Zombee

Zombee
TEMPAT BARU



Keesokan harinya, setelah kemarin Tomi dan Sekar memutuskan untuk menikah, kini pun mereka akan melanjutkan perjalanan ke rumah pamannya Elly, Laura dan Ali pun ikut dengan mereka.


"Laura kamu ikut mereka?." tanya Arif.


"Iya pak." jawab Laura dengan tersenyum.


"Hati hati ya kalian." ucap Arif dengan tersenyum.


"Pak aku janji, jika kami menemukan tempat yang lebih layak dari pada di sini, aku akan mengajak kalian tinggal di sana." ucap Tomi.


"Iya Tomi." ucap Arif dengan tersenyum.


"Pak kami berangkat dulu, jaga diri kalian baik baik ya." pamit Tomi dengan tersenyum.


"Hati hati kalian." ucap Arif dengan tersenyum.


Setelah itu mereka perlahan berjalan meninggalkan pengungsian itu dengan melambaikan tangan ke arah penduduk, dan para penduduk pun membalasnya dengan melambaikan tangan.


"Cie udah nikah sekarang." ucap Laura dengan tersenyum.


"Apasih Laura." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Aku pengen gendong koko boleh gak?." tanya Laura.


Boleh, gendong aja." jawab Sekar dengan tersenyum.


Kemudian Sekar memberikan Koko kepada Laura dan Laura menggendong Koko.


"Biar kalian nanti gak ke ganggu berduaanya." ucap Laura dengan tersenyum.


"Iya dong Laura." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong, Hana masih hidup gak ya?." tanya Laura.


"Kayaknya sih masih ya." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Bukannya dulu Hana pacarnya Tomi ya?." tanya Tomi dengan tersenyum.


"Iya emang." jawab Sekar dengan tersenyum.


Kemudian Tomi menghampiri Laura dan Sekar yang sedang mengobrol.


"Lagi bicarain aku ya." ucap Tomi dengan tersenyum.


"Emang." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Jangan gitu, masa suaminya sendiri di bicarain sih." ucap Tomi dengan tersenyum.


"Gak apa apa lah kan suami aku baik." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Yaudah, sini aku gendong dulu." ucap Tomi.


"Boleh deh." ucap Sekar dengan tersenyum.


Tomi menggendong Sekar di punggungnya dengan begitu bahagia, lalu Tomi berlari meninggalkan yang lain. Tak lama setelah itu mereka berdua sampai di motornya, lalu Tomi menurunkan Sekar yang ada di gendongannya dan Tomi langsung naik ke motornya di ikuti Sekar yang duduk di belakangnya.


Tak lama setelah itu, Elly, Ali dan Laura yang sedang menggendong Koko pun sampai di tempat kendaraan terparkir.


"Lambat banget ih kalian." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Mentang mentang baru nikah aja." ucap Elly dengan tersenyum.


"Iya nih Sekar." ucap Laura dengan tersenyum.


Setelah itu Elly pun naik ke motornya, sementara Ali dan Laura naik ke mobilnya, lalu Elly pun memimpin perjalanan mereka menuju ke tempat yang di tuju, dengan begitu santai mereka menikmati perjalanan.


"Sekarang aku manggil kamu apa?." tanya Sekar dengan tersenyum.


"Terserah kamu." jawab Tomi dengan tersenyum.


"Kok terserah sih." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Ya terserah kamu saja mau manggil apa." ucap Tomi dengan tersenyum.


"Yaudah aku panggil mas aja ya." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Iya, Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.


Kemudian Sekar memeluk Tomi yang sedang mengendarai motornya dengan begitu mesra. Sementara di dalam mobil, Laura dan Ali juga sedang berbahagia.


"Li lihat deh lucu banget kan bayinya." ucap Laura dengan mengelus Koko yang ada di gendongannya.


"Iya bule." ucap Ali dengan tersenyum.


