
Bandara Inceon, Korea. Gadis bergamis pink muda menarik dua koper ditangan kanan dan kirinya. Satu tas ransel melekat ditubuh bagian belakang dan satu ransel lagi yang berukuran lebih kecil menggantung di tubuh bagian depannya. Gadis itu tampak sangat kerepotan.
Sahara langsung mencari taksi, melepas segala beban yang ia bawa untuk diberikan kepada sopir dan duduk di kursi penumpang. Merogoh ponselnya dalam saku gamisnya dan langsung berbicara setelah menunggu beberapa saat.
"Kau dimana?"
"Aku sudah dirumah sakit. Hari ini ada jadwal bertemu dokter anakku. Kau sudah sampai?"
"Ya ... Ini sedang menuju kesana. Aku capek sekali Jeny! Awas saja kalau yang kau bilang penting ini bukan hal yang begitu penting untuk aku ketahui!" ancam Ara, gadis itu segera berkemas setelah Jeny menelponnya dan berangkat ke bandara pagi-pagi sekali. Membatalkan agendanya untuk bertemu teman-teman semasa sekolah dulu.
"Tidak, Ara. Ini penting! Sangat penting untuk kau ketahui" ucap Jeny sedikit merendahkan suaranya, teman luar negeri Ara itu menyiratkan kesedihan yang ... Ah, entahlah.
"Oh ... Ya, Jeny. Tadi aku melihat acara baru pangeranmu itu menjadi tranding satu ya. Aku rasa riasannya juga nggak terlalu jelek, lumayan lah ... tapi tentu daja lebih bagus kita" Ara menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menekan tuas dibagian kiri bawah kursi tersebut.
"Kau melihatnya juga" jawab Jeny
"Ya tentu saja. Bumi bahkan mengirimkan video rekamannya padaku. Ye Jun bilang dia tidak secantik biasanya dan tidak terlalu pede untuk tampil, hahaha" Ara yang posisi tiduran berbicara sambil menutup kedua matanya
"Oh ... Cantik katamu?" awalnya Jeny menjawab dengan 'O' saja tapi ada kata yang membuatnya tertarik untuk menimpali
"Hm ... Aku sering mengatakan pada Njun setelah selesai Make Up. 'Kau cantik hari ini' haha ...." Ara teringat, Cantik! Itu yang selalu Ara katakan pada Ye Jun. Awalnya Ye Jun tidak terima tapi lama kelamaan laki-laki itu mulai terbiasa dengan kalimat yang setiap hari diucapkan Ara setiap selesai merias
"Bahkan kau punya panggilan kesayangan, Ra ...." entah kenapa, Ara merasa Jeny seperti cemburu atau mengkhawatirkan sesuatu yang berhubungan dengan dia dan Ye Jun
\=\=\=\=
Ara menitipkan kopernya di loby rumah sakit dengan susah payah, nama besar Ye Jun yang digandrungi oleh hampir semua gadis di dunia cukup membuat Ara berhasil meninggalkan barang bawaannya tersebut.
Kini, Ara hanya membawa koper milik Ye Jun dan juga tas ransel berisi oleh-oleh yang ia pinta sebelumnya.
Ara menaiki lift menuju lantai sembilan tempat Jeny menunggunya. Begitu pintu terbuka, Jeny dan bayinya yang berada dalam stroller sudah berada disana.
"Hai" Peluk Jeny pada Ara,
"Heeei ... Cantik! Kamu sudah sembuh, Sayang" Ara mencubit pipi bayi itu gemas, mencium tangan imutnya dan mengajak bayi itu bicara. Minji menatap perempuan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dengan melotot ... Lalu kemudian menangis.
"Ck! Kau membuatnya menangis, Ara" cebik Jeny
"Hm ...." Ara kecewa
"Oh, ya. Ayah Ye Jun juga berada di rumah sakit ini kan? Aku sekalian membawa barang-barangnya yang ketinggalan di rumah waktu itu" Ara ingat bahwa rumah sakit tempat ia berdiri ini sama dengan rumah sakit tempat ayah Ye Jun dirawat
"Ada apa, Jeny?" Wajah Ara berubah serius, wanita itu tidak menjawab pertanyaan dan wajah cantik Jeny berubah tegang
Jeny menelan salivanya. Sambil mendorong stroller dia mengajak Ara kesuatu ruangan rawat inap.
"Ara ... Aku tidak percaya ini! Aku juga mohon maaf karena aku termasuk ikut memberikanmu sakit seperti ini.
Ye Jun menghubungiku sewaktu masih di Indonesia, dia menyuruhku untuk tidak kembali bekerja dengan alasan anakku, Ye Jun mau kau masih tetap berada bersamanya, meski dia tau lama kelamaan kau pasti menyadari ini.
Tadinya aku berpikir Ye Jun menyukaimu, Aku, Bumi bahkan Jae Sun sangat senang kalau kalian punya hubungan spesial. Karena kami tau, Ye Jun itu tidak pernah membuka hatinya untuk wanita manapun. Dia adalah orang yang dingin pada wanita, Ye Jun sangat menjaga pandangannya pada wanita. Dia hanya mau berbicara hal yang penting saja kalau tidak dia lebih baik diam.
Tapi dengan mu tidak kan, Ra?
Dia berubah menjadi sosok yang hangat pengertian bahkan banyak bicara!" Ara mendengarkan dengan membenarkan semua yang dikatakan Jeny tentang Ye Jun
"Aku juga merasa itu bagus untuk mu karena mungkin dengan kehadiran Ye Jun kau bisa melupakan suamimu"
"Tapi ... Ra, sepertinya aku salah" Ara menaikkan alisnya menunggu Jeny meneruskan kata-katanya
"Kemarin aku berniat menemui Ye Jun sekalian mengunjungi ayahnya karena saat aku menemui dokternya Minji aku tidak sengaja bertemu dengan Bumi. Aku sangat terkejut melihat laki-laki yang ada di ruangan ini"
"Kau masuk lah kedalam. Jawabannya ada disana. Jawaban dari semua pertanyaan yang tidak pernah kau tanyakan sebelumnya tentang kau dan ...." Jeny menjeda
"Appa mu!" lanjut Jeny pula.
Begitu mendengar ayahnya disebut, Mata Ara membulat. Membuka pintu kamar vvip tersebut dan segera masuk kedalam.
Gadis itu melihat sosok kurus terduduk lemah dengan selang infus menjulur di tangan kirinya, sedang disuapi makan. Wajah yang masih terlihat tampan itu terlihat sangat pucat.
"Makanlah ayah, sedikit lagi!" ucap laki-laki berkaos hitam yang sedang menyuapi laki-laki itu
Mereka berdua terkejut melihat siapa yang masuk kedalam kamar tersebut.
"Apa? Ayah?!!" Tubuh Ara lemas, badannya bersandar di dinding kamar, airmatanya jatuh deras seperti hujan
"Ga Eun!!!" ucap keduanya bersamaan
.
.
.
.
Komen dong 😊