
Waktu menunjukkan pukul 19.00 Wib.
Tia merebahkan tubuhnya di ranjang, mungkin karena ia terlalu lelah dengan aktivitas yang di jalaninya hari ini. Sedangkan May masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan keringat dan noda - noda yang menempel di tubuhnya.
Tia membuka matanya setelah teringat dengan Ibu dan adik laki - lakinya yang belum sempat ia kabari bahwa dirinya telah di terima bekerja. Ia segera bangun untuk mencari ponselnya. Setelah menemukannya, dengan cepat Tia membuka kode pengaman dan mencari App WhatsApp.
Tia : Apa kabar Ari, Oh iya ibu juga bagaimana kabarnya?
'Hmm.. tumben dia nggak Online?'
Tia : Ar, nanti kalau kamu sudah membaca pesan kakak, tolong sampaikan ke ibu ya kalau kakak sudah di terima kerja.
'Mungkin dia sedang belajar' Tia tersenyum tipis kemudian menuju lemari pakaian untuk membersihkan wajahnya. Karena di lemari pakaian terdapat sebuah cermin berukuran sedang.
May keluar dari kamar mandi, kini giliran Tia yang masuk untuk mengguyur sekujur tubuhnya.
'Kenapa hari ini begitu melelahkan..'
Tia mulai menyirami tubuhnya menggunakan gayung.
Tokktokk!! terdengar suara ketokan dari luar pintu kamar mandi.
"Tia, kamu mau bakso nggak biar sekalian aku pesankan?!" Teriak May sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iyaa..!" Balas Tia yang masih menggosok tubuhnya.
"Oke..!" May segera memesan 2 bungkus bakso secara online menggunakan Aplikasi di ponselnya.
Beberapa menit kemudian Tia keluar dari kamar mandi dengan tubuh polosnya yang di lilit dengan handuk. Ia segera membuka koper untuk mencari piyama lengan pendek.
"Tia, bentar lagi mas Ojol datang, uangnya aku taruh di nakas dekat ranjang ya..aku mau ke kamar mandi dulu..tiba - tiba perutku terasa mules!" Ucap May dengan langkah cepat menuju kamar mandi.
"Oke! Oke!.. " Balas Tia sambil mengenakan piyama berwarna Navy, warna favoritnya. Kemudian berlanjut menyisir rambut yang hitam sebahu dan dengan ponsel di tangan kirinya.
2 pesan WhatsApp.
Ari : Alhamdulillah kami berdua baik kak, selamat yaa.. semoga kakak betah kerjanya.
Ada pesan dari ibu, katanya kakak harus bekerja dengan jujur dan jangan lupa untuk selalu sarapan pagi ya..
Nomor tidak dikenal : Apa kabar gadis bodoh!
Tia mengernyitkan dahinya ketika melihat pesan kedua.
'Nomor siapa ini?' Tia berniat untuk membalas pesan adiknya terlebih dahulu.
Tia : Terima kasih ya dek sudah mengingatkan kakak, Oh iya.. tolong kamu jaga ibu dengan baik dan jangan lupa harus rajin belajar. sampaikan rasa kangen aku ke ibu ya..
'Jadi kangen suasana rumah!' Tia menundukkan kepalanya membayangkan kedua orang yang sangat ia cintai jauh darinya.
Perlahan angan - angan Tia mulai buyar saat melihat pesan kedua, pesan yang entah dari nomor siapa. Ia berniat ingin membalasnya namun ragu. Karena dirinya selalu mengacuhkan nomor - nomor yang tidak penting masuk ke dalam ponselnya semenjak berhubungan dengan Fendi.
'Sebenarnya tidak begitu penting!' Tia menggelengkan kepalanya. 'Tapi aku penasaran!' Akhirnya Tia membalas pesan dari nomor yang tidak ia ketahui.
Tia : Siapa yang kamu maksud gadis bodoh?
Pesan Tia langsung terkirim, dan ternyata langsung mendapat respon.
Nomor tidak dikenal : Seorang gadis yang ceroboh!
'Ahh.. siapa yang ia maksud? gadis bodoh? gadis ceroboh?' Ia mencoba berfikir keras, siapa yang pernah memanggil dirinya dengan sebutan - sebutan seperti itu.
Tia : Maksudnya? aku tidak mengerti!
Ia menghela nafas panjang. Bahkan pesannya pun di balas dengan begitu cepat oleh nomor tersebut.
Nomor tidak dikenal : Ini akan menjadi PR untukmu!
