
Setelah itu wanita bertopeng itu masuk ke dalam mini market dan mendekati Sekar.
"Siapa kamu?. " tanya Sekar dengan waspada.
Lalu wanita itu membuka topengnya.
"Namaku Elly septia, tenang aku bukan orang jahat kok." ucap wanita itu.
"Apa aku harus percaya denganmu?. " ucap Sekar dengan berhati hati.
"Percayalah aku bukan orang jahat." ucap wanita itu yang mencoba meyakinkan Sekar.
Sekar masih cukup ragu dengan wanita yang ada di depannya itu.
"Sebenarnya aku mau pergi ke rumah pamanku yang tak jauh dari sini, tapi karena aku lapar jadinya aku mampir kesini." jelas Elly atau wanita itu.
Sekar hanya menyimak penjelasan Wanita itu.
"Aku mengambil makanan di sini gak apa apa kan?. " tanya Elly.
"Gak apa apa kok ambil aja." jawab Sekar.
Kemudian Elly mengambil satu snack yang ada di sana,lalu setelah itu dia duduk. Sekar pun menghampirinya dan duduk di dekatnya.
"Oh iya nama kamu siapa?. " tanya Elly dengan penasaran.
"Namaku Sekar claudia,ini Koko." jawab Sekar.
"Kamu cuma tinggal berdua?. " tanya Elly lagi.
"Gak, kami tinggal bertiga tapi yang satunya pergi sebentar." jelas Sekar.
"Ohh, ini anak kamu ya?." tanya Elly lagi.
"Sebenarnya enggak sih, tapi ya karena dia satu satunya korban kebakaran yang selamat,jadi aku rawat deh,aku udah anggap anak ini sebagai anak aku sendiri kok." jelas Sekar.
"Kebakaran?. " tanya Elly dengan kaget.
"Iya, tempat tinggal kami di bakar oleh orang orang jahat." jawab Sekar.
"Kejam banget ya." ucap Elly.
"Hanya kami bertiga yang berhasil selamat dari kebakaran itu." ucap Sekar.
Elly hanya diam mendengar perkataan Sekar itu.
"Oh iya Elly kamu sebelumnya tinggal di mana?. " tanya Sekar.
"Sebelumnya aku sih tinggal di rumah aku sendiri, tapi karena persediaan aku habis, jadi aku coba pergi mencari pengungsian. " jelas Elly.
"Terus sudah ketemu pengungsian nya?. " tanya Sekar.
"Sudah sih Sekar,tapi aku kabur dari pengungsian itu." jelas Elly.
"Kok kabur sih, kan udah nemu pengungsian." ucap Sekar dengan bingung.
"Wanita normal mana coba, yang mau jadi wanita penghibur." jelas Elly.
"Kamu di paksa jadi wanita penghibur?. " tanya Sekar dengan kaget.
"Iya, makanya aku pergi dari sana." jawab Elly.
"Kejam banget ya." ucap Sekar.
"Tapi di sini aman kan?." tanya Elly.
"Aman kok, kamu tinggal di sini aja dulu Elly." jawab Sekar.
"Kamu kok secepat itu ya percaya sama aku?. " tanya Elly.
"Lah kan kamu gak orang jahat." jawab Sekar dengan tersenyum.
"Iya juga sih, tapi ngomong ngomong kamu umur berapa?." tanya Elly.
"Aku 26 tahun, kalau kamu?." ucap Sekar.
"Aku 29 tahun." Ucap Elly.
"Tua kamu ya ternyata." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Iya Sekar." ucap Elly.
Kemudian Elly meminta untuk menggendong Koko yang ada di gendongan Sekar.
"Aku boleh gendong gak?. " minta Elly.
"Boleh kok." jawab Sekar dengan tersenyum.
Kemudian memberikan Koko kepada Elly, lalu Elly menggendong Koko.
"Ikut sama tante Elly ya sayang." ucap Sekar dengan tersenyum.
Koko hanya tersenyum senyum.
"Ini Elly kamu suapin Koko ya." ucap Sekar dengan memberikan makanan Koko.
"Iya Sekar." ucap Elly.
Setelah itu Sekar pergi mencari snack yang ada di minimarket, karena perutnya sudah lapar.
"Sekar." panggil Elly.
"Iya Elly." balas Sekar.
Lalu Elly menghampiri Sekar yang sedang mencari snack.
"Kalau kamu tidur itu di lantai mini market ini kan?. " tanya Elly.
