You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Ah ... apa yang aku pikirkan



Laki-laki bermasker menatap sekilas kearah samping. Manik coklat ke emasan miliknya menangkap ciri-ciri gadis yang ia cari beberapa bulan terakhir ini.


"Ga Eun!" ucapnya bangun dari duduknya, hidungnya bahkan sampai menyentuh kaca mobil untuk memastikan yang ia lihat benar


"Kita putar balik!" perintahnya pada sopir


Mobil hitam itu berhenti agak jauh dari restoran, Ye Jun yang memintanya. Ia takut kedatangannya membuat Ara pergi lagi.


Laki-laki itu berjalan cepat sambil sesekali membenarkan topi dan juga maskernya.


\=\=\=\=\=


Aroma wangi dari hidangan di hadapan gadis itu membuat laki-laki bersuara emas tersebut tidak tahan lagi hanya diam dan menguping pembicaraan anak dan ayah itu.


Ye Jun mendekat saat tangan Ara menyatu melafalkan doa. Waktunya gadis itu mengakhiri puasanya.


"Selamat berbuka puasa, Ga Eun!" ucap Ye Jun menarik kursi dan meletakkannya tepat disebelah Ara, bersisian.


"Njuuun!" jerit Ara melihat laki-laki itu ikut memakan nasi goreng kecombrang yang dibuatkan oleh Appa.


Entah darimana laki-laki itu mendapatkan sendok. Yang jelas sekarang mereka saling berebut menghabiskan hidangan yang hanya satu piring itu.


"Appa ...." Ara merengek mengharap belas kasihan Appanya dan memarahi Ye Jun, tapi tentu saja itu tidak akan terjadi.


Hyun-Shik hanya melihat mereka dengan senyuman yang begitu bahagia.


"Pemandangan ini yang aku harapkan dari dulu. Ye Jun dan Ga Eun saling mengasihi sebagai adik kakak.


Tapi, kenapa keinginan ku sedikit berobah setelah melihat mereka sama-sama sudah dewasa ya?!


Mungkinkah Ye Jun dan Ga Eun ... Ah, apa yang aku pikirkan. Mendapatkan maaf dari putriku itu jauh lebih penting! Jangan meminta apapun lagi Hyun-Shik, jangan! Nikmati saja waktu mu ini" batin laki-laki paruhbaya itu


\=\=\=\=


Mereka menghabiskan waktu bertiga di rumah. Lantai dua restoran itu menjadi rumah tinggal Hyun-Shik dan Ye Jun dulu, dan Ara juga sempat pernah tinggal disana.


Tadinya Hyun-Shik ingin merayakan kebersamaan mereka dengan minum. Tapi, karena menghargai Ara hal itu dibatalkan. Ye Jun juga tidak setuju sebenarnya. Masih ada cara lain untuk merayakan kebersamaan, ucapnya.


Sahara Ga Eun tampak lelah, matanya pun sudah merah. Hyun-Shik menyuruh putrinya itu untuk tidur.


"Tidurlah, Nak. Kau sudah sangat mengantuk sepertinya. Besok Appa akan membangunkan mu untuk sahur" ucap laki-laki itu


"Hm ... Ara memang sudah mengantuk, Pa. Kalau begitu Ara pulang dulu ya" gadis itu berdiri, meminta tangan Hyun-Shik untuk ia cium punggung tangannya, laki-laki itu menatap heran


"Ara sudah bayar kamar untuk hari ini, Pa. Sayang kan uangnya" ucap gadis itu menjawab tanda tanya kedua laki-laki yang ada disana.


"Tidur lah disini, dikamar mu" pinta Hyun-Shik


"Barang-barang Ara disana, Pa. Pakaian Ara ...."


"Mana sini kuncinya? Kau tidur dikamar! Biar aku bawakan kesini barang-barangmu. Kalau sayang uang sewanya nanti biar aku ganti!" ucap Ye Jun menengahi


"Beneran? Oppa!!! Terimakasih. Gantinya dua kali lipat boleh?" ucap Ara manja


Ye Jun mengambil dompetnya, menyerahkan black card miliknya pada gadis berjilbab itu.


"Ambil semaumu! Sini kunci kamarnya" ucap Ye Jun datar, dasar manusia kulkas


"Omoo ... Benarkah aku boleh ambil semau ku? Kalau begitu aku akan pulang ke Indonesia" ucap Ara asal penuh dengan tawa, namun tawa itu seketika hilang saat dua pasang mata menatapnya bersamaan.


"Ups ... Oke ... Oke! Ara tidur dulu ya" pamit gadis itu ngacir


.


.


.


.


🤭