
'DOKKDOKKDOKK..!!' Terdengar suara ketukan dari balik pintu utama.
"Tiaa..!!" Suara dari luar pintu.
"Ia bentar..!!" Sahut ibu Sinta yang sedang membereskan dapur.
"Nak May, mari masuk!" Ajak ibu Sinta sambil membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih Tante!" May pun masuk ke dalam dan duduk di ruang TV.
"Tante! apa Tia ada dimana?" Tanyanya kepada Ibu Sinta sambil celingukan mencari keberadaan Tia.
"Tadi sudah Tante suruh untuk bersiap, dia juga sudah mandi, mau minum apa nak May?" Ibu Sinta menawarkan minuman untuk May, yang kala itu melihat keringat May bercucuran kemana - mana karena hari itu cuacanya sangatlah panas.
"Boleh Tan.. Emh.. Es teh aja!" Ujarnya sambil terus mengipas wajahnya dengan tangan kirinya.
'Gerah amat ya! apa mungkin karena ini sudah jam 11, akh bedakku luntur nih!'
'BEEPPPBEEPPP'
Suara ponsel May berdering!
Ia segera mengambil ponsel dan membukanya. Sebuah pesan masuk dari Fendi.
Fendi : May, apa kamu jadi berangkat nanti? jangan lupa untuk mengirim foto padaku setiap kegiatan Tia ya, aku merindukannya!
'Apakah dia sudah gila? aku harus jadi paparazi dadakan untuk fendi,! pantas saja Tia pernah bilang padaku jika Fendi ternyata mesuman!'
May menggeram sebal dan membalas pesan masuk mantan kekasih Tia tersebut.
May : Iaa iaa pak bos! siap!
'Haa?? pak bos?? apa tidak salah, bukankah Eri adalah bosnya? Fendi mah bos sialan!!'
May menggerutu tidak jelas di pikirannya, hingga tidak menyadari keberadaan Ibu Sinta yang ternyata sudah berdiri di sampingnya dengan sebuah Es teh di tangannya, terlihat jelas beberapa bongkahan Es membuat gelas itu hingga berkeringat.
"May!! Nak May??!" Ibu Sinta melambaikan tangan kanannya untuk menyadarkan lamunan May yang sedari tadi.
"Eeh..iya Tante maaf," Ucapnya dengan cengar cengir karena malu.
"Kamu kenapa melamun di siang bolong begini Haa??" Ibu Sinta mendekat menaruh gelas yang ia pegang di meja dan duduk di samping May.
"Nggak papa kok Tan, biasalah permasalahan anak remaja,hehe." May menjawab dengan senyum tipis mencoba membohongi orang yang sedang duduk di sampingnya.
"Oh iya? gini - gini Tante juga pernah remaja lho.. ibu kamu dan Tante dulu juga sekolah bareng.!" Ucap ibu Sinta Hingga May pun terkejut.
"Wahh benarkah Tante? kok ibuku nggak pernah cerita apapun ke aku ya, Uh jahatnya ibu!" May terkejut dan ia juga menyalahkan ibunya karena tidak pernah menceritakan tentang pertemanannya waktu dulu.
"Aiihh.. jangan bilang begitu, mungkin ibumu ingin menceritakannya tapi belum sempat, atau bahkan akan di ceritakan saat waktu yang tepat kepada kalian berdua." Ibu Sinta menenangkan May yang kala itu manyun tidak jelas.
"Hehe iya Tante, Oh iya seperti apa masa muda kalian saat Putih Abu - abu? pasti menyenangkan bukan?" May bertanya dengan penuh penasan.
"Ehhmm.. lain kali saja ya Tante menceritakannya, saat kita kumpul hehe.. biar semakin asyik!" Ucap Ibu Sinta dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ia Tante nggak papa kok!" Sebenarnya May sudah sangat penasaran terlihat dari wajahnya yang berubah menjadi senyum paksa. "Tan.. aku boleh nanya nggak?!" May mengajukan pertanyaan kepada Ibunya Tia.
"Iya boleh, ada apa nak?!" Ibu Sinta menganggukkan kepalanya.
"Tapi janji Tante jangan marah ya??" May sedikit cemas dengan pertanyaan yang akan ia ajukan.
"Iya Tante janji!!" Ibu Sinta mengelus rambut May.
"Tan, apa alasan Tante dan om menolak hubungan Tia sama Fendi? padahal mereka berdua saling cinta!" Pertanyaan May langsung merubah suasana hati Ibunya Tia dengan cepat,wajahnya pun nampak begitu sedih.