"Gak kok, itu di ruang karyawan." jawab Sekar dengan menunjuk ruang karyawan itu.
"Ohh, kalau aku tinggal di sini sementara gak apa apa kan?. " tanya Elly lagi.
"Gak apa apa Elly, aku sama Tomi malah senang kok." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Makasih ya Sekar." ucap Elly dengan tersenyum.
"Nanti kita pergi ke rumah pamanmu bersama sama jika persediaan di sini telah habis, boleh kan." ucap Sekar.
"Boleh sih, tapi aku gak tau kalau pamanku masih hidup atau gak." ucap Elly dengan ragu.
Lalu Elly hendak masuk ke ruang karyawan.
"Aku masuk sini gak apa apa kan Sekar?. " tanya Elly.
"Masuk aja kali Elly." ucap Sekar dengan tersenyum.
Kemudian Elly masuk ke dalam ruangan itu dengan rasa penasaran setelah membuka pintu ruangan itu, kemudian Elly sangat senang bisa menemukan tempat tinggal yang layak untuk nya. Tak lama setelah itu Sekar pun masuk.
"Elly." panggil Sekar.
"Eh Sekar, udah selesai makan snack nya?. " tanya Elly.
"Udah Elly." jawab Sekar.
Lalu Sekar langsung berbaring di kasur yang ada di ruangan itu.
"Elly kamu gak capek?. " tanya Sekar yang sedang berbaring.
"Gak Sekar, aku gak capek kok." jawab Elly dengan tersenyum.
"Koko rewel gak kalau sama kamu?. " tanya Sekar lagi.
"Gak kok Sekar." ucap Elly dengan mengelus rambut Koko yang ada di gendongannya.
Kemudian Elly pun duduk di samping Sekar yang sedang berbaring di kasur.
"Oh iya kenapa tadi kamu pakai topeng?. " tanya Sekar dengan penasaran.
"Aku takut Sekar mereka masih mencariku." jawab Elly.
"Kelompok kejam itu kan?. " tanya Sekar lagi.
"Iya Sekar." jawab Elly dengan tersenyum.
Kemudian Sekar duduk di samping Elly yang sedang menggendong Koko.
"Oh iya Elly, kalau boleh tau kamu kerja apa dulu?." tanya Sekar.
"Pelayan restoran Sekar, kalau kamu?." Elly bertanya balik.
"Aku perawat Elly. " Jawab Sekar.
Elly mengangguk mendengar jawaban Sekar.
"Kamu udah nikah belum Sekar?. " tanya Elly.
"Belum Elly, tapi aku sama teman aku berencana untuk kalau udah ada yang nikahin." jawab Sekar dengan tersenyum.
"Teman kamu yang sekarang pergi itu kan?. " tanya Elly lagi.
"Iya Elly." ucap Sekar.
Kemudian wajah Elly tiba tiba murung dan sedih.
"Kenapa sedih Elly?. " tanya Sekar dengan khawatir.
"Aku jadi ingat adik aku Sekar, mungkin sekarang sudah seumuran sama kamu." jelas Elly dengan sedih.
"Maaf ya sebelumnya, emang kenapa Elly udah jadi zombie ya?. " tanya Sekar lagi.
"Gak Sekar, dia meninggal sebelum wabah zombie. " jawab Elly dengan sedih.
"Ohh,gitu ya. " ucap Sekar dengan mengangguk.
"Hanya dia Sekar yang membuatku memiliki semangat hidup, setelah orang tua kami meninggal." jelas Elly.
"Yang sabar ya Elly." ucap Sekar dengan sedih.
"Aku merasa bersalah Sekar, aku gak bisa mewujudkan impian adikku yang ingin menjadi seorang dokter." ucap Elly dengan sedih.
Kemudian Sekar menaruh tangannya di pundak Elly.
"Elly itu semua gak salah kamu." ucap Sekar dengan sedih.
"Aku tidak mampu membiayainya kuliah di universitas kedokteran Sekar." ucap Elly.
"Emang orang tua kamu meninggal waktu kamu umur berapa sih?. " tanya Sekar.
"Orang tua aku kecelakaan saat aku masih sma Sekar." jawab Elly.
"Terus kamu putus sekolah?." tanya Sekar lagi.
"Iya Sekar, walau pamanku sempat melarang ku dulu, tapi itu sudah pilihanku Sekar, aku tak ingin merepotkan pamanku." jawab Elly.
"Kamu kakak yang hebat Elly." ucap Sekar dengan tersenyum kearah Elly.