Kemudian Ali mengatakan sesuatu yang tak pernah di pikirkan Laura sebelumnya.


"Bule." panggil Ali.


"Iya Ali." ucap Laura dengan tersenyum.


"Kita gak ikutan Sekar sama Tomi?." tanya Ali dengan ragu ragu.


"Maksudnya nikah gitu li?." tanya balik Laura.


"Iya, Le." jawab Ali.


"Tapikan kamu tau sendiri kalau aku udah punya pacar." ucap Laura.


"Cuma sementara aja Le. " ucap Ali.


"Tunggu tunggu, kamu suka sama aku ya?." tanya Laura.


"Kalau boleh jujur, aku suka sama kamu Laura." jawab Ali dengan tersenyum.


"Tapi agak berat sih jawabnya, tapi aku mau kok Li." ucap Laura dengan tersenyum.


"Beneran Le?." tanya Ali yang masih tak percaya.


"Iya Ali." ucap Laura dengan tersenyum.


"Makasih ya Le." ucap Ali dengan tersenyum.


"Seharusnya aku yang banyak berterima kasih sama kamu, mungkin kalau kamu gak tolongin aku, pasti sekarang aku sudah jadi zombie, jadi ini sebagai ucapan terima kasih aku kepadamu li." ucap Laura dengan tersenyum.


Ali pun tersenyum bahagia mendengar perkataan Laura


"Lucu banget ya bayi ini." ucap Laura dengan mengelus pipi Koko.


"Iya Bule." ucap Ali dengan tersenyum.


Setelah itu mereka pun sampai di salah satu rumah kecil yang ada di tengah tengah sawah, lalu mereka pun turun dari kendaraannya masing masing. Elly memimpin berjalan paling depan dan di ikuti yang lain dari belakangnya.


Mereka pun perlahan berjalan menuju rumah itu, ketika sampai di depan pintu, Elly pun langsung membuka pintu itu perlahan lahan dan setelah di buka ternyata di dalam sudah ada satu zombie pria yang tak lain adalah pamannya Elly, seketika Elly langsung menangis tak kuat melihat pamannya telah berubah menjadi zombie.


Zombie itu mendekati Elly dan hendak memangsa Elly, namun dengan sigap Tomi pun langsung membunuh zombie itu dengan menancapkan pisau di kepala zombie itu.


Elly pun begitu bersedih melihat pamannya yang sudah tak bernyawa lagi, Sekar pun mencoba menenangkan Elly yang sedih.


"Yang sabar ya Elly." ucap Sekar mencoba menyemangati Elly.


"Iya Sekar." ucap Elly.


Beberapa saat kemudian mereka semua pun telah menguburkan mayat pamannya Elly.


Elly pun masih belum bisa menerima semuanya dia masih sedih dengan semua yang telah terjadi,setelah itu Tomi mengajak mereka pergi dari tempatnya saat ini.


"Kita sekarang pergi ya Elly, gak mungkin kita tinggal di sini." ucap Tomi.


"Iya Tomi." ucap Elly dengan tersenyum.


Kemudian mereka semua pun memutuskan untuk pergi dari rumah pamannya Elly dan melanjutkan perjalanan entah kemana. Tapi sebelum pergi, Tomi pun memiliki ide untuk pergi ke jalan yang ada di dekatnya, terlihat ada sebuah rumah besar dari jauh.


"Kita tinggal di rumah itu aja." ucap Tomi dengan menunjuk ke arah rumah besar.


"Iya siapa tau bisa kita tinggali." ucap Ali setuju.


Kemudian semua pun masuk ke kendaraan masing masing, lalu Tomi memimpin perjalanan mereka ke rumah besar yang lumayan jauh keberadaan mereka saat ini.


Tak lama setelah itu, mereka pun sampai di depan rumah besar itu.


Rumah besar itu terlihat begitu sepi, seperti tidak ada yang menempati, namun rumah itu gerbangnya terkunci.


