
Syuting selesai, laki-laki berkulit putih dengan kaos lengan pendek berwarna sama dengan kulitnya itu pun sudah bersiap-siap untuk pulang.
Pemilik acara menyetujui permintaan sang artis untuk mengambil beberapa episode langsung hari itu, beruntung bintang tamu yang ada di acara yang dipandu Ye Jun pun bersedia mengkosongkan jadwal mereka, untuk datang mendadak seperti ini.
"Aku mendengar kau akan pergi keluar negri dari Bumi Hyung. Benarkah Hyung?" ucap Jae Sun yang menjadi salah satu artis pengisi acara talk show itu
Ye Jun yang tadinya tampak sangat riang di depan kamera kembali ke mode kulkasnya. Menatap Jae Sun sekilas lalu hanya mengeluarkan bunyi 'hm' dari bibirnya
"Sebenarnya apa yang terjadi, Hyung? Aku perhatikan hyung akhir-akhir ini terlihat sedih padahal paman sudah sembuh kan?"
"Iya, aku pergi dulu. Hati-hati mengendarai motor mu Jae Sun-a" Ye Jun berdiri memasukkan ponselnya ke dalam saku dan meninggalkan Jae Sun
Laki-laki itu tidak bisa berkata apapun lagi, mungkin memang Ye Jun sedang tidak ingin berbagi dengannya, pikir Jae Sun menatap punggung Ye Jun yang sudah berjarak jauh darinya.
Bumi masuk ke ruangan itu mencari keberadaan sang artis,
"Ye Jun Hyung sudah keluar, Hyung" ucap Jae Sun tanpa menunggu Bumi bertanya padanya
Bumi berlari keluar meninggalkan Jae Sun, mengejar Ye Jun secepat mungkin. Belakangan ini dia sangat sensitif, kalau terlambat mungkin dia akan kena amukan laki-laki ganteng itu.
Ternyata Ye Jun sudah menunggu di dalam mobil nya, Bumi yang menghampiri dengan nafas tersengal-sengal menunjukkan layar ponselnya.
"Sudah! Kita ke bandara sekarang?" tanya laki-laki itu
Ye Jun membaca dengan cepat isi dalam layar ponsel.
"Tidak ada pesawat yang berangkat sepuluh menit lagi?" tanya Ye Jun
"Ck! Bahkan dua puluh menit lagi kita masih belum sampai bandara, Ye Jun. Aku sudah memilihkan yang sesuai dengan jadwal mu"
"Baiklah. Cepat masuk!" perintah Ye Jun Bumi pun segera masuk ke dalam mobil
\=\=\=\=
Sudah lebih dari satu minggu, Ye Jun terus mencari keberadaan Ara namun hasilnya masih sama saja. Jeny, Bumi juga bantu mencari, sedangkan ayah Ye Jun kini berada di rumah besar milik artis idola itu.
Ye Jun tidak mengizinkan ayahnya pulang ke rumahnya, bisa saja laki-laki itu memaksa dirinya untuk bekerja.
Satu dokter khusus menjaga, memantau kesehatan laki-laki paruhbaya itu dua puluh empat jam.
"Bolehkah aku menggunakan telpon?" tanya laki-laki itu pada kepala art
"Maaf, Tuan. Tuan Ye Jun melarang nya. Tuan hanya boleh menerima panggilan itupun hanya panggilan dari nya atau atas persetujuannya saja"
"Ya ... Tidak apa-apa" jawab laki-laki itu sedih, menghela nafas. Itu hal pasti hal terbaik menurut Ye Jun pikirnya
Tidak lama berselang telpon untuknya pun datang. Laki-laki itu mengambil benda kotak yang diberikan oleh salah satu asisten yang datang dari arah dalam rumah.
"Ye Jun!" ucap nya
"Tolong jangan banyak pikiran, Ayah. Aku akan ke Indonesia mencari Ga Eun. Jangan lupa minum obatmu dengan teratur"
"Baiklah, hati-hati. Segera berikan kabar pada ayah" ucap laki-laki itu penuh harap
Ayah Ye Jun memberikan telepon kepada wanita yang tadi memberinya, Laki-laki itu menghela nafas panjang menatap ke langit biru mencari kekuatan untuk bertahan.
