
"Kenapa aku jadi menunggu-nunggu kedatangannya ya ...." Ara menepuk jidatnya sendiri,
"Nyamuk, Ra?" tanya laki-laki berapron hitam yang berjarak beberapa meter dari nya
"Hm ... Iya nih. Kenapa ada nyamuk ya" ucap gadis itu mengayunkan tangan kanannya kesana kemari seolah benar-benar mengusir nyamuk
Hyun-Shik kembali pada aktifitasnya, Ara juga. Namun baru saja gadis itu ingin mulai bermain dengan aneka bawang, ponselnya berdering.
"Ummi, Vc!" Ara senyum kegirangan,
"Assalamu'alaikum, Ummi ... Abi" ucap gadis itu menyapa, ternyata Ummi dan Abi berkumpul satu prame di layar itu
"Wa'alaikumsalam. Anak Ummi lagi apa? Di dapur ya?" mata Ummi fokus melihat kain membentuk tali yang menyilang dileher gadis itu
"Iya, Mi. Ara lagi bantuin Appa" jawab Ara,
Mata Ara menatap layar pipih ditangannya itu tajam, memperhatikan baground tempat orangtua keduanya itu, sepertinya Ara mengenal tempat tersebut.
"Ummi! Apa Ummi di Inceon?!!" tanya Ara antusias, dia ingin memastikan ingatannya masih kuat
"Haha ... Kau hapal tempat ini ya" suara Abi tertawa, sementara Ummi seperti mencubit suaminya yang keceplosan itu
"Hm ... Padahal Ummi mau kasi surprise! Nggak seru ah ... Ara" cebik perempuan paruhbaya baya itu manja
"Ye! Ummi dan Abi mau kesini! Maasya Allah. Ara jemput ya, Mi ... Bi" Ara cepat-cepat melepas apronnya. Hyun-Shik mendekat melihat layar ponsel Ara dan tersenyum kepada sepasang suami istri itu
"Kalian sudah sampai" ucapnya, Ara menatap Hyun-Shik dengan mata membulat
"Appa tau?!!"
\=\=\=\=\=
Ara sudah selesai mandi, kamar nya juga sudah ia bersihkan dan terlihat lebih rapi.
Ara memakain pakaian yang diberikan Ummi melalui Ye Jun tempo hari. Seseorang pasti akan sangat bahagia, jika sesuatu yang ia berikan dengan seseorang dipakai saat mereka bertemu.
Gamis berwarna sage dengan kerudung pashmina berwarna peach membalut tubuh gadis itu, cantik.
Ara memutar badannya, melihat kesempurnaan ciptaan Tuhan yang terpantul dalam cermin dihadapannya itu. Terakhir, Ara menyemprotkan parfum.
"Ara! Cepat turun, Ummi dan Abi mu sudah sampai!" suara Hyun-Shik dari bawah tangga
"Ya, Pa!" jawab Ara, gadis itu sangat kesenangan membuka pintu kamar dan berlari menuruni anak tangga.
"Ara!!!" jerit Hyun-Shik panik. Gamis tersetimpet gamisnya sendiri lalu jatuh menggelinding seperti bola
Hyun-Shik menangkap tubuh langsing itu. Kerudungnya yang tadi rapi kini agak morat-marit.
"Kenapa lari-larian, Nak. Coba luruskan kakinya" Hyun-Shik benar-benar khawatir, memeriksa keadaan Ara
Bukannya mengaduh kesakitan gadis itu malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Malah ketawa sih! Kamu nggak apa-apa, Nak. Nggak ada yang sakit? Kepalanya? Kakinya?" tanya chef itu masih panik
"Haha ... Nggak apa-apa, Appa! Pinggang Ara sedikit ...." gadis itu memegang pinggangnya, belum selesai berbicara tubuh langsing itu terangkat. Mata Ara membelalak saat badannya terasa ringan seperti terbang. Laki-laki yang entah darimana datangnya menggendongnya. Wajahnya tampak sangat khawatir persisi seperti Appanya tadi.
Hyun-Shik berlari mengimbangi Ye Jun, membenarkan sofa meletakkan bantal disudutnya. Ye Jun membaringkan Ara disana.
"Jatuh dari tangga, Yah?" Ye Jun menebak apa yang baru saja terjadi, bertanya pada Hyun-Shik. Laki-laki itu mengangguk. Dua orang lagi dibelakang mereka juga menyaksikan itu
"Seperti anak kecil saja! Mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap laki-laki itu
"Aku nggak apa-apa, Njun!" jawab Ara melipat kakinya bersila, membenarkan posisi duduk.
"Ummi! Abi!" jerit Ara kesenangan ingin bangun, tapi nyeri dicampur ngilu membuat gadis itu meringis
"Tu kan!!!" Ye Jun melotot
"Sayanngnya Ummi!" Ummi mendekat dan memeluk Ara, gadis itu menagis ... Sesenggukan dalam pelukan wanita itu. Menambah panik tiga laki-laki yang ada disana
"Loh ... Kok nangis. Mananya yang sakit, Nak?" Ummi juga ikut panik jadinya
"Nggak ada, Mi. Ara hanya rindu Ummi dan Abi" jawab Ara sempat mengangkat wajahnya namun kembali membenamkannya dalam pelukan Ummi.
