Zombee

Zombee
TEMPAT TINGGAL BARU



Sementara di waktu yang sama, di tempat yang berbeda,karena seluruh makanan di tempat itu telah mereka berdua habiskan, Cito dan Winda pun pergi dari tempat itu untuk mencari tempat tinggal baru.


"Cito kita pergi kemana lagi sekarang?." tanya Winda.


"Gak tau." jawab Cito.


"Kalau nanti ada zombie yang seperti tadi gimana?." tanya Winda.


"Kan ada aku Winda." jawab Cito dengan santai.


"Kalau kamu gak kuat nanti gimana?." tanya Winda.


"Ya kita mati bersamalah." jawab Cito dengan tersenyum.


"Terus kita jadi zombie gitu." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya, biar kamu nanti jadi lucu dengan darah yang keluar dari mulut, lalu mukannya penuh dengan gigitan." ucap Cito dengan tersenyum.


"Aku gigit nanti kamu ya." ucap Winda dengan tersenyum.


"Tapi aku janji kok, aku pasti kuat." ucap Cito dengan tersenyum.


"Janji ya." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya dong, apasih yang gak buat kekasihku yang cantik ini." ucap Cito dengan mencubit pipi Winda dan tersenyum.


"Ih, ngapain kamu cubit cubit aku Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


"Gak apa apa lah." ucap Cito dengan tersenyum.


"Anak aku lihat loh." ucap Winda dengan tersenyum.


"Mana bisa ngeliat anak kamu aja masih di dalam perut." ucap Cito dengan tersenyum.


"Kalau bisa gimana?." tanya Winda dengan dengan tersenyum.


"Ya gak apa apa dong." jawab Cito dengan tersenyum.


"Ye, bisa aja." ucap Winda dengan tersenyum.


"Kok di lihat lihat kamu cantik juga ya." ucap Cito dengan tersenyum.


"Dari kemarin juga kamu udah bilang kalau aku cantik." ucap Winda dengan tersenyum.


Setelah itu mereka di kejutkan dengan mobil warna merah yang ada tepat di depan matanya.


"Winda ada mobil Winda." ucap Cito dengan bahagia.


"Iya Cito." ucap Winda dengan dengan tersenyum.


Kemudian mereka pun langsung berlari ke arah mobil merah itu, tepat di samping mobil merah itu, Cito dan Winda terkejut ketika melihat di dalam ada seorang wanita yang entah pingsan atau mati dan pria yang telah berubah menjadi zombie, dengan mulut terbungkam,tangan yang terikat di kursi mobil serta dengan mata yang terbungkam dengan kain, yang duduk di sampingnya.


"Kek kenal deh dia siapa." ucap Winda dengan tersenyum.


"Siapa?." tanya Cito dengan penasaran.


"Masa sih kamu gak pernah lihat televisi?." tanya Winda.


"Ya pernahlah." jawab Cito dengan tersenyum.


"Masa gak tau dia siapa?." tanya Winda dengan tersenyum.


"Gak tau Winda, makanya aku nanya ke kamu." jawab Cito.


"Dia ini, Michella rosena artis terkenal ituloh." ucap Winda dengan tersenyum.


"Masa sih,aku kok gak pernah lihat ya." ucap Cito dengan tersenyum.


"Yang main di film yang baru rilis ituloh." ucap Winda dengan tersenyum.


"Beneran, jadi apa dia?." tanya Cito dengan penasaran.


"Jadi Luna karakter utama ituloh." ucap Winda dengan tersenyum.


"Masa sih, tapi kok wajahnya kelihatan beda ya." ucap Cito dengan tersenyum.


"Ya jelas lah, kan dia sedang memejamkan mata." ucap Winda dengan tersenyum.


"Oh gitu ya." ucap Cito dengan tersenyum.


"Aku ngefans loh sama dia, tapi sekali pun gak pernah ketemu langsung." ucap Winda dengan tersenyum.


"Lah ini ketemu." ucap Cito dengan tersenyum.


"Tapi gak tau dia masih hidup atau gak Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


"Kalau masih hidup kamu minta tanda tangannya aja." ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya, tapi ketukin dong kacanya." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Cito mengetuk kaca mobil merah itu, seketika wanita yang ada di mobil itu pun membuka matanya dengan perlahan lahan.


