You're The Only One, You're My Love

You're The Only One, You're My Love
Eps.14



°°°°°°


"Ia kak maaf, aku hanya terkejut melihat rumah segede gini, mewah dan pelayannya juga begitu banyak.!" Ujar Ari dengan cepat mendekati kakaknya dan membantunya.


"Kirain cuma kakak yang terkejut melihat rumah ini hikhik...!" Ucap Tia yang di selingi ketawa kecil.


"Nona, Tuan, mari saya bantu menyusun makanannya." pinta salah satu pelayan di rumah tersebut sambil membungkukkan setengah badannya.


"Oh iya mbak silahkan..!" Jawab Tia dengan senyum manis di bibirnya.


"Ngomong - ngomong Nona orang mana..?"


Tanyanya.


"Aku orang desa X mbak, kurang lebih 45 menit dari sini. hehe. ." Tia menjawab dengan begitu tenang.


"Wahh.. lumayan jauh ya." katanya.


"Hehe. ." Tia menjawab dengan senyum paksa.


Setelah semua makanan tersusun dengan rapi, Tia mengambil kertas nota yang harus di serahkan kepada Tuan pemilik rumah mewah tersebut.


'Harus ku serahkan kemana nota ini?"


Tia celingukan karena kebingungan, kepada siapa dia harus menitipkan nota tersebut.


'Oh iya. .mungkin aku bisa menitipkannya lewat pelayan yang barusan berbincang denganku!' akhirnya Tia mendapatkan jawabannya.


"Permisi mbak..?" Ucap Tia.


"Ia Nona apakah ada yang bisa saya bantu.?" Jawab pelayan tadi sambil tak lupa membungkukkan setengah badannya lagi.


"Mbak apakah aku bisa minta tolong.? ini Nota dari ibu saya yang harus di bayar oleh bapak Yudistira." Kata Tia sambil menyerahkan secarik kertas kepada pelayan yang menurutnya sedikit akrab.


"Baiklah Nona saya akan memberikannya kepada sekretarisnya, berhubung Tuan sedang bertemu dengan banyak tamunya."


Ujar pelayan tadi kemudian bergegas menuju sebuah ruangan. Ruangan yang sudah di sediakan oleh tuan muda untuk sekretaris pribadinya.


'Kemana dia akan pergi?? Batin Tia bertanya - tanya.


Tidak lama kemudian, pelayan itu keluar dari ruangan yang di masukinya, dan menuju ke tempat di mana Tia sedang menunggu.


"Nona?? maaf, barusan saya sudah menyerahkan nota kepada sekretarisnya Tuan, akan tetapi Nona di minta untuk menghadapnya sekarang juga." Kata Pelayan tersebut.


'Ada apa ini? apakah dia tidak menyukai masakan kami?' Batin Tia menerka - nerka.


"Memangnya ada mbak? kenapa saya harus menghadapnya?" Tanya Tia dengan raut muka yang tampak begitu cemas sekaligus takut.


"Saya kurang tau Nona, lebih baik anda kesana saja" Jawabnya.


"Baiklah kalau begitu.!" Tia menganggukkan kepalanya dengan kondisi jantungnya yang berdebar begitu kencang. Ia berulang kali menghela nafas dalam - dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Mari saya antar. .!" Pelayan itu mengarahkan Tia untuk menuju ke sebuah ruangan,


Setelah pelayan membuka pintunya , kedua bola mata Tia seolah menyapu ruangan yang lumayan besar tersebut.


Di mana ruangan itu terlihat cukup lebar dan berdirilah sosok laki - laki yang bertubuh cukup besar dan tinggi sedang menghadap ke jendela membelakangi pintu.


"Permisi Sekretaris Xio, saya sudah datang bersama Nona Tia," Ucap pelayan itu kepada sekretarisnya.


Sekretaris Xio hanya menganggukkan kepala dan mengibaskan tangannya.


Pelayan pun mengerti apa maksudnya.


dia berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Kini tinggalah mereka berdua di dalam ruangan.


"Maaf Tuan, apa tujuan anda memanggilku kemari?!"


Tia mencoba membuka percakapan.


Sekretaris Xio menyuruh Tia untuk duduk di sofa dekat dengan meja kerjanya, kemudian ia berbalik badan, kini mereka saling bertatapan walaupun dari jarak jauh.


'Waah. .sungguh begitu tampan pria ini! sadar Tia sadarlah**!'


"Apakah semua ini masakanmu?!!" Tanyanya dengan kedua bola mata yang terus menatap ke arah gadis yang masih berumur belasan tahun itu.


'Sudah tau masakan kami, masih saja bertanya, dasar bodoh!'


