You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Kakak bermata bengkak



Ye jun mematikan seluruh peralatan yang mendukungnya menghasilkan karya-karya emas. Lalu meninggalkan genius lab.


"Hyung, kau pulang saja" ucapnya menyapa Bumi yang setia menunggu di kursi panjang empuk tempat langganannya saat menunggu Ye Jun


"Kau mau kemana, Ye Jun?"


"Masih jadwal yang sama, Hyung. Temanku sudah pulang dari perjalanan bisnisnya, dan kami akan bertemu kembali setiap bulan seperti sebelum tour dunia kita waktu itu"


"Permainan apa yang kalian mainkan? Aku juga mau ikut dong!"


"Jangan! Nanti hyung akan sakit kepala dibuatnya" jawab Ye Jun tersenyum


"Ah ... Aku memang selalu bodoh tentang hitung-hitungan. Tapi, aku mengkhawatitkanmu, Ye Jun. Bagaimana kalau kau diantar supir?" tawar Bumi, Ye Jun memang selalu menyetir sendiri kalau dia menemui teman nya itu, tapi kali ini tentu saja berbeda. Sejak Ara menghilang laki-laki itu sedikit kehilangan fokusnya


"Tidak, Hyung. Aku pergi sekarang!" jawaban Ye Jun membuat Bumi merapatkan bibirnya tidak berani berkata apa-apa lagi. Ye Jun bukan tipikal orang yang suka bernegosiasi


Ye Jun pergi membawa mobilnya, mobil itu melaju dengan kecepatan penuh menuju sebuah restoran vegetarian di jantung kota.


Lebih dari enam puluh menit, mobil Ye Jun pun memasuki parkiran. Laki-laki itu memarkir mobil di area basman vvip dan masuk kedalam lift yang tersedia disana.


Matanya menatap sekeliling, seorang laki-laki paruhbaya berkemeja biru tampak melambaikan tangannya. Usianya sepantaran dengan ayah Ye Jun.


Ye Jun berlari kerahanya, laki-laki itu berdiri dan mereka berpelukan sejenak. Keduanya pun langsung duduk berhadapan dan terlihat membahas sesuatu.


\=\=\=\=


Perempuan berbatik merah dengan corak merak sedang menyiapkan hidangan di meja. Seorang perempuan lagi terlihat membantu, sedangkan gadis kecil berkuncir kuda duduk diam di meja makan, menatap semua hidangan bergantian dengan air liur yang seolah ingin tumpah.


"Jangan di lihatin terus, Adek! Nanti makin laper loh! Masih lima belas menit lagi" ucap wanita paruhbaya itu


"Mending Aisyah main sama kakak deh sana" ucapnya lagi,


Perempuan yang ada di dapur itu pun mengiyakan perkataan wanita paruhbaya yang biasa disapa Nyai itu.


"Sudah selesai semua, Nyai" gadis itu berucap, sigadis kecil berkuncir tadi pun turun dari kursi dan berhambur memeluk gadis itu


"Ayo, kak. Bantu Aisyah beres-beres baju" ucapnya, menarik tangan kurus itu


"Ummi ... kalau nanti kita mudik, kakak dibawa kan ya?" tanyanya, menghentikan langkah dan menatap wanita berbatik tadi


"Kakak juga mau mudik, Sayang. Ummi dan Abi kan mau ketemu Eyang, orangtua Abi. Nah ... Kakak juga gitu, kakak juga mau ketemu sama Abinya. Iya kan, Kak Ara?"


"Iya dong. Kakak juga kangen sama orangtua kakak, Sayang. Memangnya Aisyah, kalau Abi pergi beberapa hari nggak kangen tuh?" Ara bersimpuh dihadapan gadis kecil yang terlihat mencemaskannya itu


"Ya ... Kangen dong! Nih ... Aisyah lagi kangen Abi"


"Hm ... Baru tadi pagi, Nak. Abinya pergi udah rindu aja" celetuk Umminya


"Makanya, Aisyah yang baru nggak ketemu Abi beberapa jam saja sudah kangen. Apalagi kakak ... Kakak sudah berbulan-bulan loh nggak ketemu Appa nya kakak" jelas Ara


Disinilah Ara, Sahara Ga Eun tinggal saat ini. Menjadi pengajar mengaji pengganti, dan bekerja di toko makanan halal sekitaran masjid bilal di provinsi Geongsangnam-do.


Ara mungkin memang ditakdirkan sebagai pengganti dari setiap profesi seseorang. Tapi, itu di artikan dengan pertolongan Allah untuk nya bertahan hidup di kota yang menjadi tempat tinggalnya kini. Pulang ke Indonesia atau untuk tinggal kembali bersama Appanya rasanya tidak akan ia lakukan.


Ara benar-benar menutup akses dirinya untuk ditemukan oleh siapapun yang mengenalinya.


Aisyah menemukan nya saat tertidur lelap di masjid saat gadis kecil itu shalat bersama ayahnya. Aisyah kasihan melihat Ara yang tampak benar-benar sedih, bagaimana tidak saat tertidur pun gadis itu menangis.


"Kakak kenapa? Apa kakak sakit?" ucap gadis kecil itu polos, hatinya yang lembut membuat rasa iba nya langsung menginginkannya menjadikan Ara sebagai kakaknya. Si kecil Aisyah merindukan kakak-kakaknya yang sedang sekolah di luar negara.


***


"Buka puasa di sini saja ya, Nduk. Abinya Aisyah mungkin pulangnya larut. Sunyi kalau kami buka puasanya hanya berdua saja" Suara dari arah dapur


"Iya, Nyai" jawab Ara patuh


"Sudah" ucap Aisyah menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Kakak tolong kancingin ya" seringai nya, koper itu sudah terisi penuh dan sepertinya akan susah untuk di kancing


"Duh ... Kayaknya nggak muat nih. Wah ... Ntar kopernya rusak loh kalau dipaksa" Ara tampak kesusahan.


"Mainannya nggak usah dibawa, Syah!" suara Nyai terdengar nyaring dari luar kamar


"Yah ... Ketauan" cebik Aisyah imut, Ara tersenyum


Mereka berdua pun mengeluarkan beberapa mainan yang dimasukkan Aisyah secara acak dalam kopernya. Anak pemuka agama yang berasal dari daerah jawa di Indonesia itu pun menyeringai karena malu pada Ara.


"Kalau sama Ummi nggak bisa bohong ya, Kak. Ummi itu kayak ada cctv nya"


"Haha ... Iya, makanya Aisyah jangan macam-macam. Cctvnya Ummi ada dua loh, di kanan dan kiri Aisyah, hm ... Nggak kelihatan!" Ara tertawa melihat tingkah Aisyah yang memeriksa sudut kanan dan kiri kamar itu


"Nggak ada, Kak"


"Nanti deh, Aisyah tanya Ummi." Ara mengancing koper itu dan menaruhnya di sudut kamar


"Ayo kita keluar, sebentar lagi buka puasa"


.


.


.


.


Selamat puasa semua 😊✌️