
Lebih kurang 40 kilometer jarak yang akan mereka tempuh. Mobil putih tersebut menerobos hujan yang semakin deras. Ara melihat keluar jendela mobil beberapa kendaraan melintas, bahkan ada beberapa pemotor yang berkendaraan di derasnya hujan
Sekilas bayangan masa lalu terputar di ingatan Ara, raut wajahnya berubah sedih. Ara menyandarkan tubuhnya tidak ingin melihat keluar lagi.
"Kenapa?" Ye Jun ternyata menangkap gelagat Ara yang berubah.
"Tidak apa-apa" jawab Ara menunduk, secepat mungkin airmata yang menetes ia hapus dengan ujung lengan baju
"Kau menangis, Ara?" Ye Jun kini menghadap Ara, posisi kursi mobil yang sejajar itu membuat Ye Jun mudah melihat Ara dengan jelas
"Aku hanya teringat sesuatu" jawab Ara tanpa melihat Ye Jun
"Kau mengingat Razi? Fakhrur Razi?" Ye Jun mengucapkan nama seseorang yang pernah Ara cintai dengan fasih
"Kau juga tau tentang Razi, suamiku?" Ara menatap Ye Jun, pertanyaan yang selalu ada dalam benaknya tentang pengetahuan Ye Jun mengenai dirinya akhirnya ia utarakan juga
"Tentang Razi aku tidak pernah menceritakannya detail kepada Jeny. Bahkan Jeny tidak tau nama lengkapnya."
"Tentu saja aku tau. Namanya tertera jelas pada piagam penghargaan yang ada di dinding kamar. Nama kalian berdua juga ada dalam surat undangan pernikahan yang juga ada di dinding!" jelas Ye Jun, penjelasan itu membuat Ara merasa malu sendiri
Tentu saja Ye Jun mengetahuinya, bagaimana tidak. Laki-laki itu menginap di rumah orangtua Razi, pun tidur di kamar beliau.
"Oh ... Aku pikir kau ...."
"Kau bukan selebrity, bagaimana aku tau semua tentangmu. Ada-ada saja .... Menjadi artislah agar semua tentangmu bisa ku ketahui dengan membaca artikel saja." ucap Ye Jun sembarangan
"Ih ... Ogah!"
"Pak! Kita berhenti di depan sebentar ya!" perintah Ara pada sopir. Laki-laki berseragam itu pun menurut
Ara turun setelah sampai ke tempat yang ia maksudkan.
"Jangan banyak tanya! Duduk diam saja disini. Aku hanya sebentar! Pinjam!" ucap Ara pada Ye Jun, memerintah laki-laki itu seperti seorang guru yang memberikan ultimatum pada muridnya. Ara membawa jaket yang tadi Ye Jun gunakan untuk melindungi Ara dari hujan
Hanya lima belas menit Ara sudah kembalu kedalam mobil.
"Apa itu?" tanya Ye Jun melihat tas Ara semakin bertambah besar setelah kembali dari sana, sepertinya gadis itu membeli sesuatu
"Kepo!"
Ara yang tidak mau memberitahu Ye Jun membuat laki-laki itu mencari jawaban sendiri.
Derasnya hujan dan tempat yang asing membuat Ye Jun tidak bisa memastikan kemana tujuan Ara tadi.
"Dia ke toko buah atau apotek sih?" ucapnya dalam hati, mobil pun kembali melaju
\=\=\=\=
Sahara Ga Eun berjalan lunglai, hujan sudah reda namun sisa hawa dingin tentu masih terasa.
"Aaa ... Dingin juga ya. Jaketku basah lagi!" Ye Jun menyatukan kedua telapak tangannya, menggerakkan kencang agar terjadi gesekan yang menimbulkan rasa hangat
Ye Jun memeluk tubuhnya yang hanya menggunakan kaos putih berlengan pendek.
"Kita nggak usah naik ya, Ye Jun. Dipelataran saja" ucap Ara penuh harap, pasti kalian tau apa alasannya kan?
"Apa? Di pelataran saja? Untuk apa aku datang kesini jauh-jauh! Melihat fotonya di internet saja bisa." Jawab Ye Jun ngegas
"Tenang! Hari ini aku membayarmu sebagai tour guide" jawab Ye Jun dengan senyum sombong
"Alhamdulillah ... Baik kalau begitu. Bapak Ye Jun kita ke atas sekarang?" ucap Ara yang kini bersemangat
"Ayo!" jawab Ye Jun ikut semangat.
Mereka berduapun mulai menapaki situs bersejarah yang menjadi salah satu ke ajaiban dunia tersebut.