Elly hanya mengangguk mendengar perkataan Sekar.Lalu Sekar memegang tangan Elly.
"Tenang ya Elly, ada aku di sini dan kita sekarang keluarga." ucap Sekar dengan tersenyum.
"Makasih Sekar. " ucap Elly dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu terdengar suara motor,tak lain adalah suara motor Tomi yang sudah kembali.
"Itu pasti Tomi udah kembali." ucap Sekar dengan bahagia.
Lalu Sekar langsung menghampiri Tomi dan Elly mengikuti Sekar dari belakang.
"Eh Tomi udah datang." ucap Sekar.
Kemudian Tomi turun dari motornya lalu menghampiri Sekar.
"Sekar ini motor siapa?. " tanya Tomi dengan penasaran.
Kemudian Elly datang menghampiri mereka berdua.
"Ini motornya Elly. " ucap Sekar dengan tersenyum.
"Ohh, ini Elly ya." ucap Tomi dengan tersenyum.
"Kenalin ini Tomi." ucap Sekar memperkenalkan Tomi kepada Elly.
"Salam kenal ya Tomi." ucap Elly dengan tersenyum.
Tapi sebelum masuk Tomi menyuruh Elly untuk memasukkan motornya ke dalam mini market.
"Elly motor kamu bawa masuk ya." Ucap Tomi.
Lalu Elly memberikan Koko yang di gendongnya kepada Sekar. Kemudian Sekar masuk terlebih dahulu dengan menggendong Koko, sementara Tomi dan Elly hendak memasukkan motor nya ke mini market.Setelah motor mereka sudah berada di dalam mini market, Tomi langsung menutup semua pintu mini market.
"Kok kamu tutup semua Tomi?. " tanya Elly.
"Biar gak ada orang jahat maupun zombie yang tau kalau ada kita di sini." jawab Tomi.
"Ohh gitu ya." ucap Elly dengan mengangguk.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam ruangan karyawan, menyusul Sekar yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Nanti kalian tidur di atas dan aku seperti biasa tidur di bawah." ucap Tomi.
"Iya Tomi." ucap Sekar dengan mengangguk.
Lalu Sekar membaringkan Koko di kasur, dan Sekar berbaring di samping Koko sambil meminumkan susu Koko yang sudah Sekar buat tadi.
"Kamu gak capek Elly, sini gih tidur samping aku sama Koko." ucap Sekar.
"Iya Sekar." ucap Elly dengan tersenyum.
Kemudian Elly berbaring di samping Sekar dan Koko.
Sementara di Holden, Sania duduk di kasur kamarnya dengan masih memikirkan Laura sahabat nya itu, dia khawatir dengan keadaan sahabat nya itu.
"Laura masih hidup gak ya." ucap Sania dengan khawatir.
Lalu ada yang mengetuk pintu kamar Sania dari luar.
"Masuk aja kali." ucap Sania.
Kemudian pintu itu terbuka, dan ternyata itu adalah Jane yang ingin bertemu Sania.
"Sania." panggil Jane.
"Tumben ke sini." ucap Sania tanpa menoleh Jane.
Kemudian Jane duduk di samping Sania.
"Sania maafin aku ya, aku tau aku salah." ucap Jane dengan menangis.
Kemudian Jane memeluk Sania dari belakang, Kemudian Sania berbalik badan dan memeluk Jane.
"Iya Jane aku dan Laura udah maafin kamu kok." ucap Sania mengusap air mata Jane yang ada di pelukanya itu.
Lalu Sania melepaskan pelukannya.
"Makasih ya Sania." ucap Jane dengan tersenyum.
"Iya Jane, pokok nya kita selamanya akan selalu jadi sahabat." ucap Sania dengan tersenyum.
Kemudian mereka berdua berbaring di kasur yang ada di kamar Sania itu.
"Jane, gue punya rencana tau gak." ucap Sania.
"Rencana apa Sania, kabur dari sini?." tanya Jane dengan penasaran.
"Gak Jane, aku punya rencana agar Romeo mau nikahin aku." jawab Sania dengan tersenyum.
"Lo suka sama Romeo?." tanya Jane dengan kaget.
"Gak gitu maksudnya,gue mau di nikahin Romeo,karena gue mau bunuh dia secara diam diam." jawab Sania.
"Resikonya besar lo Sania, kalau sampai lo ketahuan gimana?, kalau sampai gagal gimana?. " ucap Jane dengan khawatir.
