
Mereka berdua telah selesai makan siang. Kini saatnya kembali ke dalam Mall untuk segera berkumpul bersama puluhan orang yang sedang mengantri untuk di panggil satu persatu.
Tia dan May berjalan sambil melirik kesana kemari mengedarkan pandangannya, tak ada satupun yang terlewatkan. Mungkin hanya Lt.3, Lt. 4 dan 5 yang belum di jamah oleh keduanya.
'Ternyata sangat besar isi mall ini'
Setelah keduanya tiba di ruangan wawancara, para pelamar kerja sudah berkumpul untuk menunggu nama mereka di sebut. Satu persatu mulai memasuki ruangan khusus, bagi mereka yang di terima akan keluar dari ruangan khusus dan kembali duduk, bagi yang tidak di terima akan keluar dari ruangan wawancara dan berlalu pergi.
"Tia, doain aku yaa.?" Ucap May dengan gugup.
"Ia May, kamu harus terlihat tenang dong.. jangan gugup begitu, kita sama - sama saling mendoakan ya..?" Ujar Tia seraya menggenggam kedua tangan May dengan senyum cerah di wajahnya mencoba untuk menenangkan sahabatnya, walaupun sebenarnya dirinya juga terlihat agak gugup.
'Sebenarnya aku juga gugup May, hanya saja supaya kamu tenang'
Kini keduanya yang menunggu namanya untuk di panggil.
Beberapa jam kemudian..
"Mutia Eka Cahyaningtias****...!" Terdengar nama Tia di panggil dengan lengkap dan lantang.
"Ahhh..iii..yaa..!" Tia terbelalak kaget.
"Ayo May masuk.!" May menepuk tangan Tia dengan pelan.
"Oke.! semoga aku di terima yaa?" Ucapnya sambil berdiri dan mengacungkan jempol.
"Okee..!" May membalas dengan mengacungkan kedua jempolnya.
Tia berjalan menyusuri orang - orang yang sedang duduk, dengan cepat ia menuju ruangan khusus untuk wawancara. Jantungnya berdegup begitu kencang karena gugup. Setelah sampai di depan pintu, perlahan ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.
'Apakah ini gadis yang di maksud Fendi? Cantik dan terlihat lebih tinggi dariku, kenapa aku baru melihatnya, bukankah dia sahabat kekasihku.?' Zaid berdecak kagum melihat postur tubuh Tia yang lebih tinggi darinya.
"Selamat siang pak?" Ucap Tia dengan sedikit membungkukkan setengah badannya.
"Selamat siang, silahkan duduk Tia!" Balas Zaid yang mendadak terbangun dari tempat duduknya.
"Ia pak..terima kasih!" Tia segera duduk berhadapan dengan Zaid.
"Perkenalkan nama saya Zaid, silahkan perkenalkan nama kamu..!" Zaid kembali duduk dan memulai pertanyaan pertamanya.
"Nama saya Mutia Eka Cahyaningtias, saya berasal dari Desa terpencil di kota SM pak.." Tia memperkenalkan diri sambil menundukkan kepalanya.
"Oke baiklah.. apa alasan kamu mendaftar kerja di sini? apa sebelumnya kamu pernah magang?" Tanya Zaid dengan serius, karena ia tidak ingin jika Tia Sampai curiga kepada dirinya.
"Emh.. Alasan saya kerja disini karena saya ingin membantu perekonomian keluarga saya pak, terutama menyekolahkan adik laki - laki saya pak, kalau untuk magang sebelumnya saya pernah di supermarket terdekat di Kota saya pak." Tia menjawab dengan masih menundukkan kepalanya.
'Kenapa dia menatapku seperti ini sih? aku kan jadi nggak enak woii..' Tia berdecak kesal sambil melirik orang yang sedang mewawancarai dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Zaid, membuat gadis di depannya seakan sebal dengan dirinya. Semua ini taktik dari Fendi, karena ia terus saja memantau Tia dari kejauhan. Semua ia lakukan sejak pertama kali Tia menginjakkan kaki di kota tempatnya bekerja.
"Baikah..! selamat bekerja di sini..!!" Zaid mengulurkan tangannya.
"Apa?? benarkah?? terima kasih pak!" dengan senang hati Tia menjabat tangan pemuda yang ia ketahui sebagai sekertaris perusahaan tempat ia bekerja.
"Iya sama - sama!" Zaid tersenyum lebar tanpa menghiraukan raut muka sebal Fendi yang terlihat dari belakang lemari.