"Sebenarnya Tante mendukung hubungan mereka berdua, hanya saja karena Tia masih sangat muda, Tante tidak begitu mengijinkan apalagi jika harus menikah dini." Ucap Ibu Sinta.
'Iaa juga sih! mungkin jika ibuku yang mengalaminya pasti juga berpikiran sama seperti Tante Sinta'
"Terus tan..kalau seandainya mereka balikan lagi bagaimana..apa Tante mengizinkan?"
May menatap penuh ibunya Tia.
" Emh..tante izinkan asalkan..." Ibu sinta belum selesai berbicara tiba - tiba May langsung spontan memotongnya.
"Asalkan apa Tante??" May begitu antusias mendengar perkataan Ibunya Tia, Karena dari sinilah May bisa menyatukan kembali dua insan yang sudah lama tidak bertemu dan saling menyapa.
"Asalkan..dia benar - benar bisa menjaga Tia, membuat Tia selalu menjadi orang yang baik dan mampu untuk membahagiakannya." Ibu Sinta selalu meminta kepada Tuhan, untuk selalu menjaga anak gadisnya dari apapun.
Terlebih sekarang ia seorang janda, dia harus merawat, mendidik serta membesarkan kedua anaknya dengan penuh tanggung jawab seorang diri.
"Emh. .gitu ya Tan..!" May menganggukkan kepalanya berulang kali.
'Aku rasa Fendi bisalah, secara mereka sudah menjalin hubungan selama 3 tahun pasti sudah mengerti satu sama lain!!'
"Oh iyaa.. Tante titip Tia ya May, tolong jaga Tia jangan sampai telat makan, tau sendiri kamu kan kalau Tia punya penyakit Magh" Ucap Ibu Sinta.
Setelah mereka lama mengobrol, Tia muncul dari pintu kamarnya.
May yang menyadari kedatangan Tia langsung mengajaknya untuk segera berangkat. Mereka berpamitan kepada ibunya Tia.
Tia dan May kemudian pergi menggunakan sepeda motor milik May, mereka berdua melaju dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di lokasi tujuannya.
Setengah jam perjalanan.
Tibalah di Halte bus jurusan Kota J. Dengan cepat May mengantri untuk membeli 2 tiket perjalanan menuju kota tersebut.
Tia duduk di kursi yang sudah di sediakan di sekitar halte.
Tia menoleh kesana kemari seraya melihat jam di tangannya. Jam pemberian mantan kekasih yang selalu melekat di tangannya kemanapun ia pergi.
'Sekarang sudah jam 12, pantas saja hawanya begitu panas'
Tia kemudian bangun dari tempat duduknya dan mencari minuman untuk menghilangkan dahaganya. Kini dia sudah di depan warung yang terlihat berjajar di sampingnya.
Saat ia berbalik badan dengan botol yang masih terbuka, tanpa di sengaja Tia menabrak seseorang dengan postur tubuh yang kekar dan lebih tinggi darinya. Dengan balutan setelan jas rapi membuatnya tampak begitu tampan.
"Haaaa!!" Tia terkejut. "Maafkan saya Tuan!!" Tia meminta maaf kepada seseorang yang ia tabraknya tadi.
"Hmm. .!" Balasnya dengan menyeringaikan bibirnya.
Tia segera mencari tissu yang ia bawa di dalam tasnya untuk membersihkan baju pemuda yang ia tumpahi dengan minumannya.
"Sekali lagi maafkan saya Tuan, saya benar - benar tidak sengaja" Ucapnya dengan tubuh gemetar, karena ia melihat sesosok yang di tabraknya pasti bukan orang biasa.
"Lepaskan dan pergilah!! temanmu sudah menunggumu!!" Ucap pemuda itu seraya menggenggam tangan Tia yang mencoba membersihkan bajunya.
'Akh.. bagaimana dia bisa mengetahuinya?'
Tia mencari sosok May, dan ternyata dia sudah menunggunya sejak dari tadi di tempat ia semula duduk.
Akhirnya dia pun melepaskan tangan pemuda tersebut. "Maaf!" Tia menundukkan kepalanya dan berlalu pergi dari hadapan pemuda itu.
Kini Tia sudah bersama dengan May, sesekali dia melirik ke arah pemuda yang masih menatapnya dari kejauhan.
"Tiaa.. helloo!! kamu kenapa sih? kamu lihat apa?!" May mengoyak tubuh Tia yang sedang menatap ke arah lain.
'Kesambet apa ini anak!'
BERSAMBUNG.!!