\=\=\=\=
Ye Jun membalikkan badan berjalan pulang menuju villa milik keluarga Ara. Harapan itu kembali menguap saat Ye Jun tidak mendapati keberadaan Ga Eun disana, bahkan Bli yang dipercaya merawat villa itu pun tidak mendapatkan kabar apapun dari Ara.
Dua hari Ye Jun menginap di rumah kayu tersebut, bukan seperti kebanyakan orang yang jika datang ke pulau Dewata itu untuk berlibur,Ye Jun justru sebaliknya. Tidak ada waktu yang di lewatkannya tanpa mencari petunjuk, sekecil apapun kemungkinan itu.
Setiap telpon yang masuk di meja resepsionis selalu ia tanyakan, mungkinkah Ara yang menghubungi tempat itu.
Harapannya seolah semakin jauh, Ye Jun pun memutuskan untuk pergi ke satu tempat yang rasanya tidak mungkin Ara tidak kesana kalau dia berada di negara beriklim tropis itu.
\=\=\=\=
Ye Jun diam saja, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir wanita berjilbab hitam. Wanita itu memang marah, tapi kata-katanya begitu tertata dan tidak menimbulkan sakit hati, justru Ye Jun malu dibuatnya
"Maafkan Ye Jun, Ummi. Seharusnya Ye Jun bisa mendamaikan mereka, karena semua ini ... Aku lah sumbernya" ucap Ye Jun mengangkat kepala
"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Nak. Tidak ada siapapun yang menjadi sumber masalah disini. Ye Jun dan Ara adalah korban. Dua orang yang saling cinta tapi egois itu yang membuat semuanya menjadi rumit!
Bagaimana ke adaan Chef Hyun-Shik? Apa Ummi sudah boleh berbicara dengannya?" tanya wanita itu sambil menghidangkan makanan. Abi membiarkan mereka berdua berbicara, dalam hal ini Abi tidak tau banyak tentang istrinya, laki-laki yang ia panggil dengan sebutan Chef dan istrinya yang merupakan bunda dari Ara.
"Ayah sudah membaik. Sekarang masih tinggal dirumah Ye Jun, Ummi. Semoga ayah betah dan nggak mau pulang ke restoran lagi" jelas Ye Jun.
"Ck! Kalau saja saat Ara datang dulu dia sudah menjelaskan semuanya, pasti ini nggak akan terjadi. Ara juga berhak tau, kenapa ayahnya tidak pernah pulang.
Aaah ... Kenapa semuanya seolah menjadi beban ku sendiri" Ummi duduk menatap suaminya mengharapkan mendapatkan kekuatan dari laki-laki berwibawa itu
Sementara Abi hanya tersenyum, "Kalau saja Ummi memberitahukan semua nya juga pada Ara waktu itu" ucap Abi, membuat Ummi bertambah sedih
"Ya Allah, kenapa harus hamba yang menjadi saksi ke egoisan kedua orang teman-teman hamba" Ummi memeluk suaminya
"Ummi tidak berhak menjelaskannya, Abi. harusnya Hyun-Shik yang menjelaskannya! Hah ... Dia itu benar-benar tidak sesuai dengan arti namanya!" ucap Ummi cemberut
"Lah ... Segala nama disalah-salah kan, Istighfar Ummi" Abi mengusap kepala istrinya yang terlihat stress
"Astaghfirullah ...." Ummi tersadar, mengelus dadanya
"Ayo kita makan dulu! Nanti kita bahas lagi masalah ini. Jun, ayo makan" ajak Abi pada Ye Jun yang sedari tadi hanya menjadi pendengar budiman
Ketiganya makan dalam diam, Ye Jun menatap bangku kosong disebelahnya, teringat wanita yang dulu pernah duduk disana. Selera makannya hilang, teringat Ara yang tidak diketahui keberadaannya
"Ga Eun kau dimana? Apakah kau sudah makan? Apa kau tidur ditempat yang layak? Ga Eun ... Aku merindukanmu" batin Ye Jun
.
.
.
.
Maaf terlambat update, tembok ini mulai tinggi Gaes 😁
Mau berenti tanggung, mau lanjut bingung. Ah ... aku lapar🤭