"Gue optimis, rencana gue akan berhasil kok Jane." jawab Sania dengan tersenyum.
"Tapi gue gak ingin kehilangan sahabat gue yang cantik ini kalau gagal." ucap Jane dengan tersenyum.
"Santai aja Jane pasti berhasil kok." ucap Sania dengan tersenyum.
"Janji ya kalau berhasil." ucap Jane dengan menjulurkan jari kelingking nya.
"Iya aku janji Jane." ucap Sania dengan menempelkan jari kelingking nya ke jari kelingking Jane.
"Lo ingat waktu kita sma." ucap Jane.
"Iya Jane gue ingat,waktu aku di tembak cowok itu kan." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya Sania, lo tolak sampai orang nya gak mau sekolah." ucap jane dengan tersenyum.
"Setelah itu dia mau sekolah kok." ucap Sania.
"Lo dulu suka banget nolak cowok." ucap Jane.
"Belum ada yang cocok tau gak, lagian perasaan muka gua pas pasan banyak aja yang suka." ucap Sania dengan tersenyum.
"Lo itu cantik tolol." ucap Jane dengan tersenyum.
"Masa iya sih." ucap Sania dengan tersenyum.
"Coba cantikan mana gua sama lo." ucap Jane.
"Ya cantikan lo lah. " ucap Sania dengan tersenyum.
"Lo kok gak sadar sadar sih." ucap Jane dengan tersenyum.
"Pokok nya cantikan lo titik." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya iya." ucap Jane dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar Sania dari luar.
"Kok ada yang ketuk pintu." ucap Jane .
"Alvin sama Costa mungkin." ucap Sania.
"Permisi." ucap suara dari luar.
"Romeo gak sih. " ucap Jane dengan berbisik.
"Masuk aja mas gak di kunci kok." ucap Sania.
Kemudian Romeo membuka pintu kamar Sania dan masuk kedalam.
"Yaudah gua pergi dulu ya Sania." ucap Jane kemudian keluar dari kamar Sania.
Setelah itu Romeo duduk di samping Sania yang sedang duduk di kasur kamarnya.
"Tumben mas kesini?. " tanya Sania dengan tersenyum.
"Gak, cuma mau bertemu kamu aja." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Kangen ya mas." ucap Sania dengan tersenyum.
"Gak." ucap Romeo.
Sifat kejam Romeo hilang seketika ketika berada di hadapan Sania.
"Mungkin dia sudah suka sama aku." ucap Sania dalam hati.
"Terus kalau gak kenapa kemari mas?." tanya Sania.
"Ya pengen ke sini aja." jawab Romeo dengan tersenyum.
"Mas kok senyum senyum gitu sih." ucap Sania dengan tersenyum.
"Melihatmu aku gak bisa berhenti tersenyum." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Mas bisa aja deh." ucap Sania dengan tersenyum.
"Oh iya nama kamu siapa?. " tanya Romeo.
"Sania aulia shinta mas, panggil aja Sania." ucap Sania dengan tersenyum.
"Oh, kenalin aku Romeo carisio." ucap Romeo.
"Namanya kok seperti orang luar negri?. " tanya Sania dengan tersenyum.
"Emang aku orang Mexico." jawab Romeo.
"Ohh, gitu ya mas." ucap Sania denga tersenyum.
Kemudian Romeo memegang tangan Sania yang ada di sampingnya.
"Kenapa pegang tangan aku mas?. " tanya Sania dengan tersenyum.
"Gak Sania." ucap Romeo.
"Mas Romeo suka sama aku ya? ." tanya Sania dengan tersenyum.
Romeo hanya terdiam melihat wajah Sania yang cantik.
"Mudah mudahan dia suka sama aku." ucap Sania di dalam hati.
"Tapi. " tanya Romeo dengan ragu.
"Tapi apa mas,gak usah gerogi gitu kali." ucap Sania dengan tersenyum.
"Kok kejam nya gak kelihatan sama sekali,dia kok jadi seperti ini sih,apa ini memang sifat aslinya ya." ucap Sania dalam hati.
"Gak, tapi aku mau ngomong serius sama kamu." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Mau ngomong serius apa mas?. " tanya Sania dengan tersenyum.
"Mau gak kamu jadi istri aku." ucap Romeo dengan tersenyum.
"Ini yang aku tunggu tunggu dari kemarin. " ucap Sania dalam hati.
