
°°°°°°°
Kini Tia sudah sampai di dapur, dia melihat adiknya sedang termangu dari balik pintu dapur tepatnya di dekat taman.
'Maafin kakak ya dek kamu harus menunggu lama, semua karena sekretaris sialan itu'
Tia manghampiri Ari dan menyentuh bahunya.
"Kakak lama ya dek? maaf ya!" Ucap Tia
"Enggak kok kak. sudah selesai kan? hayuk kita pulang!" Ari menarik tangan Tia untuk mengajaknya keluar dari rumah mewah tersebut.
Di sepanjang perjalanan menuju gerbang utama, mereka harus melewati depan pintu utama dan taman dengan bunga - bunga yang sangat cantik.
Tia ingin sekali memetiknya namun sudah tertera caution "DILARANG MEMETIK BUNGA" di tengah taman.
'Bunga mawar yang begitu cantik, ingin rasanya aku memetiknya'
Tia menghayal seandainya ia bisa memetik salah satu di antara banyaknya bunga.
"Ar, bunganya cantik - cantik sekali ya, mungkin pemilik rumah ini menyukai bunga!." Ucap Tia sambil terus berjalan menyusuri taman dengan bermacam bunga.
"Tadi kata pelayan, Nyonya muda sangat menyukai bunga kak, maka dari itu ia meminta kepada Tuan untuk menjadikan halaman depan pintu utama sebagai taman yang di penuhi dengan berbagai bunga kak!"
Ari menjelaskan tentang apa yang ia dengar dari pelayan yang sempat berbincang dengannya, saat menunggu Tia menemui sekretaris Xio.
"Ohh begitu ya. .pasti nyonya muda pemilik taman di sini cantik dan penyayang, manisnya!!" Tia menghentikan langkahnya dan kembali menghayal.
'Aku juga ingin mempunyai taman pribadi seperti ini, dimana tak ada satu orang pun yang boleh memetik dan merusaknya!"
"Kak cepat ayo jalan, ini sudah jam berapa?!" Ajak Ari dengan menghentakkan kakinya dengan kesal, karena dia melihat kakaknya yang beberapa kali berhenti hanya untuk menghayal.
"Ahhh.. kamu ini mengganggu orang yang lagi asyik melamun saja!!" Ucap Tia dengan nada kesal.
"Habisnya melamun saja terus,Uhhh!" Ari menyeret tangan kakaknya supaya mempercepat langkah kakinya.
"Haha. .Berandai - andai itu sangat menyenangkan walaupun hanya di angan - angan saja, Haha. .!!" Tia ketawa cekikikan seperti orang gila.
Tanpa mereka sadari, sekretaris Xio memperhatikan mereka berdua dari balik jendela ruangannya.
'Apakah dia sangat suka berhalusinasi? dasar gadis bodoh!!'
Sekretaris Xio bergumam di hatinya dengan beberapa kali senyuman sinis di bibirnya.
Akhirnya mereka berdua telah sampai di gerbang dan bertemu lagi dengan kedua satpam penjaga.
"Apakah semua urusanmu sudah selesai tuan dan nona??" Tanya salah satu satpam penjaga dengan membungkukkan setengah badannya.
"Sudah pak,lain kali panggil saja aku dengan nama ya, rasanya panggilan itu terasa sangat canggung di telingaku, di dalam juga begitu, semua pelayan memanggilku dengan sebutan Nona, padahalkan aku nggak ada keturunan bangsawan.!"
Tia terus menerocos hingga kedua satpam itu terbengong, sedangkan adiknya hanya tersenyum melihat tingkah laku kakaknya
"Baiklah mbak, maaf jika kami berdua membuatmu merasa tidak nyaman." Ujarnya seraya menyatukan kedua tangan dan membungkukkan setengah badannya.
'Gadis yang sopan dan santun!'
" Kita pamit pulang dulu ya pak, terima kasih!" Ucap Tia dengan sopan.
"Hati - hati di jalan mbak,mas??" melambaikan tangan kepada Tia dan Ari.
"Iya pak, terima kasih yaa sampai jumpa lagi!" Ari membalas kedua satpam itu dengan senyum yang penuh gembira sambil melambaikan tangannya.
Setelah mereka lumayan agak jauh.
Ari menepuk bahu kakaknya.
"Ternyata kedua satpam itu tidak galak ya kak!" Kata Ari kemudian menyalakan motornya.
"Aku kira begitu, padahal pertama aku melihat mereka berdua nyaliku sudah menciut haha. ."
