
Setrika diatas kain tebal itu masih panas, pemiliknya baru saja menyelesaikan pekerjaan merapikan kain-kain yang kusut.
Beberapa barisan baju, celana dan hijab tersusun rapi menunggu giliran untuk masuk kedalam tempat peristirahatan sebelum dipakai kembali.
"Sudah, Biar Ummi saja yang merapikan punya Ummi dan Abi, Nak. Terimakasih sudah mau repot-repot menyetrika baju kami. Ara berkemas saja lah" ucap Ummi melihat Ara yang juga menyetrika pakaian mertuanya tersebut
"Tidak apa-apa, Ummi. Masih ada waktu kok. Ara nggak bisa buat ini tiap hari kan." jawab Ara tersenyum sambil membereskan alas dan juga setrikaan kembali ke tempat penyimpanannya
"Nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabari Ummi ya, Nak"
"Ya, Mi. Insya Allah"
"Semuanya sudah masuk, Nak. Nggak ada yang ketinggalan? Pakaian Ye Jun?"
"Hm ... Sudah, Mi. Menyusahkan!" Ara menepuk sepasang pakaian Ye Jun yang sudah ia cuci dan setrika tersebut, menunjukkan pada Umminya
"Baju Ara sepasang ditinggal di sini boleh kan, Mi. Ara taruh di lemari abang" Ara menyeringai
"Boleh dong. Kapan Ara ada waktu, pintu rumah ini selalu terbuka untuk Ara. Jangan pernah anggap kami oranglain, Ara tetap akan jadi anak Ummi dan Abi sampai kapanpun" Ummi memeluk Ara dan mencium keningnya,Sayang.
"Udah lama nggak nyuci dan nyetrika baju cowok kan? Gimana rasanya, ada rasa dag dig dug gitu nggak?" ya ... Ummi mulai lagi deh
"Ada, Mi. Dag dig dug karena pegel" jawab Ara cemberut
Gadis itu telah siap meninggalkan rumah bernuansa jawa tersebut, rumah kedua yang paling ia rindukan setelah rumah peninggalan bundanya yang sekarang ia ubah menjadi villa mini di kampung halamannya.
"Sudah kasi kabar ke Appa belum?" tanya Ummi lagi, Ara menggeleng
"Araa!" panggil Ummi agak melotot
"Hape Appa nggak aktif, Mi. Ara sudah coba telpon. Biar saja lah, biar surprise ... Itupun kalau Appa nungguin Ara sih" Ara tampak pesimis
"Tentu saja Appamu menunggu-nunggu kepulangan anaknya. Dia menyayangimu, Sayang. Percaya sama Ummi" peluk Ummi lagi, mencoba memberikan pengertian pada menantunya tersebut
Laki-laki berkemeja biru lengan pendek menghampiri mereka. Menatap kedua wanita beda generasi itu dengan mengumbar senyum.
"Masih mau peluk-pelukan terus nih? Kapan kita berangkatnya?" tanyanya
"Haha ... Abi. Kalau Abi sudah siap kita bisa jalan sekarang." Ara melihat jam diponselnya,
"Abi sudah siap dari tadi, Nak"
Mereka pun pergi menuju travel yang akan mengantarkan Sahara Ga Eun ke kampung halamannya, Bali.
"Nak ... Ingat pesan Ummi baik-baik. Kamu masih muda, kalau Allah menghadiahkan kepadamu rasa yang dulu pernah Ara rasakan pada anak Ummi jangan melawannya. Rasa cinta itu fitrah, Nak. Ummi juga mau memiliki cucu dari kamu" kata terakhir Ummi setelah benar-benar akan berpisah dengan Ara
Ara menatap Ummi sendu, tak ingin menjawab perkataan perempuan yang menyayanginya itu. Ini bukan kali pertama wanita itu mengatakan hal yang sama.
Mungkin memang ada benarnya, Sahara menjadi janda diusianya yang masih tergolong muda. Bahkan gadis seusianya saja ada yang belum menikah pula.
"Ara berangkat ya, Mi." Perempuan itu mencium punggung tangan Ummi lalu bergantian pada Abi. Sahara masuk kedalam mini bus berwarna silver dan melambaikan tangannya dari kaca jendela yang terbuka
\=\=\=\=
Hamparan sawah menghijau begitu menyejukkan mata, pagi itu terasa sangat dingin. Ara memeluk dirinya sendiri untuk memberika kehangatan pada tubuhnya yang masih terasa penat.