"Masih hidup ternyata Cito." ucap Winda dengan tersenyum bahagia.


"Iya Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


Kemudian wanita itu pun kaget ketika menoleh ke arah Cito dan Winda.


"Siapa kalian,kalian orang jahat ya?." tanya Wanita itu.


"Gak mbak, kami bukan orang jahat kok." jawab Winda dengan tersenyum.


Setelah itu wanita itu keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri mereka berdua.


"Mbak Michella aku fans mbak loh." ucap Winda dengan tersenyum.


"Siapa sih sebenarnya kalian?." tanya Michella wanita tadi.


"Nama aku Winda Sulastri dan ini kekasih aku namannya Cito julian." jawab Winda dengan tersenyum.


"Tapi beneran kan kalian gak orang jahat?." tanya Michella dengan curiga.


"Iya mbak, masa sih muka gini orang jahat." jawab Winda dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong zombie yang ada di samping mbak itu gak mbak buang apa?." tanya Cito.


"Itu kekasih aku, aku gak tega melihat dia keliaran seperti zombie zombie yang lain." ucap Michella.


"Kenapa gak di kubur aja mbak?." tanya Cito.


"Aku gak tega bunuh dia, dia orang terbaik bagiku." jawab Michella dengan tersenyum..


"Yaudah aku yang bunuh aja mbak gimana?." tanya Cito.


"Gak apa apa deh kamu bunuh aja." jawab Michella dengan tersenyum.


"Beneran gak apa apa mbak?." tanya Cito.


"Iya." ucap Michella dengan tersenyum.


Kemudian Cito menghampiri zombie itu, lalu Cito mengeluarkan pisau dari Saku celananya dan langsung menusuk kepala zombie itu hingga mati tak bergerak,Setelah itu Cito menggendong mayat zombie itu.


"Ini kita kubur gak mbak?." tanya Cito.


"Gak usah juga gak apa apa." jawab Michella.


"Aku buang kesana aja ya mbak?." tanya Cito.


"Iya." jawab Michella.


Kemudian Cito membuang mayat zombie itu di bawah pohon yang ada di dekatnya, setelah itu Cito kembali ke arah Michella dan Winda.


"Mbak kok betah sih beberapa minggu hidup sama tuh zombie?." tanya Winda.


"Ya betah aja, dia kan kekasihku." jawab Michella.


"Beneran kamu ngefans sama aku?." tanya Michella dengan tersenyum.


"Beneran mbak, aku gak nyangka sekarang bisa ketemu sama mbak." jawab Winda dengan tersenyum.


"Kamu ngefans sama aku karena apa?." tanya Michella dengan tersenyum.


"Ya ngefans aja gitu, gara gara mbak kan cantik, aku pengen banget jadi seperti mbak." jawab Winda dengan tersenyum.


"Oh gitu ya, yaudah sekarang ayo masuk ke mobil kalian." ajak Michella dengan tersenyum.


Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam mobil.


"Kamu bisa nyetir gak?." tanya Michella kepada Cito.


"Bisa kok tenang aja." jawab Cito dengan tersenyum.


"Yaudah kamu yang nyetir aja." ucap Michella.


"Iya mbak." ucap Cito dengan tersenyum.


"Sini sayang duduk di samping aku." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya mbak." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Winda pindah ke depan di tengah tengah Cito dan Michella.


"Mbak aslinya kita yang ke belakang, di sini gak muat bertiga." ucap Winda.


"Iya juga ya." ucap Michella dengan tersenyum.


Kemudian mereka pindah ke kursi belakang.


"Gini kan enak mbak." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya ya." ucap Michella dengan tersenyum.


Setelah itu Cito menjalankan mobilnya.


"Akhirnya aku bisa jumpa idola aku." ucap Winda dengan tersenyum.


"Jangan gitu ah, aku sekarang kan udah bukan artis lagi, aku sekarang teman kamu." ucap Michella dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong, teman teman mbak udah jadi zombie semua ya?." tanya Winda.


"Iya, hanya mbak yang selamat waktu di tempat syuting." jawab Michella.


"Sedih mbak?." tanya Winda dengan tersenyum.


"Iya, banget." jawab Michella.


"Yang sabar ya mbak." ucap Winda dengan tersenyum.


"Tadi mbak sebenarnya mau bunuh diri loh, tapi ada kalian jadi gak jadi." ucap Michella.


