Zombee

Zombee
WANITA BERTOPENG



Keesokan paginya setelah Winda dan Cito bermalam di rumah yang ada di tengah hutan, mereka berdua pun hendak melanjutkan perjalanan untuk keluar dari hutan yang lumayan panjang ini. Tanpa persediaan sedikit pun mereka berjalan menelusuri hutan.


"Cito, kalau kita bertemu zombie yang bisa berlari itu lagi, terus gimana?. " tanya Winda dengan khawatir.


"Lari lah Winda memang mau gimana lagi." jawab Cito.


"Aku gak kuat kalau harus lari terus kek kemarin Cito." ucap Winda.


"Pokoknya kita gak boleh mikir yang aneh aneh dulu, kita jalani aja apa yang ada Winda." ucap Cito mencoba menyemangati Winda.


"Iya Cito." ucap Winda dengan mengangguk.


Kemudian setelah beberapa saat akhir nya mereka keluar dari hutan yang panjang itu.


"Akhirnya kita sudah keluar dari hutan." ucap Cito dengan lega.


"Iya Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


Mereka memasuki daerah desa, yang tidak jauh berbeda dengan desa yang telah mereka berdua lalui sebelumnya, terlihat sepi, kosong tidak ada tanda tanda kehidupan sama sekali di desa ini. Tapi mereka belajar dari kejadian di desa yang sebelumnya,tanpa mereka sadari tiba tiba ada banyak sekali zombie, hingga membuat mereka saat ini sangat berhati hati.


"Cito aku lapar." ucap Winda dengan merengek.


"Aku juga Winda." ucap Cito.


"Apa kita harus berakhir di sini Cito?." tanya Winda dengan khawatir.


"Maksudnya mati kelaparan gitu."balas Cito.


Winda hanya mengangguk.


"Iya juga sih kalau seperti ini." ucap Cito dengan memegang perutnya.


"Ternyata jadi zombie tidak terlalu buruk ya." ucap Winda.


"Terus kamu mau jadi zombie?. " tanya Cito dengan tersenyum.


"Iya mau." ucap Winda.


"Yakin." ucap Cito dengan tersenyum.


"Ya iya, kalau emang aku udah gak bisa apa apa." ucap Winda.


Kemudian Cito yang mendengarnya pun tertawa terbahak bahak dengan perkataan Winda itu.


"Loh kamu kok tertawa sih, ada yang lucu?. " tanya Winda dengan bingung.


"Gak, cuma aku bayangin aja wajah cantik kamu ini jadi rusak, terus keluar darah di mulut, matanya putih, sambil memakan sepotong daging." ucap Cito dengan di iringi tertawa yang tak tertahankan.


Winda mencubit pipi Cito yang sedang tertawa.


"Ih kesel deh aku sama kamu lama lama Cito. " ucap Winda yang terus mencubit pipi Cito.


"Lepasin Winda, sakit tau." ucap Cito dengan tersenyum


"Gak mau Cito." ucap Winda yang terus mencubit Cito.


Kemudian Winda melepaskan cubitan nya itu.


"Ya ngambek." ucap Cito.


Winda hanya cuek, dan tidak memperhatikan apa yang Cito katakan.


"Aku minta maaf deh." ucap Cito dengan memohon


"Gak mau." ucap Winda dengan cuek.


"Yaudah aku tinggal aja kalau begitu." ucap Cito dengan tersenyum.


"Tinggal aja, biar aku jadi zombie di sini,lalu aku gigit muka kamu itu." ucap Winda dengan cuek.


"Beneran." ucap Cito dengan tersenyum.


"Aku gigit loh kamu lama lama." ucap Winda dengan kesal.


"Senyum dong mbak model." ucap Cito dengan tersenyum.


"Gak mau, senyumku mahal tau gak." ucap Winda.


Mereka tetap berjalan menelusuri desa sepi itu walaupun belum ada titik terang adanya makanan disana.


"Ngomong ngomong lapar kamu udah hilang ya?. " tanya Cito dengan tersenyum.


"Sok perhatian." jawab Winda dengan cuek.


"Di tanyain juga, kok cuek gitu." ucap Cito dengan tersenyum.


