
Ye jun dan Abi masih asyik mengobrol di ruang tv. Meskipun televisi menyala, tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihatnya. Kedua laki-laki tersebut sedang serius membahas sesuatu.
Sebagai salah satu pengurus lembaga tempat bernaungnya para muallaf, Abi begitu terbiasa dan sangat senang menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Ye Jun.
Pembicaraan mereka terjeda saat ponsel Ye Jun berdering. Laki-laki itu mengangkat telponnya terlebih dahulu agar orang diseberang sana tidak lama menunggu, setelah panggilan tersambung Ye Jun pamit untuk masuk ke dalam kamar, tidak enak rasanya berbicara dengan orang lain sementara Abi berada disana
"Abi ... Saya masuk ke kamar dulu" pamitnya, Abi pun yang sebenarnya mulai mengantuk mematikan televisi, lampu dan memeriksa pintu lalu masuk ke dalam kamar tamu.
Di dalam kamar, Ye Jun sedang mengobrol dengan laki-laki yang selalu ia pikirkan setiap hari.
"Kau tidak ikut pulang bersama Bumi"
"Iya, Aku sangat merindukanmu Ayah" jawab Ye Jun
"Kapan kau pulang?"
"Nanti kalau aku sudah di Korea, aku akan segera menemui, Ayah"
"Baiklah. Jaga kesehatanmu"
"Ayah juga" jawab Ye Jun telepon pun berakhir
Ye Jun membaringkan tubuhnya, menatap sekeliling kamar berwarna toska tersebut.
Meja dengan beberapa buku tersusun rapi disana, Ye Jun yang masih belum mengantuk bangkit dan mendekati meja tersebut, mengambil album foto kecil yang terselip di antara buku-buku.
Ternyata itu berisi foto kebersamaan Razi dengan Ara, beberapa bulan bekerja sama dengan Ara sekalipun Ye Jun tidak pernah melihat Ara tertawa selepas dan secantik yang ada dalam album foto tersebut.
Ye Jun menyentuh gambar itu dengan jemarinya, bibirnya bergetar air mata pun jatuh satu-satu.
\=\=\=\=
"Apa hubunganmu dengan Ye Jun lebih dari sekedar rekan kerja, Nak?" ucap Ummi sambil mengelus kepala Ara mereka yang sudah berbaring ditempat tidur masih terus mengobrol
"Ini adalah pertanyaan yang paling Ara takutkan, Ummi. Aya terlanjur berjanji kepada Ye Jun, nanti saat konser selesai Ara akan membawanya berkeliling. Ara tidak tau Jakarta, Ummi. Yang Ara tau hanya jalan dari kosan ke rumah sakit saja. Jadi ... Ara terpaksa membawa Ye Jun ikut bertemu Abi dan Ummi. Maaf ...."
"Kenapa harus minta maaf, Nak. Ummi tidak masalah. Bahkan Ummi senang kalau ada laki-laki yang menjaga Ara"
"Ara bisa menjaga diri Ara sendiri, Ummi."
"Iya ... Ummi tau, Ara anak Ummi yang hebat! Tapi Ara, Jangan berhenti disini, Sayang. Kamu masih muda, usia mu masih produktif. Yang lalu semuanya jadikan pelajaran. Ambil semua yang baik tinggalkan yang buruk. Lanjutkan hidupmu. Menikahlah lagi, Nak. Razi juga tidak akan mau jika orang yang dia cintai berhenti disini" Ummi membenarkan posisinya, benar-benar miring menghadap Ara
"Ummi ... Ara hanya ingin bersama Abang di surga"
"Hm ... Untuk hal ini, Ummi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi ... Seandainya rasa itu hadir lagi untuk orang lain selain Razi, jangan menampiknya, Nak. Perasaan itu Allah yang hadirkan. Soal bertemu atau tidak di surganya Allah, itu hak prerogatif-Nya. Yang jelas saat di surga-Nya nanti tidak ada sesuatu yang tidak adil, hanya kebahagiaan yang ada di dalamnya"
"Tidur lah, Nak. Besok kalian akan berkeliling Jogja kan?" tanya Ummi yang kini sudah berbaring menatap langit-langit kamar
"Iya, Ummi." jawab Ara yang sudah mulai mengantuk
"Ara ...." panggil Ummi lagi
"Ya, Mi ...."
"Nanti kalau kalian berjodoh, Ummi harap jangan sampai Ara yang mengatakan Ye Jun marry Me ya, Nak" ucap Ummi
"Aaaa ... Ummi" Ara memeluk tubuh langsing tersebut, kantuk Ummi terasa hilang. Dia geli sendiri dengan pikiran yang barusan di utarakannya
\=\=\=\=
Waktu sudah lewat tengah malam, lampu kamar yang ditempati Ye Jun masih menyala. Laki-laki itu masih belum tidur, matanya terus saja menatap layar handphonenya, menunggu pesan singkat yang ia kirimkan terbalas.
Sepertinya sudah terjadi percakapan panjang disana melihat dari panjangnya percakapan di aplikasi hijau tersebut.
Akhirnya Ye Jun tersenyum lega dengan kata 'Yes' yang di ucapkannya berulang-ulang kali.
Ye Jun mengetik kata terimakasih dengan bahasa nya dan mengirimkan kepada seseorang disana dengan foto profil bayi cantik.
Akhirnya Ye Jun menghempaskan tubuhnya setelah mematikan lampu kamar itu. Beberapa detik kemudian suara nafas sudah teratur pertanda Ye jun sudah berangkat ke alam mimpi.
.
.
.
.
Happy reading, tolong tinggalkan komentar kalian dan berikan penilaian tentang tulisan ini, Maaf jika ada diantara pembaca adalah Army, yang tidak suka kalau Si "Mas" aku jadikan penasaran dengan kepercayaan ku. Tapi semoga saja ya ...😊🙏