
Hyun-Shik dengan apronnya tengah memasak hidangan istimewa. Walaupun Ara jauh dari negara kelahirannya, namun laki-laki itu ingin menghadirkan makanan khas yang biasa di sajikan saat perayaan hari kemenangan tiba.
Opor ayam beserta pelengkapnya akan segera tersedia di meja. Laki-laki itu melihat anaknya menuruni anak tangga, dengan gamis berwarna sage dengan jilbab senada membawa tas yang mungkin berisi mukena.
"Sarapan dulu, Nak. Nanti Appa akan ikut denganmu" ucap laki-laki itu
Sahara mendekat, tersenyum menyapa laki-laki paruhbaya tersebut.
"Memang Sunnahnya kalau idul fitri makannya sebelum shalat, Pa. Tapi, Ara nggak mau terlambat, kan jauh" ucap gadis itu mengumbar senyum, hari ini Ara sedang mode on senyumnya
"Oh ... Iya, Maaf"
"Kenapa harus minta maaf. Appa nggak salah kok. Nanti Ara makan ya, Pa. Ara pergi sekarang ya " pamit gadis itu
"Appa boleh ikut?"
"Hm ... Boleh" Ara merasa senang, walaupun mereka berbeda keyakinan. Kehadiran Hyun-Shik di lebaran tahun ini memberikan kesan berbeda untuknya. Beda namun membuat bahagia. Sebenarnya ini sudah kali keduanya berlebaran di Korea tapi tahun lalu, bahkan Ara sendiri lupa kemana dia dan Hyun-shik waktu itu.
"Ara sudah pesan taksi, sudah di depan. Ayo, Appa" ajak gadis itu, Hyun-Shik membuka apronnya dan melihat tampilan nya di cermin
"Sudah rapi kok. Appanya Ara ganteng" ucap Ara memuji
\=\=\=\=
Takbir berkumandang, lantunan takbir kemenangan mengguncang hati setiap insan haru atas perpisahan dengan bulan penuh berkah dan haru menyambut kemenangan setelah satu bulan melewati ramadhan dengan penuh ke khusukan.
Kasak kusuk terdengar dari jamaah yang usianya sepantaran dengan Ara, beberapa diantaranya malah tampak serius membahas apa yang mereka lihat pagi ini. Ara hanya beristighfar dalam hati. Bukan saatnya membahas hal selebriti saat ini, pikirnya.
Gadis itu melihat kearah belakang, tempat dimana dia meninggalkan Hyun-Shik yang bersikeras menyaksikan shalat ied dari jarak dekat.
Laki-laki itu tampak duduk di bawah pohon beralaskan koran entah darimana beliau mendapatkan itu.
"Seandainya kita bisa beribadah bersama, Pa" batin Ara
Waktu shalat pun tiba, seluruh jamaah mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian. Usai melaksanakan segala rukun, Ara bersalam-salaman dengan jamaah shalat ied lainnya.
Lagi-lagi gadis itu mendengar kasak-kusuk dari beberapa kumpulan gadis. Pembicaraan mereka berhenti begitu melihat sosok yang mungkin mereka bicarakan keluar meninggalakan masjid tersebut.
Ara tidak sengaja melihat juga ke arahnya, degup jantung Ara spontan tidak stabil. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ya Allah, apa aku tidak salah lihat" gumamnya
Walaupun sebagian wajah laki-laki itu tertutup masker tapi Ara tau persis siapa pemilik wajah dengan kulit putih pucat itu. Walaupun tindikan dikedua telinganya tidak menggantung benda bulat yang selalu ia kenakan tapi Ara bisa memastikan kalau yang ia lihat adalah ... Ye Jun.
Ara melipat mukenanya, memasukkan kembali kain lebar berwarna putih tersebut kedalam tas. Lalu keluar dari masjid menemui ayahnya yang mungkin sudah bosan menunggunya.
"Appa" panggil Ara setengah berlari
"Sudah selesai shalatnya?"
"Hm ... Pa, Apa tadi Appa melihat Ye Jun?" tanya Ara
"Appa! Ara serius" rengek Ara manja
Hyun-Shik semakin tertawa melihat tingkah putrinya tersebut.
"Ayo kita cari makan. Pasti kau sudah lapar" ajak Hyun-Shik
"Kita makan dirumah saja, Pa. Kan sudah ada opor menunggu di rumah"
"Tapi rumah kita jauh, Nak. Kau masih belum memakan apapun sedari tadi. Kita cari makan dekat sini saja" ajak laki-laki itu
"Loh ... Kan Sayang, Pa. Appa sudah susah-susah masak untuk Ara"
"Nanti sampai rumah makan lagi" kali ini Hyun-Shik menarik tangan putrinya, agar gadis itu bergegas
"Ara belum lapar kok, Pa" tolak gadis itu lagi
"Tapi Appa sudah lapar, Nak" gantian Hyun-Shik yang mulai merengek
"Oh ... Oke oke. Appa tidak boleh melawan lapar. Nanti Appa sakit lagi. Ayo kita cari makanan disekitar sini." akhirnya Ara mengalah, tidak tega begitu mendengar ayahnya kelaparan.
Akhirnya mereka menemukan tempat makan yang mulai dipenuhi oleh jamaah shalat idul fitri di masjid Nocsan Islamic centre itu.
Saat mereka sedang menikmati makanan ponsel Hyun-Shik berdering. Laki-laki itu melihat nama dilayar lalu langsung mengangkatnya.
"Ayah dimana?" suara dari seberang sana
"Sedang makan dengan Ara. Ayah menemani Ara shalat idul fitri di Nocsan" terang laki-laki itu
"Apa? Kau juga disini?" suara Hyun-Shik agak keras tidak percaya anak laki-lakinya juga berada disekitar situ
"Tuh kan benar, emang tadi itu dia! Tapi kok ...." gumam Ara mendengar pembicaraan Appanya dan juga Ye Jun.
"Ya sudah kalau begitu kau kesini saja. Kami juga masih belum selesai makan. Ayah pesankan makanan untukmu ya" lanjut Hyun-Shik. Setelah telpon itu berakhir, laki-laki yang berprofesi sebagai chef propesional tersebut meninggalkan Ara. Hyun-Shik tampak sedang memesan makanan lagi di meja resepsionis
"Apa Ye Jun mau kesini?" tanya Ara
"Iya, ternyata dia juga sedang ada di sekitar sini" jawab Hyun-Shik
"Mungkinkah Ye Jun muallaf?" Ara membatin
.
.
.
.
Maaf ya, Ara lebaran duluan ðŸ¤