"Biarin bodoh amat." ucap Winda dengan tangan yang sedekap.


"Awas aja kalau aku nemuin makanan, gak akan aku kasih kamu." ucap Cito dengan tersenyum.


"Bodoh amat, cari sendiri." ucap Winda dengan tangan yang sedekap.


"Emang kamu bisa?. " tanya Cito dengan tersenyum.


"Banyak nanya ih." jawab Winda dengan cuek.


Mereka tetap melakukan perjalanan menelusuri desa yang sepi itu sambil mencari cari persediaan. Setelah itu keadaan hening Cito dan Winda tidak melakukan percakapan.Sehingga Cito berniat menghibur Winda agar Winda bisa tersenyum lagi.


"Winda baperan." ucap Cito dengan tersenyum.


"Bodoh amat." ucap Winda dengan tangan sedekap.


"Dulu aja, mas bisa aja deh." ucap Cito dengan tersenyum.


"Bodoh amat." ucap Winda dengan tangan sedekap.


"Dengan senyumannya yang manis, melebihi gula." ucap Cito dengan tersenyum.


"Bodoh amat." ucap Winda dengan cuek.


Lalu Cito mencubit pipi Winda.


"Gemes banget deh Winda." ucap Cito dengan mencubit pipi Winda.


"Bisa diam gak. " ucap Winda dengan wajah cemberut.


"Gak mau." ucap Cito dengan tersenyum.


"Lepasin Cito." ucap Winda dengan mencoba melepaskan cubitan Cito.


Setelah itu Cito melepaskan cubitanya


"Kamu kok marah marah mulu sih?." tanya Cito.


"Gak, aku gak marah." ucap Winda dengan tersenyum.


"Gitu kan cantik kalau senyum." ucap Cito dengan tersenyum.


"Walaupun gak senyum aku juga cantik kok." ucap Winda dengan tersenyum.


"Kita duduk dulu ya Winda." Ajak Cito.


"Iya Cito aku juga capek." ucap Winda.


Kemudian mereka duduk untuk istirahat sejenak.


"Winda kamu beneran udah gak marah?." tanya Cito.


"Dari tadi aku gak marah kok." jawab Winda.


"Ohhh." ucap Cito dengan tersenyum.


"Tapi bagus kan akting marah ku tadi?." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya dong, cocok banget jadi bintang film de.... " ucap Cito dengan tersenyum.


"Apa kau bilang?. " ucap Winda dengan mata melotot.


"Film horor maksudnya." jawab Cito dengan tersenyum.


"Yaelah gak usah basa basi deh, kamu tadi bilang film dewasa kan." ucap Winda dengan tersenyum.


"Maaf ya, jangan nangis lagi kek kemarin loh, aku tadi keceplosan." ucap Cito dengan memohon.


"Biasa aja kali Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


Cito membalasnya dengan tersenyum.


"Kira kira mereka masih hidup gak ya?. " tanya Winda dengan raut wajah sedih.


"Mereka siapa Winda?. " Cito bertanya balik.


"Sekar dan yang lain." jawab Winda.


"Gak tau Winda, tapi di saat kejadian, Tomi waktu itu ada di parkiran." ucap Cito.


"Iya Sekar dan Hana juga waktu itu juga keluar deh." ucap Winda.


"Apa mungkin mereka selamat ya, dan mereka sedang berjuang seperti kita." ucap Cito.


"Ada kemungkinan seperti itu sih, tapi percuma kali Cito kita juga akan kesusahan ketemu sama mereka." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya juga sih, tapi kita sedikit punya harapan Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya Cito, walaupun sangat sedikit." ucap Winda dengan tersenyum.


"Kita harus kuat menghadapi ini semua Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya Cito, walaupun aku sekarang kelaparan." ucap Winda dengan tersenyum.


"Aku juga, di tahan dulu ya, semoga sebentar lagi kita akan menemukan makanan." ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya Cito semoga saja ya." ucap Winda dengan tersenyum.


"Sandaran gih di pundak aku,siapa tau laparnya hilang." ucap Cito dengan tersenyum.


"Bisa aja deh mas." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Winda bersandar di pundak Cito.