'Haa! Dasar tidak jelas! seharusnya aku tadi tidak menghiraukannya!'
Dokkdokkkdokk!!
"Permisi mbak, apa benar ini dengan mbak Attiya May Wulandari?" Ucap seorang laki - laki paruh baya berjaket tebal dengan atribut lengkap berwarna hijau.
"Ohh saya temannya pak, apa benar bapak dari Ojol?" Balas Tia sambil terus menatap laki - laki itu dari bawah dan berhenti di wajahnya.
"Betul sekali mbak, ini pesanan atas nama mbak Attiya" pak Ojol menyerahkan bungkusan makanan berupa secarik kertas bon.
"Bentar ya pak, saya ambilkan uangnya dulu" Tia menerima bungkusan tersebut dan meletakkannya di meja kemudian mengambil uang yang sudah di siapkan oleh May di nakas.
"Ini pak uangnya, kembaliannya ambil saja"
Ucap Tia sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Ojol yang berdiri di depannya.
"Terima kasih mbak, semoga mbak dan temannya mbak mendapatkan rezeki yang halal dan barokah ya." Dengan senyum penuh pak Ojol menerima uangnya sambil membungkukkan setengah badannya.
"Amin amin! terimakasih pak doanya!" Dengan ikhlas Tia tersenyum bahagia karena melihat seorang laki - laki paruh baya berdiri di depannya tampak sumringah menerima tips darinya.
"Saya pamit dulu ya mbak.! selamat malam!" Pak Ojol berpamitan sambil membungkukkan setengah badannya untuk yang kedua kalinya.
"Selamat malam!" balas Tia. Setelah pak Ojol berlalu dari hadapannya, ia segera menutup pintu dan menguncinya.
'BeepppBeeppp'
"Siapa lagi sih!" Tia bergumam tidak jelas.
1 pesan WhatsApp.
Nomor tidak dikenal : Apa kamu masih mengingatku?
'Sebenarnya siapa dia?'
Tia : Sepertinya tidak begitu penting!
Nomor tidak dikenal : Ohh iya.. aku mengawasi setiap gerak gerikmu.
'Apa? siapa dia? apakah orang ini berada di sekitarku?' Tia mulai merasa tidak tenang, bahkan ia mencoba berfikir keras siapakah yang telah meneror dirinya lewat pesan.
'DOKKDOKKDOKK..!!' Terdengar gedoran pintu dengan sangat keras.
Tia perlahan mendekati pintu masuk kosnya, tangannya terasa gemetar saat akan memegang handle pintu. Ia berusaha membukanya secara perlahan, setelah sedikit terbuka, Tia menoleh kesana kemari namun dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan seseorang yang baru saja menggedor pintunya.
"Siapa!!!" Teriak Tia, namun tidak terdengar sahutan dari depan pintu kosnya.
'Kok bisa nggak ada orang?' Tia terlihat kebingungan sambil terus mencari - cari sosok yang menggedor pintu kosnya dengan sangat keras.
Tiba - tiba ia menginjak sebuah amplop 23x11cm berwarna putih dengan setangkai bunga mawar asli di atasnya.
"Apa ini?!" Tia mengambil amplop tersebut sambil terus celingukan. Kemudian di bawalah masuk amplop berwarna putih dan setangkai bunga yang sudah di ambilnya. Dengan rasa penasarannya, ia langsung membuka.
'*E**ntah mengapa aku langsung jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu*'
"Hahh!!" Tia merasa terkejut saat melihat isi amplop.
"Kenapa Tia??" Tanya May yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Hahh?? Engg..gak kok.! Hehe.." Balas Tia gugup sambil menyelipkan kertas di saku piyamanya.
"Ogghh..." May mengangguk dengan rasa curiga. "Makanannya sudah datang?" Tanya May celingukan.
"Sudah.. Yuk makan? lapar nih!" Ucap Tia sambil mengelus perutnya kemudian mengambil plastik makanan dan duduk di lantai yang beralaskan karpet.
" Oh iya..kita ngekos di tempat sepetak gini tidak apa kan Tia?!" May menatap Tia serius.
"May, justru aku sangat berterima kasih sekali sama kamu, semua ini karena kamu. Aku bisa bekerja dan ngekos bareng sama kamu aja sudah senang." Ucap Tia dengan senyum penuh di bibirnya.
**BERSAMBUNG..!!
JANGAN LUPA UNTUK LIKE,VOTE DAN KOMEN. β€
TERIMA KASIH π**