
Keesokan paginya Ali pun terbangun di rumahnya,dan melihat Laura yang sedang memasak.
"Le, kamu lagi masak?." tanya Ali yang baru terbangun.
"Iya Maman, tapi udah matang tau." ucap Laura dengan tersenyum ke arah Ali yang masih berbaring.
Kemudian Ali duduk di sofa panjang tempat dia tidur tadi,lalu setelah itu Laura membawa makanan yang telah di masak nya, kehadapan Ali yang sedang duduk di sofa.
"Ini Maman makan dulu ya." ucap Laura dengan memberikan makanan itu pada Ali.
"Makasih bule." ucap Ali dengan tersenyum dan menerima makanan itu.
Kemudian Laura mengambil makanan satu lagi untuk dirinya sendiri, lalu duduk di samping Ali.
"Masakan kamu enak banget le." ucap Ali dengan tersenyum.
"Masa sih man." ucap Laura dengan tersenyum.
"Beneran loh Le." ucap Ali dengan terus menikmati makananya.
"Makasih ya man, itu dulu aku belajar sama ayahku loh." ucap Laura dengan tersenyum.
"Kok belajar sama ayah, emang ibu kamu gak pintar masak yah?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Gak gitu, ibuku meninggal saat aku smp maman, ayahku aja belajar masak dari ibuku kok." ucap Laura dengan tersenyum.
"Oh gitu ya." ucap Ali dengan mengangguk.
Mereka berdua memakan makanan masakan Laura dengan sangat bahagia.
"Aku bahagia loh bule, sekarang aku punya teman,jadi gak kesepian lagi deh." ucap Ali dengan tersenyum.
Laura hanya tersenyum.
"Sebenarnya aku masih punya teman yang masih hidup maman. " ucap Laura dengan tersenyum.
"Masa sih, dimana teman kamu sekarang?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Di hotel dan di holden." jawab Laura.
"Kalau hotel jauh gak dari sini?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Pokoknya di perbatasan kota maman. " jawab Laura.
"Jauh banget ya le. " ucap Ali.
"Maka dari itu Maman." ucap Laura dengan muka datar.
Kemudian Laura ingat dengan surat dari Sania dan Alvin yang ada di sakunya,Lalu Laura mengambilnya.
"Apa itu le?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Surat dari teman dan pacar aku maman." jawab Laura.
"Loh kamu punya pacar bule?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Iya Man, namanya Alvin. " jawab Laura.
"Sempat sempat nya ya di waktu kek gini pacaran. " ucap Ali dengan tersenyum.
"Gak apa apa Man, aku hanya ingin mencari sebuah kebahagiaan." ucap Laura dengan tersenyum.
"Aku juga sedang mencari itu Bule." ucap Ali dengan tersenyum.
Hingga akhirnya Laura dan Ali selesai menghabiskan makananya lalu Laura mencuci piring setelah itu Laura kembali dan duduk di samping Ali, Kemudian Laura mengambil surat yang ada di sakunya dan membuka surat dari Sania itu.
Laura maafin aku dan Jane ya nggak bisa ikut sama kamu, tapi aku janji kok, aku akan mencarimu kok kalau waktunya sudah tepat dan aku telah membunuh orang orang jahat yang telah membakar camp tempat tinggal kita, orang orang jahat telah membunuh ayah kamu juga Laura, aku juga belum ikhlas dengan kejadian malam itu, maafin pilihanku ini ya, i love you Laura, kita akan selalu menjadi sahabat selamanya.
... SANIA...
Lalu Laura mengambil surat satu lagi dari pacarnya Alvin.
Maafin aku atas pilihanku dan yang lain ini ya Laura, aku yakin kalau kamu pasti baik baik di tempat kamu berada saat ini, aku akan selalu do'ain kamu Laura sayang, hubungan kita tetap baik baik saja kan,aku ingin kita bisa bersama lagi seperti dulu Laura. Bisa bahagia lagi seperti dulu, maafin aku telah banyak sekali mengecewakanmu Laura, aku belum bisa membahagiakanmu Laura, i love you Laura.
^^^ ALVIN^^^
Laura bahagia setelah membaca surat itu.
"Le kok senyum, senyum gitu." ucap Ali dengan tersenyum.
"Aku bahagia Maman." ucap Laura dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong kamu dulu kerja apa?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Penjaga toko kue." jawab Laura dengan tersenyum.
"Enak gak?." tanya Ali.