"Cito gak apa apa kan aku sandarin gini?." tanya Winda dengan tersenyum.


"Kan aku yang nyuruh." Ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya juga ya." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Cito memegang tangan Winda.


"Kok pegangan tangan juga sih?. " tanya Winda dengan tersenyum.


"Gak boleh ya." ucap Cito dengan tersenyum.


"Boleh dong Cito, aku malah senang tau kalau seperti ini." ucap Winda dengan bahagia.


"Ku yakin kita pasti mampu bertahan Winda." ucap Cito yang memberikan semangat.


"Iya Cito aku juga yakin kok." ucap Winda dengan tersenyum.


"Mungkin ada masanya kita akan berbahagia lagi Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Semoga saja kita bisa bertemu lagi dengan Tomi dan yang lain." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya Winda aku juga yakin mereka pasti masih hidup." ucap Cito dengan tersenyum.


Kemudian tak lama setelah itu mereka mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka, dan ternyata itu adalah suara langkah kaki sepuluh zombie yang berlari menuju ke arah mereka berdua yang sedang duduk.


"Cito ada zombie." ucap Winda dengan panik.


"Ayo lari dari sini Winda." ajak Cito.


Seketika mereka berdua pun lari dari kejaran sepuluh zombie yang bisa berlari itu,mereka berlari tanpa tujuan yang jelas mau bersembunyi dimana. Mereka berdua tetap bergandengan dan terus berlari dari zombie zombie itu. Tapi di tengah jalan Winda berhenti, membuat Cito pun ikut berhenti.


"Pergi Cito, aku menyerah sampai di sini saja Cito,aku udah gak kuat." ucap Winda dengan nafas yang ngos ngosan.


"Gak Winda gak." ucap Cito dengan bersedih.


Lalu tanpa pikir panjang dan zombie zombie itu semakin dekat dengan mereka, Cito pun langsung menggendong Winda dan berlari menjauh dari kejaran zombie zombie itu.


"Cito kenapa kamu lakuin ini, turunin aku aja Cito." ucap Winda yang ada di gendongan Cito.


"Gak Winda, aku gak ingin kehilangan kamu Winda." ucap Cito yang terus berlari dan menggendong Winda.


Cito tetap berlari dengan terus menggendong Winda, hingga beruntung nya mereka setelah melihat ada sebuah bangunan yang lumayan besar, mungkin bisa untuk mereka bersembunyi dari kejaran zombie zombie yang sedang mengejar mereka. Lalu tanpa pikir panjang Cito pun masuk kedalam bangunan itu dan langsung menutup pintu bangunan itu yang terbuat dari besi, kemudian Cito menguncinya dari dalam sehingga zombie zombie yang mengejar mereka,tidak bisa mengikuti mereka masuk.


"Huh selamat." ucap Cito dengan bernafas lega.


Lalu Winda terkejut ketika melihat ada sepuluh zombie yang ada di dalam bangunan itu.


"Cito lihat ke situ deh." ucap Winda dengan panik.


Kemudian Cito menoleh ke arah yang di tunjukan Winda, betapa terkejut nya Cito ketika melihat ada sepuluh zombie yang ada tak jauh dari hadapannya. Lalu zombie zombie itu mencoba untuk menghampiri mereka berdua, namun untungnya zombie zombie itu, tidak seperti zombie zombie yang ada di luar.


"Gimana ini Cito." ucap Winda dengan panik.


Kemudian Cito menoleh ke samping nya, dan untungnya dia melihat ada ada beberapa pisau besar yang ada sampingnya, sehingga dengan cepat Cito mengambil dua pisau yang ada di sana.


"Ini pisau,kamu bantu aku bunuh zombie nya ya." ucap Cito dengan memberikan pisau itu.


"Siap Cito." ucap Winda dengan menerima pisau itu.


Mereka berdua pun langsung menghabisi zombie zombie yang ada di hadapannya itu dengan begitu mudah. Tak lama setelah itu,zombie zombie yang ada di dalam itu pun tewas.


"Untung aku dulu ikut taekwondo waktu sma" ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian mereka ingat dengan zombie zombie yang ada di luar.