"Kan waktu itu aku udah bilang kalau aku mau jadi istri mas." ucap Sania dengan tersenyum.
"Makasih ya Sania." ucap Romeo dengan mencium tangan Sania.
Sementara di tempat lain di ruangan Lordan, Jane sedang duduk di kursi yang sedang menghadap ke Lordan.
"Makasih ya." ucap Lordan dengan tersenyum.
"Santai aja kali." ucap Jane dengan tersenyum.
Kemudian Lordan memegang tangan Jane yang ada di hadapannya.
"Mau gak kamu jadi istriku, kalau kamu nolak tau sendiri akibatnya." ucap Lordan dengan memaksa.
Lalu Jane langsung mengangguk.
"Oke bagus." ucap Lordan dengan tersenyum.
"Ini kesempatan aku buat bunuh orang ini." ucap Jane dalam hati.
Kemudian Jane keluar dari ruangan Lordan yang kejam itu dengan perasaan bahagia.
"Huh sebentar lagi ku bunuh kau orang jahat." ucap Jane dengan tersenyum.
Lordan sudah memiliki tujuh istri di camp ini, sementara Jane akan menjadi istri ke delapannya, beda dengan Romeo, walaupun kejam dia tidak sembarangan untuk milih cewek atau seorang pasangan dan Sania akan menjadi istri pertamanya, setelah dia gagal mendapatkan Laura yang dia kira sudah meninggal. Kemudian Jane berjalan menuju ke kamar Sania untuk menceritakan semua kepada sahabatnya itu.
"Sania." ucap Jane dengan wajah yang bahagia.
"Kok bahagia banget." ucap Sania dengan tersenyum.
Kemudian Jane mengunci pintu kamar Sania, agar tidak di dengar orang lain.
"Sania, Lordan ingin jadi kan aku sebagai istrinya." ucap Jane dengan bahagia.
"Wah bagus dong, Romeo juga mau ngajak aku nikah tau." ucap Sania dengan tersenyum.
"Beneran." ucap Jane dengan tersenyum.
"Iya Jane. " ucap Sania dengan tersenyum.
Kemudian Jane berbaring di kasur kamar Sania, lalu Sania pun mengikutinya.
"Walaupun jadi istri ke delapan, juga gak apa apa kan." ucap Jane yang sedang berbaring.
"Kan tujuan kita membunuh orang orang jahat itu." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya Sania." ucap Jane dengan tersenyum.
"Laura kira kira sedang apa ya?. " tanya Sania dengan tersenyum.
"Kamu yakin kalau Laura masih hidup?. " Jane bertanya balik.
"Aku yakin kok Jane." jawab Sania dengan tersenyum ke arah Jane.
"Kita do'ain yang terbaik aja buat Laura." ucap Jane dengan tersenyum.
"Iya Jane kita doain yang terbaik untuknya." ucap Sania dengan tersenyum.
"Aku malam ini tidur sini ya." ucap Jane dengan memohon.
"Gak boleh." ucap Sania dengan tersenyum.
"Yaudah gua balik aja." ucap Jane dengan tersenyum.
"Silahkan." ucap Sania dengan tersenyum.
"Gak mau, aku gak mau balik." ucap Jane dengan tersenyum.
Mereka berdua pun berbahagia.
"Lo ingat gak dulu, lo itu seleb tau gak." ucap Jane dengan tersenyum.
"Gak kok." ucap Sania dengan tersenyum.
"Coba kamu dulu gak ngajak aku kenalan pasti gua gak akan seakrab ini sama lo." ucap Jane dengan tersenyum.
"Gua lupa ya, kalau dulu lo kan pendiam." ucap Sania dengan tersenyum.
"Iya tau. " ucap Jane dengan tersenyum.
"Kira kira lo masih ingat sama Anton gak." ucap Sania dengan tersenyum.
"Nembak gua di tempat umum anjir." ucap Jane dengan tersenyum.
"Tapi kasihan ya lo tolak, sampai pindah sekolah." ucap Sania dengan tersenyum.
"Gak salah kan gua tolak, lagi pula gua gak suka sama dia." ucap Jane dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba Sania tertidur.
"Tapi lo....." ucap Jane.
Baru saja mau bicara Jane, mendengar suara Sania yang mendengkur dengan keras.
"Kebiasaan dari dulu memang orang satu ini, mana kalau di bangunkan susah lagi." ucap Jane dengan tersenyum.
................ BERSAMBUNG.................
"MAAF KALAU ADA TYPO🙏"