You're The Only One, You're My Love

You're The Only One, You're My Love
Eps.16



Setelah mereka selesai makan malam, Tia segera membereskan meja makan bersama ibunya.


Sedangkan Ari memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, karena ia harus menyiapkan beberapa buku pelajarannya untuk sekolah besok.


Tia mencuci piring di dapur sedangkan ibunya masih membereskan meja makan.


"Bu, besok pagi tolong bantuin Tia packing baju ya, siangnya Tia harus beli tiket bus sama May." Ucapnya sambil mencuci piring.


"Iya nak pasti ibu bantuin, oh ya..kamu mau bawa cemilan apa biar sekalian ibu belikan di pasar besok?." Tanya ibunya.


"Ehhmm apa yaa.. stick keju boleh deh, Oh iya Tia hampir lupa ini tadi uang yang di kasih Bpk.Yudistira Wijaya, tapi yang memberikan bukan beliau." Jawab Tia seraya mengambil uang di saku piamanya.


"Lantas siapa nak?? kenapa uangnya bisa melebihi catatan di nota?" Ibunya kebingungan saat menerima uang yang diberikan Tia.


"Tadi sekretaris sialan itu yang memberikannya padaku bu!." perasaan kesal mulai terlihat di wajahnya.


"Maksudnya Sekretaris sialan itu siapa nak??" Ibunya masih belum mengerti maksud perkataan Tia.


"Sekretaris Xio namanya!!" Tegas Tia dengan mengepalkan kedua tangannya seakan ingin sekali menonjok sesuatu jika mendengar namanya.


"Lalu kamu tidak mengucapkan terima kasih padanya??" Tanya ibunya.


"Sudah buuu..!Tia masuk ke kamar dulu yaa"


Tia Kemudian berlalu dari hadapan ibunya.


'Dasar sekretaris sialan! kenapa masih saja terngiang di pikiranku!!'


Tia berjalan ke arah kamarnya dengan langkah yang tampak begitu kesal.


Ibunya yang melihat tingkah laku Tia hanya geleng - geleng kepala.


'Semenjak pulang dari rumah Tuan Yudi kenapa anakku jadi begini? apa mungkin dia kena genderuwo di taman itu. entahlah!'


°°


Tia merebahkan dirinya di atas ranjang dan meraih ponselnya, kemudian membuka grup WhatsApp.


'Sumpah demi apa hampir seharian nggak buka Grup WA ternyata rame juga, apa yang mereka obrolin?'.


Dia terus mengotak atik ponselnya, hingga beberapa kali ketawa - ketawa kecil membuatnya lupa dengan rasa kesalnya.


Tia : Hayy dearr...maaf baru nongol, seharian aku bantuin ibu masak bikin pesanan buat acara hajatan.!


Tika : Wahhh. .Jadi lupa begini kamu sama kita - kita?


May : Weew.. Koki masak..!! Semoga lancar yaa bisnisnya, salam buat tante Sinta!


Siti : Uchh.. kangen kamu Tia!


Tia : @Siti. Uhhh.. Aku rindu kalian ❤ big Miss!!"


@Tika. bukannya lupa say, tapi lagi ngesibuk barusan.hehe.!!


@May. Amin amin iya nanti aku sampein,oh iya jadi berangkat besok kan ya??.


May : @Tia.Iya jadi, kamu sudah packing apaan aja beib?? aku masih ngesantai seharian penuh di rumah.!


Tika : @May @Tia.Wahh.. kalian berdua jadi berangkat besok ya..!!


@Siti. Kamu nggak rindu aku toh??!


Siti : @May. Yang seharian ngesantai di rumah mah enak, aku malah sibuk daftar di kampus pilihan papaku!


@Tia. Uchh!! kalian besok berangkat jam berapa? hati - hati di jalan yaa.. maaf aku nggak bisa bertemu dengan kalian, sedih!


Tia : @Siti. Tidak masalah kok,yang paling penting kita semua selalu sehat dan suatu saat bisa berkumpul lagi.


May : Aamiin!!


Tika : Aamiin!!


Siti : Aamiin!!.


Tia meletakkan ponselnya kemudian menatap langit - langit kamarnya.


"Degg!!"