"Masa sih mbak?." tanya Winda.


"Iya, mbak udah capek tau gak hidup di dunia penuh zombie." jawab Michella.


"Aslinya aku juga sih mbak, tapi gara gara ada Cito sama anak aku, aku jadi semangat." ucap Winda dengan tersenyum dan mengelus perutnya.


"Kamu hamil?." tanya Michella.


"Iya mbak." jawab Winda dengan tersenyum.


"Mudah mudahan lahir dengan lancar ya." ucap Michella dengan tersenyum.


"Iya mbak." ucap Winda dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong, kalian dulu tinggal di mana?." tanya Michella.


"Hidup aku berpindah pindah mbak, awalnya tinggal di salah satu camp, tapi gara gara aku hamil dengan salah satu penduduk camp, aku pun jadinya pergi dari camp itu." jelas Winda.


"Terus setelah itu?." tanya Michella dengan penasaran.


"Hotel, tapi sayangnya ada orang jahat yang membakar hotel kami dan terakhir aku tinggal di pabrik roti selama beberapa minggu soalnya di sana ada roti yang cukup untuk kita berdua makan." jelas Winda.


"Oh, kalau aku sih hidupnya selama beberapa minggu ini di mobil terus, sembari cari makanan makanan di toko toko." ucap Michella dengan tersenyum.


"Mbak gak capek?." tanya Winda.


"Kalau capek, aku istirahat." jawab Michella dengan tersenyum.


"Zombie tadi gak nyusahin mbak?." tanya Winda.


"Gak, soalnya aku ikat kuat kuat di kursi mobil sebelum dia jadi zombie." jawab Michella.


"Oh." ucap Winda dengan mengangguk.


"Kalau bukan karena dia, mungkin sekarang aku udah jadi zombie." ucap Michella dengan tersenyum.


"Dia yang nyelamatin mbak?." tanya Winda.


"Iya." jawab Michella.


Beberapa saat kemudian mereka pun menemukan sebuah pengungsian yang tepat ada di dekat mereka, ada sebuah pesta pernikahan kecil kecilan di sana.


"Itu ada pengungsian." ucap Cito.


"Itu sedang nikah gak sih. " ucap Winda.


"Iya, itu sedang nikah." ucap Cito dengan tersenyum.


Pengungsian yang berupa bangunan kecil dengan halaman yang luas, kemudian Cito memberhentikan mobilnya di halaman, seketika pandangan semua orang yang ada di halaman rumah pun tertuju ke mobil milik Michella. Setelah itu mereka bertiga pun keluar dari mobil, dan mereka bertiga berjalan dengan perlahan ke arah mereka dengan mengangkat tangan.


Setelah itu semua orang menatap Michella dengan begitu bahagia, karena seorang artis datang ke tempat mereka,setelah itu seorang pria datang menghampiri mereka bertiga.


"Kamu Michella ya, artis terkenal itu?." tanya pria itu.


"Iya pak." jawab Michella dengan tersenyum.


"Makin di percaya nih sepertinya kita Cito." ucap Winda dengan berbisik.


"Iya, kita punya orang dalam." ucap Cito dengan berbisik.


"Pak boleh gak kami tinggal di sini?." tanya Michella.


"Silahkan, kami terbuka untuk siapapun." jawab pria itu.


"Beneran pak?." tanya Michella.


"Iya." jawab pria itu.


Seketika seluruh orang pun menghampiri Michella, seorang artis terkenal itu tak terkecuali pengantin baru itu.


"Tunggu tunggu aku ada satu permintaan lagi." ucap Michella.


Seketika semua orang yang menghampiri Michella pun terdiam.


"Permintaan apa?." tanya pria tadi.


"Tolong nikahin dua orang ini ya pak." jawab Michella dengan tersenyum dan menunjuk Cito dan Winda.


"Mbak." ucap Winda dengan tersenyum malu.


"Cuma itu doang." ucap pria tadi.


"Iya." ucap Michella dengan tersenyum.


"Iya mbak." ucap pria tadi dengan tersenyum.


Cito dan Winda pun saling bertatapan dan tersenyum senyum. Sementara Michella di geromboli semua penduduk camp, mereka bahagia bisa bertemu dengan seorang artis walau di tengah wabah zombie.


............................. BERSAMBUNG.........................