You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Berlindung dibalik bayi menggemaskan!



"Pak, saya sudah membayar semuanya plus bonus untuk bapak. Tolong antarkan Sahara pulang dengan selamat sampai di rumahnya. Kalau terjadi apa-apa, saya pastikan bapak akan kehilangan pekerjaan bapak. Bahkan saya bisa membuat bapak tidak diterima bekerja dimanapun!" ucap Ye Jun dengan tatapan tajam kepada sopir yang mengantar mereka dari pagi sampai malam ini, tentu saja dengan bahasa yang dimengerti oleh laki-laki tua tersebut.


"Insya Allah, Pak. Saya sudah lama bekerja disini. Semoga perjalanan bapak lancar dan sampai di Korea dengan selamat dan aman." ucap laki-laki itu dengan bahasa Inggris agak terbata-bata.


Sementara Ye Jun berbicara dengan sopir di dalam mobil, Ara sudah turun dari mobil tersebut dan berdiri membaur dengan orang yang tampak berlalu lalang di sana.


"Sudah. Kau tinggal duduk manis sampai depan rumah." Ye Jun menghampiri Ara, gadis itu mendengarkan dengan wajah datarnya


"Sahara Ga Eun, Njun pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik, sampai ketemu lagi di Korea" ucap Ye Jun dengan ekspresi imut menggemaskan walau sebagian wajahnya tertutup masker


Ara melawan dengan keras perasaan ingin tertawa, lucu mendengar Ye Jun menyebut namanya dengan sebutan yang sedari tadi Ara ucapkan, Njun.


"Aku tidak berjanji akan kesana secepatnya, Ye Jun" ucap Ara akhirnya


"Terserah saja, kalau kau nekat aku akan menyandra sahabatmu dan juga bayinya"


"Apa? Kau mau ditembak mati suaminya? Hahaha ... Kau salah mengancam Ye Jun-a."


Ara tertawa terpingkal-pingkal, rasa kesalnya mulai hilang


Ye Jun membalikkan tubuh kurus gadis itu, memegang ke dua bahunya dan mendorong kedepan agar Ara kembali masuk ke dalam mobil.


"Pulang lah. Tidak perlu mengantarku sampai ke dalam. Nanti kau terlalu malam sampai ke rumah, sampaikan salamku pada Abi dan Ummi. Maaf tidak bisa berpamitan langsung." ucap Ye Jun, laki-laki itu lalu membuka pintu mobil.


"Insya Allah nanti akan aku sampaikan. Aku duluan, Njun. Bye ... Bye" Ara masuk ke dalam mobil, membuka kaca jendela dan melambaikan tangan. Ye Jun juga melambaikan tangannya sejenak lalu langsung berbalik arah tanpa menunggu mobil tumpangan arah menjauh. Laki-laki itu tampak berlari masuk ke dalam.


Ara melihat ke belakang, entahlah. Mungkin karena mereka selalu bersama beberapa bulan ini dan bahkan sangat dekat selama beberapa minggu terakhir, menimbulkan sedikit kesedihan dalam hatinya.


Tidak ada perpisahan yang tidak menyiratkan kesedihan, meskipun akan ada pertemuan berikutnya.


\=\=\=\=


Pada ketinggian beribu-ribu kaki, sosok laki-laki yang menggendong bocah lima tahun begitu jelas dalam ingatan.


Bagaimana laki-laki memperlakukannya dengan sangat baik.


"Ayo kita pulang" ucap laki-laki tampan itu tersenyum setelah mengusap airmata si anak kecil


"Mulai sekarang kita hanya berdua. Kita harus saling menyayangi satu sama lain, agar mamamu tenang dan bahagia disana" ucap laki-laki itu pula, sepanjang perjalanan menuju mobil dia terus saja memberikan kata-kata penyemangat meski wajahnya sendiri menyiratkan kesedihan


"Kalau pulang sekolah nanti jangan pergi kemana-mana, tunggu aku menjemputmu ya" ucap laki-laki itu selalu saat mengantarkan bocah kecilnya ke sekolah


"Kami akan menjaganya, Pak. Bapak percayakan saja pada kami. Ayo, Ye Jun. Kita masuk ke kelas" ucap guru berkemeja hitam dengan rok selutut, kata-kata itu membuat laki-laki yang mengantar Ye Jun kecil tampak lega dan tenang meninggalkan Ye Jun untuk bekerja


"Bye, Jun" laki-laki itu melambai, Ye Jun melihat kebelakang dan tersenyum ke arah nya.