Sekilas bayangan mantan kekasihnya kembali hadir di angan - angannya. Entah mengapa Tia masih sering memikirkan keadaannya, padahal dia hanyalah seorang mantan yang pernah singgah di hatinya.


'Padahal sudah berulang kali aku mencoba untuk melupakannya, namun kenapa bayangannya terus saja menghantui benakku? apakah dia merasakan hal yang sama denganku? Entahlah, seandainya waktu bisa di putar kembali dan dia adalah pria yang baik pasti aku akan mempertahankannya.'


Tia terus bergeming sambil membayangkan hal - hal indah yang pernah mereka lalui saat bersama.


"Fendi?? apa kabar? seharusnya kamu tau bahwa aku sangat merindukanmu, 3 tahun bukan hal yang mudah bagiku untuk melupakanmu dalam sekejap saja" Tia melontarkan kata - kata kerinduan yang begitu mendalam.


Dulu hanya Fendi satu - satunya harapan Tia yang bisa menjaga hatinya, bahkan dia sudah beberapa kali menolak cowok yang sangat menyukainya. Mungkin karena kesetiaan yang membuatnya seolah tidak butuh teman cowok.


'Begitu bodohnya diriku yang dulu selalu menjaga hati untukmu, bahkan tak ingin berteman dengan laki - laki manapun, Ahh... semuanya hanya sia - sia saja**'


Tia berulang kali memaki dirinya sendiri, seakan dia begitu bodoh sudah terlalu mempercayai mantan kekasih yang sangat ia cintai itu.


Mungkin karena Tia sudah tidak sanggup menahan perlakuan Fendi yang terkadang tidak bisa menahan hawa nafsunya sendiri. Tia beberapa kali menolaknya ketika ia sudah hampir di sentuh bagian sensitifnya, semua ini ia lakukan karena mahkota satu - satunya seorang gadis adalah keperawanan, Fendi sempat berkata kepada Tia, bahwa dia hanya ingin tau apakah Tia benar - benar masih perawan atau hanya alasannya saja yang selalu menolak ajakannya.


Fendi begitu mencintai Tia, apapun yang di inginkannya selalu ia beri, itulah sebabnya Fendi sangat takut jika Tia pergi meninggalkannya, mungkin itulah alasan satu - satunya untuk mengikat Tia untuk tidak pergi meninggalkannya.


Walaupun saat ini mereka sudah berpisah, namun Fendi selalu ingin tau kabar mantan kekasihnya, dia begitu senang saat Tia melamar pekerjaan di perusahaan tempat ia juga bekerja.


Dia berulang kali menghubungi May sekedar hanya ingin tau keseharian Tia setelah lepas darinya.


°°°°


Pagipun tiba, Matahari mulai beranjak naik memanasi bumi.


suara ayam bertengger membangunkan semua orang yang sedang tidur dengan mimpi mereka.


Tia kala itu sudah selesai mandi dan mengeluarkan beberapa potong baju yang akan di bawanya. Dia meraih kursi tempat ia biasa belajar untuk mengambil koper di atas lemari baju miliknya.


'Tokktokktokk!!' Terdengar suara ketukan pintu dari balik kamarnya,


" Bentar!!" Teriak Tia yang masih berdiri di atas kursi lalu ia turun dan membuka kunci kamarnya.


"Ehh ibu! maaf belum Tia buka kuncinya.hehe.." Ucap Tia.


Ibunya pun masuk untuk membantu Tia berkemas.


"iya, ibu kira kamu masih tidur soalnya kamu belum keluar kamar." Kata ibunya yang kemudian duduk di tepi ranjang.


"Masa iya jam segini Tia baru bangun Bu, apalagi ini hari terakhir Tia berada di rumah ini." Ucap Tia yang kala itu wajahnya mendadak sedih, rasa berat hati yang seakan menyelimuti perasaannya saat harus berada jauh dari ibu dan adiknya tercinta.


"Tia, sebenarnya ibu juga nggak mau kalau harus jauh dari kamu, tapi jika keputusanmu sudah bulat dan itu memang pilihanmu mau bagaimana lagi." Ibunya berusaha tegar walaupun sebenarnya ia jauh lebih menderita jika harus berjauhan dari putrinya..


BERSAMBUNG! ❤