
Masih dalam lingkungan candi yang sangat luas, Ara dengan baik hati menjelma menjadi seorang pemandu wisata seperti ibunya dulu. Tidak sulit untuknya, karena sang bunda selalu membawanya saat bekerja kalau dia sedang tidak bersekolah.
"Ra ... Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kau akan tinggal terus bersama keluarga suamimu itu?"
"Tentu saja tidak. Aku takut nanti jadi pembicaraan orang, kalau tidak memikirkan itu pasti aku tidak akan pernah tinggal dengan Appa." jelas Ara, kerutan dahi Ye Jun membuat Ara harus meneruskan penjelasannya
"Razi kan punya kakak laki-laki, aku tidak mau orang-orang mengatakan aku mengincar kakaknya pula. Maklumlah, serba salah menjadi seorang janda"
"Lalu kau mau kemana? Apa pulang ke Bali?"
"Hm ... Nanti saja aku memikirkannya. Ye Jun-a ... kau harus membeli oleh-oleh kan? Apa kita bisa berangkat sekarang?" Ara tidak mau melanjutkan pembicaraan tentang nya, lebih baik menyudahi dan mengajak Ye Jun berbelanja oleh-oleh.
"Ya ... Oke. Kita berangkat sekarang" Ara dan Ye Jun berjalan beriringan meninggalkan tempat itu, sesekali Ye Jun melihat ke belakang menatap bangunan yang masih kokoh berdiri meski usianya sudah sangat tua, mungkin dalam hatinya berkata 'aku akan kembali lagi'
Seperti mitos Kunto Bimo bahwa siapa saja yang merogoh ke dalam stupa candi Borobudur dan menyentuh bagian tertentu dari tubuh arca Buddha di dalamnya akan mendapatkan keberuntungan atau terkabul keinginannya. Dan Ye Jun menunggu hal tersebut terjadi.
Baru saja mobil mereka bergerak meninggalkan tempat itu ponsel Ye Jun berdering. Laki-laki tersebut menatap nama yang tertera di layar. Menggulir ikon hijau lalu mulai menyapa
"Bumi Hyung. Ada apa?"
"Kau tidak lupa jadwalmu kan?"
"Tidak! Besok aku akan pulang."
"Oh ... Baguslah, aku takut kau terlalu nyaman disana. Ye Jun, ada sedikit masalah disini"
"Katakan!"
"Sepertinya Kau harus membawa Ara ikut kembali kesini"
"Ada apa? Ada apa dengan Jeny?" mendengar kata Jeny, Ara yang sedari tadi menatap keluar jendela tertarik dengan pembicaraan Ye Jun dan asisten pribadinya tersebut.
Bumi pun menceritakan bahwa Jeny mencarinya beberapa hari yang lalu dan mengatakan kalau dia belum bisa kembali bekerja karena anaknya sedang tidak sehat, dan suaminya melarang Jeny untuk menitipkan sang anak meski pun kepada ibu nya sendiri.
"Apa kau sedang bersama Ara?"
"Ya. Dia bersamaku. Aku atau kau yang memberitahu ini. Kalau dia tidak mau apa kau mau aku mencari pengganti."
"Aku tidak mau orang lain. Kalau bukan Jeny ya Ara saja. Aku akan membicarakan hal ini pada Ara. Kami akan pergi membeli oleh-oleh. Kau mau apa, Hyung?"
"Baiklah. Terserah kau saja."
"Hm ... Ye Jun!" panggil Bumi lagi, kali ini suaranya agak ragu
"Ada apalagi, Hyung?"
"Aku sekarang sedang bersama paman ... Di rumah Sakit." ucap Bumi tampak sangat hati-hati
"Apa?!! Kenapa? Apa yang terjadi pada ayah?" Ye Jun tampak sangat gelisah,
"Salah satu pekerja direstoran menelpon, memberitahu bahwa paman sedang sakit. Paman tidak mau kau tau, mereka bingung harus bagaimana karena paman sempat pingsan waktu itu. Mereka bilang, anaknya juga tidak bisa dihubungi dan paman juga bersikeras tidak mau dirujuk ke rumah sakit"
"Astaga! Untung aku pernah menelpon ayah dengan ponselmu. Pasti ayah menyimpannya. Bagaimana kondisinya sekarang? Aku akan pulang malam ini juga. Tolong kau jaga dia!" ucap Ye Jun mengambil keputusan
Panggilan itu berakhir. Ara yang sedari tadi penasaran karena namanya disebut-sebut dan perobahan wajah Ye Jun yang terlihat cemas langsung mencecar Ye Jun dengan pertanyaan.