Ujar Tia dengan segera menaiki motornya.
Mereka berjalan menuju ke arah rumah.
Perjalanan yang begitu panjang harus memakan waktu kurang lebih 45menit.
Tia melihat jam di ponselnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 19.45.
'Hah demi apa?'
"Kakak sudah ngantuk ya? kok tumben nggak ada suaranya" tanya Ari dengan terus melajukan motornya.
"Nggak dek, hanya kepikiran aja besok kak Tia sudah harus pergi meninggalkan kalian berdua" Ucap Tia sambil mengotak atik ponselnya
"Yang paling penting kakak harus selalu menjaga kesehatan dan jangan lupa untuk menjaga diri kakak baik - baik di sana yaa..?" Ujarnya.
"Ia iaa.. adik bawelkuh.. terima kasih ya untuk nasihatnya.!" Tia mencubit adiknya dengan gemas.
"ikkh... sakit tau kak!!' Ucap Ari kesakitan.
"Haaha.. habisnya gemas banget punya adek yang super bawel dan perhatian seperti kamu, Pokoknya selama kakak tidak berada di rumah, kamu harus menjaga ibu dan jangan pernah merepotkannya"
Tia mecoba memberi nasihat kepada adiknya.
"Siap komandan!!" balas Ari dengan menaikkan tangannya.
"Cepat sedikit dek.. kakak sudah Laper nih kangen masakan ibu!" Pinta Tia supaya Ari mempercepat laju kendaraannya.
"Baiklah..pegang yang erat ya !!" Ari menganggukkan kepalanya dan menancap gasnya.
°°°
20.30.
Mereka tiba di depan rumahnya, kemudian Ari menyalakan klakson motor.
'Toooottt toooott'
Ibunya yang sedang duduk menonton TV akhirnya segera berjalan keluar untuk menyambut kedua anak kesayangannya.
"Sudah pulang nak??" Tanya Ibunya.
"Iya Buu.. " Jawab Tia sambil mencium punggung tangan ibunya kemudian di susul oleh Ari.
"Ibu aku masuk dulu ya, mau bersihin badan dulu rasanya lengket banget" Kata Ari sambil mengacak - acak rambutnya.
"Aku juga ya Bu.. Ibu tunggu di ruang TV saja,aku akan menyusulnya nanti setelah selesai mandi." Pinta Tia sambil mencium pipi ibunya dengan lembut.
"Baiklah.. kalian berdua bersih - bersih saja dulu, ibu akan memanaskan sayuran untuk makan malam." Ucap ibunya dengan senyum tipis.
Tia segera masuk ke dalam kamarnya dan segera menyiram tubuhnya dengan air hangat.
'Hahh... nikmatnya!!!"
Tia merasa beban di pikirannya seketika menghilang, namun tidak dengan sekertaris yang ia temui saat menghantarkan pesanannya.
'Siapa tadi namanya?? ehhmm.. bentar bentar..!'
Tia berusaha mengingat - ingat nama sekretaris yang sempat membuatnya salah tingkah.
'Ohh iyaa... sekretaris Xio!! dasar sialan!!'
Setelah mengingat namanya, Tia merasa kekesalan mulai menghampirinya.
'Hmmm... bukankah dia tampan???!"
Kini nampaknya dia sudah hilang akal. matanya tampak berbinar, wajahnya pun berseri - seri, berulang kali muncul senyuman manis di bibirnya.
'Waaaaaaa!!!! apa yang aku pikirkan!!'
Tia menggelengkan kepalanya dan menepuk pipinya berulang kali, ia berusaha tersadar dari lamunannya.
"Mengapa bayangan sekretaris sialan itu terus muncul di pikiranku? ahh.. dasar bodoh!!" Tia memaki dirinya sendiri, entah mengapa dia terus memikirkannya.
Setelah selesai membersihkan diri, Tia keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan dimana ibu dan adiknya sudah menunggunya.
"Ayo Tia kita makan malam dulu, bukankah kamu juga lapar??" Tanya ibunya sambil mencentongkan beberapa nasi ke piring Tia.
"Iyaa kak.. katanya tadi lapar waktu di jalan??" Ledek adiknya seraya mengunyah makanan di mulutnya
"Hehe. .iya nih lapar banget sampai cacingnya pada berontak!" Ucap Tia seraya menarik kursinya.
Akhirnya mereka bertiga makan malam bersama.
Seperti biasa hanya ada suara dentingan sendok di meja makan.
BERSAMBUNG. . .!!!