
"Bagaimana aku tidak membencinya, luka ini sudah sangat dalam. Luka yang seolah dibuat secara sengaja oleh orang yang seharusnya menjadi cinta pertamaku. Ini yang aku takutkan, dan ternyata ketakutanku itu kini menjadi nyata"
_____YWMM____
"Ini alasan Appa tidak pernah menemui kami? Kenapa Appa setega itu menduakan Bunda. Bunda menunggu Appa sampai saat terakhirnya, Pa" Ara yang sudah terduduk lemas berbicara sambil menangis
Laki-laki diatas brangkar mengumpulkan tenaganya untuk turun.
"Ayah masih lemah jangan memaksakan diri!" ucap Ye Jun menahan ayahnya
Ara tersenyum smirk, menatap kedua laki-laki dihadapannya
"Benar ayah! Kau berbaring saja. Turuti apa kata anak kesayanganmu itu! Kak Ye Jun, kau berhasil menambah rasa benci ku pada nya" tunjuk Ara pada laki-laki yang sedang sakit itu.
Ara mencampakkan koper milik Ye Jun beserta ransel berisi oleh-oleh dari Jogja kehadapan pemiliknya. Lalu keluar dari ruangan itu dengan airmata yang masih menganak sungai
Di depan pintu Jeny menunggu dengan tatapan iba.
"Terimakasih ,Jeny. Kau benar! Ini sangat penting untuk ku!" ucap Ara dengan bibir bergetar. Gadis berhijab itupun pergi meninggalkan Jeny yang tidak bisa berkata apa-apa lagi
\=\=\=\=
Ara pov
"Ya Allah, kenapa cobaan yang kau berikan sesakit ini"
"Bagaimana aku tidak membencinya, Luka ini sudah sangat dalam. Luka yang seolah dibuat secara sengaja oleh orang yang seharusnya menjadi cinta pertamaku. Ini yang aku takutkan, dan ternyata ketakutanku itu kini menjadi nyata"
"Aku tau kalau aku menanyakan alasan kenapa Appa tidak pernah datang, aku akan menghadapi kenyataan ini. Dan kenapa rasanya bertambah sakit setelah aku tau kalau ternyata aku mempunyai saudara laki-laki dari perempuan lain"
"Perselingkuhan memang tidak akan pernah memberikan kebahagiaan kepada siapapun"
\=\=\=\=
Sahara menangis sejadi-jadinya dalam lift yang sudah membawanya turun menuju loby, tidak perduli ada pengunjung lain didalam kotak berjalan itu.
Hatinya terus berkata-kata sementara bibirnya tetap tertutup rapat.
Pintu lift terbuka, Ara berjalan keluar dari tempat itu mengambil barang yang ia tinggalkan sebelumnya
Saat berjalan keluar, laki-laki berkaos hitam dengan masker menutup sebagian wajahnya menghadang.
"Aku akan menjelaskan semuanya!" ucap laki-laki itu menatap iba pada Ara yang matanya sudah sembab
Ara menatap laki-laki itu dengan kesedihan yang bertambah-tambah.
"Aku tidak perduli! Pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin bertemu dengan kalian lagi!" ucap Ara sangat marah, wajahnya bahkan memerah
"Aku bilang pergi dari hadapanku! Pergi!" Ara berteriak, menangis dan menghentak-hentakkan kakinya.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang yang ada disana. Ye Jun tidak memperdulikan itu, dia tetap menghadang gadis itu agar tidak pergi dalam keadaan begitu.
Telpon Ye Jun berdering, Jeny menghubungi Ye Jun. Laki-laki itu mengangkat telpon sambil memegang erat-erat pergelangan tangan Ara. Tidak perduli gadis itu memberontak ingin melepaskan diri
"Ye Jun, Paman!" ucap Jeny, Ye Jun kelihatan panik
"Ga Eun, Ayah kollaps!" ujarnya setelah mematikan panggilan
"Aku tidak perduli! Dia bukan ayahku! Dia ayahmu!" ucap Ara menatap Ye Jun dengan tatapan penuh kebencian
"Kebencianmu bahkan sudah menutupi kebaikanmu! Kau akan menyesal, Ga Eun!" ucap Ye Jun menatap mata Ara tepat pada manik coklat itu sejenak kemudian melepas cekalannya dan berlari meninggalkan Ara, Ye Jun terlihat masuk ke dalam lift dan bayangan itu menghilang dibalik pintu yang tertutup
\=\=\=\=
Gadis bermukena putih itu menyembunyikan wajahnya dalam lutut yang saling bertumpuan. Matanya bengkak karena tidak berhenti menangis.
Beberapa jamaah yang shalat di masjid itu melihatnya dengan iba, bahkan ada satu dua orang yang bertanya. Tapi Ara hanya menjawabnya dengan gelengan kepala saja
Gadis itu merasa sangat kelelahan dan akhirnya tertidur.
Suara lantang imam masjid yang membacakan surah Ar-Rahman membangunkan Ara. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang menusuk penglihatannya.
Barisan shaf wanita sudah terisi semuanya mereka tengah melaksanakan shalat maghrib, Ara berdiri membuka mukenanya dan pergi mengambil wudhu.
Malam itu Ara shalat sambil mengadukan kesedihannya pada sang ilahi Rabbi.
Sampai waktu Isya, Sahara masih tetap berada disana. Tidak ada tempat yang lebih menenangkan selain tempat ini, itu yang dirasakan Ara.
Setelah selesai berdoa, gadis itu membenarkan jilbabnya. Membawa koper dan memakai tas ranselnya keluar masjid.
Menunggu taksi yang melintas di halaman masjid beberapa waktu dan akhirnya berhasil mendapatkannya.
.
.
.
.
Dikit aja ya, bingung mau nulis apa lagi. Eh, dapat sedihnya nggak manteman? 😁
Jawab dong, tulis di kolom komentar 😊🙏