"Ya enak lah, tapi ada gak enaknya juga sih Man." ucap Laura dengan tersenyum.
"Apa gak enaknya?. " tanya Ali dengan heran.
"Di goda sama pembeli pria yang brengsek." ucap Laura dengan tersenyum.
"Ohh, pantesan sih emang kamu cantik. " ucap Ali dengan tersenyum.
"Pasti kamu dulu orang nya seperti itu kan." ucap Laura dengan tersenyum.
"Gak, aku orang baik baik tau gak." ucap Ali dengan tersenyum.
"Ah masa sih."ucap Laura dengan tersenyum.
"Beneran dong. " ucap Ali dengan mengangkat tanganya.
"Percaya deh gue, tapi ngomong ngomong kamu dulu kerja apa?. " tanya Laura dengan penasaran.
"Kerja kuli bangunan." jawab Ali dengan tersenyum.
Tiba tiba raut wajah Ali berubah menjadi sedih.
"Tapi setelah ibuku meninggal, aku tidak semangat lagi untuk bekerja bule, untuk siapa coba aku kerja kalau gak untuk ibuku." ucap Ali dengan raut wajah sedih.
Laura hanya menyimak perkataan Ali.
"Dulu pengen sih ada niatan kaya, tapi setelah ibuku meninggal semua itu jadi hambar Laura, bahkan ku sempat mau bunuh diri Laura,tapi pesan dari ibuku menyadarkanku, bahwa bunuh diri itu bukan jalan yang tepat." ucap Ali dengan raut wajah sedih.
Kemudian Laura memegang pundak Ali.
"Yang sabar ya Man, aku yakin kamu pasti kuat kok." ucap Laura yang mencoba menyemangati Ali yang bersedih.
"Iya Laura." ucap Ali dengan tersenyum.
"Tunggu tunggu, kamu kok panggil aku Laura, bukan manggil aku bule lagi." ucap Laura dengan tersenyum.
"Gak apa apa sekali kali bule." ucap Ali dengan tersenyum.
Kemudian tak lama setelah itu Ali mengajak Laura keliling di desa tempat mereka tinggal saat ini.
"Ayo jalan jalan di desa." ajak Ali.
"Kalau ada zombie gimana?. " tanya Laura dengan tersenyum.
"Tenang Bule, zombie di desa udah aku bunuh semua." jawab Ali dengan santai.
"Yaudah ayo kalau begitu." ucap Laura setuju.
Tapi Ali mengambil dua pistol untuk mereka nanti.
"Nih pistol, kamu bisa pakai kan?. " tanya Ali dengan memberikan pistol itu pada Laura.
"Bisa dong man." ucap Laura sambil menerima pistol yang di beri Ali.
Mereka berdua berjalan keluar rumah, karena rumah yang mereka tempati agak jauh dari pusat desa hingga mereka pun berjalan kaki menuju pusat terlebih dahulu, kemudian tak lama setelah itu mereka sampai di jalan utama desa, terlihat suasana desa yang telah kosong,rusak, hancur, tak ada penduduk lain selain mereka berdua yang sedang berjalan melewati jalan utama desa itu.
"Mayat zombienya kamu buang kemana Man?. " tanya Laura dengan tersenyum.
"Aku bakar di lapangan." ucap Ali dengan tersenyum.
"Sendirian Ali?. " tanya Laura lagi.
"Ya iyalah, mau sama siapa lagi kalau gak sendiri." jawab Ali dengan santai.
"Capek kan pasti kamu?. " tanya Laura.
"Banget, apalagi mayatnya banyak Laura." jawab Ali.
"Tapi masa gak ada yang bantu?. " tanya Laura.
"Gak ada Bule cuman aku sendiri." ucap Ali dengan tersenyum.
Mereka pun tetap berjalan mengelilingi desa itu.
"Ngomong ngomong umur kamu berapa tahun?. " tanya Ali dengan penasaran.
"Aku sih 26 sekarang, kalau kamu?. " Laura bertanya balik.
"Aku 27 bule." jawab Ali.
"Beda tipis." ucap Laura dengan tersenyum.
"Iya." ucap Ali dengan tersenyum.
Kemudian mereka sampai di sebuah warung yang lumayan besar di desa ini.
"Kita ke warung itu yuk." ajak Ali dengan menunjuk warung itu.
"Yuk." ucap Laura setuju.
Mereka berdua masuk ke dalam warung itu.
"Ini adalah warung terbesar di desa ini loh." ucap Ali.