"Iya Winda, kamu yang buka pintunya lalu aku yang mengeksekusi zombie zombie itu." ucap Cito.


"Siap Cito." ucap Winda.


Kemudian Winda membuka pintu bangunan itu tapi tidak terlalu lebar, sementara Cito menunggu zombie zombie masuk satu persatu, dan membunuh semua zombie itu.


"Habis lo." ucap Cito.


Tak lama setelah itu zombie zombie yang ada di luar itu pun sudah tewas seluruhnya dan tak tersisa.


"Kerja bagus Winda. " ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya dong." ucap Winda dengan tersenyum.


Cito pun tiba tiba penasaran tempat apa ini sebenarnya.


"Tempat apa ini ya?. " tanya Cito.


Kemudian Winda melihat logo yang ada di dalam bangunan yang mereka tempati saat ini,dan Winda mengetahui logo apa itu.


"Ohh ini mungkin pabrik roti yang terkenal itu Cito, masa sih kamu gak tau." ucap Winda dengan tersenyum.


"Masa sih, emang kamu pernah makan roti yang di produksi di tempat ini?. " tanya Cito dengan penasaran.


"Ya pernah Cito, bahkan sering lagi, enak tau." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Cito memiliki ide untuk naik ke atas, yang mungkin mereka bisa menemukan roti yang tersisa di pabrik roti ini.


"Coba kita ke atas siapa tau ada makanan ya kan." ajak Cito.


"Ide yang bagus Cito, tapi kalau ada zombie gimana?. " ucap Winda.


"Kita lawan lah Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


Mereka pun mulai menaiki satu persatu tangga bangunan itu, untuk menelusuri dalam bangunan ini, yang mungkin dia mampu menemukan makanan di lantai atas. Dengan penuh hati hati mereka berjalan menelusuri bangunan itu dan melihat ada beberapa pintu di samping kanan dan kiri mereka. Tidak ada satu zombie pun di sana, hingga akhirnya mereka menemukan pintu yang tertulis, ruang penyimpanan roti dan minuman.


"Ini Cito tempatnya." ucap Winda dengan bahagia.


"Coba buka Winda." perintah Cito.


Kemudian Winda membuka perlahan lahan pintu ruangan itu, sementara Cito bersiap menyerang dan bersiaga siapa tau tiba tiba ada zombie yang akan menyerang mereka.


"Semoga aman." ucap Winda dengan membuka pintu itu.


Setelah pintu terbuka mereka pun sangat bahagia, ketika melihat banyak sekali roti dan minuman di ruangan itu, sehingga membuat Cito dan Winda langsung masuk begitu saja tanpa ada rasa takut sedikit pun.


"Cito akhirnya." ucap Winda dengan bahagia.


"Iya Winda." ucap Cito dengan bahagia.


Lalu Winda langsung mengambil beberapa roti dan minuman yang ada di lemari ruangan itu. Sementara Cito langsung duduk di lantai ruangan itu.


"Cito aku ambilin roti ya." ucap Winda.


"Iya." ucap Cito dengan tersenyum.


Setelah mengambil beberapa roti yang ada disana,Winda langsung duduk di samping Cito.


"Ini Cito roti sama minumannya." ucap Winda dengan menaruh roti dan minuman itu ke lantai.


"Makasih Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Cito tau gak, ini roti kesukaan aku loh rasa keju." ucap Winda dengan mengambil satu roti.


"Kamu suka keju ya?." Tanya Cito dengan tersenyum.


"Iya dong kan keju enak." ucap Winda dengan memakan roti yang ada di tangannya.


"Kalau aku sih lebih suka coklat Winda." ucap Cito dengan mengambil satu roti yang ada di hadapannya.


"Nanti diabetes loh. " ucap Winda dengan tersenyum.


"Aku lebih takut kalau diabetes karena senyuman kamu itu." ucap Cito dengan tersenyum.


"Cito bisa aja deh." ucap Winda dengan tersenyum.


Mereka berdua memakan roti yang ada di hadapan mereka.


"Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya Winda." balas Cito.


"Aku cantik gak sih Cito?. " tanya Winda dengan tersenyum.


"Iya Winda kamu cantik." jawab Cito dengan tersenyum.


