You're The Only One, You're My Love

You're The Only One, You're My Love
Eps.17



"Bu, jangan bilang seperti itu, Tia tau perasaan ibu, Ibu harus kuat dan jangan sedih seperti ini. Doakan saja Tia semoga bisa bekerja dengan mudah dan betah. Yaa??" Tia berusaha menenangkan situasi pilu. Karena ibunya tetap saja masih bersedih. "Tia janji Bu akan selalu jaga diri!" Tia memeluk ibunya dengan erat hingga tak terasa butiran air mata jatuh dari kedua bola matanya.


Karena ini perpisahan pertama antara Tia dan ibunya, sudah pasti sangat menyedihkan untuk keduanya.


'Aku harus kuat supaya ibu tidak mengkhawatirkanku'


Dengan lembut Tia mengusap kedua pipinya yang seolah tidak terjadi apa - apa.


Ibunya pun akhirnya melepas pelukan putrinya untuk segera membantu mengemas apa saja yang akan di bawa Tia.


'Andai saja kita bisa pergi bersama kemanapun dan kapanpun'


Tia memilih beberapa baju yang ia kira layak di pakai di tempat umum dan untuk bersantai di rumah kos-nya. Setelah semua yang sudah ia pilih di rasa cukup akhirnya di masukkannya semua baju ke dalam koper. Dengan di bantu ibunya yang sedari tadi melipat kembali baju - baju yang berhanger.


Tak lupa 2 pasang flatshoes, sepasang sandal jepit dan beberapa alat make up pribadinya.


'Kurasa cukuplah tidak terlalu banyak dan juga terlihat sedikit'


"Tia, ibu tunggu di dapur yaa" Ibunya berpamitan untuk keluar dari kamarnya.


"Ia Bu, sebentar lagi Tia selesai kok!"


Tia masih mengepak barang - barang yang ia rasa masih cukup untuk di bawanya.


'Apakah aku melupakan sesuatu?'


Ia mencoba mengingat sesuatu yang menurutnya masih belum di kemas.


'Entahlah, lebih baik aku makan saja dulu'


Setelah menurutnya semua sudah beres, Tia bergegas keluar dari kamarnya dan menuju meja makan, di sana hanya terlihat ibunya yang sedang memasak di dapur. Ari sudah berangkat ke sekolah sejak tadi pagi Karena ia sedang Ujian sekolah.


Tia berjalan mendekati ibunya yang sedang memotong sayuran, sepertinya ia akan memasak sup kesukaannya. Tia segera membantu ibunya menyelesaikan masaknya.


" Ibu pasti akan masak sup favoritku" Tia tersenyum bahagia. "Masih ada tempe nggak buk?!" Tia membuka kulkas.


"Masih, di laci bagian bawah masih ada 1 lenjer." Ibunya menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Oke Oke. aku pengen bikin Tempe mendoan juga, sudah lama nggak pernah bikin." lalu memotong tempe yang sudah ia ambil. "Tepung tepung?" Masih sibuk mencari yang kurang.


"Di Toples merah nak." Lagi - lagi ibunya menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Ehm.. Oke!." Kini Tia sudah mendapatkan semua yang ia cari dan segera memasaknya.


Dari memmotong tempe, mengulek bumbu, memotong daun bawang dan bikin adonan. Tahap selanjutnya tinggal menggoreng.


Setengah jam kemudian Tia sudah selesai menggoreng tempe mendoan beserta sambal kacang yang nampak begitu pedas, dan ibunya juga sudah selesai memasak sayur sup dan ikan tongkol balado.


Kini mereka segera bergegas untuk sarapan pagi berhubung Tia akan segera pergi untuk membeli tiket bersama May.


Tia melahap sarapannya tanpa berhenti, mungkin karena hidangan sarapan pagi kali ini sangatlah enak, sehingga dia begitu menikmatinya.


Setelah selesai sarapan, Tia membawa piring kotornya ke dapur untuk di cuci.


"Tia mandi dulu ya Bu, soalnya mau beli tiket dulu sama May, takutnya nggak kebagian." Ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan ibunya yang baru selesai sarapan.


"Iya nak,!" Ibunya ikut bangun membereskan meja makan dan dapurnya.


"Uhh kenyang sekali rasanya!" Tia sampai di kamarnya dan mengambil ponsel miliknya. Segera ia membuka WhatsApp.


"Tingggtingggg!"