"Bagus ya warungnya." ucap Laura dengan tersenyum.
Kemudian Ali duduk di kursi yang ada di warung itu.
"Hah sekarang aku senang sudah ada yang nemenin." ucap Ali dengan tersenyum.
Laura pun duduk di samping Ali.
"Le kalau tiba tiba aku berubah jadi jahat gimana?. " tanya Ali.
"Lagi pula gak ada polisi kan?. " tanya Ali dengan tersenyum.
"Terus kamu mau apa apain aku gitu." ucap Laura dengan tersenyum.
"Gak ah, itu gak sifat aku." ucap Ali dengan tersenyum.
Kemudian Ali mengajak Laura keluar dari warung itu, dan kembali berjalan jalan. Hanya sepi dan sunyi yang menemani mereka berdua di desa ini, tidak ada orang lain di desa melainkan mereka berdua.
"Ke rumah ku yuk!. " ajak Ali.
"Rumahmu yang tadi ya?. " tanya Laura dengan bingung.
"Gak dong rumah aku yang asli." jelas Ali.
"Jauh gak?. " tanya Laura lagi.
"Dekat kok." jawab Ali.
Kemudian mereka berdua berjalan ke rumah Ali dengan perasaan yang begitu bahagia.Hingga mereka sampai di rumah kecil terbuat dari kayu.
"Ini rumah sederhana aku bule." ucap Ali dengan tersenyum.
"Oh." ucap Laura dengan tersenyum.
"Yaudah ayo masuk!. " ajak Ali.
Mereka berdua pun masuk ke rumah Ali.
"Sederhana banget ya rumah kamu?. " tanya Laura dengan tersenyum.
"Iya Le, ketika masuk rumah ini orang yang pertama kali ada di pikiranku adalah ibu." ucap Ali dengan sedih.
Kemudian Ali duduk di lantai rumahnya itu.
"Andai ibu masih hidup,pasti aku akan lebih bersemangat." ucap Ali dengan air mata yang menetes.
Kemudian Laura duduk di hadapan Ali.
"Yang sabar ya Ali." ucap Laura yang mencoba menenangkan Ali.
Ali hanya mengangguk.
"Aku sempat berfikir, kenapa wabah ini harus terjadi?." ucap Ali dengan bersedih.
"Mungkin ini udah takdir li. " ucap Laura.
Kemudian Ali pun berbaring di lantai rumah nya.
"Tunggu bentar ya Li aku mau keluar bentar." pamit Laura.
"Iya le, hati hati loh. " ucap Ali.
Kemudian Laura keluar dari rumah Ali dan duduk di teras rumah Ali, tanpa sengaja Laura tiba tiba menemukan sesuatu aneh, yang jauh dari arahnya saat ini.Laura pun perlahan mendekati sesuatu aneh itu, namun setelah dekat ternyata itu adalah sebuah kapak yang berlumuran darah yang sudah kering, lalu Laura mengambil kapak itu. Tapi Laura penasaran dengan yang ada di balik semak semak itu, sehingga perlahan Laura berjalan mendekati semak semak itu dengan hati hati.
Betapa terkejutnya Laura setelah melihat satu kepala sapi yang tertancap di kayu,dan terdapat banyak tulang di sampingnya. Karena tak mau mengambil resiko Laura memberitahukan hal ini pada Ali.
"Ali." ucap Laura panik.
Kemudian Ali langsung berdiri dan menghampiri Laura yang memanggilnya dari luar.
"Apa le kok wajah kamu panik gitu dan kamu kenapa bawa kapak?. " tanya Ali dengan bingung.
"Ali ikut aku deh." ajak Laura.
Kemudian mereka berjalan perlahan ke semak semak itu.
"Lihat Ali,ini perbuatan kamu kan?. " tanya Laura.
"Gak, aku gak pernah kali ngelakuin hal ini." jawab Ali dengan bingung.
"Terus siapa dong?. " tanya Laura dengan bingung.
"Mungkin ada orang lain yang ada di sini selain kita." ucap Ali.
"Kalau orang itu orang jahat gimana Ali? . " tanya Laura dengan panik.
"Yaudah gak usah takut, kita lawan aja kali." ucap Ali dengan santai.
Kemudian Ali mengajak Laura untuk kembali ke rumah, tempat mereka tinggal.
"Ayo kembali!. " ajak Ali.
"Yuk." ucap Laura setuju.
Kemudian mereka berjalan menuju ke rumah tempat mereka tinggal.
