
Empat bulan berlalu, Ye Jun masih belum dapat menemukan Ara, setiap hari laki-laki itu tidak pernah lupa menelpon Abi dan Ummi mungkin Ara sudah bersama mereka, juga menelpon ke villa milik keluarga Ara. Namun hasilnya tetap sama, Ara bahkan tidak memberikan kabar kepada orang-orang terdekatnya.
Sebagai seorang artis profesional, Ye Jun mampu memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Saat camera menyala, laki-laki tampan itu sangat ceria, tapi saat camera mati sosok dinginnya kembali menjelma. Bahkan Ye Jun semakin dingin.
Setelah selesai syuting, Ye Jun pergi menuju ruangan yang paling ia suka. Laki-laki tersebut sedang menyiapkan karya baru dalam studionya, Genius lab.
Pintu ruangan itu di ketuk, setelahnya handle pintu pun terbuka. Ternyata Jae Sun yang berada dibalik pintu itu.
"Hyung" sapa Jae Sun
"Masuk lah! Aku sudah menyelesaikannya. Semoga kau suka" Ye Jun menyerah kan kertas, Jae Sun akan mempersembahkan single baru karya Ye Jun sebagai kenanga-kenangan terkahir sebelum laki-laki menggemaskan itu hiatus untuk melaksanakannya sebagai laki-laki dewasa di negaranya.
"Kenapa kau juga hiatus, Hyung? Bukankah pelayanan masyarakat itu sudah ku selesaikan dua tahun yang lalu" tanya Ye Jun disela-sela reading nya
"Hm .. Aku mau fokus dibelakang layar saja dan mengurus ayah" ucap laki-laki itu menatap sekilas Jae Sun lalu kembali menatap layar besar di depannya
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Hyung? Kau tidak seperti beberapa bulan lalu. Aku pernah mengatakan kalau Ara adalah matahari mu. Kau menjadi orang yang lebih baik setelah dia menjadi periasmu. Tapi ternyata, dia hanya menggantikan Jeny sementara."
Ye Jun menaikkan kedua alisnya, "Benarkah aku seperti itu? Ah ... Kau sudah dewasa Jae Sun-a" Ye Jun mengacak-acak rambut Jae Sun
\=\=\=\=
Masjid berwarna putih dengan beberapa menara tinggi seolah menopang bangunan yang besar itu.
Beberapa anak-anak tampak berlarian keluar dari arah dalam, mengambil sendal yang mereka letakkan rapi di bawah tangga.
Seorang perempuan bergamis hijau berjalan membuntuti keramaian itu.
"Anak-anak, hati-hati! Jangan berdesakan" perintah wanita itu
"Terimakasih untuk pelajarannya hari ini. Assalamu'alaikum!" ucap seluruh anak-anak yang jumlahnya lebih dari seepuluh orang itu, membingkuk memberi hormat dan salam kepada guru mengaji mereka
Perempuan bergamis tadi menjawab salam dan membungkukkan badannya.
Seorang anak perempuan menggandeng tangan gadis itu, menatap penuh senyu. Kepada pemilik manik mata coklat tersebut.
"Ayo kita pulang, Kak. Nanti terlambat buka puasa" ajaknya, perempuan bergamis tadi pun mengikuti langkah gadis kecil tersebut
\=\=\=\=
Peringatan kematian. Laki-laki berkemeja hitam membungkuk. Memberikan hormat, bingkai foto dihadapannya menunjukkan seorang wanita berambut pendek sedang tersenyum.
"Mama ...." ucapnya mengawali kata yang berbuntut kalimat, laki-laki itu tampak berbicara pada foto tersebut.
Kesal dan sesal berbaur menjadi satu setiap kali laki-laki itu berada di tempat nya saat ini.
Laki-laki itu selalu menangis, seorang laki-laki tua menghampirinya
"Tuan, kapan kau akan kembali ke rumah." tanya laki-laki tua itu
"Aku tidak akan pernah pulang, kalau tidak bersama anakku" jawab laki-laki paruh baya itu
Laki-laki tua tadi tidak menjawab apapun. Yang ia lakukan hanya diam dan kembali pada posisinya semula.
"Kalau saja waktu itu aku tidak kembali, saat ini aku pasti bahagia bersama istri dan anakku" ucapnya dalam hati, menyesali keputusan untuk pulang ke negaranya dan meninggalkan istri dan anaknya yang masih sangat kecil tempo hari
.
.
.
.
Happy reading gaes๐๐