You're The Only One, You're My Love

You're The Only One, You're My Love
Eps.22



"Tia.." Perlahan Fendi mengucapkan nama mantan kekasihnya dengan memandang Tia dari kejauhan. Dengan cepat Eri terus menarik tangan Fendi untuk bersembunyi.


"Lepasin Er, jangan jauh - jauh nanti gue nggak bisa lihat Tia.!" Ujar Fendi dengan mencoba melepaskan tangannya.


"Iya iya.. ini demi kebaikan kalian berdua Fen.!" Jawab Eri dengan sorot mata tajam. "Lo jangan egois bro, Lo sendiri kan yang pengen Tia juga kerja disini?".


Fendi menundukkan kepalanya dan memikirkan perkataannya yang sudah - sudah.


"Iya juga sih.! Gue hanya rindu dia Er apa nggak boleh??" Raut wajah Fendi berubah memelas.


"Gue tau, tapi Lo jangan begini lah, dengan Lo menemui dia artinya Lo bakal kehilangan dia untuk selamanya bukan?"


"Baiklah kali ini gue ngalah." Fendi terkulai lemas dengan perasaan yang teramat sedih karena ia tak bisa menyentuh gadis pujaannya.


'Tia, Maafkan aku.. aku merindukanmu, namun apalah dayaku yang tak bisa menyentuhmu'


Fendi terus menatap Tia dari kejauhan, hingga dirinya terbayang saat - saat indah bersamanya. Sesekali terlihat seringaian kecil di bibirnya.


'Apakah begini rasanya orang yang sedang di mabuk cinta? Apalah dayaku yang menikah karena perjodohan kedua orang tua.'


Eri merasa aneh melihat tingkah laku sahabatnya, mungkin karena dia belum pernah merasakan jatuh cinta saat pacaran.


Karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa bagaimana rasanya menyukai perempuan.


Dia bahkan bisa merasakan jatuh cinta saat setelah menikah.


°°°°


Tia menyampaikan rasa terima kasih kepada penjaga Mall yang sudah mengantarkan dirinya dan juga sahabatnya. Pak penjaga kemudian pergi untuk kembali ke depan pintu utama Mall yang paling mewah di Kota itu.


Keduanya saling menatap saat melihat begitu banyak remaja - remaja yang seumuran mereka berada di lokasi tersebut.


Ada yang berusia sekitar 20 tahun ke atas, dan juga 30 tahun. Karena persyaratan pendaftaran Usia untuk kerja di Supermarket Kota adalah Maximal 35 tahun ke bawah. Baik laki - laki maupun perempuan semua berkumpul di satu lokasi khusus, mungkin karena Supermarket itu baru saja di buka dan belum mengadakan acara peresmian.


"May! Lihat deh.. apa kamu yakin kita akan di terima kerja di sini?" Ucap Tia sambil menyenggol tangan May dengan siku kanannya.


"Hah? memang kenapa Tia?" Balas May menatap Tia.


"Itu! banyak sekali yang pengen kerja di sini" Tia berbisik di telinga May.


"Yang penting kita yakin Tia sayang..!" May mencubit hidung Tia, May sering melakukannya karena hidung Tia terlihat lebih mancung dari dirinya.


"Ahhh.. lepasin May! sakit tau!" Tia mencoba melepaskan tangan May yang masih berada di hidungnya.


Selang beberapa menit kemudian.Terdengar suara pengumuman di area supermarket.


"Waktu menunjukkan pukul 12.00 Wib. Di mohon untuk Istirahat dan makan siang sebelum jam 13.00. Terima kasih"


"Haa?? Kita dari tadi sudah buru - buru, padahal belum ada panggilan seleksi sama sekali!" Ucap Tia dengan kesal.


"Iya juga sih! ngapain juga kita di suruh kumpul jam 10 kalau tidak langsung untuk interview.!" Balas May.


"Teruss..yang ngabarin kamu siapa tadi?" Tia bertanya dengan melototkan kedua matanya.


"Feefee.....Emh.. sekretaris pemilik supermarket ini heehee.." May menjawab dengan terbata - bata.