"Kamu ingat pertanyaanku waktu di rumah kayu itu gak?. " tanya Winda dengan tersenyum.


"Di persawahan itu kan?. " tanya Cito.


"Iya Cito, ingat gak. " balas Winda.


"Ingat lah Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Kamu mau kan Cito?. " tanya Winda dengan ragu ragu.


"Tapi kamu ada rasa gak sama aku?." Cito bertanya balik.


"Gak tau Cito." ucap Winda dengan ragu ragu.


"Kalau kamu ragu gitu, mendingan jangan deh." ucap Cito.


"Tapi Cito, aku ingin nanti ketika anak aku lahir nanti, anak aku punya ayah dan satu satunya orang yang aku punya hanya kamu Cito." jelas Winda.


"Jadi itu sebabnya kamu mengajak aku nikah?. " tanya Cito.


"Iya Cito, soal perasaan mungkin lama lama juga akan tumbuh." ucap Winda.


"Berarti kamu ingin ngajak nikah aku bukan karena perasaan kamu ke aku, tapi kamu butuh ayah untuk anakmu?." tanya Cito.


"Tapi." jawab Winda.


Belum selesai Winda ngomong , Cito memotong perkataan Winda.


"Sama aja kalau nanti kita menikah jika kita sama sama gak memiliki rasa." ucap Cito.


"Cito kamu gak mau ya?. " tanya Winda.


"Gak tau Winda. " jawab Cito.


"Sebenarnya kamu suka gak sama aku?. " tanya Winda.


Cito hanya diam tak menjawab.


"Jawab Cito, jangan diam aja." ucap Winda yang terus memaksa.


"Sebenarnya, iya Winda." ucap Cito dengan ragu ragu.


"Berarti yang kamu maksud waktu itu aku ya Cito?." tanya Winda.


"Iya Winda kamu." jawab Cito dengan mengeluarkan kalung Dania yang ada di saku celananya.


"Cito apa apaan ini." ucap Winda dengan kaget.


Lalu Cito memakaikan kalung milik Dania kepada Winda.


"Kamu pantas memakai kalung ini Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Tapi aku gak bisa gantiin peran kak Dania untuk kamu Cito." ucap Winda dengan ragu ragu.


"Kamu bisa Winda, aku percaya kok sama kamu." ucap Cito dengan mengelus pipi Winda.


Winda hanya tersenyum ke arah Cito.


"Tapi kamu suka gak sama aku? , jawab dengan jujur!. " tanya Cito dengan penasaran.


"Jujur aku juga iya Cito, saat pertama kita di hotel Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


"Tinggal jujur aja, sampai anak kamu yang kamu jadikan alasan." ucap Cito dengan tersenyum.


"Tapi, aku ingin anak aku lebih bahagia dari ibunya ini Cito, miliki keluarga yang lengkap, dan mendapat kan  kasih sayang yang mungkin tidak pernah di rasakan ibunya ini dulu Cito." ucap Winda dengan sedih.


"Kamu yang sabar ya Winda, aku janji akan menyayangi anak kamu seperti anak aku sendiri." ucap Cito dengan mengelus pipi Winda.


"Makasih ya Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Cito duduk di samping Winda dan bersandar di pundak Winda.


"Kebalik gak sih." ucap Winda dengan tersenyum.


"Gantian kali Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


"Iya deh." ucap Winda dengan tersenyum.


Kemudian Cito menegakkan kepalanya dan menyuruh Winda bersandar di pundak nya.


"Sandaran gih Winda." suruh Cito.


Winda mengikuti perintah Cito dan bersandar di pundak Cito dengan saling pegangan tangan.


"Gitu tadi mau nyerah,untung aja tadi aku gendong." ucap Cito dengan tersenyum.


"Aku tadi udah gak kuat Cito, tapi kamu gendong aku karena kamu gak pengen kehilangan aku kan." ucap Winda.


"Iya Winda aku gak pengen kehilangan kamu,karena aku sayang banget sama kamu." ucap Cito dengan mencium tangan Winda yang dia pegang.


"Aku juga Cito, Terima kasih ya untuk segalanya." ucap Winda dengan bahagia.