\=\=\=\=
Ye Jun memberikan ponselnya pada Ara, berpose manis bak kucing dengan menamakkan senyum khasnya.
"Omoo ... Aku tampan dari segi manapun" ucapnya setelah Ara memberikan ponselnya
Ara menatap laki-laki itu dengan bergidik,
"Ah ... Kau ini! Senyum sedikit kenapa!" ucap Ye Jun melihat hasil foto yang baru saja ia tangkap
"Ber ekspresi dong, Ra." ucap Ye Jun lagi, Ara hanya diam. Gadis itu melihat sekeliling
"Sahara Ga Eun! Will you marry me?!" ucap Ye Jun dengan posisi kamera ponsel yang masih standbye
"Ha?" Ara terkejut bercampur heran, ekspresinya mungkin akan membuat semua orang tertawa melihatnya
"Hahaha ... Lucu sekali ekspresimu. Hahaha" Ye Jun memegangi tertawa sampai memegangi perutnya
"Hahaha ... Kau pikir aku fansmu? Tidak mungkin tuan Ye Jun. Kau terlalu putih!" jawab Ara sarkas. Ye Jun terdiam
"Ayo kita turun, aku lapar!" ucap Ara berjalan mendahului Ye Jun
"Bolehkah kita makan disini? Aku tidak mau turun cepat-cepat. Kakiku pegal" rengek Ye Jun
"Mana boleh! Nanti kita kena sanksi tempat ini terjaga jangan sampai kotor" jawab Ara
"Ya jangan mengotorinya." jawab Ye Jun sekenanya
"Ayo sini! Aku juga sudah sangat ingin memakan nasi goreng kecombrang itu lagi!" Ye Jun duduk melantai
"Enak saja kau! Ini punya ku. Kau makan ini saja!" Ara memberikan plastik kresek hitam berisi jeruk
"Wah ... Jeruk!" Ye Jun tampak sangat gembira mendapatkannya
"Alhamdulillah ... Untung aku punya ide itu! Kau cerdas Ara!" ucap Ara sendiri pada dirinya
Sambil makan mereka pun mulai bercerita, tepatnya Ye Jun yang memberikan pertanyaan. Ara menjawab pertanyaan Ye Jun dengan senang hati. Laki-laki itu ternyata sudah banyak tau dan sepertinya terus mencari tau sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan yang di anut Ara.
Sampai pada pertanyaan yang membuat Ara menghentikan makannya.
"Razi meninggal saat pernikahan kami baru berumur dua bulan. Kecelakaan! Waktu itu hari hujan, seperti hari ini. Perjalanan pulang dari mengikuti pengajian di muallaf centre, aku memang sering disana. Aku terus belajar setelah aku mengucap syahadat.
Razi menjemputku setelah dia pulang kerja. Mungkin lelah atau ... Haaah, sudah takdir Allah. Motor kami di tabrak mobil, kata orang-orang pengemudinya sedang bertengkar.
Alhamdulillah, aku hanya luka ringan. Sedangkan abang ... Abang mengalami patah tulang kaki dan terjadi pembekuan darah di otak" Air mata Ara mulai jatuh satu-satu
"Kami di rujuk ke rumah sakit di Jakarta. Berharap semoga dengan penanganan yang lebih baik dan lengkap, Abang segera sembuh. Tapi ... Qadarullah, Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya. Allah sudah menempahku dengan kesakitan dicampakkan oleh Ayah ditinggal Ibu, dan juga di tinggalkan suami.
Mungkin aku adalah salah satu orang yang paling kuat dan istimewa, Karena itu cobaan ku sesakit ini, Ye Jun" Ara menatap Ye Jun dengan senyum penuh ke ikhlasan
"Allah itu maha pencemburu. Mungkin aku mencintai Razi melebihi cintaku kepada Allah" ucap Ara lagi
"Kau tidak marah pada takdir mu?"
"Kalau aku marah apa semuanya bisa kembali seperti semula?"
"Mmm ... Tidak mungkin"
"Aku ikhlas dengan takdir ini, Jun."
"Lalu bagaimana dengan ... Appa?" Ye Jun agak menjeda pertanyaannya, berhati-hati sekali menyebut kata ayah
"Kenapa kau masih tidak bisa memaafkannya? Bukankah itu bagian dari takdir Tuhanmu?"
Ara menghembuskan nafasnya kasar, sadar bahwa memang ikhlas itu tidak mudah.
"Entahlah, Njun. Aku terus mencobanya tapi hatiku masih belum bisa memaafkannya"
.
.
.
.
Ara ... Njun, jangan buat sampah disana ya 😁