"Masa sih di sini gak ada zombie?. " tanya Laura dengan ragu.
"Gak tau sih." jawab Ali.
Dengan keadaan yang sepi dan sunyi mereka berjalan melintasi desa itu. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah tempat mereka tinggal.
"Jalan jalan yuk!. " ajak Ali.
"Baru saja balik Ali." ucap Laura dengan heran.
"Tapi jalan jalanya naik mobil." ucap Ali.
"Yaudah deh ayo." ucap Laura setuju.
"Kamu ambil makanan yang ada di dalam sana ya!." perintah Ali.
"Seberapa?. " tanya Laura.
"Semuanya." jawab Ali.
"Hah?. " tanya Laura dengan bingung.
"Iya semua,sama ambilkan pakaian aku juga di lemari." ucap Ali dengan meyakinkan Laura.
"Kita mau pergi dari sini?. " tanya Laura.
"Iya." jawab Ali.
Kemudian Laura masuk ke dalam rumah untuk mengemasi persediaan yang di suruh Ali, sementara Ali mempersiapkan mobilnya.
"Apasih yang Ali pikirin tiba tiba saja dia ngajak aku pergi." ucap Laura dengan bingung.
Setelah itu akhirnya mereka sudah mempersiapkan semuanya, Ali membuka pintu belakang mobil dan Laura memasukkan semua persediaan ke dalam bagasi mobil. Setelah semua sudah selesai Ali menutup pintu belakang mobil, dan mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu kenapa sih tiba tiba ngajak aku pergi?." tanya Laura dengan bingung.
"Karena di sini udah gak aman bule." jawab Ali.
"Terus kita mau kemana sekarang?." tanya Laura.
"Kita ke hotel yang kamu katakan itu aja kali." jawab Ali.
"Emang cukup bahan bakar kamu buat kesana?. " tanya Laura.
"Tenang cukup kok." jawab Ali.
"Yaudah ayo berangkat. " ucap Laura.
Kemudian Ali langsung menjalankan mobilnya menuju ke kota.
"Kamu yakin bisa sampai ke sana?. " tanya Laura.
"Aku yakin Laura." ucap Ali dengan yakin.
"Yaudah." ucap Laura dengan mengangguk.
"Teman kamu banyak kan di sana?. " tanya Ali.
"Banyak Ali. " ucap Laura.
Tak lama setelah itu mereka akhirnya sampai di jalan raya kota yang tak jauh dengan ke holden.
"Ke sana holden kan ya?. " tanya Laura.
"Iya Bule. " jawab Ali.
"Ohh" ucap Laura dengan mengangguk.
Ali menjalankan mobilnya dengan begitu kencang, karena tidak ada suatu halangan pun.Hingga akhirnya mereka sampai di pusat kota.
"Gak ada zombie sama sekali di sini." ucap Laura.
"Udah punah mungkin. " ucap Ali dengan tersenyum.
Hingga akhirnya mereka tiba di perempatan kota yang terdapat segerombol zombie yang sangat banyak di sana, membuat Ali memberhentikan mobilnya.
"Ya ampun terus gimana sekarang? " tanya Laura dengan panik.
"Gak tau Bule. " Jawab Ali.
"Kamu tabrak aja kali." ucap Laura.
"Ya gak bisa bule, nanti mobil kita gak bisa jalan." ucap Ali.
Kemudian Ali memiliki akal untuk mencari jalan lain di sekitar sini. Ali memutar balik mobilnya dan setelah itu belok ke arah jalan lain.
"Emang bisa lewat jalan ini?. " tanya Laura.
"Gak tau sih,kita coba aja dulu."jawab Ali.
Mereka pun melewati jalan yang lain, tetapi tak jauh beda dengan jalan perempatan itu, ada banyak sekali zombie di jalan yang mereka lewati saat ini.
"Ali balik aja kali ya kita gak usah ke hotel." ucap Laura.
"Iya kali." ucap Ali.
Kemudian Ali memutar balik mobil nya, dan mereka sedikit berputus asa karena jalan menuju hotel telah tertupi oleh segerombol zombie.
"Kita balik aja Ali." ucap Laura.
Tapi Ali masih ingin pergi dari tempatnya itu dan tak ingin kembali lagi ke desanya, tapi mereka bingung harus lewat kemana lagi,sehingga Ali pun memberhentikan mobilnya di tempat yang sepi.
..................... BERSAMBUNG.......................