With My EX

With My EX
Bab 11. Pagi yang Canggung



Audi masih tampak terlelap meski waktu sudah menuju siang. Bahkan, ia yang sebelumnya begitu nyaman tidur dalam pelukan Darren, tidak lagi merasa kehilangan ketika sosok lelaki itu sudah tidak ada di sebelahnya.


Darren yang sudah terbangun beberapa saat lalu, kini sudah terlihat segar dengan handuk bathrobe menutupi tubuhnya. Lelaki itu sudah selesai mandi. Sekarang ia sedang menunggu kedatangan Zain yang dimintanya membawa baju ganti, untuknya dan untuk Audi.


Suara ketukan terdengar ketika Zain baru akan mendekati ranjang. Ia sebelumnya ingin menyentuh perempuan yang kini hanya terlihat kepalanya saja sebab selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu, sebelum akhirnya berbalik menuju pintu kamar.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Zain yang berdiri di depan kamar hotel dengan dua goodie bagi di tangan.


"Hem, pagi!"


Sang asisten kemudian menjulurkan tangan dan menyerahkan dua barang bawaan yang sebelumnya ia pegang.


"Berapa waktu yang aku punya?" tanya Darren merujuk pada rapat yang harus segera ia hadiri.


"Setengah jam, Pak. Kita mungkin akan sedikit terlambat jika tidak tepat waktu."


Darren mengangguk, mengerti. Ia pun lantas meminta anak buahnya itu menunggu di lobi sambil ia bersiap-siap.


"Baik, Pak."


Zain pergi kemudian setelah Darren kembali masuk dan menutup pintu.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Darren bergegas memakai pakaiannya. Lengkap dengan jas dan dasinya di leher. Mencoba memantaskan diri di depan sebuah cermin panjang di kamar tidur, lelaki itu lalu mendekati ranjang setelah merasa rapi dan siap.


Darren tidak berniat membangunkan Audi. Ia hanya mengecup kening wanita itu dan -seperti kesukaannya, mencium lalu ******* bibir sang istri yang pagi itu sudah membuatnya candu.


"Maaf karena aku harus pergi tanpa pamit padamu," ucap Darren yang aksinya sama sekali tidak membuat Audi terbangun.


Setelah itu Darren keluar kamar. Tak lupa, ia menuliskan sebuah pesan di selembar kertas catatan, berdekatan dengan goodie bag yang Zain bawakan. Sebuah catatan yang akan langsung Audi baca sebab diletakkan di ujung tempat tidur, yang pasti sangat mudah terlihat.


"Aku sudah siap. Baru masuk lift dan bersiap turun."


Darren memberi tahu Zain melalui ponselnya. Ia meminta sang asisten untuk bersiap agar ketika ia sampai di bawah sudah ada mobil yang akan membawa mereka menuju kantor.


Suasana hati Darren hari itu sepertinya terasa lain. Paska pernikahan keduanya dengan Audi yang terjadi begitu mendadak dan cepat, juga momen malam pertama mereka yang untuk ke sekian kalinya terjadi begitu menggairahkan dan panas, seolah membayang-bayangi pikiran lelaki itu sehingga membuatnya tampak bersemangat.


'Sial sekali! Aku tidak menyangka jika percintaan semalam sangat mempengaruhiku. Aku pikir akan sama saja seperti malam kami dulu,' batin Darren yang mendadak kesal.


Audi tiba-tiba membuatnya candu. Bayangan akan tubuh molek istrinya yang sudah lama tidak ia lihat, kini menari-nari di pelupuk matanya.


'Damn!' pekik Darren dalam hati.


Saat itu Zain bisa melihat perubahan muka sang atasan. Sedikit memerah seperti sedang menahan marah. Entah apa yang terjadi, padahal baru beberapa waktu yang lalu ia merasa kalau keadaan dan suasana tuannya baik-baik saja. Tapi, kenapa di detik berikutnya suasana hati pengusaha itu berbeda?


"Usahakan rapat selesai cepat!" seru Darren ketika sudah duduk di bangku penumpang.


Zain yang mendengar penuturan tuannya merasa bingung. Membuat rapat selesai cepat bukanlah tugasnya, tetapi para anggota rapat sendiri dengan bahan diskusi yang akan dibahas. Tapi terutama, bukankah pembatalan atau percepatan rapat bisa Darren perintahkan langsung tanpa harus melewati Zain.


"Baik, Pak." Pada akhirnya Zain hanya menjawab demi menghormati perintah tuannya tersebut. Sebab pada kenyataannya, Darren sendiri yang akan melakukan hal tersebut.


Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan area hotel. Seorang supir pribadi yang sudah mendekati usia paruh baya mengangguk setelah mendapat perintah dari Zain.