Secangkit kopi dan roti lapis menemani gadis itu. Di teras rumah masa kecilnya itu Ara duduk sendiri. Seorang laki-laki yang berusia sekitar 40 tahunan menghampirinya bersama anak laki-laki bertubuh gempal.
"Ga Eun, akhirnya kau pulang juga" ucap laki-laki itu menepuk pundak Ara
"Eh, Bli!" Ara berdiri membungkuk sejenak lalu menangkupkan kedua tangannya di dada
"Hey ... Siapa ini?" tanya Ara, anak laki-laki itu bersembunyi dibalik tubuh ayahnya
"Papa ... Apa dia orang Korea?" bisik anak tersebut, namun Ara masih bisa mendengarnya. Perempuan itu tersenyum gemas dan menyapa anak laki-laki pemalu tersebut
"Anyongaseo!" ucap Ara dengan melambaikan kedua tangannya pada anak tersebut, pipi anak laki-laki itu memerah tersipu malu
"Oh ... Ya, Ga Eun! Mumpung kamu lagi disini Bli mau kamu memeriksa pembukuan villa ini. Sejak Ga Eun mempercayakan ini semua kepada Bli, Ga Eun tidak pernah pulang."
"Ga Eun percaya kok pada, Bli. Rumah ini terawat saja Ga Eun sudah sangat bersyukur."
Percakapan berikutnya pun terjadi beberapa lama, Maklumlah mereka sudah lama tidak bertemu. Laki-laki itu yang dipercayakan Ara mengurus rumah kecilnya yang juga satu tempat dengan villa milik keluarga Ara.
\=\=\=\=
Ara menghabiskan waktu seharian dengan berjalan-jalan, menapaki jejak-jejak kenangannya bersama sang bunda.
Malam itu, Ara sudah berada dalam kamar. Satu album kenangan membuatnya tersenyum, tertawa bahkan menangis sendiri. Jika ada yang melihatnya saat itu, pasti kewarasan gadis itu sedang di ragukan.
Tatapan Ara berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan keluarga yang utuh, ada seorang laki-laki, perempuan cantik dan juga bayi kecil dalam dekapan sang ibu. Mereka tampak sangat bahagia.
Jemari lentik Ara meraba setiap jengkal foto tersebut.
"Appa ...." rengeknya
Seberapa pun kebencian dalam diri Ara, pasti sepersekian mili bahkan amat sangat kecil sekali ada rasa rindu pada laki-laki itu.
Tidak ada jejak-jejak kenangan dalam ingatannya tentang sosok laki-laki yang sangat dicintai oleh sang bunda.
Laki-laki itu pergi kembali ke negaranya saat usia bayi dalam gendongan itu belum genap dua tahun. Berjanji akan kembali secepatnya namun sampai bayi itu tumbuh menjadi gadis cantik dan sang bunda meninggal dunia, dia tidak pernah kembali.
Suara notifikasi pesan singkat masuk bertubi-tubi, disusul panggilan suara dari nomor yang sama. Ara mengambil ponselnya.
"Jeny ada apa?"
"Ara! Kapan kau datang?"
"Mungkin lusa, aku sedang di rumah bunda saat ini. Kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan!"
"Ya ... Katakan saja sekarang. Aku masih bisa mendengarmu"
"Kita harus bertemu langsung, Ra."
"Ada apa sih?" Ara menjadi penasaran
"Ck! Susah ngomongnya kalau dari telpon begini."
"Haah ... Kau ini! Jadi nggak bisa tidur nih aku" Ara kini mulai kesal di buatnya
"Pokoknya aku mau kita ketemu dulu! Eh ... Ara, aku mau tanya sesuatu!"
"Hm ... Apa?!!"
"Apa kau menyukai Ye Jun?"
"Hah ... Apa tidak ada pertanyaan lain? Anakmu bagaimana? Apa sudah sembuh?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Ara! Gawat!"
.
.
.
.
Happy reading, sudah sampai episode ini kok blum ada yang kasi rating ya, ayo dong. Nilai tulisanku dengan bintang. 🙏