
°°°°°°°
Fendi telah tiba di rumahnya.Dia memarkirkan sepeda motornya kemudian masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang juga sederhana, depan teras di penuhi dengan bunga warna - warni Bunga - bunga yang biasa Tia sirami waktu dulu saat Fendi masih di rumah dan belum bekerja. Fendi sudah berada di kamarnya. Tiba - tiba ponsel miliknya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Tia.
"Tiaa...!!" Teriakkk Fendi dengan marahnya.
Fendi merasa tak berdaya setelah membaca pesan masuk dari Tia dan langsung terduduk di kursinya. Dia begitu bingung harus menjawab apa,
'percumah aku menjadi orang yang baik selama ini, seharusnya aku tetap menjadi orang yang jahat dan tak peduli dengan perasaan orang lain. Jika pada akhirnya perasaanku yang di permainkan oleh orang yang sangat aku cintai.
Lamun Fendi, tanpa ia sadari air matanya mengalir deras dari kedua ujung matanya.
Sebelumnya ia tak pernah menangis seperti ini walaupun dulu pernah merasakan sakit hati berulang kali. Sebelum Tia hadir di kehidupan Fendi, Fendi terkenal sebagai pria pemabuk,judi dan juga gonta -ganti pasangan. Dia bertindak sebagai seorang yang tidak sopan, semua dia lakukan atas dasar sakit hatinya terhadap ayah kandungnya. Ayah kandung yang tak pernah membesarkannya, bahkan tak pernah menemuinya untuk melihat kondisi Fendi kala itu yang di asuh oleh Tante Yana (Adik dari ibunya Fendi). Setelah kemarahannya memadam, Fendi membalas pesan Tia.
Ia mengambil ponsel dan mengetik dengan tangan gemetar.
Fendi : Baiklah Tia... aku akan memberikanmu kebebasan.karena selama kita menjalin hubungan kau tak pernah merasakan kebahagiaan, kebebasan, maaf jika selama kita bersama aku selalu mengekangku. Pergilah dari kehidupanku. Enyahlah dari kehidupanku. Jangan pernah mencoba untuk mengenalku.
Pesan terkirim ke nomor Tia.
Setelah aku mengirim pesan ini, aku harap kamu akan puas melihatku menderita Tia.
Fendi mengambil kartu di ponsel dan merusaknya kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Setelah ini jangan pernah mencoba untuk mencariku, aku yakin, di luar sana tidak akan ada seseorang yang benar - benar tulus mencintaimu seperti cintaku padamu, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan kelak.
Ia bergegas mengemas barang - barang dan akan segera pergi meninggalkan kampung halamannya.
°°°°°°°°
Waktu menunjukkan pukul 16.15.
Tia kala itu yang masih menangis di ranjang sambil memeluk boneka pemberian Fendi, ia terkejut saat ponsel miliknya berbunyi,
sebuah pesan masuk dari Fendi, Tia tidak tau jika balasan itu adalah pesan terakhir untuknya. Dia menangis sejadinya.
Matanya benar - benar memerah dan tampak sembab. Ia tidak menyangka jika Fendi akan melepaskannya begitu saja.
"Kamu jahat ndi..! kamu jahat! Aku benci sama kamu..! akkkkhhhhhh!"
Teriak Tia penuh histeris, bahkan suaranya sampai terdengar di ruang tamu.
Ibunya yang kala itu baru masuk ke dalam rumah langsung terkejut dengan teriakan Tia yang tidak biasanya.
Ibunya bergegas lari menuju ke dalam kamar Tia untuk melihat apa yang terjadi.
"Tiaa...? kamu kenapa nakkk?!! "
Tanya ibunya dengan nada yang syok sambil memeluk Tia yang sekarang awut - awutan.
"Fendi buuu... Fendii...!! Dia jahat..huuuhuu...!
Ucap Tia yang sedikit memelankan bicaranya dan terus menangis sesenggukan.
"Fendi jahat kenapa sayang.? apa yang dia lakukan ke kamu hingga kamu seperti ini?
kamu baik - baik saja kan?"
Ucap ibunya Tia dengan raut muka yang panik.
Ia takut jika anak perempuan satu - satunya di rusak oleh laki - laki.
"Aku sudah mutusin dia Bukk.
Tapi baru pertama kali ini dia melepaskan ku begitu saja.Sebelumnya dia menahan ku untuk meninggalkannya, tapi sekarang??
sekarang dia bahkan tak menahanku ataupun membuatku luluh dengan perkataanya yang biasa membuatku ingin tetap bertahan dengannya. Apa dia sudah tidak mencintaiku Bukk..??.."
