
Mata Ara berkeliling melihat isi dalam kamar tempat ia berada saat ini. Masih sama sepertu terakhir kali ia meninggalkannya.
Benar kata Hyun-Shik ayahnya, laki-laki itu tidak pernah memberikan izin kepada siapapun untuk menempatinya. Kecuali Ye Jun tentunya. Kamar itu juga sebenarnya adalah kamar laki-laki artis itu awalnya, tapi saat ia mulai disibukkan oleh dunia entertain Hyun-Shik ikhlas melepas anak laki-lakinya itu untuk hijrah meninggalkan Busan.
"Ga Eun! Barang-barangmu!" pekik Ye Jun dari luar kamar
"Hm!" Ara membuka pintu kamar, mengeluarkan kepalanya dengan senyum yang mengembang
"Terimakasih, Oppa" ucap gadis itu setelah melihat seluruh barang-barang miliknya ada di depan pintu
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku bukan Oppa mu!" ketus Ye Jun
"Trus aku harus panggi apa, Njun?"
"Aku lebih suka panggilan itu!" jawabnya nyengir kuda
"Njun?" Ara mengulang panggilan itu tidak percaya, Ye Jun malah mengangguk. Membuat Ara terpingkal-pingkal dibuatnya
Gadis itu memegangi perutnya, mencoba menghentikan tawanya.
"Lucu banget ya?" tanya Ye Jun yang merasa ketularan tawa Ara
Laki-laki itu memandangi Ara terus tanpa memalingkan pandangannya sedetikpun. Kedua tangannya bersilang di dada.
"Panggi aku Abi saja kalau begitu!" kata Ye Jun sambil lalu meninggalkan Ara, laki-laki itu menuruni anak tangga
"Apa? Abi?!" Ara memperjelas, rasanya panggilan itu aneh untuk Ye Jun
"Kenapa Abi?!!" tanya Ara lagi
Ye Jun terus saja berjalan tanpa menghiraukan Ara yang terus memanggilnya dengan keras ditengah malam seperti ini.
Ye Jun menghentikan langkahnya tepat di akhir anak tangga, membalik tubuhnya menatap Ara tepat pada manik mata coklat gadis itu.
"Karna aku mau memanggilmu Ummi!" ucapnya, lalu kemudian memakai kembali maskernya dan benar-benar hilang dari pandangan Ara.
Gadis berjilbab diatas mematung, mulutnya menganga tidak percaya dengan yang baru saja ia dengar itu.
"Apa aku tidak salah dengar?" ocehnya
"Dia mau dipanggil Abi dan aku dipanggil Ummi?" Ara mengulang kata panggilan itu lagi, pipinya merona. Ada hal aneh yang menggelitik hatinya. Sudah lama dia tidak merasakan ini.
Tapi tiba-tiba, mata gadis itu membola. Seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat penting.
"Ya Allah, Ummi. Aku belum memberi kabar ke Ummi" ucapnya bergegas menarik koper dan satu plastik berisi snack dan makanan instan yang tersisa selama tinggal di kamar sewaan.
\=\=\=\=
Pukul empat pagi, Ara turun. Pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk sahur. Lampu dapur sudah menyala, ternyata Hyun-Shik sudah ada disana.
"Appa!" panggil Ara
"Eh, Sudah bangun. Appa ingin membangunkanmu setelah hidangan sahur nya selesai, tapi Ara sudah bangun duluan" senyum tulus Hyun-Shik membuat mata Ara berkaca-kaca
"Ya Allah, sebaik ini kah laki-laki yang darahnya mengalir di tubuhku? Maafkan hamba karena pernah membencinya ya Allah." batin Ara
"Ara! Kok malah bengong. Ayo ... Makan sini" ajak Hyun-Shik berjalan melewati Ara membawa nampan berisi makanan.
"Sudah biar Appa saja. Cepat sini, Nak. Nanti sahurnya buru-buru"
"Ya, Appa" Ara menurut
Ara duduk di lantai beralas karpet. Hyun-Shik menemani Ara meskipun laki-laki itu tidak ikut makan.
"Appa pergilah tidur. Appa kan harus banyak beristirahat"
"Appa sudah lama tidurnya, biasanya juga jam segini Appamu ini sudah bangun dan pergi membeli bahan-bahan untuk dimasak di restoran"
"Itu dulu, Pa. Sekarang Appa nggak perlu melakukan hal itu lagi. Restorannya sudah besar, Appa juga tidak perlu lagi memasak apalagi belanja di pasar" ucap Ara, Hyun-Shik hanya diam mendengarkan ocehan anaknya
"Benar yang Ga Eun bilang, Yah. Ayah tidak perlu bekerja lagi. Ye Jun sudah bisa memberikan ayah kenyamanan. Ayah hanya tinggal melihat-lihat saja." laki-laki yang entah darimana datangnya itu ikut nimbrung
"Iya, sekarang giliran kami anak-anakmu yang bekerja, Appa!" Ara menimpali ucapan Ye Jun
"Kau pun sama! Tidak usah bekerja, biar semua menjadi tanggung jawabku!" tegas Ye Jun
"Loh ... Nggak bisa gitu dong. Habis lebaran aku akan kembali ke Gyounggi!"
"Apa?!!" ucap dua laki-laki beda generasi itu bersamaan
"Yah ... Mulai lagi deh. Ni dua laki-laki posesifnya kok sama ya" batin Ara menggaruk kepalanya yang tentunya nggak gatal
"Iya ...,Pa. Ara kan kerja disana" jelas Ara terbata
"Berapa gajinya? Kau kerja saja kembali bersamaku" timpal Ye Jun
"Masalahnya bukan di besar kecil gajinya. Tapi aku sudah berjanji akan pulang kesana setelah ustadz yang membantuku waktu itu pulang ke Korea"
"Ustadz?"
"Appa ... Ara mengajar mengaji disana" Ara menceritakan tentang keluarga ustadz tersebut.
"Apa ada yang akan terjadi setelah keluarga yang baru kau kenal itu kembali ke Korea?" cecar Ye Jun, laki-laki itu memiliki Firasat lain.
"Mungkinkah Ara akan menikah dengan laki-laki pilihan ustadz itu? Atau mungkinkah Ara akan menjadi istri kedua?" segala prasangka muncul di benak Ye Jun
Alarm di ponsel Ara berdering. Gadis itu menghabiskan minumannya dan membawa bekas makanan itu ke dapur.
"Sudah imsak. Ara ke kamar dulu ya, Appa" Pamit Ara dan menindukkan kepalanya memberi salam pada Ye Jun
.
.
.
.
40 episode yeeee, apakah cerita ini terlalu ngawur pemirsa?
Oh ya, thank to Tita ajalah yang udah like hampir di setiap episodenya. Kamsahamnida 🙏
Boleh dong di koment kakak, di kolom komentar monggo ✌️😊