"Ia Tuan, apakah ada yang salah dengan cita rasa masakan kami, bila mana masih ada yang kurang, sudilah Tuan untuk memberi maaf kepada kami.!"


Tia berulang kali melihat para pelayan yang tampak begitu sopan ketika menghadap Tuannya, Para tamu pejabat penting bahkan tamu orang biasa sekalipun.


Sekretaris Xio menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum dengan manis, senyumnya seolah menghiasi raut wajah tampannya.


"Tidak ada yang salah dengan masakanmu, sama sekali tidak!" Katanya sambil menggeser tempat duduknya.


'Dia gadis yang polos,sopan dan lumayan lah, barangkali Tuan muda bisa tertarik padanya..'


Sekretaris Xio membayangkan bagaimana jika Tuan mudanya bisa bersama gadis kecil yang kini berada di depannya.


"Lalu??" Tia bertanya dengan nada yang begitu santai.


" Saya rasa kamu masih gadis berusia belasan tahun, kenapa bisa punya usaha seperti ini, apakah kamu tidak bersekolah?"


Sekretaris Xio melihat Tia dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


'Stop untuk memanggilku seperti ini tuan!'


"Ibuku yang membuat bisnis ini, aku baru saja lulus dari SMA di desaku" Jawabnya seraya menundukkan kepalanya mencoba memendam kesedihan.


"Lantas? sekarang kamu kuliah dimana??" Tanyanya lagi.


"Aku tidak melanjutkan lagi Tuan,karena ibuku tidak punya uang" Tia terus menundukkan kepalanya.


"Saya ingin kamu menjadi koki masak di rumah ini dan kamu bisa kuliah!!" Ujar sekretaris Xio menatap Tia tajam.


'Waah. .ini gila sih! aku sebenarnya mau banget, tapi harus bagaimana lagi sedangkan besok aku harus segera berangkat, tapi jika aku bekerja di sini apakah aku bisa berdiri di antara banyaknya pelayan? tidak bisa aku bayangkan!'


"Bagaimana Nona?? apakah kau bersedia?" Pertanyaan sekertaris itu membuat lamunan Tia mendadak gusar dan kembali berfikir,


jawaban apa yang harus ia berikan.


"Maaf Tuan, sepertinya aku tidak bisa, karena aku sudah mendaftarkan diri untuk bekerja di kota lain" Jawab Tia dengan senyum tipis di bibirnya.


"Benarkah begitu?! apakah kamu tidak ingin melanjutkan sekolah kamu?"


Sekretaris Xio mencoba memberi waktu kepada Tia untuk berfikir secara matang.


'Segitukah bodohnya gadis ini, hingga menolak tawaranku!'


"Sebenarnya aku ingin sekali tuan, tetapi aku sudah mendaftarkan diri untuk bekerja di tempat lain." Ucapnya.


Sekretaris Xio hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya saat mendengar jawaban Tia.


Setelah beberapa menit suasana begitu hening.


'Harus berapa lama lagi aku berada di ruangan ini? rasanya begitu sulit untuk bernafas!'' Decak Tia di pikirannya seakan dirinya sudah sangat bosan berada di ruangan itu.


"Bolehkah saya meminta no ponselmu??" Tanya sekretaris Xio sambil meraih ponsel miliknya sendiri.


"Untuk apa tuan?!" Jawab Tia seraya mengernyitkan dahinya.


"Hanya berjaga - jaga saja itupun kalau boleh, kalau tidak juga tak apa!' Katanya.


'Dasar banyak maunya!!'


"Baiklah. . 08xxxxxxxxxx" Tia mendikte No ponselnya kepada sekretaris Xio dengan wajahnya ya sudah sangat kesal.


"Ambil uangmu dan pergilah!" Ucapnya sambil meletakkan beberapa lembaran kertas di meja kerjanya.


'Coba saja dari tadi begini! dasar sekertaris sialan**!'


Tia terus berdecak kesal di hatinya. Kemudian ia bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah meja kerja sekretaris tersebut.


"Terima kasih Tuan!!" Ucap Tia sembari mengambil beberapa lembaran di meja dengan membungkukkan setengah badannya.


Sekretaris Xio hanya menganggukkan kepalanya dan terdiam.


'Dasar gadis sok jual mahal!! akan kudapatkan kau agar bisa merubah hati tuanku!!'


Kini Tia sudah berada di luar ruangan dan akan segera menuju ke dapur, tempat dimana adik kesayangannya sedang menunggunya.


'Sekertaris sialan!'' Tia terus berjalan sambil memaki sekretaris Xio tiada hentinya.


°°°°°°°


Bagi yang belum vote tolong vote, bagi yang belum Like mohon di like 👍❤ terimakasih. 😘