
Beberapa hari berlalu, sejak pagi setelah sahur itu. Ara tidak pernah lagi melihat Ye Jun disana. Laki-laki itu ternyata harus segera pulang ke Seol. Mungkin alasan pekerjaan pikir Ara, maklumlah laki-laki itu memang sangat sibuk walau hiatus bernyanyi di panggung.
"Apa kau merindukan Ye Jun, Ra?" tanya Hyun-Shik, melihat Ara yang diam saja. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanan-nya.
"Appa ini bicara apa sih" rengut Ara
"Haha ... Jangan cemberut begitu, kamu itu persis bundamu!" Hyun-Shik menarik hidung Ara
"Ada apa, Nak? Apa yang sedang Ara pikirkan?" tanya laki-laki itu
"Hm ... Sebenarnya waktu itu bu nyai pernah tanya kalau ada laki-laki yang mau menikahi Ara bagaimana? waktu itu Ara bingung mau jawab apa, Pa. Jadi Ara bilang saja. Mana ada yang mau menikahi janda, Nyai. Malah bu Nyai nantangin, kalau ada! Insya Allah nanti setelah mereka pulang dari mudik mereka akan mengenalkan Ara pada laki-laki itu. Laki-laki itu muallaf, sama seperti Ara. Warga negara sini, Pa. Menurut Appa bagaimana?"
"Loh, kok tanya Appa?! Kan yang menjalaninya Ara."
"Appa selalu mendukung apapun keputusan Ara. Lagipun ... Memang sudah saatnya Ara menikah lagi, Nak. Usiamu masih muda. Berlarut-larut dalam kesedihan juga nggak baik kan. Razi sudah tenang disana, dia juga pasti ingin melihatmu bahagia, Nak" ucap Hyun-Shik bijaksana
"Bahkan Appa tau siapa nama suamiku" sergah Ara
Hyun-Shik menarik nafas dalam-dalam. "Semua yang terjadi padamu Appa tau, Nak. Hanya saja Appa tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Hyun-Shik sedih
"Ck! Cinta kalian aneh!" ucap Ara nyengir mengingat wajah bundanya
\=\=\=\=
Perempuan paruhbaya bergamis hitam dengan jilbab peach panjang menyeka airmatanya.
Ini kali kedua dirinya membuka pintu untuk seseorang yang baru saja bergabung menjadi keluarga sesama muslim.
Sudah dua hari ini, beliau memantau kabar suaminya dan seseorang yang ada di depan pintu itu. Salah satu kota di jawa timur menjadi saksi laki-laki berkulit putih bersih itu mengucap dua kalimah syahadat.
"Assalamu'alaikum, Ummi" ucapnya
"Wa'alaikumsalam" jawab wanita itu, airmatanya tumpah juga akhirnya.
"Kenapa Ummi menangis?" peluk Abi
"Ummi bahagia, Abi. Ummi bahagia" ucap wanita itu dalam pelukan Abi
"Ummi ... Kami lapar. Apa nangisnya bisa di pending dulu" ucapan Abi membuat Ummi mendaratkan cubitan di perut laki-laki itu
Ketiganya berjalan menuju dapur, laki-laki berkulit putih itu berjalan paling belakang. Menatap setiap sudut ruangan. Ada sosok yang ia rindukan yang keluar dari kamar di sebelah kanannya saat ini.
"Makan dulu, Nak." panggil Ummi
"I ... Iya, Ummi"
\=\=\=\=
"Apa rencanamu setelah ini, Nak? Apa semua ini karenanya?"
"Sebenarnya sudah 3 tahun terakhir ini saya belajar tentang Islam, Ummi. Kebetulan sekali guru tempat saya belajar kenalan baik Abi. Jadi teman ngobrol tentang Islam saya bertambah. Waktu itu masih ragu-ragu, tapi keragu-raguan saya hilang karena itu juga, Ummi."
"Hm ... Ummi sudah menduganya. Jangan nodai niatmu, Nak" ucap perempuan bermata teduh itu
"Saya tidak ingin memisahkannya lagi dengan siapapun, Ummi. Apalagi dengan Tuhannya. Apa Ye Jun salah?"
"Karena saya, Ga Eun tidak merasakan dibesarkan oleh seorang ayah. Karena saya Bunda menderita terpisah dari suaminya"
"Apakah ini hanya balas budi, Ye Jun? Kau ingin menikahi Ara karena kasihan dengan penderitaannya selama ini?" tatap Ummi haus akan jawaban pasti
"Tidak, Ummi. Ye Jun mencintai Ga Eun, bahkan mungkin saja sebelum Razi mengenalnya" jawaban Ye Jun membuat Ummi tersenyum, ternyata apa yang dikatakan Hyun-Shik padanya benar. Sejak dulu anak dihadapannya ini memang memendam rasa pada anak dari laki-laki yang dia panggil Ayah tersebut.
"Kenapa Ara?" tanya Ummi lagi
"Karena hanya Ara, Mi. Nggak ada alasan lain" jawab laki-laki itu.
Ummi beranjak melipat sajadahnya dan meninggalkan Ye Jun sendirian diruangan shalat itu. Mereka baru saja selesai shalat tarawih. Karena kelelahan Abi tertidur diruangan itu dan membiarkan istrinya dan Ye Jun berbicara.
.
.
.
.
Andaikan biasnya Ye Jun ini benar-benar login gaes ðŸ¤