You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Epilog



"Bismillahirrohmanirrohim. Ga Eun mau, Njun memakaikan ini setelah kita halal nanti" ucap Ara tersipu


"Apa? Maksudnya aku ... Ha? benarkah?" Ye jun tidak percaya matanya berkaca-kaca menatap setiap wajah yang ada disana dan berhenti disatu titik, si pemilik mata coklat


"Alhamdulillah ... Allahu akbar" Ye Jun bangkit ingin segera memeluk gadis dihadapannya, laki-laki itu terlihat sangat girang. Abi dengan sigap menahan bahu Ye jun mengulum senyum


"Ye Jun! Belum muhrim, Nak!" ucap Ummi


\=\=\=\=\=


Tempat yang sama, tapi dalam situasi yang berbeda. Bangunan luas dengan susunan batu berwarna hitam hampir pekat.


Satu tangan jenjang terulur, laki-laki pemilik senyum manis menatap gadis dihadapannya dengan penuh cinta.


"Sudah nggak perlu pakai sarung tangan lagi!" ucapnya menangkap gadis yang ragu-ragu menyambut uluran tangan tersebut.


Ye Jun menyatukan jemari mereka, menaiki anak tangga candi borobudur menuju satu tempat diatas sana.


"Tau nggak ... sewaktu kita kesini tempo hari. Aku berdoa dan mengharapkan keberuntungan sewaktu berhasil menyentuh bagian dalam ini" Ye Jun mengelus bagian candi di hadapannya.


"Hm ... Njun doa apa?" tanya Ara


"Ini" Ye jun mengangkat tangan mereka yang masih bertaut, mencium lengan istrinya tersebut


"Hati-hati loh, awas musrik!" jawab Ara.


"Apa itu?"


"Nanti kita belajar lagi. Turun yuk! Aku mau kesana!" ajak Ara menunjuk satu bangunan yang tampak dari candi, bangunan berbentuk ayam yang pernah dijadikan tempat syuting salah satu film indonesia itu.


"Nanti dulu, aku masih ingin disini" Ye Jun menarik Ara kedekapannya, memeluk istrinya itu dari belakang.


"Njun, malu" Ara berontak, namun Ye jun tidak menghiraukan nya. Menikmati waktu berdua dengan orang yang dicintai sedari dulu itu tanpa memerdulikan orang lain disekitar sana.


"Ye Jun-aa, disini nggak boleh gitu ah." Ara masih saja berontak


"Abi ... Ummi malu, kita turun yuk" jurus terakhir Ara keluar, Ara bicara dengan lembut sekali, menyebutkan kata-kata yang ia sendiri juga malu mengucapkannya.


\=\=\=\=


Gadis berkerudung pink tampak memutar-mutar cincin yang melingkar dijari manisnya. Wajahnya di tekuk, memandangi sepiring nasi dan sayuran pada bagian pinggirnya.


Gadis itu menatap piring nasi yang sudah tidak mengepulkan asap lagi, mungkin sudah satu jam perempuan itu berada di sana, menunggu seseorang.


Suara pintu mobil ditutup mengalihkan pandangannya pada pintu penghubung ruang utama dengan sisi samping kolam renang tempat Ara saat ini.


Seseorang berkaus putih dengan celana hitam berlari dari arah dalam, mencari keberadaan gadis itu dengan wajah sumringah.


"Maaf" ucapnya menatap manik mata coklat Ara, laki-laki itu memeluk Ara.


"Sini Abi suapin!" Laki-laki itu menarik kursi, mendekatkan posisinya pada perempuan manis tersebut.


"Jangan nakal-nakal ya, Nak. Jangan buat susah Ummi-mu" usapnya pada perut Ara


Wajah yang tadinya ditekuk, selera makan yang tadinya hilang kini berbalik. Senyuman tidak pernah hilang menghiasi wajah Ara dan selera makannya pun kembali hadir. Aneh memang, semuanya bisa diatasi setelah Ara mencium aroma tubuh Ye Jun.


"Dia nggak nakal kok, Bi. Insya Allah anak kita tidak akan membuat orangtuanya susah. Umminya saja yang selalu membuat Abinya susah seperti ini. Maaf ya ...." Ara menyentuh tangan Ye Jun, menyatukan jemari mereka


"Nggak perlu minta maaf. Abi suka kok direpotin sama Ummi" senyum laki-laki itu


Setelah selesai makan, Ye Jun mengajak Ara untuk masuk ke dalam rumah. Kaki Ara yang mulai bengkak membuat gadis itu tidak boleh duduk terlalu lama pada kursi yang membuat kakinya menggantung.


