
Perut yang tadinya keroncongan sudah terisi penuh, ibarat daya batrai yang tadinya lowbat kini sudah penuh. Ye Jun dan Sahara siap memulai perjalanan lebih kurang enam sampai tujuh jam ke depan.
"Apa kita bisa naik sekarang?" bisik Ye Jun ketelinga Ara, sepertinya laki-laki itu mulai tidak nyaman dengan tatapan orang-orang.
"Kenapa? Tunggu lah disini sebentar. Apa kau tidak mau menyapa fans mu dulu?" ucap Ara tertawa kecil
"Aku tidak mau! Ayo lah ...." jawab Ye Jun, kata-katanya seperti sebuah rengekan
"Iya ... Iya, Ayo! Kita naik kereta disana! Ini tiket mu!" Ara menunjuk ke arah kereta yang sedang parkir dan memberikan secarik kertas berwarna orange muda, ada nama Ye Jun disana
"Kau sajalah yang pegang" jawab laki-laki yang sudah terbiasa memiliki asisten pribadi tersebut
"Oh ya, sebentar Ye Jun! Ada yang ingin bertemu denganmu! Ayo kita kesana sebentar saja" ajak Ara berjalan lebih dulu dari Ye Jun, agar laki-laki itu mengikutinya
Ara berjalan menuju ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh staf KA. Disana sudah menunggu perempuan berbaju biru muda dengan sanggul yang sangat rapi ala pramugari. Gadis itu tampak sangat girang.
"Terimakasih, Kak!" ucap gadis itu sangat berterimakasih, entah mimpi apa dia semalam dapat berjabat tangan langsung dan mengambil foto idolanya tanpa harus mengantri atau bahkan membeli tiket konser Ye Jun yang amat sangat mahal itu.
"Iya" jawa Ara melambaikan tangannya, Ye Jun membungkuk sopan. Membuat gadis itu benar-benar bertambah kagum
"Kau pasti membeli tiket ini dengan harga murah, itu sebabnya aku kau paksa ikut masuk kesana tadi!" ucap Ye Jun menatap Ara kesal setelah mereka duduk di kursi masing-masing
"Enak saja! Aku membeli tiket yang paling mahal tau! Haaah ... Kau ini, tabunganku akan cepat menipis kalau begini!" jawab Ara kesal, bagaimana tidak. Karena memikirkan kenyamanan Ye Jun, gadis itu terpaksa membeli tiket luxury.
"Ini yang paling mahal?"
"Iya, Tuan Ye Jun. Aku bahkan sudah menghabiskan dua juta hanya untuk tiket kita berdua" Sahara menyandarkan tubuhnya lemas
Rasanya tidak mungkin, dan pasti akan repot jika Ara membeli tiket untuk gerbong yang berbeda
"Hahaha ... Tamu adalah raja" ucap Ye Jun menatap Ara dengan senyuman manisnya
Sahara mendengus kesal, menyesal mengatakan hal seperti itu tadi saat mentraktir Ye Jun makan di rumah makan padang.
Ya ... Segala pengeluaran mereka hari ini semua ditanggung oleh Ara.
Keadaan mulai hening, kereta api juga mulai berjalan lambat meninggalkan stasiun Gambir.
"Terimakasih, Ga Eun" ucap Ye Jun menatap Ara yang sedang melihat keluar jendela
Gadis itu mengalihkan pandangan, tersenyum dan mengangguk pelan
"Kau tamu disini, sudah seharusnya aku memuliakan tamu" ucap Ara lalu kembali menatap keluar jendela
\=\=\=\=
Kereta Api Gajayana mengantarkan mereka menuju kota yang dirindukan Ara. Tempat dimana dia menimba ilmu dan menemukan seseorang yang pernah membawanya menuju kebahagiaan.
Sambil melihat keluar jendela bayangan masa lalu berkelebat bagai sebuah film pendek yang sedang tayang dilayar kaca.
Tiga tahun lalu, Sahara yang berdarah Bali-Korea baru saja pulang dari negara asal ayahnya. Untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah gadis itu merasa harus langsung terbang dan belajar ke tempat asal mula trand makeup berasal. Karena make up ala korea sedang sangat hits saat itu.
Sebagai mahasiswa fakultas Teknik program study tata rias dan kecantikan dirasa sangat perlu untuk mempelajari hal baru dan yang sedang buming, agar proses penyelesaian kuliahnya mudah dan dapat diterima oleh dosen pembimbingnya.
Ga Eun, gadis berambut panjang berwarna coklat tersebut masih diam memandangi wajahnya di depan cermin.
Keingintahuannya tentang sebuah ajaran agama membuatnya sampai di titik akhir. Gadis itu mencoba sebuah kain tipis yang diberikan seseorang untuk menutup kepalanya.
Menyematkan jarum ke bawah dagu. Senyum Ga Eun sedikit mengembang.
"Tidak seribet yang aku bayangkan" ucapnya dan kembali membuka jilbab tersebut.
