
°°°°°°°°°
Fendi masuk ke dalam kantor tempat ia bekerja. Ia memasuki ruangannya, Walaupun dirinya sekarang masih karyawan biasa. Namun semangat kerjanya luar biasa.
Baru beberapa hari di tinggal cuti saja pekerjaanku sudah menumpuk.
Fendi kala itu menghembuskan nafas panjangnya sambil menatap setumpuk berkas.
Tia,seharusnya kamu tau di sini aku hanya bekerja dan terus bekerja hanya untuk siapa jika bukan untuk dirimu.
mungkin ini saatnya aku harus melepasmu.
dulu kau memintaku berulang kali untuk melepaskanmu.
Inilah yang kamu mau sayang.
Fendi terus melamun hingga dia terkejut saat sahabatnya masuk ke dalam ruangannya.
Namanya Eri. Eri sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Beberapa kali Eri meminta Fendi untuk menjadi sekretaris pribadinya, Namun beberapa kali ia tolak.
" Lu ngapain melamun bro..?!! lagi mikirin Tia yaa..?" Tanya Eri meledek sambil menepuk pundaknya.
Fendi tersenyum dan menjawab,
"Tau aja lu tong..haahaa..!"
Gue hafal lu fen, kalau udah diem begitu udah pasti urusan cinta.. yaaelahh..!!
"Gimana hubungan lu sama dia?? Baik - Baik aja kan gak ada masalah apa - apa.
jadi kemaren sempat kangen - kangenan dong.?! "
Beberapa pertanyaan muncul dari bibir Eri, entah Fendi harus menjawab mana yang lebih dulu.
Kayak wartawan aja lu tong.!!
berisik amat, gak tau gue lagi puyeng apa.
" Gue udah putus sama Tia, Dia kemaren mutusin gue, dia beberapa kali meminta gue ninggalin dia, mungkin karena belum di restui sama ayahnya."
Jawab Fendi dengan nada lesu kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki sekarang.
Kasian amat lu fen, lu udah menderita sejak kecil, kenapa sekarang mesti terulang dengan hadirnya Tia yang begitu lu cintai, akhirnya pergi ninggalin lu dan membuat lu frustasi.
Eri terdiam hanya bengong melihat Fendi yang tampak memejamkan matanya, sangat terlihat jelas jika Fendi begitu mencintai Tia.
"Fen..Gue tau lu, lu gak bakal berubah jadi kayak dulu lagi kan?? jika memang Tia bukan jodoh buat lu, lu harus ikhlas, sekarang lu udah umur berapa bro.. 28!!!" Ucap Eri.
"Gue gak tau er, yang pasti untuk saat ini gue masih belum bisa lupain Tia,
untuk masalah berubah atau tidaknya gue juga belum tau, ada apa dengan umur gue yang 28? gue di suruh nikah gitu"
Balas Fendi sambil mengernyitkan keningnya.
Gila lu tong.!
secepat ini gue di suruh nikah, sedangkan gue aja belum bertemu ayah kandung gue sampai detik ini.
"Yaaa gitulah.. lu gak pengen kayak gue, gue aja udah punya anak 1, kita juga seumuran.
nah lu kapan nyusul?!"
Eri melontarkan kata - kata ledekannya seakan menampar keras pikiran Fendi.
Maafin gue bro jika perkataan gue membuat lu tertampar dan berfikir keras.
Semua gue lakuin supaya lu tidak terus tersakiti.
" Sebenarnya setelah kelulusan Tia nanti, gue pengen melamar dia. Tapi bagaimana jika dia aja pengen gue pergi ninggalin dia dan melupakannya" Jawab Fendi.
"Istri gue punya banyak teman bro..
lu bisa pilih salah satu untuk di ajak nikah.."
Ujar Erri berbisik pelan di telinga Fendi.
Fendi yang kala itu mendengar ucapan Eri hanya menggelengkan kepala.
Lu pikir gue secepat itu melupakan Tia.!!
" Sudah.. sudah.. kerjaan gue banyak nanti bakal gak kelar gue juga yang bakal kena marah lu.."
Usir Fendi seraya mendorong tubuh Eri untuk keluar.
"Fen.. Gue masih berharap banget lu mau jadi sekretaris pribadi gue, gimana?? "
Tanya Eri serius.
" Nanti gue pikirin.."
Jawab Fendi sambil menghela nafas panjang.
Masih aja lu nanya ini ke gue..hssstttt...
Teriak Eri yang sudah berada di balik pintu keluar.