Curhat Tia dengan suara lirih dan tetap memeluk ibunya.
"Oh..iyaa?? coba tatap mata ibu dan dengarkan (mencoba melepaskan pelukannya) nak.. ibu sudah memberi nasihat ke kamu berulang kali. Alasan kenapa ibu dan ayahmu sampai sekarang belum bisa memberimu restu dengannya. Kami takut nak, jika suatu saat kamu akan di sakiti olehnya. Seperti wanita - wanita sebelumnya.
kamu masih gadis, seharusnya mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Tapi kamu tak mau mendengarkan kami. sekarang sudah mengerti kan?".
Tutur ibunya lembut dengan beberapa kali senyuman untuk membuat Tia sedikit tenang.
Kemudian Tia kembali memeluk ibunya.
Inikah balasanmu untukku fen, selama ini aku sudah berusaha untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayahku, tapi kamu tidak bisa sedikit bersabar menunggunya memberikan restu untuk kita.
Kali ini air matanya keluar atas dasar penyesalan dirinya dan sekaligus permintaan maaf untuk ibunya. Karena selama sebelum berhubungan dengan Fendi hingga 3 tahun pacaran, Ia tak pernah mendengarkan apa maksud mereka melarang hubunganya. Semua demi kebaikan Tia.
"Ibu.. Tia minta maaf Yaa jika selama ini Tia salah dan tak pernah mendengarkan perkataan ibu..Tia sayang ibu.."
Ibunya menyeka air matanya Tia dan menyuruhnya untuk segera mandi kemudian makan malam.
°°°°°°°
Ibunya Tia memasak di dapur.
Setelah beberapa menit kemudian terdengar suara sepeda motor.
Ari sudah tiba di depan rumah dan memberi salam kepada ibunya dan tak lupa mencium punggung tangan ibunya.
Kemudian ia meminta izin masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Saat itu Tia sudah selesai mandi kemudian keluar dari kamar dan menuju dapur.
Terlihat sosok ibu kesayangannya sedang memasak di dapur dan tak lupa sebuah celemek yang selalu menempel di tubuhnya ketika memasak.
Ibu..Tia benar- benar menyesal..
huuffttt..
Tia segera mendekati ibunya dan membantu memotong sayuran.
"Tia.. sudah mendingan??"
Tanya ibunya sambil membolak - balik ikan yang ia goreng.
"Sudah Bu.. sekali lagi maafin Tia ya Bu.. Tia salah.. bukan maksud Tia untuk membantah perintah ibu dan ayah. Tia sekarang sudah ngerti, semua demi kebaikan Tia."
Balas Tia seraya memeluk ibunya dari belakang dan memberi sebuah kecupan di pipi kanan ibunya.
Ibunya pun tersenyum. Akhirnya kekhawatirannya sudah sedikit memudar.
Ia sudah menantikan perpisahan Tia dan Fendi sudah sejak lama, bahkan sejak Fendi pertama kali datang ke rumah ini. Sebenarnya, Ibunya juga tidak menginginkan anaknya mengalami patah hati sesakit ini,
namun apa yang harus ia lakukan.
bahkan tidak ada cara lain. Ibunya Tia tidak ingin jika suatu saat Tia di campakkan oleh Fendi dalam keadaan tidak berdaya.
Ari keluar dari kamarnya menuju dapur.
Ia menarik kursi kemudian duduk di samping kakaknya.
Kenapa lagi kak Tia? Matanya bisa bengkak begitu.
"Kak Tia kenapa lagi,,?? kok matanya merah dan sembab gitu..aabis nangis Yaa..?!!"
Tanya Ari meledek.
Karena Ari begitu penasaran, tidak biasanya melihat kakaknya bermuka sembab seperti orang habis di pukuli.
" Yaaelahh.. anak kecil mau tau aja masalah orang dewasa." Jawab Tia ketus.
Mungkin Tia agak malu dengan mukanya yang seperti itu.
"Sudah..sudah..
mari makan.. habiskan tanpa sisa ya.. hehee."
Ujar Ibunya.
"Siapp komandan..!!!"
Balas Tia dan Ari dengan kompak.
Akhirnya mereka bertiga makan makan dengan lahap tanpa ada yang bersuara.
Hanya ada suara dentingan sendok.
°°°°°°°°°
Di tempat lain.
Fendi sudah berada di tempat kerjanya.
Di Kota Y..
°°°°°°
Jangan lua kasih like,comment and Vote Yaa reader's...,❤
terima kasih.