
Fakhrur Razi, nama itu terpahat pada nisan yang menyatu dengan bagian lainnya yang membentuk persegi panjang. Pada bagian tanah yang agak menggunduk tumbuh rumput hijau. Tangan lentik Ara menaburkan aneka warna bunga diatasnya, bibirnya terus mengucap dzikir dan doa memohon ampunan untuk nama yang selalu ada dalam hatinya.
"Kalau waktu bisa diputar, Ara pasti langsung mengiyakan ajakan abang untuk menikah waktu itu, Ummi. Setidaknya waktu bahagia akan lebih panjang" ucap Ara menyandarkan tubuhnya pada ibu mertua yang menemaninya ziarah kubur hari ini.
Waktu itu, saat Ga Eun tiba bersama Razi di rumahnya, Ummi dan Abi menyambutnya dengan rasa sukur yang teramat sangat.
"Alhamdulillah, mari kita sama-sama terus belajar, Nak. Ini awal untuk mu, perkuat pondasinya. Kita ini istimewa ... Karena kita lebih dulu mengenal Allah baru kemudian menyembahnya" ucap Ummi memberikan beberapa kalimat yang menambah semangat pada Ga Eun. Ummi juga pernah ada pada posisi itu dulu
"Iya, Ummi. Saya akan terus belajar, mohon bimbingannya" jawab Ara masih dalam pelukan Ummi
"Ehem ...." Razi berdehem merasa mereka berdua tidak menyadari keberadaan laki-laki bertampang raja Arab tersebut.
"Oh ... Iya. Ga Eun, Razi ingin mengatakan sesuatu. Ayo kita duduk dulu" Ummi teringat sesuatu, melepas pelukannya dan menggiring anak temannya itu ke ruangan yang sudah mereka siapkan dengan aneka makanan untuk makan malam itu
Semuanya sudah berkumpul, bukan hanya ada Abi dan Ummi kakak laki-laki Razi juga ada disana. Suasana hening.
"Ga Eun, biasanya seseorang yang baru masuk islam diberikan nama baru ... Bolehkah abang yang memberikan mu nama baru itu?" ucap Razi dengan suara lantang dan penuh karisma
Ga Eun dan Razi memang sudah sangat akrab bahkan seperti kakak adik, sejak Ara datang di kehidupan mereka Razi memperlakukan Ga Eun dengan sangat baik dan penuh kasih. Mungkin karena dia memang menginginkan seorang adik dari dulu.
"Iya, boleh. Tapi jangan berikan Ga Eun nama yang susah disebut ya, Bang. Ga Eun masih belum bisa ngaji" jawab Ga Eun polos, semuanya tersenyum
"Sahara ... Sahara Ga Eun atau Ga Eun sahara." ucap Razi, Ga Eun tersenyum setuju tanpa ingin tau apa arti atau pun alasan Razi memberikan nama itu
"Alhamdulillah, jadi hari ini ... nama mu bertambah, Nak. Kau masih boleh menjadi Ga Eun tapi akan ada yang berubah dalam tata cara hidupmu yang baru sekarang" ucap Abi penuh wibawa
"Iya, Abi." jawab Sahara Ga Eun paham
"Ada lagi, Zi? Ada lagi yang ingin disampaikan kali aja ada yang penting. Kalau nggak ada laper ni" celetuk kakak Razi
"Hm ... Ara" laki-laki itu memberikan nama panggilan baru pada Ga Eun
"Kalau Ara bersedia, mau kah Ara abang nikahi? Kita akan sama-sama belajar untuk menjadi muslim yang baik. Abang akan berusaha menjadi imam terbaik untuk Ara" ucap Razi penuh harap, manik matanya berbinar.
Jantung Ara berdetak cepat, sama sekali tidak pernah terlintas dipikirannya untuk kejadian ini. Gadis itu diam terpaku, menatap setiap mata disana yang semuanya tersenyum memancarkan rasa sayang yang tulus
"Maaf kan, Ara. Bukannya Ara nggak mau menerima abang. Ara sangat bahagia, bahagia sekali. Ummi, Abi, kakak dan abang sangat baik pada Ara. Rasanya tidak pantas Ara menolak ini. Tapi ...." Ara menunduk
"Jangan menerimanya karena kau merasa terutang budi, Nak." ucap Abi
"Iya, Sayang. Walaupun Ara tidak bersedia, Ara tetap anak Ummi. Jangan bebani pikiranmu, sayang." Ummi memegang tangan Ara yang gemetar
"Ara merasa tidak pantas menjadi istri abang saat ini. Abang terlalu sempurna untuk Ara. Abang seharusnya mendapatkan istri yang solehah, yang menutup auratnya yang berpengetahuan luas seperti abang. Ara bukan apa-apa, Bang ...." Ara meneteskan airmata merasa sangat rendah diri
"Abang akan menunggu sampai Ara merasa pantas! Berapapun lamanya" ucap Razi
***
"Semua sudah terjadi, Sayang. Jangan pernah menyalahkan takdir atau meminta sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Allah sudah mengatur segalanya, ini yang terbaik untuk kita, Nak" peluk Ummi
\=\=\=\=\=
Wajah itu masih tampak lelah, dua belas jam terbang ditambah satu jam lagi dari Incheon ke rumah sakit, Ye Jun akhirnya kini berada didepan pintu vvip.
Ye Jun menyentuh knop pintu dan berlari memeluk tubuh kurus yang terbaring diranjang rumah sakit.
Ye Jun menangis sesenggukan seperti anak kecil.
"Ye Jun. Kenapa kau menangis?" laki-laki paruhbaya tersebut menepuk-nepuk pundak Ye Jun
"Aku kan sudah bilang, Paman. Jangan bekerja terlalu lelah" ucap Ye Jun menatap laki-laki itu. Dia duduk disisi ranjang
"Hey ... Kalau aku tidak bekerja jadi aku harus apa? Mau jadi asistenmu nanti Bumi akan menjadi pengangguran" ucapnya membuat Bumi yang sedari tadi hanya diam menyaksikan drama bapak dan anak itu tertawa
Ye Jun kembali memeluk laki-laki itu.
"Tinggallah bersama ku, Ayah. Restorannya biar orang kepercayaanmu saja yang menjalankannya. Saatnya kau menikmati hari tuamu" oceh Ye Jun
Mata laki-laki itu mulai berkaca-kaca, mendengar Ye Jun menyebutnya dengan sebutan Ayah lagi.
"Ya ... Ye Jun, aku ayahmu. Aku sangat merindukan panggilan itu. Kau anakku, Ye Jun" laki-laki itu sesenggukan.
Ye Jun menyuruh Bumi untuk meninggalkan mereka berdua saja. Asisten pribadi itu sadar akan ada hal yang akan mereka bicarakan berdua saja. Bumi pun mengambil jaketnya dan keluar dari ruangan itu
.
.
.
.
Wahai pembaca yang membaca karya ini, mohon tinggalkan nama kalian di kolom komentar, agar aku bisa berterimakasih karena dengan like dan mampirnya kalian disini memberikan aku semangat untuk terus menulis dan berhalusinasi. Untuk sekte Yoongi, maaf keun jika kalian tidak setuju dengan kehaluanku ini 🙏😊