°°°°°°°
Waktu menunjukkan pukul 20.30
Tia hari ini sedang belajar untuk menghadapi ujian penentuan kelulusannya.
Kenapa sih aku gak bisa fokus, Fendi..Fendi.. dan Fendi lagi yang terus terngiang di pikiranku.bagaimana besok jika aku gak bisa jawab soal - soalnya.
Seketika dia benar - benar frustasi dengan bayangan Fendi yang terus muncul di pikirannya.
Akhirnya dia mencoba untuk menenangkan pikirannya, dengan cara merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Mungkin aku harus tidur lebih awal, untuk sedikit menenangkan pikiran dan perasaanku,
besok harus bangun jam 2 pagi untuk belajar.
Akhirnya Tia tertidur dengan pulas.
Rumahnya sudah sangat sepi dan lampu di setiap ruangannya juga sudah padam, suasana hening tanpa ada suara apapun.
Hanya Ibu Tia yang kala itu masih begadang karena sedang berbalas pesan dengan ayah Tia. Ternyata kecurigaan Ibunya Tia benar adanya, bahwa suaminya telah mengkhianatinya.
Ibunya Tia mencoba untuk menyembunyikannya. Karena beliau takut jika Tia dan Ari mendengarnya. Mereka berdua sedang menghadapi Ujian kelulusan walaupun beda tingkat sekolah.
Kenapa ayah mengkhianati ibu. Apa salah ibu selama ini, apa ibu masih belum bisa menjadi yang ayah inginkan. Tapi tidak begini caranya.
Ibunya Tia terus menangis namun hanya air matanya yang keluar, Ia berusaha tidak bersuara karena takut jika salah satu anaknya mendengar kesedihan ibu mereka.
°°°°°°°
Malam sudah berganti pagi dan Matahari sudah perlahan mulai naik..
Tia yang kala itu sudah bersiap namun setengah masih ngantuk karena dia benar - benar bangun jam 02.00 untuk belajar.
Huuaaammm... ngantuk berat sumpah!!
Kemudian dia bergegas keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan. Disana juga sudah ada ibu dan adiknya yang menunggu beberapa menit yang lalu.
"Apa aku kesiangan? gak biasanya udah pada siap begini. astagaa...selamat pagi ibu..adek..?!"
Ucap Tia tak lupa memasang senyum cerah di wajahnya seraya menarik kursinya untuk duduk.
" Pagi juga kak Tia.. Semangat Yaa hari ini Ujian Kelulusan semoga berhasil dan mendapatkan nilai yang bagus.?!!"
Jawab Ari.
"Aminn...!!!"
Balas ibunya.
Tidak biasanya begini kak Tia. nahhh.. ini mah ada sesuatu yang dia tutupi tanpa aku tau..
Kira - kira apa Yaa..??
Pikiran Ari melayang kesana kemari dengan sejuta pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan, apa yang membuat kakaknya tidak seperti biasanya. Mereka bertiga akhirnya menghabiskan sarapan pagi, seperti biasa saat mereka makan tidak di anjurkan untuk mengobrol kesana kemari.
06.30 Am.
Ari dan Tia berangkat sekolah.
Mereka berdua berboncengan, tidak ada pembicaraan apapun selama di perjalanan.
Ari sudah sampai di sekolahan.
seperti biasa Ari mencium punggung tangan kakaknya. Tia sudah mulai menjauh dari hadapan Ari. Dia melajukan motornya dengan kencang, Takut jika sampai terlambat Ujian.
°°
Setelah sampai di sekolah SMA X.
Dia segera memarkirkan sepeda motornya dan berlari menuju kelasnya.
Syukur dech belum ada bel tanda masuk.
hufffttt...
Bel tanda masuk berbunyi.
Pembagian soal pun sudah di mulai. Kini beberapa lembar soal pertanyaan sudah berada di depan matanya.
Aku pasti bisa mengerjakannya dengan mudah. Semangat Tiaaaa...!!
30 Menit berlalu.
Beberapa menit lagi semua jawaban harus dikumpulkan. Tia sudah selesai mengerjakan soal - soal ujiannya. Dia mencoba untuk membolak balikan lembar soal dan jawabannya, untuk meneliti semuanya sebelum di kumpulkan. Bel tanda berakhirnya menjawab soal sudah berbunyi. Semua murid mengumpulkan lembar jawaban dan soal mereka.Tia merasa lega, dan berharap semua jawaban miliknya tidak banyak kesalahan.
°°°°°°°
Tolong kasih like 👍 and vote ya reader's tersyang❤