"Grubyaakkk..!! Terdengar jelas suara dari belakang lemari. Posisi lemari yang tidak jauh dari meja kerja tempat Zaid duduk.
"Aaa!!! apa itu pak?!" Tia menjerit ketakutan.
"Mungkin tikus.. biar nanti saya lihat mbak." Ucap Zaid dengan senyum tipis.
"Benar pak?!" Tia memastikan semua baik - baik saja.
"Iya..nggak papa kok kamu tinggal. selanjutnya tolong panggilkan May!" Ucap Zaid sambil merapihkan beberapa berkas.
"Iya May!" Zaid mengulangi perkataannya.
"Baba..ik pak..!" Ucap Tia dengan tertatih. "Sekali lagi terima kasih pak.!" Tia membungkukkan setengah badannya kemudian berbalik menuju pintu keluar.
'Mengapa dia begitu fasih menyebutkan nama May?' Tia berjalan dengan pikirannya yang bertanya - tanya.
"Tadi aku di dalam di tanya sama 2 orang, yang 1 lumayan galak, yang satunya rada kalem gitu." Kata wanita yang duduk di sebelah May.
'*Apa? 2 orang?' Tia semakin kebingungan.
'Entahlah*..!'
"May, tadi kamu.." Tia hendak berbicara namun tersela oleh May.
"Ehh.. gimana tadi Tia?? kamu di terima kan?" Ucap May seraya bangun dari tempat duduknya dan menggenggam kedua tangan sahabatnya.
"Iyaaa.. akuuu.. di terima kok.. tapi.." Tia menjawab dengan nada tertatih karena kejadian tadi masih terngiang di pikirannya.
"Tapi apa?!" May membelalakkan kedua bola matanya. "Kamu nggak papa kan?!" dengan khawatirnya May mengecek seluruh tubuh Tia.
"Nggak papa kok May..hehe yang penting aku sudah di terima." dengan bahagia Tia merangkul sahabatnya.
"Syukurlah..! Aku ikut senang sayang!" Mereka berdua berpelukan dengan begitu eratnya.
"Attiya May Wulandari..!" Giliran May yang mendapatkan antrian.
"Ayo May..nama kamu di panggil..gih masuk!" Ucap Tia.
"Iya Tia, doakan aku ya!" May segera berjalan menuju ruangan wawancara.
'
15 menit pun berlalu.
May keluar dari ruangan dengan wajah yang tampak berseri, mungkin karena ia bertemu dengan sang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
'Heey.. kenapa dia? wajahnya seperti seseorang yang baru saja menerima hadiah saja' Tia menatap May dengan Wajah kebingungan.
'Aku baru tau kalau supermarket ini ternyata akar dari salah satu tempat mas Zaid bekerja'
May merasa sangat bahagia karena ia baru tau jika kekasihnya bekerja sama dengan Fendi.
'Dasar Fendi jahat! kenapa dia tidak bilang padaku sebelumnya kalau mas Zaid bekerja di sini..uuch siall!!' May menggerutu dengan mimik wajah tak menentu.
"May.. gimana?" Tia bertanya kepada May yang masih dengan raut wajah yang berubah - ubah, kadang senyum kadang marah. "May!!" Tia kembali memanggil sahabatnya, mencoba untuk menyadarkan lamunannya.
"Aku di terima Tia.. hiihii.." Balasnya dengan tatapan ke arah lain.
"Syukur deh.. setelah pengumuman nanti kita langsung pulang yaa.." Pinta Tia.
"Oke oke..!" May menatap Tia penuh semangat.
'Kenapa ini anak?? tumben amat nggak seperti biasanya' Tia sedari tadi merasa di buat bingung oleh sahabatnya sendiri dan orang yang ia anggap sebagai sekretaris.
'Mungkin aku terlalu lelah.. uhh sadar Tia kamu jangan negative thinking begini!' Tia berulang kali menepuk kedua pipinya menggunakan kedua tangannya, mencoba untuk membuang jauh - jauh hal negatif yang melintas di pikirannya.
Beberapa Jam telah selesai untuk menyeleksi dari ratusan orang menjadi puluhan orang.
May dan Tia segera kembali ke kos - kosan mereka...
**BERSAMBUNG.!
JANGAN SUNGKAN UNTUK MEMBERIKAN VOTE, LIKE AND COMMENT ❤ KALIAN YAA . ❤**