Ga Eun kemudian bergegas mengemasi barang-barangnya, memasukkan kedalam tas sandang dan pergi meninggalkan ruangan kecil tempat ia tinggal selama hidup di kota yang terkenal dengan wisata malioboro itu setelah ponselnya terus saja berdering memanggil.
Langkahnya melambat saat seseorang bertas ransel berlari ke arahnya. Laki-laki berhidung mancung dengan bulu-bulu halus menghias sebagian wajah itu membawa sebuah kotak bekal. Dia sangat tampan, Jika berdandan ala pangeran arab tentu saja akan sangat tampan sekali.
"Hey ... Kenapa kau berlari seperti itu!" ucap Ga Eun tersenyum
"Aku mau mengajak mu ke tempat ini! Aku sudah reservasi! Oh iya ... Ini dari Ummi" ucap laki-laki itu memberi sebuah kertas yang ia letakkan diatas kotak bekal
"Kau mendapatkannya? Wow! Ini pasti kekuatan orang dalam" pungkas Ga Eun, menatap kertas yang menjelaskan bahwa Ga Eun terdaftar dalam seminar yang diadakan oleh doktor asal India yang sedang safari dakwah
"Sekarang? Eh ... Ini apa?" Ga Eun membuka kotak bekal, senyumannya mengembang bahagia
"Ummi memang the best! Aku makan ini dulu!" Ga Eun berjalan menuju bangku di bawah pohon rindang halaman kampus
"Apa masakan Ummi se enak itu?" Razi menatap Ga Eun yang sedang memakan nasi goreng kecombrang masakan ibunya
"Hm ... Kenapa Ummi tidak membuka gerai nasi goreng saja ya, kalau iya ... Aku bersedia bekerja tanpa di bayar. Asal aku boleh memakannya setiap hari" ucap Ga Eun dengan mulut penuh
"Jangan berbicara kalau mulutnya lagi penuh" nasehat Razi
"Iya, Abang! Maaf ...." jawab Ga Eun manja
Razi adalah anak dari sahabat Ibu Ga Eun, saat ibu Ga Eun meninggal, keluarga Razi memang ingin mengajaknya untuk tinggal bersama mereka namun, Ga Eun menolak dengan alasan akan menyelesaikan sekolah dulu di Bali dan berjanji akan datang ke Jogja dengan kabar gembira bisa kuliah disana dengan beasiswa penuh.
"Alhamdulillah ...." ucap Ga Eun mengusap mulutnya yang terasa berminyak, Razi yang mendengar ucapan itu tersenyum dan berdoa dalam hati agar hidayah benar-benar di dapatkan oleh Ga Eun
"Abang bawa minum?" tanya Ga Eun. Razi menggeleng
"Yaa ... Seret deh ini" Ga Eun memegang lehernya, Razi menggeleng atas sikap perempuan kesayangan ibunya tersebut
Razi berlari ke arah kantin, beberapa saat kemudian datang lagi membawa sebotol air mineral berukuran seribu enam ratus mili.
"Habiskan!" ucap Razi memberikan botol air mineral tersebut
"Ha?! Ini kan banyak!"
"Hm, banyak minum air putih itu bagus untuk tubuh" jelas Razi
"Iya ... Iya." Ga Eun meneguk air mineral tersebut memegang botol tersebut dengan kedua tangannya
Karena waktu terus berputar mereka pun segera meninggalkan kampus menuju tempat acara seminar.
****
Dengan linangan air mata, dipimpin oleh seorang laki-laki berkulit hitam berjas biru. Ga Eun mengucapkan dua kalimat sahadat.
Sepasang suami istri saling berpelukan, menangis haru terutama perempuan bergamis hitam dengan jilbab biru langit.
"Alhamdulillah, Abi." ucapnya
Sementara laki-laki beransel yang sedang melakukan panggilan video itu ikut menitikkan air mata.
"Setelah selesai acaranya nanti bawa Ga Eun ke rumah ya, Nak." ucap perempuan yang Razi panggil dengan sebutan Ummi itu
"Ummi akan masak makanan istimewa" ucap Ummi
"Razi, sepertinya sudah saatnya kau menepati janjimu pada Abi!" ucap Ayah Razi setelah istrinya pergi dan meninggalkan mereka berdua dalam panggilan telepon
"Tapi, Abi. Razi masih baru saja bekerja" jawab Razi ragu-ragu
"Jangan pernah mengukur rezki yang Allah berikan. Setelah menikah rezki istri itu ada"
"Iya, Abi. Sudah dulu ya, Abi. Razi ke Ga Eun dulu" ucap anak muda tersebut
Razi tersenyum melihat Ga Eun dari jarak beberapa meter. Ga Eun duduk dengan beberapa teman satu organisasi dengan Razi di kampus. Mereka juga ikut menangis haru.
"Saatnya berjuang menjadikannya istri solehah, Akhi" ucap laki-laki berkoko putih di sebelah Razi
"Insya Allah!" jawab Razi
.
.
.
.
Maaf lama tidak update manteman, kondisi kesehatan sedang terganggu. 😊🙏