Kemudian Winda menegakkan kepala nya, dan mengambil roti yang ada di hadapan nya. Kemudian membuka bungkus roti itu dan menyuapkan roti itu kepada Cito.


"Aaaaak." ucap Winda dengan memasuk kan roti itu ke mulut Cito.


Cito bahagia dan menerima roti yang di suapkan Winda.


"Dania , aku sudah menemukan wanita yang bisa menggantikan mu Dania, wanita yang kamu anggap seperti adikmu sendiri." ucap Cito dengan tersenyum.


"Kak Dania, aku berjanji akan selalu menyayangi pacar kakak ini. " ucap Winda dengan tersenyum.


Lalu mereka berdua saling mandang memandang  dengan tersenyum.


"Pasti kak Dania bahagia kan Cito." ucap Winda dengan tersenyum.


"Iya Winda." ucap Cito dengan tersenyum.


Kemudian Winda berbaring dan bersandar di paha Cito, lalu Cito mengelus wajah Winda dengan penuh kasih sayang.


Sementara di mini market Tomi dan Sekar melakukan aktifitas seperti biasanya, Sekar menggendong dan menyuapi Koko, sementara Tomi sedang mencuci motornya dengan bernyanyi.


"Koko pintar banget makan nya." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Mama." ucap Koko yang ada di gendongan Sekar.


"Koko bisa manggil mama sekarang." Ucap Sekar dengan bahagia.


Kemudian Tomi menghampiri Sekar yang sedang menggendong dan menyuapi Koko.


"Sekar, boleh minta tolong gak." ucap Tomi dengan memohon.


"Minta tolong apa Tomi?. " tanya Sekar dengan penasaran.


"Ambilin jaket aku di ruang karyawan ya!." perintah Tomi.


"Oke Tomi." ucap Sekar.


"Sama iya, ambilin sarung tangan aku di lemari." ucap Tomi.


"Iya Tomi. " ucap Sekar kemudian pergi ke ruang karyawan.


Setelah Sekar masuk,Tomi mencoba menyalakan motornya, dan memanasi motornya. Tak lama setelah itu Sekar pun datang dengan membawa jaket dan sarung tangan yang di perintahkan Tomi.


"Ini Tomi jaket sama sarung tangannya." ucap Sekar dengan memberikan jaket dan sarung tangan itu.


"Makasih ya." ucap Tomi dengan tersenyum.


"Emang mau kemana sih?. " tanya Sekar dengan penasaran.


"Mau jalan jalan sebentar, kamu gak ikut." ucap Tomi.


"Gak Tomi aku di sini aja sama Koko." ucap Sekar dengan tersenyum.


Lalu Tomi memakai jaket dan sarung tangan nya itu, lalu membuka pintu mini market yang dalam dan luar.  Tomi naik motor nya itu.


"Aku pergi dulu ya,jaga diri kamu baik baik ya. " ucap Tomi.


"Iya Tomi hati hati, dan jangan lama lama loh." ucap Sekar dengan tersenyum.


"Iya Sekar. " ucap Tomi.


Kemudian Tomi pergi dengan motornya itu entah kemana. Setelah Tomi sudah terlalu menjauh, Sekar menutup pintu dalam mini market, dan membiarkan pintu depan tetap terbuka.Lalu setelah itu Sekar kembali ke ruangan karyawan, namun tiba tiba dia mendengar suara motor yang tak jauh berbeda dengan suara motor yang di pakai Tomi.


"Cepat banget dia telah kembali, perasaan baru berangkat deh." ucap Sekar dengan heran.


Lalu Sekar memutuskan untuk mendatangi suara motor itu, dan terkejutnya Sekar, ternyata itu bukan Tomi, melainkan seorang wanita bertopeng hacker, jaket kulit serta membawa pemukul bisball.Sehingga membuat Sekar pun ketakutan.


"Bagaimana ini?. " ucap Sekar dengan takut.


lalu wanita bertopeng hacker itu turun dari motornya, dan hendak masuk ke dalam mini market, Sekar yang melihat nya pun hanya bisa pasrah.


............... BERSAMBUNG...................


Siapa wanita bertopeng itu?