"Gimana nih tetap masuk gak?." tanya Tomi.


"Terserah kamu sih aku." jawab Sekar.


"Gimana Tomi?." tanya Elly.


"Kita masuk aja kali ya." jawab Tomi.


"Kalau kalian berdua gimana?." tanya Tomi.


"Oke aja sih kami berdua." jawab Ali.


Tak lama setelah itu tiba tiba ada seorang pria yang keluar dari dalam rumah, pria itu langsung membuka gerbang yang tertutup itu dan langsung menghampiri mereka yang ada di depan gebang.


"Kalian ternyata." ucap pria itu dengan tersenyum.


"Bapak pemilik rumah ini?." tanya Tomi.


"Iya saya memang pemilik rumah ini." jawab pria itu dengan tersenyum ramah.


"Bapak tinggal sendiri?." tanya Tomi.


"Iya, aku tinggal sendiri." jawab pria itu.


"Kita mau tinggal di sini, boleh gak pak?." tanya Tomi.


"Boleh dong ayo silahkan masuk." jawab pria itu.


"Bapak gak curiga sama kami?." tanya Sekar.


"Gak lah, saya malah senang ada temannya tinggal di rumah." jawab Pria itu dengan tersenyum.


Kemudian pria itu mengajak mereka masuk ke halaman rumah nya, tapi sebelum masuk pria itu mengunci gerbang,lalu mereka menaruh kendaraannya di halaman rumah, kemudian mereka turun dari kendaraan nya,setelah itu pria itu menghampiri mereka.


"Perkenalkan nama saya Tono." perkenalan dari pria itu.


"Kenalin juga pak saya Tomi, ini Sekar, Elly, Ali, Laura dan bayi itu namanya Koko." perkenalan Tomi.


"Oh iya salam kenal ya semuanya." ucap Tono dengan tersenyum ramah.


Setelah itu Tono pun mengajak mereka masuk, lalu perlahan mereka berjalan masuk ke dalam rumah itu. Setelah berada di dalam rumah mereka pun terkejut dengan rumah yang begitu mewah ini.


"Jadi saya memiliki persediaan yang cukup buat kalian selama beberapa tahun, kalau masalah air di sekitar sini ada sungai." jelas Tono.


"Oh iya pak." ucap Tomi.


Kemudian Tomi ingat dengan teman teman yang ada di lapangan itu.


"Oh iya pak, kalau boleh, sebenarnya kami punya enam teman lagi." ucap Tomi.


"Kamu ajak kesini juga gak apa apa." ucap Tono.


"Beneran pak." ucap Tomi.


"Iya." ucap Tono dengan tersenyum.


Kemudian Tomi menghampiri Sekar.


"Aku mau pergi dulu ya." pamit Tomi.


"Iya mas, hati hati ya." ucap Sekar.


"Iya Sekar, sayang." ucap Tomi dengan tersenyum.


Kemudian Sekar memeluk Tomi suaminya, sementara Tomi mencium dahi Sekar.


"Aku sayang banget sama kamu mas." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Aku juga Sekar." ucap Tomi dengan memeluk Sekar.


Kemudian Sekar melepaskan pelukannya.


"Hati hati loh mas." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Iya Sekar." ucap Tomi dengan tersenyum.


Setelah itu Tomi pun berjalan perlahan keluar rumah, lalu Tomi langsung naik ke motornya dan langsung menjalankan motornya menuju ke tempat Arif dan anggotanya berada untuk mengajak mereka tinggal di rumah Tono. Sementara di Holden, Sania pun sedang duduk termenung di kamarnya.


"Sudah beberapa minggu aku hidup dengan Romeo, tapi rencanaku belum juga berhasil, aku gak tega membunuh Romeo, atau jangan jangan mulai cinta lagi sama Romeo tapi itu gak mungkin." gumam Sania.