"Da ... Paman!"


***


Tanpa terasa airmata Ye Jun jatuh lagi, kenangan masa lalunya terulang, rasa sayang yang teramat dalam pada sosok laki-laki tangguh yang membesarkannya itu membuat Ye Jun sangat takut dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi


"Jangan tinggalkan aku, Ayah" bisiknya lirih, Ye Jun menatap keluar jendela mencari kekuatan agar sabar dan tenang menunggu burung besi yang membawanya terbang sampai berbelas jam kemudian.


\=\=\=\=


"Assalamu'alaikum, Abi" bisik Ara, Abi menjawab salam itu juga dengan berbisik


"Ye Jun mana?" tanya Abi masih berbisik


"Ye Jun berangkat ke Korea, Bi. Ayahnya sedang sakit" jawab Ara


"Ya sudah, pergilah tidur" ucap Abi, laki-laki paruhbaya itu ingin masuk kedalam kamar tamu lagi, tapi Ara mencegahnya


"Abi tidur dikamar Abi dan Ummi saja. Ara biar dikamar abang. Ye Jun juga sudah tidak ada" ucap Ara, Abi menurut dan segera masuk ke kamarnya


Ara pergi ke dapur terlebih dahulu, membuka lemari pendingin. Mengambil sebuah apel. Perutnya yang belum terisi membuatnya agak lapar.


Ara duduk mengunyah apel tersebut lambat, teringat Ye Jun yang mungkin sudah berangkat.


Ara mengambil ponselnya, beberapa saat kemudian gadis itu sibuk berbalas chat.


"Aku harus memastikan kau benar-benar bisa kembali bekerja dengan pengeranmu kapan!" tulis Ara


"Tunggulah sampai anakku memasuki usia 3 atau 4 bulan, Ra. Aku juga sudah sangat ingin bekerja. Tapi, bagaimana aku bekerja kalau si menggemaskan ini belum menemukan pengasuh yang cocok


Tolong lah aku sekali lagi, Ara sahabatku yang paling baik. Atau kalau kau mau dan anakku juga mau, kau saja yang mengasuhnya. Jadi kita bisa sama-sama bertemu pangeranku, kau menggendong Minji sedangkan aku merias Ye Jun." tulis Jeny dengan emoticon tertawa


"Ara ... Apa kalian sudah saling jatuh cinta?" tulisan Jeny membuat Ara membenarkan duduknya, membalas pesan itu dengan menekan-nekan ponselnya saat mengetik pesan. Sepertinya emosinya mulai naik


"Jangan seenaknya kalau bicara" ketik Ara


"Haha ... Aku tidak berbicara, Aku hanya menulis" jawaban Jeny membuat Ara semakin kesal


"Sudah ya, Ara. Kelihatannya Minji haus. Sampai jumpa di Seol" tulis Jeny lagi kali ini menyertakan emoticon hati


"Dasar! Bisa-bisanya dia berlindung dibalik bayinya yang menggemaskan itu" umpat Ara, gadis itu membuang apel yang hanya tinggal bagian tengah saja lalu meminum segelas air putih dan pergi ke kamar.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya membuka pintu, menatap sekeliling. Masih sama, tempat ini masih sama seperti pertama kali memasukinya


Jemari Ara menyentuh lembut foto berbingkai warna emas, "Abang ... Ara rindu" ucapnya menyungging senyum


Foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding itu terus ia pandangi. Ara mulai menangis lagi


.


.


.


.


Terimakasih yang sudah sudi mampir membaca novel ini, jangan lupa berikan like jika kalian menyukai ceritanya. Kalau ada waktu berikan komentar juga ya ... Kalau waktunya masih banyak, boleh lah di kasi rating nih tulisan, bintang lima boleh ... Empat boleh, tiga juga boleh. Asal jangan bintang tujuh karena itu obat sakit kepala 😊


Sarangeo ✌️😊