"Nanti siapkan makan siang di kantor!" Perintah Darren tentu ditunjukkan untuk Zain. Yang lelaki itu mengerti jika bukan hanya seporsi makanan yang harus ia siapkan.


"Di kantor saja, Pak?" tanya Zain memastikan.


"Ya. Jangan lupa Pak Lutfi, jemput Audi di jam dua belas nanti."


"Baik, Pak."


Baru mengerti Zain bahwa persiapan makan di kantor -tentu saja disiapkan untuk sang nyonya besar, Audi.


Di tempat lain, meninggalkan tiga orang yang berkelana dengan pikiran masing-masing, di kamar hotel di mana Audi ditinggalkan, wanita itu kini perlahan bangun.


Sekitar satu jam setelah Darren pergi dan mungkin sekarang sedang melewatkan rapat -yang kali ini terasa membosankan dan lama, Audi baru bisa membuka matanya. Ia yang kelelahan setelah hari kemarin, masih merasa kalau saat ini pun tubuhnya masih ingin beristirahat. Tapi, ia merasa sendirian. Tubuhnya lama-kelamaan terasa asing dan kesepian.


Ketika kedua matanya membuka, meski sebelumnya ia berpikir akan merasa canggung saat bertemu muka dengan Darren, tapi nyatanya ia tak menemukan sosok lelaki itu bersamanya.


Dengan selimut yang Audi tutupi di sekujur tubuhnya, ia lantas memperhatikan sekitar kamar. Terasa kosong dan ia benar-benar sendiri. Lalu, netranya tertuju pada gundukan di ujung tempat tidur. Ada goodie bag dan benda lainnya menemani, yang menjadi tujuan matanya sekarang.


Perlahan Audi mendekat. Sedikit kesulitan sebab ia harus menarik selimut yang cukup tebal demi menutupi tubuhnya yang polos.


'Eh, apa ini?' gumam Audi yang pertama-tama malah menengok isi goodie bag berwarna hitam di depannya.


Lantas, wanita itu pun melihat benda lainnya yang ada di situ. Tampak secarik kertas yang dilipat menjadi pemandangannya kemudian. Perlahan ia membuka dan membacanya.


'Ini bukan catatan, tetapi sebuah surat yang ditulis seperti cerpen,' batin Audi merasa berlebihan.


Menarik napas, wanita itu lalu membaca catatan dari suaminya dalam hati.


'Selamat siang, ya selamat siang karena aku yakin kamu bangun di atas jam sepuluh.'


Kalimat sapaan yang Darren tulis di awal catatannya, membuat Audi mendadak keki.


"Ya, aku memang bangun siang. Tapi, itu karena kamu," ucapnya setelah mengetahui waktu yang menuju ke angka sepuluh.


Setelah itu, kembali Audi membaca lanjutan catatan Darren.


'Maaf karena sudah membuatmu kelelahan. Sebagai permintaan maafnya, aku tidak membangunkan kamu pagi tadi. Aku sengaja membiarkan kamu tetap tertidur di saat aku sudah harus berangkat ke kantor (sungguh istri macam apa yang malah tertidur di saat suaminya pergi bekerja).'


Tampak ada ikon senyum yang Darren buat di akhir kalimat tadi. Membuat Audi heran karena merasa itu bukan pribadi Darren yang ia kenal.


'Aku sudah menghubungi Bagas, operasi Mama Marissa sedang berjalan. Kamu mungkin bisa menuju rumah sakit saat bangun nanti dan masih sempat menunggu mama sebelum dokter keluar ruangan operasi di jam sebelas siang nanti.'


"Ah! Kenapa aku sampai lupa kalau mama dioperasi pagi-pagi sekali!" ucap Audi mendadak kesal.


Ia lantas segera bangun setelah selesai membaca kalimat terakhir.


'Jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat. Aku sudah siapkan supaya tenagamu terkumpul kembali setelah malam panas yang sudah kita lewatkan.'


Mencoba untuk tidak mempedulikan maksud dari kata panas yang Audi baca, wanita itu memilih bergegas mandi. Ia tak mau terlambat untuk ikut menunggu sang mama di luar ruang operasi.


Namun, catatan tambahan yang Darren tulis terbayang di pelupuk mata Audi.


'Mandi yang bersih dan kembali wangi supaya aroma kenikmatan kita semalam tidak sampai mengganggu orang-orang yang kamu jumpai. Kita akan kembali meraih aroma itu nanti saat bertemu. Jadi, ayo bergegaslah!'


"Darren gila!" umpat Audi saat berlari ke kamar mandi tanpa selimut di badan.


"Tuhan! Lelaki itu, apakah sudah bertaubat atau malah semakin menjadi?"


***