Setelah itu Romeo pun masuk ke dalam kamar.


"Sania." panggil Romeo.


Tetapi Sania tetap melamun, dan tidak memperhatikan Romeo, setelah itu Romeo pun mencubit pipi Sania untuk menyadarkannya, seketika Sania pun tersadar.


"Eh mas." ucap Sania dengan tersenyum.


"Ngelamun aja." ucap Romeo dengan tersenyum.


Setelah itu Romeo duduk di samping Sania.


"Ada masalah apa sih?, cerita dong sama aku." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Gak kok mas, gak ada masalah apa apa." ucap Sania dengan tersenyum.


"Beneran?." tanya Romeo dengan tersenyum.


"Iya mas." jawab Sania dengan tersenyum.


"Oh, yaudah." ucap Romeo dengan tersenyum.


"Iya mas." ucap Sania dengan tersenyum.


Sementara di rumah Tono, Sekar pun terfokus dengan foto Tono dengan istrinya, lalu Tono yang melihatnya pun menghampiri Sekar.


"Halo neng." panggil Tono.


"Iya pak." ucap Sekar dengan tersenyum ramah.


"Neng gak istirahat?." tanya Tono.


"Gak pak, pengen aktivitas aja." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Oh yaudah, kamu tau gak itu foto istri saya yang paling saya cintai loh." ucap Tono dengan tersenyum.


"Masa sih pak?." tanya Sekar.


"Iya Sekar, tapi sekarang dia telah pergi meninggalkanku untuk selama lamanya, dia meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit kanker." ucap Tono dengan air mata yang menetes dari matanya.


"Yang sabar ya pak." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Iya neng." ucap Tono dengan tersenyum.


Tak lama setelah itu terdengar suara mobil dari luar yang menandakan bahwa Tomi telah kembali.Seketika Sekar pun langsung berlari menuju keluar rumah dan di ikuti Tono yang berjalan di belakangnya.


Sesampainya di luar rumah terlihat Tomi yang sedang kembali dengan mobil Arif dan anggotanya, Sekar pun langsung menghampiri Tomi, setelah itu satu persatu orang di mobil pun keluar dan terkejutnya Tono, ketika bertemu dengan teman lamanya yaitu Arif. Seketika Tono langsung menghampiri Arif dan memeluk teman lamanya itu.


"Gimana kabar kamu Rif?." tanya Tono.


"Baik Ton." jawab Arif dengan tersenyum.


Kemudian Tono melepaskan pelukannya, setelah itu Teddy keluar dari mobil paling akhir dan terkejutnya Teddy, ketika melihat ayahnya yang ada di depan matanya. Seketika Teddy pun langsung memeluk Tono.


"Ayah." ucap Teddy dengan menangis.


"Anakku." ucap Tono dengan terharu.


kemudian Teddy melepaskan pelukannya.


"Maafin Teddy ya pak, gak bisa pulang saat ibu meninggal." ucap Teddy.


"Iya gak apa apa." ucap Tono dengan tersenyum.


"Teddy anak kamu Ton?." tanya Arif.


"Iya Rif, anak aku satu satunya." jawab Tono.


"Ini rumah milik ayah?." tanya Teddy.


"Iya Ted, ini rumah ayah sama ibu yang baru." jawab Tono.


"Maafin Teddy ya yah, waktu itu Teddy kabur dari rumah dan tidak bisa pulang saat ibu meninggal." ucap Teddy.


"Gak apa apa nak, yang penting sekarang ayah bisa bertemu lagi sama kamu." ucap Tono dengan tersenyum.


Setelah itu Tono mengajak mereka semua masuk.


"Yaudah, ayo masuk dulu istirahat." ajak Tono.


"Ayo." ucap Teddy dengan tersenyum.


Setelah itu mereka semua yang ada di luar pun masuk ke dalam rumah Tono yang begitu besar dan megah itu.


..............................BERSAMBUNG.........................