"Dasar cengeng!" Abi membelai kepala Ara
\=\=\=\=
Semua makanan yang sudah disiapkan Hyun-Shik yang dibantu karyawan restoran yang sudah tertata rapi dimeja, di pindahkan ke ruangan tersebut.
Ara diperlakuakan seperti orang yang sakit, dia tidak boleh turun dari kursi panjang yang empuk itu. Bantal juga masih mengganjal punggungnya.
"Aaa!" Ye Jun sudah siap dengan sendok yang penuh berisi makanan.
"Aku bisa makan sendiri!" rengek Ara, malu diperlakuakan seperti itu oleh Ye Jun apalagi ada Ummi dan Abi disana. Kedua orangtua itu malah mendukung Ye Jun dan tidak berhenti tersenyum melihat mereka yang selalu beradu mulut
"Kita ke rumah sakit?" kata-kata Ye Jun itu seperti ancaman untuk Ara, dengan malas ia melahap makanan di hadapannya itu.
"Hm ... Pinter" ucap Ye Jun dengan gummy smile ciri khasnya.
"Ya Allah, kenapa senyumnya menggemaskan sekali. Karung mana karung!" Ara membatin
"Sepertinya kita benar-benar tenang ya, Bi. Sekarang Ara udah ada yang jagain sampai se-protektif itu lagi! Iya kan, Chef!" ucap Ummi bicara pada kedua laki-laki dikanan dan kirinya. Mereka bertiga sudah selesai makan.
Pipi Ye Jun merah, bahkan telinga laki-laki itu pun tampak berwarna sama.
"Hey! Kenapa pipi mu merah begitu?" tanya Ara
"Nggak usah menunggu lagi, Nak. Sepertinya ini waktunya" ucap Abi
Ye Jun memberikan Ara segelas air. Lalu laki-laki itu meletakkan piring diatas meja. Mengambil sesuatu di dalam tas selempang yang ternyata masih ia pakai namun dipusing ke belakang.
"Ayah ... Hari ini Ye Jun datang ingin menikahi putri ayah. Apakah Ayah mengizinkan Ga Eun menjadi istri Ye Jun?" ucap laki-laki itu berkaca-kaca. Menatap mata orangtua yang membesarkannya sendirian itu.
Hyun-Shik tersenyum meski airmatanya mulai menganak sungai.
"Sepertinya Ummi dan Abi Ara yang berhak menjawabnya, Nak. Bukan ayah" ucap laki-laki itu sadar diri. Rasa sedihnya semakin menjadi-jadi. Laki-laki teringat tentang dia yang bukan ayah yang baik untuk Ara.
"Bagaimanapun juga chef adalah orangtua kandung Ara. Chef lebih berhak atas Ara, bukan kami. Kami hanya hamba Allah yang diberikan kepercayaan menjaga Ara beberapa tahun terakhir sebelum dia kembali ke Chef" Abi membesarkan hati laki-laki yang pernah menjadi guru istrinya itu
"Iya, Chef. Tidak mungkin Ga Eun hadir di dunia ini kalau bukan karena ayah dan bundanya" Ummi ikut berkomentar, sementara Ara sangat sedih melihat ekspresi Appa.
Gadis itu menyeka airmatanya, menatap Ye Jun sekilas lalu menundukkan pandangannya.
"Oppa ... Kenapa aku? Aku ini seorang janda. Oppa bisa mendapatkan yang jauh lebih baik"
"Aku ingin kita sama-sama mengenal Tuhan. Kata Ummi kita ini istimewa, karena kita lebih dulu mengenali Tuhan baru menyembahnya
Aku ingin bersama-sama dengan mu menuju surga-Nya. Bantu aku agar tetap istiqomah menjaga ke imanan ku. Tidak ada orang lain lagi yang bisa melakukan ini selain kau, Ga Eun.
Ga Eun! You will marry me?!!" Ye Jun meletakkan kotak beludru hijau toska yang terbuka menampilkan sebuah cincin di dalamnya diatas bantal yang ada dipangkuan Ara.
"Loh kok begitu?" Abi merusak suasana menegangkan namun romantis itu
"Haha ... Nanti kita tanya apa alasan Ye Jun berkata kebalin begitu" ucap Ummi
"Jawab, Nak. Jangan buat Ye Jun menunggu lama" bujuk Ummi
Ara memejamkan matanya, teringat lamaran seseorang yang dulu pernah ia tangguhkan karena merasa belum sempurna untuk laki-laki itu. Tapi penyesalan timbul di akhirnya.
Airmata Ara kembali jatuh, gadis itu mengambil kotak beludru menutupnya. Menyeka airmata dan tersenyum.
Ye Jun mulai gundah, Ara menutup kotak cincin yang ia berikan. Mungkinkah ini artinya Ara menolaknya?
"Bismillahirrohmanirrohim. Ga Eun mau, Njun memakaikan ini setelah kita halal nanti" ucap Ara tersipu
"Apa? Maksudnya aku ... Ha? benarkah?" Ye jun tidak percaya matanya berkaca-kaca menatap setiap wajah yang ada disana dan berhenti disatu titik si pemilik mata coklat
"Alhamdulillah ... Allahu akbar"
.
.
.
.
Waaaa ....🥰🥰🥰🥰🥰