"Ada apa Ye Jun? Apa yang terjadi dengan Jeny? Dan ayahmu kenapa?" tanya Ara
"Aku harus segera ke bandara. Aku harus pulang. Ayah sedang sakit" jawab Ye Jun, wajahnya terlihat benar-benar cemas dan matanya juga mulai berkaca-kaca
"Ya ... Kau harus pulang" ucap Ara. Gadis itu merasa kasihan melihat sisi lain Ye Jun yang tampak sangat sayang kepada orangtuanya.
Perjalanan itu dirasa amat sangat panjang. Tanpa komando air mata Ye Jun tumpah sedikit lalu menganak sungai.
"Ada Bumi disana. Ayahmu tidak sendiri, Ye Jun. Semoga beliau baik-baik saja" hibur Ara
Ye Jun hanya bisa diam dan menyeka airmatanya, memalingkan wajah dari tatapan Ara menatap langit yang mulai senja.
"Ayahmu pasti orang yang sangat baik. Kalau tidak, tidak mungkin anak laki-laki sampai menangis seperti ini" ucap Ara memandang Ye Jun dengan kedua siku bertumpu diatas kaki.
"Jangan mengejekku disaat seperti ini!" Ye Jun menyeka airmatanya
Sahara tersenyum, sebenarnya ada rasa iri dalam hatinya. Beruntung sekali Ye Jun, laki-laki itu berhasil dalam karir dan mempunyai orangtua yang sangat dia sayang dan menyayanginya.
"Sampaikan salam ku pada ayahmu, semoga cepat sembuh." ucap Ara sambil memberikan air mineral pada Ye Jun
"Terimakasih. Nanti akan aku sampaikan. Oh ... Ya, Kau juga bisa menyampaikannya sendiri kalau nanti sudah sampai di Korea" jawab Ye Jun setelah meneguk air dalam botol transparan tersebut
Ara menatap Ye Jun dengan heran
"Barang-barang ku tolong bawakan. Tolong belikan beberapa oleh-oleh juga untuk Hyung, Jae Sun dan juga Jeny" oceh Ye Jun
"Hah! Berapa harga paketnya itu. Ya Tuhan" Ara menepuk jidatnya sendiri
"Ternyata kau sangat pelit, Ga Eun! Aku bukan menyuruh mu untuk memaketkannya, tapi aku menyuruhmu membawanya langsung." ucap Ye Jun pula
"Aku sudah menyuruh Bumi hyung mentransfer sejumlah uang. Itu untuk tiket pesawat mu. Anggap itu hadiah dari ku karena kau sudah menjadi pemandu wisata ku hari ini" Ara yang mendengar ucapan Ye Jun terbelalak
"Jeny masih belum bisa bekerja, anaknya sakit dan suaminya belum mengizinkan anaknya dijaga oleh pengasuh! So ... Kau masih harus bekerja padaku beberapa bulan ke depan. Aku juga sudah bayar gajimu di depan, Hyung mungkin juga sudah mentransfernya!" lanjut laki-laki itu lagi
"Njuuuun! Kau sangat menyebalkan! Kenapa aku dipertemukan dengan orang sepertimu!" Ara yang tadinya iba melihat Ye Jun berubah menjadi kesal
"Haaah ... Aku masih ingin berlama-lama disini" rengek wanita itu
"Kau masih memiliki waktu beberapa hari, tenang saja. Puas-puaskan lah menghirup udara kota ini" ucap Ye Jun
"Bukannya lusa kau sudah mulai menjalankan pekerjaan baru?"
"Oh ... Itu bisa diatur. Aku bisa mengatasinya kalau satu hari. Sisanya aku tidak mau!" Ye Jun melipat kedua tangannya di dada
"Naah ... Itu bisa! Ye Jun, aku punya kenalan di Korea, selain Jeny aku punya teman satu kursus juga. Dia juga sebagus Jeny!" tawar Ara wajahnya tampak ceria mendapatkan ide yang baru muncul di benaknya
"Aku tidak mau!" jawab Ye Jun sesuka hati
"Ye Jun!" Ara menggoyang bahu Ye Jun berulang, Laki-laki itu diam saja membiarkan Ara merengek seperti anak kecil yang meminta di belikan es krim
"Dia juga cantik, Njun. Malah lebih cantik dari Jeny!" rayu Ara lagi
"Aku nggak mau! Aku maunya kamu!"
"Njuuuuuun!" teriak Ara, menghempaskan tubuhnya kasar di kursi penumpang.
Sopir yang mengemudikan mobil tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah para penumpangnya.
.
.
.
Sabar ya, Pir! Kalau ngontrak memang gitu nasibnya 🤣✌️