"Yuk! tapi dimana?" Ucap May celingukan mencari kedai makanan.


"Ehmm.. apa di luar Mall aja ya.. sepertinya di depan tadi banyak kedai makanan berjejer". Ujar Tia.


"Baiklah ayo kita keluar!" May segera mengajak Tia untuk keluar mencari makanan.


Keduanya berjalan ke arah pintu utama Mall.


Selama mereka berjalan, ada seseorang yang menguntit di belakang mereka. Siapa lagi kalau bukan Fendi. Fendi yang teramat merindukan Tia. Namun ia harus menahannya karena semua ini untuk kebaikan keduanya.


Setelah sampai di depan Mall, Tia dan May menoleh kesana kemari untuk mencari tempat makan yang pas sesuai kantong mereka.


Mata Tia tertuju pada penjual Nasi uduk yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.


"May ayo ikut aku!" Tia menarik paksa tangan May.


"Aaa..!" May berteriak sambil mengikuti arah tarikan tangan Tia. "Kita mau makan di sini Tia?" Tanyanya.


"Heem.. seperinya enak, dan aku sangat penasaran dengan makanan satu ini, di tempat kita bukankah belum ada yang jual yaa.?"


Tanpa mendengarkan jawaban May,Tia langsung masuk ke dalam kedai. Langkahnya terhenti sejenak setelah sampai di dalam dan mengedarkan pandangannya. Begitu banyak orang - orang yang sedang mengantri untuk mendapatkan pesanan mereka, ada juga yang sedang lahap menyantap makanan yang telah mereka terima.


Tanpa pikir panjang, Tia langsung berlari ke arah antrian untuk memesan sesuai seleranya. Memesan nasi uduk beserta lauk pilihannya.


May segera masuk menyusul Tia. May pun terkejut saat sesampainya di dalam melihat Tia yang sedang mengantri makanan dengan deretan depan yang begitu panjang.


Ia segera berjalan ke arah sahabatnya yang sedang berdiri mengantri makanan.


"Tia! apa nggak bisa lain kali aja kesininya, kita mau makan jam berapa sedangkan waktunya saja di batasi sampai jam 1.!" Bisiknya pelan di telinga Tia.


"Aku nggak mau tau May.!" Tia menepis kata - kata May. "Oh iya kamu mau pesan apa biar sekalian?" Tanyanya.


"Oke oke.. baiklah! Emh.. (Berfikir) sama seperti yang kamu pesan aja, aku tunggu di meja ya.!" Ucap May seraya melangkah meninggalkan Tia dan menuju ke meja makan yang sudah di sediakan.


Selang beberapa menit Tia datang dengan membawa nampan yang berisikan 2 piring nasi yang di cetak menggunakan cup, dengan taburan bawah merah goreng di atasnya dan 2 piring lauk terpisah dengan isi tahu, tempe, dada ayam,beberapa lalapan seperti irisan mentimun, daun kemangi, dan selada. Tak lupa 2 mangkuk kecil berisi air untuk kobokan.


"Taraaa... makanan datang nyonya..!" Ucap Tia dengan gelak tawanya.


"Aaww.. sini sini aku bantuin!" May meraih nampan yang di bawa Tia.


"Aku sudah benar - benar lapar May!" Perut Tia berasa keroncongan, karena sedari tadi pagi mereka berdua belum memakan apa - apa.


"Iya aku juga, ayo kita habiskan makanan ini sebelum jam 1.!" Ujar May dengan mencuci tangannya di kobokan.


"Yupp.!" Balas Tia.


Akhirnya mereka telah menemukan makanan yang bisa mengganjal perut mereka. Dengan lahapnya mereka memakan makanan yang telah di pesannya. Bahkan sampai tak ada satupun suara yang keluar dari bibir mereka.


Dari kejauhan Fendi terus saja menatap gadis kesayangannya, gadis yang telah menjadi mantan kekasihnya. Sesekali ia tersenyum dengan bahagia, karena Tia akan selalu berada di sampingnya.


'Kenapa kamu sekarang terlihat lebih cantik Tia? apa mungkin karena kita lama tidak bertemu?' Fendi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.


BERSAMBUNG..!!