You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Ummi tau siapa kamu!



Sahara dan Ye Jun berjalan dengan menarik koper masing-masing. Sahara berjalan lebih di depan beberapa langkah.


"Ye Jun-a, apa kau tidak keberatan menunggu ku beberapa menit?" tanya Ara


"Kau mau shalat?" Ye Jun seolah sudah hapal dengan jadwal ibadah Ara, gadis itu mengangguk


"Eh ... Tapi sepertinya kau melewatkan satu shalat kan? Tadi di kereta kau sepertinya tidak mengerjakannya!" tanya laki-laki itu


Sahara tersenyum, "Ya ... Aku belum shalat Dzuhur karena itu aku akan menjama' nya"


"Jama'?"


"Hm ... Nanti aku jelaskan" Ara berjalan cepat menarik kopernya menuju mushalla. Ye Jun mengikuti dari belakang.


\=\=\=\=


Dua perempuan beda generasi itu saling berpelukan. Kerinduan begitu terlihat dari keduanya. Perempuan bergamis dengan tubuh mungil itu bahkan menangis.


"Ummi sangat merindukanmu, Nak" ucapnya


"Ara juga, Ummi" ucap Ara,


Sementara Ye Jun baru saja menghampiri mereka dengan menyeret dua koper miliknya dan juga milik Ara.


"Assalamu'alaikum!" ucap Ye Jun,


"Wa'alaikumul Hidayah .... Silahkan masuk, Nak" jawab Ummi menatap Ye Jun dengan tatapan teduh penuh kasih sayang


Ye Jun yang baru saja mendengar kata-kata baru itu seolah sedang melafalkan kata-kata yang baru saja ia dengar.


"Salam adalah doa, dan penghormatan seorang muslim dengan muslim lainnya. Saling mendoakan. Sedangkan yang Ummi jawab tadi adalah doa untuk keselamatanmu dengan memberikanmu hidayah agar kami bisa menjawab salammu dengan jawaban sesama muslim" Jelas Ummi, penjelasan itu dimengerti oleh Ye Jun. Bahkan sangat mengerti


Ummi yang fasih berbahasa Korea itu mengerti kenapa Ye Jun memberikan tatapan heran seperti itu.


"Ummi dan ibu Ara ... Ga Eun bersahabat. Ummi belajat banyak dari beliau termasuk bahasa Korea" jelas Ummi pula


"Ya sudah ayo kita masuk. Kalian pasti capek! Ra ... Hantarkan Ye Jun ke kamar kalian ya" ucap Ummi


"Kenapa tidak dikamar tamu saja, Ummi?" tanya Ara tidak terima


"Kakak mu kemarin datang, banyak barang yang ia beli untuk usahanya dan dia meletakkan barang-barang itu di kamar. Ara tidur dengan Ummi saja" jelas Ummi


"Kapan kakak kesini lagi? Apakah dalam waktu dekat?"


"Ummi juga tidak tau, dia kan datang tidak pernah kasi tau Umminya dulu. Kau seperti tidak tau kakak mu saja"


"Sudah sana, antarkan dulu! Sepertinya dia sangat-sangat mengantuk" lirik Ummi pada Ye Jun yang sedang mencermati kediaman Ummi yang asri


"Mengantuk apanya, sepanjang perjalanan dia tidur, Mi. Sampai naik taksi kesini juga tetap tidur" bisik Ara


"Kan dia memang begitu, kalau sedang libur dia akan menghabiskan waktunya untuk tidur dan beberapa persen saja untuk bergerak dan bertahan hidup!" ucap Ummi


"Apa? Ummi juga bagian dari Ye Jun marry Me" tanya Ara terkejut, membuat wanita paruhbaya dihadapannya tertawa


"Ummi harus tau dengan siapa anak ummi bekerja" jawab Ummi berlalu pergi


"Setelah shalat, Ummi tunggu di meja makan ya, Nak." ucap Ummi meninggalkan Ye Jun dan Ara di ruang tamu


Ara melangkahkan kakinya menuju kamar yang dulu ia tempati dengan Razi, rasanya ia ingin masuk ke kamar itu memutar kembali memori indahnya. Namun, tidak mungkin. Karena Ye Jun akan menempati kamar itu


"Ini kamarnya. Istirahatlah ... Nanti jam tujuh lima belas kita makan malam" Ara melihat jam dipergelangan tangannya


"Yes, makan!" ucap Ye Jun sangat gembira, membuka pintu kamar dan menghilang dibalik pintu yang sudah menutup


\=\=\=\=


Sahara berjalan menuju asal suara, suara itu begitu menenangkan. Ara merebahkan tubuhnya dipangkuan Ummi yang sedang membaca al-qur'an.


Ummi mengusap puncak kepala Ara yang terbalut hijab instan sambil meneruskan bacaannya.


