
"Assalamu'alaikum!" Suara Ara terdengar sampai keruang makan. Ummi menjawab salamnya dan membiarkan menantunya tersebut menuju dapur
"Loh, bisa sama Abi?" Ummi melihat suaminya juga ada bersama Ara
"Tadi ketemu dijalan, Mi. Malam-malam begini kok dibiarkan anaknya jalan sendirian!" ucap Abi seolah tidak suka istrinya mengizinkan Ara pergi sendirian
"Nggak apa-apa kok, Abi. Masih belum terlalu gelap juga. Ara yang mau, kangen juga pengen ke warung bu Ros" ucap Ara menyebut nama pemilik warung. Bagaimanapun juga Ara pernah menjadi warga disana, jadi pasti ada rasa kangen.
"Ya sudah, Abi mau langsung makan atau bersih-bersih dulu? Ara goreng kerupuknya sebentar ya, Bi!" Ara teringat dengan isi plastik kresek yang dari tadi masih ia pegang
"Abi mau mandi dulu deh. Eh, ini siapa?" Ye Jun yang sedari tadi bermain-main memutar gelas merasa keberadaannya sudah disadaru oleh mereka bertiga
"Hallo, Pak. Saya Ye Jun." Ye Jun mengulurkan tangannya, Abi menyambutnya dengan ramah
"Oh ... Iya, lupa ngenalin ke Abi. Ye Jun ini bos tempat Ara kerja, Bi" jelas Ara, sementara Abi hanya ber 'o' saja
"Ayo dilanjutkan makannya, saya bersih-bersih dulu" ucap Abi menepuk pundak Ye Jun dan pergi
"Ummi! Bisa tolong bantu Abi sebentar!" ucap Abi melihat ke arah Ummi, wanita bergamis itu pun langsung mengiyakan
Sepeninggal kedua orangtua tersebut, Ye Jun menghampiri Ara yang sedang memasukkan benda berbentuk hampir bulat bertekstur keras berwarna putih.
Saat benda itu dimasukkan kedalam minyak panas, Ye Jun melotot.
"Wow! Kenapa bisa begitu? Apa ini bisa dimakan? Kan ini keras!" Ye Jun meletakkan kerupuk ikan tenggiri mentah, langsung mengambil kerupuk goreng yang baru saja Ara angkat dari penggorengan
"Aaa ... Panas!" Ye Jun meletakkan kembali benda kriuk tersebut kembali ke tempatnya
"Ya Allah, masih panah Ye Jun! Kau tidak pernah melihat kerupuk ya?" celetuk Ara
"Pergi cuci tanganmu di air mengalir itu, setelah selesai menggoreng ini aku akan memberikanmu minyak untuk dioleskan je tanganmu yang terkena panas tadi!" ucap Ara mengomel seperti ibu yang mengomeli anaknya
Ye Jun menurut, membuka kran wastafel dan membiarkan tangannya yang terasa panas diguyur air.
Ara meniriskan semua kerupuk yang sudah selesai digoreng ke atas talam sedang yang sudah dilapisi tissue.
"Duduk disitu! Jangan ambil kerupuk ini! Nanti kalau sudah dingin akan aku sajikan!" Ara melap tangannya dengan kain yang menggantung di atas dekat rak piring. Lalu mengambil kotak obat di tempat biasa Ummi meletakkannya
Masih tidak ada yang berubah dari rumah ini, pikir Ara begitu menemukan kotak obat ditempat yang biasa dulu ia mendapatinya disana.
"Ini oleskan ke bagian tanganmu yang terasa panas" Ara memberikan botol berwarna hijau dengan gambar burung dibagian kemasannya
"Ini obat herbal, insya Allah. Nanti rasa panasnya akan segera hilang setelah kau mengoleskannya" ucap Ara sambil lalu setelah meletakkan botol tersebut ke atas meja dekat Ye Jun duduk.
Ara memasukkan semua kerupuk kedalam toples dan meletakkannya juga diatas meja.
"Ini sudah bisa dimakan. Coba deh, enak!" Ara mengambil satu kerupuk seketika suara kriuk terdengar memecah suasana
Tidak cukup satu, Ara mengambil kembali kerupuk udang khas Palembang tersebut.
Ummi dan Abi sudah berada disana, melihat botol cairan obat luar diatas meja makan membuat mereka bertanya hampir bersamaan.
