You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Hidangan sederhana, Istimewa



"Hidangan spesial untuk gadis kesayangan, Appa!" Hyun-shik membawa sajian yang masih tertutup, disebelahnya ada jus semangka dengan gelas membias butiran-butiran beku disekelilingnya


Ara menatap wajah laki-laki yang tampak menyayanginya sangat tulus itu.


"Terimakasih, Appa" ucap Ara dengan mata berkaca-kaca, mungkin ini kali pertamanya mengucapkan kata-kata seperti barusan.


Semuanya sudah terang, jelas. Tidak ada lagi yang abu-abu. Persangkaan Ara benar-benar salah.


Beberapa waktu lalu, Ara berjalan menuju dapur. Laki-laki yang ia cari tengah berdiri menatap beberapa peralatan dapur dihadapannya serta aneka sayuran warna warni.


"Ap ... Pa" panggil gadis itu berat, laki-laki tampak lebih kurus dari biasanya


Hyun-shik menoleh, membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara. Kakinya melangkah cepat memeluk tubuh yang ia khawatirkan setiap hari.


"Ga Eun!" ucapnya


"Hm ... Maksud Appa Ara" ulangnya takut gadis dalam pelukannya tersebut marah. Ara tidak membalas pelukan itu, tapi juga tidak menolaknya


"Kemana saja kamu, Nak? Kami semua mencemaskanmu" tatap Hyun-Shik, Ara masih diam


"Ara datang kesini mau mendengar penjelasan,Appa! Apa benar kami ditinggalkan karena Ye Jun dan ibunya?" ucap Ara datar


"Hm ... Ayo kita duduk disana. Appa akan menjelaskan semuanya padamu" Hyun-Shik menuntun Ara duduk di bangku pelanggan


Mereka kini duduk saling berhadapan, hanya meja menjadi pemisahnya.


"Ye Jun hanya korban dari sebuah kecelakaan. Waktu itu Appa mengemudi sangat kencang, Appa sedang marah dan ingin pulang ke Indonesia menemui kalian dan berniat tidak akan pernah pulang lagi ke sini. Appa meninggalkan nenekmu yang sampai lebih dari satu tahun pernikahan kami masih tidak menyetujuinya. Bahkan sampai Ara lahir.


Nenekmu masih tetap mempertahankan tradisi. Anak pertama harus menikah dengan orang yang berasal dari negara ini juga.


Cinta Appa ke bunda mu ... dan kamu membuat Appa berani meninggakan semuanya. Bahkan sampai saat ini, Appa tidak pernah menikmati segala fasilitas dari keluarga Appa dulu.


Tapi, takdir berkata lain. Ibu Ye Jun tidak bisa diselamatkan setelah kecelakaan itu. Ye Jun hanya memiliki ibu, Appa harus bertanggung jawab atas semua perbuatan Appa" Hyun-Shik menghela nafas, menjeda omongannya. Bayangan akan kejadian kecelakaan itu berkelebat di ingatannya


"Appa sudah menceritakan ini pada bundamu. Bundamu menyuruh Appa untuk bertanggung jawab pada Ye Jun, restoran ini adalah milik Ye Jun, ibunya merintis usaha ini ... Appa yang melanjutkannya.


Appa berharap, Bunda dan Ga Eun bisa menyusul kesini. Tapi, waktu itu ... bundamu menolaknya. Mungkin Bunda kecewa dan takut akan berjumpa dengan nenek mu."


"Ternyata hari itu juga, nenek mu menelpon istriku dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya sakit hati, ah ... Bukan! Tepatnya merasa bersalah, karena sudah memisahkan hubungan antara anak dan ibunya"


"Kenapa Appa tidak pernah pulang ke Indonesia? Sekali saja, Pa?"


"Bundamu itu keras! Sama seperti anaknya. Kalau sudah memberikan keputusan jangan dibantah. Persis seperti anaknya kan?" senyum Hyun-Shik kembali mengembang


"Percayalah, Nak. Setiap detik yang berlalu. Appa jalani dengan selalu mengingat kalian. Bundamu tidak mau menerima telpon Appa lagi. Untung saja ada asisten Appa sewaktu masih jadi Chef di Bali. Dari beliau Appa tau semua tentang kabar kalian. Dan Appa sangat bahagia, setelah bundamu pergi, beliau itu yang menjadi keluargamu disana" jelas Hyun-Shik


"Keluarga Ara?"


"Ya ... Bahkan kau menikah dengan anaknya"


"Maksud, Appa? Orang itu Ummi?" tanya Ara penasaran, Laki-laki paruhbaya dihadapannya itu pun mengangguk


Hyun-Shik melihat jam dipergelangan tangannya.


"Sudah hampir maghrib. Ara puasa kan? Tunggu disini. Appa akan buatkan hidangan istimewa untuk Ara" tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Hyun-Shik pergi ke dapur


\=\=\=\=


Sajian yang masih tertutup itu dibuka. Bau khas menyembul kepermukaan.


"Ini masakan kesukaan Ara kan?" tanya Hyun-Shik tersenyum


Mata Ara terbelalak melihat makanan sederhana namun istimewa di hadapannya.


"Maaf ya, Nak. Tidak ada kurma."


"Tidak apa-apa, Appa. Ini sudah sangat istimewa untuk Ara." ucap gadis itu dengan airmata meleleh.


"Ini menu andalan restoran kami di Bali." ucap laki-laki itu. Ara tau sekarang, siapa yang mengajarkan Umminya memasak hidangan seperti yang ada di hadapannya sekarang. Nasi goreng kecombrang!"


.


.


.


.


😊