Ara merebahkan tubuhnya di sofa, kakinya ia naikkan agar posisinya enak dengan perut yang sudah sangat besar untuk ukuran delapan bulan.


"Nggak usah, Bi" tolak Ara saat tangan Ye Jun ingin memijat kaki bengkaknya


"Abi istirahat saja. Appa mana ya kok dari tadi Ara nggak lihat?"


"Ada di depan. Mau Abi panggilin?" tanyanya.


"Kalau Abi mau ... Ingatin Appa hari ini hari Jum'at"


"Oh ... Iya. Sebentar ya" Ye Jun bangkit dan meninggalkan Ara


\=\=\=\=


Sahara Ga Eun Pov


Aku teringat penyesalan ku waktu itu, saat bang Razi melamarku pertama kalinya aku menolaknya karena merasa belum pantas untuknya. Penyesalan itu muncul saat beliau meninggalkan aku beberapa bulan setelah kami menikah. Seandainya ... Waktu itu aku menerima langsung malam itu, mungkin kebahagianku menjadi istrinya akan berlangsung lebih lama.


Sekarang itu terulang kembali. Allah memberikan aku seseorang yang tulus menerima seorang janda sepertiku tanpa syarat.


Entah kenapa, rasanya aku tidak mau menunda kebahagiaan lagi. Tidak ada pernikahan yang tidak bahagia jika semuanya karena Allah.


Bismillah, aku menerima lamaran Ye Jun. Walau konsekwensinya pernikahan kami harus tertutup rapat dari media, karena aku sadar Ye Jun siapa.


Sebenarnya semuanya permintaanku. Laki-laki itu begitu mencintaiku, bahkan ia rela kehilangan kariernya jika pernikahan kami menjadi masalah dikemudian hari atau aku menjadi satu-satunya wanita yang paling di benci di dunia karena mematahkan hati para wanita sekte sekte YMM.


Oh ... Ya, kenapa waktu itu dia tidak mengatakan will you marry me padaku. Karena, kalau dia mengatakan itu dia teringat pada semua fansnya dan dia merasa itu tidak adil bagi mereka.


Satu hal yang ku rasa lucu. Ye Jun bilang dia menjadi orang yang adil. Karena menikahi perempuan yang sama sekali tidak mengidolakannya. Kenapa? Karena ... Kalau dia menikah dengan wanita yang meng-idolakannya berarti dia menyakiti gadis lain yang juga mengidolakannya.


Adil ya?


Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Jika teringat dengan sepenggal isi al-qur'an tersebut aku selalu mengucap syukur.


Kesedihan yang kurasakan dulu berubah menjadi sesuatu yang membahagiakan saat ini, bukan hanya Ye Jun yang kini menjadi sefrekwensi dengan ku tapi Appa juga, Aku Ye Jun dan Appa sama-sama terus belajar mempelajari kepercayaan yang kami anut saat ini.


Bersama-sama belajar, saling mengingatkan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.


Hubungan ku dengan Ummi dan Abi di Indonesia masih baik bahkan lebih baik, kata Ummi aku menikah dengan anak ke tiganya. Haha ... Ye Jun memang ditakdirkan mengambil orangtuaku ya.


\=\=\=\=


"Hati-hati ya, Bi. Appa" Ara melambaikan tangannya, Ye Jun dan Hyun-shik pergi ke masjid untuk ibadah shalat jum'at.


Mobil yang baru saja ingin keluar dari pagar yang sudah terbuka berhenti. Ye Jun keluar mobil dan berlari menemui Ara.


"Ada apa? Nggak usah lari-lari" ucap Ara


"Nanti biar kami yang jemput Abi dan Ummi. Ummi Ga Eun di rumah saja masak yang enak tapi jangan capek-capek! Mmuah!"


"Loh, kok nyium! Kan sudaj wudhu"


"Nanti wudhu lagi di masjid!" jawab Ye Jun simple dan pergi.


\=\=\=End\=\=\=


.


.


.


.


Selamat hari raya idul fitri manteman, maaf lahir dan batin. Terimakasih sudah mau membaca novel ini dan ikhlas memberikan jempol komentar dan vote. Semoga suka dengan ceritanya dan puas dengan akhirnya


Saya pamit, kamsahamnida 😊