Ara memeluk kaki Ummi sesenggukan


"Kenapa, Nak?" tanya Ummi setelah meletakkan mushab itu ke rak disebelahnya, membelai Ara dengan tangannya yang halus


"Tidak apa-apa, Ummi. Ara hanya rindu dengan Abang" ucap gadis itu


"Ummi juga sangat merindukan Razi. Dia pasti sudah tenang disana, jadi jangan menangis lagi" Ummi mengusap airmata Ara


"Iya, Ummi. Gurun pasir kesayangan abang tidak akan banjir lagi. Ia akan kembali gersang seperti ke inginan nya" jawab Ara menunduk


"Hey ... Bukan itu! Razi suka dengan kata Sahara karena dia sangat salut dengan keadaan mu. Kau dapat bertahan hidup sendirian tanpa orangtua, tidak mau menyusahkan orang lain dan kau hidup layak seperti mereka yang memiliki keluarga lengkap. Kau seperti spesies yang bertahan di gurun yang sangat panas, kau bertahan tanpa kehausan seperti unta yang berjalan mengelilingi gurun tanpa minum" jelas Ummi


Flashback


Razi memarkirkan motornya di halaman rumah. Berlari mengucap salam. Ga Eun mengikutinya.


"Assalamu'alaikum, Ummi ... Abi" Razi menggerakkan handle pintu yang ternyata di kunci dari dalam


"Wa'alaikumsalam!" Ummi berlari kecil dari arah dapur.


"Kalian sudah sampai? Mana anak Ummi?" tanya perempuan itu melihat Razi yang sengaja menutupi Ga Eun


"Sahara disini, Ummi" Razi menggeser tubuhnya, menampakkan Ga Eun yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan


"Sahara? Ya ... Ummi suka nama itu! Ga Eun bagaimana?" tanya Ummi memegang kedua bahu Ga Eun


"Iya, Ummi. Sahara" Ga Eun memeluk Ummi, matanya melihat ke arah Razi yang menunduk dengan pipi merona


\=\=\=\=\=


Satu persatu foto berbingkai yang menempel di dinding dan yang berdiri diatas meja dalam kamar itu dilihat dengan cermat oleh si pemilik bola mata coklat ke emasan.


Tanpa melewatkan satu pun. Wajahnya datar menatap foto sepasang kekasih halal itu. Keduanya terlihat sangat bahagia di tandai dengan senyum yang mengembang dari keduanya.


Perutnya yang keroncongan membuat laki-laki melihat jam di ponselnya.


"Tujuh sepuluh! Ah ... Lebih cepat lima menit kan lebih bagus" pikirnya, Ye Jun pun keluar dari kamar tersebut


Suara orang berbicara membuatnya tertarik untuk mendekat, Ye Jun begitu iba melihat Ara yang tersenyum tapi airmatanya terus berjatuhan.


"Aku tidak suka melihat mu menangis, Ga Eun!" ucapnya dalam hati, lalu meninggalkan ruangan shalat itu menuju dapur. Ye Jun menuang segelas air dan duduk disana seorang diri.


"Kau sudah lapar, Ye Jun?" tanya Ara terkejut melihat laki-laki itu sudah berada di dapur


"Kalau sudah lapar, makan duluan juga boleh kok, Nak. Makanan sudah siap kok!" Ummi membuka tudung saji di meja makan tersebut.


"Ye Jun sudah pernah makan gudeg?" tanya wanita itu, disusul gelengan Ye Jun.


"Ini namanya gudeg. Gudeg itu ...." Ummi menjelaskan makanan tradisional tersebut, Ara diam saja mendengarkan.


"Oh ... Iya, Ummi lupa. Tadi Abi mu bilang pengen makan kerupuk. Ummi beli dulu sebentar ya, kebetulan stok dirumah habis" jelas Ummi


"Di warung depan, Mi? Biar Ara saja yang beli. Ummi makanlah dulu. Ummi juga baru minum saja setelah berbuka tadi kan?"


"Terimakasih, Nak. Apa tidak merepotkan?"


"Ummi menganggapku seperti orang lain saja" ucap Ara cemberut


"Bukan seperti itu. Ya sudah beli sekarang. Nanti Abi-mu keburu pulang"


"Iya, Ara pergi dulu. Hey ... Tuan Ye Jun, jangan kau habiskan makanan ini ya. Aku juga kangen gudeg buatan Ummi!" ucap Ara menatap Ye Jun dengan berkacak pinggang


"Hah! Sudah kau pergi saja sana!" ucap Ye Jun kesal


Ara pun pergi dengan berjalan kaki, warungnya tidak terlalu jauh hanya terletak di sudut jalan perumahan tersebut.


Sepeninggal Ara, Ummi tampak bercakap-cakap dengan laki-laki itu. Suasana berubah serius saat pertanyaan yang terlontar dari bibir Ummi membuat Ye Jun menghentikan makannya.


"Ummi tau siapa kamu! Apa kau tidak mau berterus terang pada Ara?"


"Jangan sampai ia mengetahui ini dari orang lain! Ummi takut, dia salah paham. Ara susah mempercayai seseorang, kau tau apa sebabnya kan?!" ucap Ummi


Ye Jun hanya diam, selera makannya hilang. Mungkin ini semua ada hubungannya dengan laki-laki yang selalu ia sebut ayah


.


.


.


.


Happy reading 😊🙏