You Will Marry Me!

You Will Marry Me!
Menghilang



Ini kali ketiga supir taksi yang membawa Ara menanyakan kemana tujuan gadis itu. Ara yang tidak bisa menghentikan airmatanya itu pun menanyakan kemana arah jalan yang mereka lalui itu.


"Berhenti di depan sana, Pak" ucap Ara kemudian begitu melihat tulisan terang karena cahaya lampu di gelapnya malam


Sopir taksi pun keluar membantu Ara mengambil barang-barangnya. Gadis itu memberikan sejumlah uang


Ara mencuci muka, melihat pantulan diri nya pada cermin. Kantong matanya bengkak, hidungnya pun merah karena terlalu banyak menangis. Di usapnya wajahnya dengan sabun yang menjadi salah satu fasilitas wajib sebuah penginapan itu berulang-ulang. Bermaksud agar wajahnya terlihat lebih baik, namun semua itu tidak akan ada gunanya jika tangisnya masih belum bisa berhenti


"Aaaaaaaaaa!!!" jeritnya menangis lagi


Sakit! Rasanya teramat sakit. Setelah gadis itu bisa sedikit berpikir ternyata kenyataan yang dihadapinya justru membuatnya lebih sakit.


Usianya dengan Ye Jun terpaut beberapa tahun, Ye Jun lebih tua darinya, berarti bundanya dalam hal ini yang menjadi wanita selingkuhan ayahnya.


"Pasti bunda nggak tau ini. Appa pasti sudah membohongi bunda dengan mengaku lajang" hiburnya pula


"Bunda ku wanita baik-baik! Nggak mungkin bunda mau menikah dengan suami orang. Menyakiti hewan saja bunda tidak mau, tidak mungkin bundaku tega menyakiti sesama wanita, nggak mungkin" ucap Ara pada pantulan dirinya


Sahara pun keluar dari kamar mandi tersebut. Berjalan kearah kasur, membaringkan tubuh meringkuk sedih.


Telpon genggam dalam tasnya tidak berhenti bergetar bahkan sejak Ara berada dalam masjid sejak sore tadi.


Gadis itu mengambil ponselnya, bukan bermaksud melihat siapa yang menelponnya tapi hanya melihat malam itu sudah pukul berapa. Jam tangan yang selalu menghias pergelangan tangan gadis itu pun entah kemana mungkin Ara lupa meletakkan dimana saat sedang melepasnya.


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Ara melihat isi mini bar dalam kamar yang ia sewa. Tentu saja ada beberapa makan ringan disana, air mineral dan juga minuman beralkohol. Ara mengambil makanan ringan berbahan kentang dan sebotol air mineral. Ternyata menangis membuat perut lapar atau bukan karena itu, Ara lupa sejak sampai di Korea memang belum ada makanan ataupun air yang masuk kedalam lambungnya.


Ara menyalakan televisi, secara kebetulan wajah yang sangat ia kenali bahkan setiap bagian pori wajahnya dia tau muncul di layar itu.


Acara talkshow terbaru yang dipandu Ye Jun memang sangat di minati oleh setiap orang, bukan hanya negeri tempat Ara tinggal saat ini tapi bahkan di seluruh dunia.


Ara menangis lagi, matanya terus menatap layar. Entah marah, sedih, kasihan atau ... Ah, entahlah. Bersamaa dengan itu ponsel Ara bergetar lagi, dilihatnya nama Ye Jun tertera pada layar.


Ara mematikan televisi, me-non aktifkan ponselnya lalu kembali meringkuk sampai semuanya tampak menghitam, gelap.


\=\=\=\=


Ye Jun duduk di koridor rumah sakit, tidak berhenti melakukan panggilan namun tidak pernah tersambung.


Wajahnya tampak lelah dan cemas. Ye Jun menghubungi restoran milik ayahnya namun hasilnya sama. Laki-laki tersadar, mungkin jam segini semua orang sudah tertidur kecuali dia.


Ye Jun mengusap rambutnya kasar, rasa bersalah menghantui nya. Laki-laki itu teringat seseorang. Mungkin dia akan mendapatkan informasi tentang Ara dari sana. Tidak mungkin gadis itu tidak memberitahukan keadaan dan keberadaannya pada ... Ummi.


Ye Jun mengurungkan niatnya, di Indonesia juga sudah hampir tengah malam. Ummi dan Abi pasti sudah tidur. Ye Jun tidak ingin mengganggu istirahat mereka.


Laki-laki berkaos hitam itu akhirnya masuk ke dalam kamar inap, melihat sosok laki-laki yang sangat ia sayangi itu masih tertidur lelap membuat hatinya sedikit lega.


"Istirahatlah, Ayah." ucapnya dalam hati. Bersyukur, karena laki-laki yang membesarkannya itu kini sudah baik-baik saja.


Ye Jun berjalan perlahan berhati-hati menimbulkan suara yang menggau dan membuat ayahnya terbangun. Mengambil sebotol minuman kaleng untuk menghangatkan badannya dan mungkin memberikan ketenangan jiwanya.


\=\=\=\=


Masih di lokasi yang sama, Ye Jun, Jeny dan juga Bumi tampak berbicara serius. Jeny juga menyalahkan dirinya sendiri, awalnya dia marah pada Ye Jun yang merasa mempermainkan temannya sebelum Ye Jun menjelaskan semuanya.


Jeny juga terus mencoba menghubungi Ara, namun hasilnya sama saja. Tidak ada satu orangpun yang berhasil menelpon gadis itu. Bahkan sekarang, ponsel Ara tidak aktif.


Ye Jun menelpon Ummi. Panggilan luar negri itu tersambung setelah beberapa detik menunggu.


Ye Jun langsung menanyakan apa Ummi tau Ara berada dimana saat ini. Pertanyaan Ye Jun malah membuat Ummi panik, membayangkan gadis malang itu sedang dalam kesedihan yang teramat dalam.


"Apa ayahmu sudah bisa diajak bicara, Nak?" tanya Ummi


"Boleh Ummi bicara pada ayahmu?" tanya Ummi lagi


"Ye Jun takut Ayah tertekan, Ummi. Bahkan semalam ayah kollaps. Aku takut, Ummi" ucap Ye Jun pula, Ayahnya tidak boleh stress


"Apa ayahmu sudah menjelaskan semuanya pada Ara?" tanya Ummi


"Kami tidak punya kesempatan untuk itu, Ummi. Ara sudah marah lebih dulu, Ara bahkan mengatakan kalau ayah bukanlah ayahnya. Aku terus saja membuat Ga Eun terluka, Ummi. Aku memang benar-benar tidak berguna. Semua ini karena aku ...." Ye Jun malah menagis, teringat tatapan kebencian Ara, kemarahan Ara dan tangisan pilu gadis itu.


"Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri Ye Jun, yang terpenting saat ini menemukan Ara! Dimana dia apa dia baik-baik saja.


Ummi dan Abi akan ke Ubud, bisa jadi Ara pulang ke rumahnya atau mungkin saja Bli nya tau Ara dimana.


Ye Jun juga terus mencari ya, Nak. Kasihan sekali anak ku. Dia benar-benar sendirian kali ini" sedih Ummi pada kalimat terakhirnya