"Kenapa, Ra?" tanya Abi
"Kenapa, Nak?" tanya Ummi
"Ye Jun, Ummi ... Abi! Nggak pernah liat orang goreng kerupuk! Nggak percaya dia benda keras bisa jadi kriuk kalau kena minyak panas. Sangkin penasarannya kerupuk baru diangakat main comot saja!" jelas Ara
Abi tertawa sedang Ummi biasa saja, Ummi mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya makan.
"Saya sudah duluan, Pak. Tadi saya sangat lapar!" ucapnya
"Panggil Abi saja." ucap Abi mengambil kerupuk
"Iya, Abi"
Beberapa saat pun ruangan mulai hening, hanya terdengar suara kriuk saat mereka menghabiskan setoples kerupuk tadi.
\=\=\=\=
Masih di meja makan, ruangan dapur yang tidak terlalu besar itu cukup nyaman dipakai untuk mengobrol.
Kini secangkir teh dan kopi menemani Ye Jun dan Abi, sementara Ummi dengan air madu hangat dan roti kelapa, hanya Ara yang berbeda, gadis itu memilih membersihkan piring kotor.
"Bagaimana kabar ayahmu, Nak?" tanya Abi
Ara menghentikan guyuran air yang membersihkan sisa sabun dipiringnya
"Appa ... Baaik, Bi" jawab Ara ragu-ragu
"Ara nggak kasi tau Appa kalau Ara sedang di sini, Nak?" tanya Ummi menebak
Kali ini Ara benar-benar menghentikan kegiatannya yang masih belum rampung. Mengeringkan tangannya dan duduk bersama dengan kedua mertuanya juga Ye Jun.
"Kenapa semua yang Ara lakukan harus memberitahu Appa, Ummi? Apa Ara salah bersikap seperti ini, Abi?" pandangan Ara begitu sedih, sangat sulit menguasai emosi jika berbicara tentang ayahnya
"Bersikaplah baik kepada siapapun, Nak. Apalagi ini ayah kandungmu. Kau tidak akan ada di dunia ini, kita bahkan tidak akan pernah bertemu kalau tidak karena beliau, Sayang" Ummi mengelus pundak Ara dengan penuh kasih, wanita itu seolah bukan sebagai mertua Ara tapi sebagai ibu nya
"Sampai saat ini, Ara masih belum bisa ikhlas dan berprilaku seperti Ara ke Abi dan Ummi. Maafkan Ara" airmata itu pun tumpah juga
"Semuanya sudah takdir Allah, Nak. Meninggalnya Razi suamimu, perginya ayah kandungmu. Semuanya pasti sudah yang terbaik.
Tidak ada takdir yang luput dari kehendak sang pencipta, Nak." ucap Abi memberikan nasehat
"Ara sudah pernah menanyakan apa yang membuat ayahmu tidak pernah kembali ke Indonesia?" tanya Ummi, Ara menggeleng
"Ara nggak siap mendengar penjelasan Appa, Ummi. Ara takut yang selama ini Ara asumsikan benar, Ummi. Tapi ... Ara rasa memang itu lah kebenarannya. Ara pernah melihat sekali ruangan Appa, di ruangan itu ada satu foto perempuan dan anak laki-laki. Itu pasti alasan kenapa Appa melupakan kami kan, Ummi" ucap Ara
"Semuanya tidak akan jelas kalau Ara tidak menanyakannya, Nak. Iyakan, Ye Jun?" ucap Ummi, Ye Jun yang sedari tadi hanya diam terkejut, bingung ingin menjawab apa
"Maaf, bukannya ikut campur. Tapi karena Ummi bertanya mungkin yang barusan dikatakan Abi dan Ummi benar, Ra. Jangan membuat kesimpulan sendiri. Dan seperti biasa ... Kau selalu memberikan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan ku dengan membawa kepercayaanmu.
Bukankah dalam Islam bersikap sopan kepada orangtua termasuk hal yang utama? Kenapa kali ini kau sepertinya hanya menguasai teorinya saja?" ucap Ye Jun, Ara yang sedari tadi tertunduk mengangkat wajahnya menatap Ye Jun
"Ops! Aku hanya menjawab pertanyaan Ummi. Sorry! Gawat Ummi sepertinya Sahara sedang menunjukkan hawa panasnya!" ucap Ye Jun dengan tawa terpaksa
.
.
.
.
Happy reading😊