Sebuah pesan dari May.


'Gila yaa. siang amat? ngapain aja nih bocah!'


Tia menaruh ponsel di ranjangnya kemudian menuju kamar mandi untuk segera mengguyur badannya dengan air dingin.


Ia merasakan guyuran air mengaliri tubuhnya, seakan menghilangkan semua penat yang ada.


'Uww.. badanku berasa sangat nyaman setelah terguyur air dingin ini!'


Setelah selesai mandi, ia menuju lemari pakaian untuk memilih baju yang akan ia kenakan.


'Kurasa bajuku mulai agak longgaran, apa karena aku banyak pikiran.'


Ia menggelengkan kepalanya dan menyeringai tipis.


'Apa kabar ayah? sudah lama aku tak mendengar kabarmu?'


Saat ia sedang memilih baju dan memakainya, tiba - tiba terlintas sosok ayah yang sangat ia cintai membayangi angan - angannya.


Mungkin karena dulu ayahnya begitu menyayanginya, setiap kemanapun ayahnya pergi pasti selalu ada yang ia bawa.


Ayahnya bagaikan seorang kakak yang selalu menjaganya dulu, walaupun ayah Tia selalu menentang hubungannya dengan Fendi.


Namun kasih sayang Tia selalu bersama Ayahnya.


'Ayah ingin rasanya aku memelukmu'


"Akh.. ayah saat ini kau dimana aku begitu merindukanmu" Ucapnya sambil menyisir rambutnya.


"Ayahmu sudah bahagia dengan wanita pilihannya Tia!" Tiba - tiba ibunya masuk ke dalam kamar dan menjawab gumaman Tia.


"Ibu!!!" Tia terkejut dan terbelalak seketika saat tau ibunya masuk ke dalam kamarnya.


"Maafkan Tia Bu, nggak ada maksud gimana -gimana Tia hanya rindu Ayah." Ujar Tia dengan menundukkan kepalanya.


"Ibu ngerti Tia, tapi kamu sadar nak, Ayahmu sudah tidak menganggap keluarga kita lagi. Bahkan dia sudah menghilang tanpa ada kabar." Ibunya tersenyum tipis melangkah maju untuk memeluk Tia yang kala itu sedang hanyut akan kesedihan karena merindukan Ayahnya.


"Nak, kamu harus sabar dan tabah menjalani semua ini ya, ibu yakin semua ini akan cepat berlalu." ibunya berusaha menenangkan dengan pelukan dan mengelus punggungnya dengan halus.


"Tapi bagaimana dengan ibu, apakah ibu akan segera mencari pengganti ayah?" Tia melepaskan pelukan dan menatap ibunya dengan kedua bola matanya yang sudah terbendung dengan air mata.


"Ibu..? ibu belum berpikir sampai sejauh itu Tia, masa depan kalian berdualah yang paling penting untuk ibu.". Ucap ibunya seraya mengusap air mata yang sudah mengalir di kedua pipi putrinya.


"Apakah ibu tau, Ibu adalah satu - satunya di antara beribu banyak manusia di dunia ini yang sangat aku cintai, kasih sayang yang ibu berikan ke Tia benar - benar tulus melebihi apapun!!"


Tia tersenyum bahagia mendengar perkataan ibunya hingga dia mengungkapkan perasaannya, ia merasa bersyukur memiliki ibu yang sejak dari kecil hingga sekarang selalu menyayanginya dan adik laki - lakinya.


"Benarkah yang kau katakan Tia? Ibu sangat senang mendengarnya!" Ibunya tersenyum bahagia hingga tak terasa air matanya kini tumpah karena sudah tidak sanggup menahannya.


"Ibu.. hik hik...Tia sayang ibu..jangan pernah berubah ya bu sampai kapanpun ibu harus seperti ini." Tangisan Tia semakin menjadi, karena ia sebentar lagi harus berpisah dengan ibunda tercintanya.


"Ia sayang..muach!" Ibunya memeluk Tia dengan erat sambil mencium keningnya dengan lembut.


"Sudah.. sudah.. hapus air matamu, kau harus segera bersiap, katanya akan pergi bersama May?" Ibunya menyuruh Tia untuk segera bersiap. "Ia ibuuu..!" Tia merasa kesedihan di wajahnya kini sudah mulai memudar.


BERSAMBUNG..!!


JANGAN LUPA KASIH LOVE DAN VOTE ❤