semua kan idenya dari mbak Linda." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Gak kok bohong dia." ucap Linda dengan tersenyum.
"Yaudah sekarang kita makan dulu ya." ucap Tono dengan tersenyum.
"Ma suapin ya ma." ucap Koko dengan tersenyum.
"Ih anak mama manja banget." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Kan aku masih kecil ma." ucap Koko dengan tersenyum.
"Gak pengen di suapin tante Elly." ucap Elly dengan tersenyum.
"Gak, aku pengennya di suapin mama." ucap Koko dengan tersenyum.
"Iya deh mama suapin." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian Sekar menyuapi Koko.
"Aku juga mau deh." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Anak sama papa sama aja." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian Sekar menyuapi Tomi.
"Aku juga mau sayang di suapin." ucap Teddy dengan tersenyum.
"Kamu mau mas." ucap Elly dengan tersenyum.
Kemudian Elly menyuapi Teddy.
"Enak banget." ucap Teddy dengan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Kamu gak usah manja juga ya Ali." ucap Laura dengan tersenyum.
"Aku gak manja kok, malah aku yang suapin." ucap Ali sembari menyuapi makanan ke mulut Laura.
"Enak banget ih." ucap Laura dengan tersenyum.
"Kalian ada ada aja deh." ucap Tono dengan tersenyum.
"Kamu gak ikutan juga Linda?." tanya Arif.
"Gak punya suami." jawab Linda dengan tersenyum.
"Itu masih ada tiga yang nganggur." ucap Arif dengan tersenyum.
"Mana ada yang mau sama wanita sadis kek aku." ucap Linda dengan tersenyum.
"Kalau ada yang mau gimana?." tanya Arif.
"Ya tolong di nikahkanlah." jawab Linda dengan tersenyum.
"Mbak udah tua, udah waktunya nikah, masa sih kalah sama aku." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Iya nih mbak Linda." ucap Laura dengan tersenyum.
"Santai aja gak sih." ucap Linda dengan tersenyum.
"Tenang aja Linda, kita kan seumuran." ucap Elly dengan tersenyum.
"Tapi kan kamu udah nikah." ucap Linda dengan tersenyum.
"Iya juga sih." ucap Elly dengan tersenyum.
"Udahan ngobrolnya, waktunya makan sekarang." ucap Tono dengan tersenyum.
Kemudian Mereka semua pun makan dengan begitu bahagia, walaupun berada di tengah tengah wabah zombie yang menjadikan orang yang tak bersalah menjadi korban. Kini Sekar dan Tomi telah memiliki keluarga layaknya seperti di hotel, tak jauh beda juga dengan Cito dan Winda yang telah mendapatkan kebahagiaan di tempat tingal baru mereka, tak lupa juga Sania yang telah menemukan kebahagiaannya dengan seorang suaminya yaitu Romeo,Mereka semua pun hidup bahagia di tempat mereka masing masing masing.
................................SELESAI..................................